18 April, 2008

Apa kata akhirat?!

Bismillah,

Dunia ini naga-naganya semakin men-‘dunia’ saja. Orang pokoknya kalau mau goyang selalu ingat slogan ‘Apa kata dunia?!’.

Maaf saudara-saudara, saya mau tambah slogan baru, ‘Apa kata akhirat?!’

Ini terutama untuk mengingatkan pemerintah tentang kasus Ahmadiyah yang sudah diputus sebagai ‘aliran sesat’. Tanya posisi saya bagaimana? Wah, jangan pakai nanya posisi deh. Ahmadiyah dari awal sudah jelas-jelas provokator Islam. Celakanya, pemerintah atau pengusung slogan ‘Apa kata dunia?!’ yang senangnya memang ‘main api’, bukannya mencari jalan keluar, tapi justru membuat keruh suasana.

Lha, bagaimana tidak? Jelas toh, bagaiaman Islam itu tegak? Kalo mengaku Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah rasul terakhir. Titik!

Masak si nabi palsu saja Ahmad Mushadek kasusnya tidak perlu nunggu lama dan pake keputusan presiden segala bisa kelar? Masak Ahmadiyah yang dari awalnya sudah jelas Islam gadungan harus nunggu sekian lama, kalo perlu harus nunggu korban dulu baru mau divonis? Apa kata akhirat?!

Ahmadiyah ini memang mau numpang beken aja. Maunya ngaku Islam, tapi bukan cuma malu-malu, tapi malu-maluin.

Begitulah kalau semuanya serba bertanya ‘Apa kata dunia?!’ dulu. Pemerintah kalau bicara di depan public menyikapi masalah beginian, kelihatannya sopan banget. Jaga tata krama. Belum-belum sudah ingatkan jangan ada keributan. Yang mau ribut itu siapa? Tapi bagemana juga orang tidak ribut kalau dikasih tau baik-baik telinga seakan budeg?

Kenapa sih Ahmadiyah jadi masalah? Agar anda tau ‘Apa kata akhirat?!’ kalau masalah ini tidak diselesaikan, saya copy-paste-kan tulisan Imam Syamsi Ali, imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.


-----


Ahmadiyah dan Religious Freedom


Altenatif terbaik bagi Ahmadiyah adalah; keluar dari Islam atau mengakui Nabi Mummad sebagai Nabi terakhir. Jika tidak, akan terus timbul reaksi

Oleh: M. Syamsi Ali


Hari Senin, 7 Januari kemarin, saya menerima kunjungan rombongan pengurus Ahmadiyah USA yang tergabung dalam sebuah organisasi Ahmadiyah Movement in Islam, Inc. Saya menerima mereka dalam kapasitas saya mendampingi staf PTRI New York, mewakili pemerintah, untuk mendengarkan keluhan dan uneg-uneg mereka.


Pada intinya kunjungan mereka tidak membawa sesuatu yang istimewa. Semuanya adalah menyampaikan apa yang sudah pernah dimuat oleh berbagai media massa tentang (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia seperti Parung, Bogor , Padang , dll. Pada intinya, mereka mengutuk peristiwa-persitiwa tersebut dan mendesak pemerintah RI untuk membawa pelakunya ke meja hijau.
Rupanya beberapa anggota pengurus Ahmadiyah, tanpa saya sadari, sudah mengenal saya. Mereka mengenal saya dari acara Pre- Ramadan Conference di kepolisian New York setiap menjelang Ramadan. Saya kebetulan memang seringkali menjadi salah seorang pembicara pada acara tersebut, yang juga dihadiri oleh perwakilan Ahmadiyah yang juga dianggap Muslim oleh kepolisian New York


Setelah basa basi ala diplomat, pembicaraan menjurus kemudian kepada (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga Ahmadiyah di Pakistan. Perlu diketahui, Ahmadiyah adalah pergerakan yang secara institusi terlarang di Pakistan dan pengikutnya tidak dianggap bagian dari masyarakat Muslim. Tegasnya, mereka dengan keyakinannya yang keluar dari Al-Quran dan As Sunnah dianggap keluar dari agama Islam dan karenanya dianggap non Muslim minoritas.


Penetapan warga Ahmadiyah di Pakistan sebagai non Muslim justeru dilakukan oleh pemerintahan yang tidak berafiliasi ke Islam ketika itu, yaitu pemerintahan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, ayah mendiang Benazir Bhutto, pada tahun 1974. Keputusan tegas dan besar ini terjadi hanya setahun setelah Zulfikar Ali Bhutto menduduki jabatannya sebagai PM Pakistan. Sejak itu pula Ahmadiyah di Pakistan merupakan organisasi terlarang, tapi pengikutnya tetap bebas menjalankan keyakinannya secara pribadi-pribadi.


Sebenarnya, sejak awal mendengarkan mereka, hati saya sudah hampir memberontak. Pasalnya, sejak semula mereka secara tidak langsung menuduh ulama-ulama Indonesia sebagai radikal (dengan istilah mullah) dan melanggar HAM. Lebih dari itu, dengan membandingkan antara kejadian-kejadian di Pakistan dan Indonesia, mereka seolah menuduh bahwa pemerintah Indonesia mengabaikan HAM dan bahkan ikut mendukung kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh apa yang disebutnya sebagai anggota radikal dari komunitas Muslim Indonesia.
Puncaknya ketika mereka menuduh ulama-ulama Pakistan, termasuk Abu A’la Maududi, sebagai ulama-ulama pembunuh dan menganjurkan pengikutnya untuk membunuh orang-orang Islam lainnya yang tidak sejalan dengan idiologi mereka. Ternyata mereka sudah memiliki cuplikan-cuplikan yang diambil dari berbagai sumber mengenai mereka. Setelah saya perhatikan seraya beradu argumentasi, saya temukan bahwa cuplikan-cuplikan yang mereka pegangi untuk menyerang para ulama sunni itu diambil sepotong-sepotong dan ditafsirkan secara salah untuk membenarkan argumentasi mereka.


Pada akhirnya, pertemuan itu tidak lagi bercirikan diplomasi tapi cukup memanas dengan argumentasi keagamaan dan rasionalitas. Dari semua argumentasi yang mereka berikan, hanya satu hal dapat diterima. Yaitu bukankah semua manusia memiliki hak untuk mengikuti keyakinan masing-masing? Dengan kata lain, kata kunci “religious freedom” menjadi satu-satunya alasan yang dipakai untuk membela eksistensi mereka.


Isu kebebasan beragama


Akhir-akhir ini memang cukup banyak tokoh Muslim yang tiba-tiba tampil menjadi “champion of religious freedom”. Mungkin mereka ikhlas membela apa yang dipersepsikan oleh umum, khususnya barat, sebagai masyarakat lemah (marginalized) , atau boleh jadi juga karena membela masyarakat yang dipersepsikan termarjinalkan itu memang “rewarding”. Tentu maksud saya adalah cepat mendapatkan apresiasi, dukungan oleh yang kuat, dan yang lebih khusus cepat menemukan pahala duniawinya (beasiswa, dukungan dana, media suppot, dll).

Kebebasan beragama bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Jauh sebelum dunia barat berkoar untuk jaminan kebebasan beragama, Islam sejak 15 abad silam sudah menjamin dengan ayat Al Quran, hadits maupun praktek-praktek Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Sehingga pemberian kebebasan beragama dalam tatanan masyarakat Muslim adalah “religiously is obligatory” (secara agama adalah wajib). Bahkan Rasulullah mengancam untuk menjadi musuh bagi mereka yang menyakiti “dzimmi” (non Muslim minoritas dalam tatanan masyarakat Muslim.

Dan Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia telah membuktikan ini. Tidak ada negara di dunia ini yang memberikan posisi terpenting kepada warga “non majority” kecuali Indonesia . Bahkan ada masa-masa di mana kaum minoritas jauh lebih “teranak maniskan” ketimbang kaum mayoritas. Berapa jumlah menteri non Muslim di Indonesia ? Berapa sekjen/dirjen (eselon I) di berbagai departemen pemerintahan dan swasta di negara kita? Silahkan jumlah dubes/diplomat tingkat tinggi non Muslim di kementrian luar negeri Indonesia .

Semua ini menunjukkan bahwa secara negara (state) dan pemerintahan (governance) Indonesia tidak membeda-bedakan warganya. Semua memiliki hak dan kesempatan yang sama serta memiliki hak pembelaan berdasarkan konstitusi negara Indonesia yang disetujui bersama. Maka, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam dan Kong Hu chu, dan bahkan agama-agama lainnya yang secara formal tidak terakui, bebas menjalankan keyakinan dan ibadahnya masing-masing dan dijamin secara konstitusi.

Isu Ahmadiyah

Ahmadiyah oleh pengikutnya diyakini sebagai agama Islam dan bukan agama baru. Tapi pada saat yang sama, Islam yang mereka sampaikan adalah Islam yang secara prinsip menyimpang dari dasar-dasar ajaran Islam yang baku . Dan karena perbedaan mendasar yang diakui oleh mereka inilah, warga Ahmadiyah tidak mungkin mau menjadi makmum di belakang Imam Muslim selain Ahmadiyah. Pada prinsipnya, mereka menganggap Muslim yang tidak satu kepercayaan/ iman dengan mereka sebagai kafir.

Ada beberapa hal yang paling prinsipil dari kesesatan Ahmadiyah adalah:

Pertama, bahwa meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah Nabi atau rasul yang menerima wahyu. Oleh karenanya, Muhammad S.A.W. bukanlah nabi dan rasul Allah yang terakhir (khaatam an anbiyyin).

Kedua, bahwa kitab suci terakhir bukan Al Quran tapi al Kitab yang diterima oleh Mirza Gulam Ahmad dengan nama Tadzkirah. Kitab ini memuat ayat-ayat Al Quran yang diputar balik dan dicampur dengan berbagai seruan-seruan Mirza Gulam Ahmad.

Ketiga, bahwa melaksanakan ibadah haji ke Mekah tanpa melakukannya ke kota suci mereka, yaitu Rabwah dan Qadiyan di India adalah haji yang kering dan tidak diterima. Kenyataannya, Mirza Gulam Ahmad juga tidak pernah menjalankan ibadah haji selama hidupnya.

Keempat, bahwa bangkit melawan penjajah (Inggris) ketika itu bukan jihad tapi pemberontakan. Mirza Gulam juga menuliskan buku panduan jihad yang pada intinya mengutuk para pejuang India yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan Inggris ketika itu.

Kelima, Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha' 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S.

Dari lima perbedaan prinsipil di atas, jelas orang-orang Ahmadiyah memiliki keyakinan dan sistim yang berbeda dengan kaum Muslimin. Maka, ketika mereka mengkafirkan orang Islam (dalam pandangan mereka) adalah sangat wajar. Sebab memang, orang-orang Islam sejati tidak mengimani/meyakini ajaran mereka, sehingga wajar kalau mereka memang kafir kepada ajaran Ahmadiyah Qadiyaniah.

Inti permasalahan

Maka, isu Ahmadiyah bukan pada “religious freedom” atau isu kebebasan beragama. Melainkan isu “penodaan” agama Islam yang dianut secara luas oleh masyarakat setempat. Kalaulah seandainya Ahmadiyah diakui sebagai agama, sekte, keyakinan baru yang sama sekali tidak dikaitkan dengan ajaran Islam yang murni, tentu tidak akan menimbulkan permasalahan. Kejawen dan praktek-praktek keyakinan lokal juga kan tidak pernah selama ini dipermasalahkan.

Maka, ketika Majelis Ulama Indonesia menfatwakan bahwa Ahmadiyah sesat dan melaporkan ke Kejaksaan Agung sebagai bukan ajaran Islam, mereka telah melakukan fungsinya sebagai pembenteng akidah umat. Yang aneh adalah jika ada pemutar balikan yang terjadi dalam ajaran Islam, lantas ulama diam atau malah mendukung. Bagi saya, ini adalah ulama yang memiliki pemikiran terjungkir.

Namun demikian, dengan segala hak umat Islam membela akidah dan kemurnian ajaran agamanya, adalah tidak sama sekali dibenarkan untuk melakukan kekerasan-kekerasan dan pengrusakan. Prilaku kekerasan dan pengrusakan adalah prilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan tauladan Rasulullah SAW. Sebaliknya, justeru akan menampakkan Islam pada posisi yang semakin tidak menguntungkan.

Akhirnya, sebagaimana saya sampaikan kepada delegasi Ahmadiyah Amerika, ada dua alternatif bagi mereka:

Pertama, deklarasikan sendiri bahwa Ahmadiyah adalah agama baru dan bukan Islam, atau kedua, tetap mengaku Muslim dengan kesesatan-kesesatan tapi dipandang sebagai “pengacau” dan “penoda” agama orang lain.

Jika alternatif kedua yang dipilih, akan sangat wajar jika nantinya timbul berbagai reaksi dari masyarakat yang merasa dirugikan (victimized) . Kalau tetap ingin tegar menghadapi reaksi-reaksi tersebut, silahkan maju tak gentar. Hadapi reaksi umat Islam melalui prosedur hukum dan politik yang ada. Toh pada akhirnya dalam dunia (what so called) demokratik saat ini, semua ditentukan oleh kekuatan dan kelihaian argumentasi yang dimiliki oleh masing-masing pihak.

Yang pasti, umat Islam yang sadar akan tetap melihat “kesesatan” (baca kekufuran) itu selama mereka masih bertahan dengan keyakinan mereka. Semoga saja keputusan pemerintah melihat secara jelas permasalahan ini, sehingga tidak terjadi opresi kepada mayoritas atas nama membela minoritas. Lebih tragis lagi jika pembelaan itu hanya karena sebuah tekanan dari orang lain atas nama “kebebasan beragama”, yang dalam konteks Ahmadiyah di Indonesia adalah out of context! [http://www.hidayatullah.com/]New York, 8 Januari 2008

22 Maret, 2008

Happy Birthday ya Rasulullah SAW


Maunya sih…..

Maunya sih saya dapat hak istimewa dari negara ini. Dari siapapun itu sebagai pemimpin tertinggi yang katanya, keputusannya, titahnya, pasti didengar dan dilaksanakan. Kalau yang tertinggi itu adalah presiden, ya dari presiden. Kalo itu misalnya Mahkamah Agung, ya Mahkamah Agung.

Tidak muluk-muluk. Maunya sih, saya, apapun kesalahan saya, baik yang sekarang maupun yang akan datang kalau ada, diampuni, diputihkan, dianggap tidak pernah ada.

Maunya saya ada alasannya. Saya menganggap diri patuh hukum. Saya bersih. Saya konsisten. Pokoknya jangan takut. Saya teladan. Makanya, maunya saya seperti di atas.

Tapi ntar dulu. Maunya saya di atas tidak main-main, lho! Saya serius.

Tapi sekali lagi, ntar dulu. Walau serius, saya agak ragu.

------

Dulu, lebih dari 1.400 tahun lalu, ada kejadian beneran. Suatu malam, Aisyah RA, isteri Nabi Muhammad SAW, menuggui beliau yang lagi shalat malam. Shalatnya lama. Saking lamanya, Aisyah kecapain menunggu, beliau jatuh tertidur.

Ketika terbangun, Aisyah pikir suaminya sudah selesai shalat. Beliau cek lagi, ternyata Rasulullah masih shalat juga. Bahkan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Aisyah saking capainya menunggu, beliau jatuh tertidur lagi.

Akhirnya ketika terbangun lagi, Aisyah mendapati Nabi SAW telah selesai shalat. Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, Engkau telah mendapat jaminan masuk syurga. Dosa-dosamu baik yang sekarang maupun yang nanti pasti diampuni. Mengapa pula Engkau bersusah payah mesti shalat dan beribadah sampai sebanyak ini? Bukankah cukup dengan ibadah biasa-biasa saja?”

Rasulullah SAW menjawab, “Bukankah bagus apabila aku mendapat gelar sebagai hamba yang senantiasa bersyukur?”

------

Keraguan saya, karena saya bukan Rasulullah SAW. Sebenarnya model ragu seperti ini tidak beralasan. Saya memang bukan Rasulullah. Tapi Rasulullah juga manusia. Beliau merasa lapar, sakit, sedih, gembira, bahkan, Beliau juga meninggal dunia.

Tapi terus terang, keraguan saya berdasarkan contoh terkini dari alam sekitar saya.

Coba saja lihat, orang-orang yang berpredikat sebagai penegak hukum, tanpa legitimasi dari siapapun, justru bertindak dan memamerkan diri sebagai orang-orang yang kebal hukum. Mereka justru menginjak-injak hukum yang seharusnya mereka tegakkan.

Di jalan raya yang sudah semakin sumpek dan macet, sering saja ada tontonan tidak mengasyikkan ketika para petinggi yang seharusnya bertanggung jawab atas pengentasan kemacetan malah membuat jalan semakin macet dengan ngebutnya mereka sembari dapat kawalan forraider.

Makanya saya ragu. Inikah pengejawantahan peringatan Maulid Nabi SAW yang setiap tahun kita peringati dengan budget yang tidak sedikit?

Padahal cinta Rasul mestinya mengikuti sunnahnya. Sunnah Rasul banyak yang enak bagi kita, tidak sedikit pula yang tidak enak. Malah, perasaan banyak orang, kayaknya banyak tidak enaknya.

Giliran yang enak-enak, seperti sunnah Poligami, semua pria pada mendaftar duluan. Tapi giliran yang tidak untuk shalat on-time, mana mereka yang daftar duluan itu?

------

Kalau begitu, maunya saya, saya urungkan. Saya takut, kalau nanti saya dijamin bahwa semua salah saya baik yang sekarang maupun akan datang akan diampuni, saya malah berubah jadi orang salah. Saya bakal jadi besar kepala. Saya tidak mau seperti itu.

Kalau begitu, maunya saya, saya ubah. Mumpung ini masih suasana Maulid Nabi SAW, maunya saya, kita betul-betul meneladani sunnah Beliau. Cinta Rasul adalah meneladani sunnahnya. Hanya dengan begitu beliau akan Happy. Bahkan tanpa menyanyikan lagu Happy Birthday di hari kelahiran beliau, beliau sudah akan happy.

Mau kan, anda begitu? Kalau saya sih, itu memang mau saya. Insya Allah saya akan berusaha agar Rasulullah SAW menjadi happy setiap kali saya mengenang birthday-nya. Happy Birthday ya Rasulullah.

16 Maret, 2008

Tolong bantu saya!


Pembaca sekalian,

Ini serius. Saya mohon dengan sangat bantuan anda yang bisa membantu. Menurut saya ini sudah keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini sudah melampaui batas. Bahkan batas itu sendiri pun saya tidak tau ada atau tidak. Tapi sekali ini, saya tidak bisa tinggal diam. Saya harap anda juga begitu.

Semoga anda membaca Harian Fajar edisi Sabtu 16/3 kemarin. Mengerikan! Diberitakan bahwa Pemda Sulsel sedang menyiapkan perangkat perda baru untuk memungut 99 jenis retribusi dan pungutan baru. Fantastik! Panas dingin saya mendengarnya.

Yang bikin saya merinding, emosi, sedih, marah, mau muntah, rasa gado-gado pokoknya, ada satu rancangan perda untuk retribusi penggunaan genset untuk keperluan pribadi!

Hahahaha…..hihihihi…..huhuhu…..

Ndak tau bagaimana lagi saya harus menulis ini. Anda, tau, sebagai pemerintah, mereka itu bertanggung jawab menyediakan kebutuhan vital masyarakat. Lha, listrik itu sampai sekarang belum jelas toh bagaimana nasibnya? Di mana-mana di Indonesia ini masih byar-pet! Syukur-syukur sekarang di Makassar sudah berkurang. Tapi dengar-dengar dengan harga minyak melambung tinggi, kita-kita sudah pada disuruh siap-siap untuk kembali ke jaman byar-pet lagi.

Ini bagaimana? Masa di era super maju begini kondisi kelistrikan kita masih primitive begitu?

Sudahlah. Kita mungkin memang harus bersabar. Tapi sabar itu jangan dieksploitasi lagi, dong!

Masak untuk mengatasi rumah sendiri gelap gulita karena ketidak mampuan pemerintah mengatasi problema listrik, kita inisiatif beli genset mini, beli minyak yang nota bene dari negeri sendiri tapi dihargai harga dunia yang oleh spekulan dibikin selangit, trus kita masih dikenai retribusi surat izin usaha ketenagalistrikan untuk keperluan pribadi (IUKS) pula? Hitung-hitungan apa itu?

Ah, capek saya jadi warga negara di Indonesia ini. Bagaimana tidak? Setiap hari saya banting tulang dalam bisnis, dengan ikhlas saya bayar pajak, dari pajak itu oleh Pemda dipakai bangun jembatan penyeberangan di titik-titik padat kendaraan, belakangan, untuk pakai jembatan penyeberangan itu harus bayar retribusi pula! Hebat, kan?

Dalam kondisi begini saya tidak tau mau ngapain lagi? Mau protes ke Pemda? Hahaha, jangan melucu, ah! Itu perda retribusi jembatan penyeberangan dan banyak lagi retribusi lain yang memang tidak seharusnya ada, sudah dianulir sama Menteri Dalam Negeri. Pak Menteri bilang, itu ndak boleh. Ndak sesuai aturan itu. Makanya perdanya harus dicabut, dan yang penting, tidak boleh ada pungutan begitu lagi. Eh, Pemda mah cuek bebek! Ndak peduli….yang penting duit masuk terus…..

Dasar gaya preman!

Nah, kalo sudah begini saya sudah tidak berdaya lagi. Saya serasa sudah diperkosa dan tidak mampu melawan. Makanya saya mendingan minta tolong anda. Anda kalo bisa bantu saya, bantulah. Kalo anda orang sakti, seperti para anggota DPR yang ceplas ceplosnya bisa bikin bolak balik negeri ini, bantulah saya. Jangan cuman bisa janji. Jangan cuman bisa terima gaji dan tunjangan. Jangan cuman bisa tanya, "mau dibantu apa?" Saya tidak tau. Pokoknya, bantulah…….

Gambar dari sini.

10 Maret, 2008

Berbagi di Gorontalo


Bismillah,

Di Gorontalo saya 3 hari. Baru saja pulang kemarin. Makanya hari ini saya baru bisa nulis lagi.

Ada hikmah yang saya dapat. Setelah setengah tahun lebih menulis di blog, akhirnya hobi ini mulai terbayar. Saya diundang untuk memberi inspirasi kepada sedikit orang di Gorontalo yang betul-betul mau maju. Mereka ingin belajar lebih jauh tentang apa itu dan bagaimana memulai sebuah blog.

Asal tau saja, saya bukan professional blogger seperti sang legenda Bapak Budi Putra (beliau menjadi pembicara utama dalam acara seminar di Gorontalo itu) atau Bapak Amril Taufik Gobel (beliau tidak sempat hadir karena ada halangan tapi berdedikasi untuk tetap ambil bagian melalui teleconference). Saya masih amatiran, bahkan masih belajar. Tapi kejadian di Gorontalo tanggal 7-8/3/08 kemarin menjadi bukti bahwa orang belajar itu bisa lebih menguasai apa yang telah dipelajarinya melalui mengajarkannya kepada orang lain.

Bagi saya ini luar biasa. Ini kehormatan besar. Dan yang terpenting, ini rejeki besar pula. Mana tau di antara yang belajar itu ada yang lanjut nulis blog, menginspirasi orang, dinilai ibadah oleh Allah SWT, ujung-ujungnya awak kebagian nilai ibadah pula.

Kepada anda yang punya ilmu, mari berbagi yuk. Berbagi ilmu itu sedekah. Hanya dengan berbagi kita bisa lebih kaya. Ini bukan cuman tentang ilmu. Tentang harta pun Insya Allah begitu. Kalau saat ini anda rejekinya seret, mungkin anda kurang berbagi saja. Coba saja kalau tidak percaya. Berapapun itu, kapanpun itu, di manapun itu, cobalah berbagi.

27 Februari, 2008

Jadi kenapami? (baca: Emang kenapa?)


Pilkada sekarang beda dengan jaman pemilu dulu. Pilkada sekarang pakai standar internasional. Pilkada sekarang bertaburan balon (bakal calon). Dulu pilihannya sedikit. Sekarang, saking banyaknya jadi bingung milih. Dulu mau kampanye pilih-pilih kata. Salah-salah bisa dianggap penghianat negara. Sekarang kata-kata diobral. Pokoknya asal masyarakat suka dengar. Itu dia enaknya di Indonesia. Masyarakat sudah kadung terbuai oleh sinetron (ini versi lanjutannya telenovela yang ngetop duluan, maklum di Indonesia apa-apa harus impor dulu baru bisa bikin sendiri).

Ada lagi yang jadi ciri khas pilkada sekarang, ada debat calonnya. Semakin seru karena bukan saja calonnya yang berdebat, para pendukung pun ikut-ikutan berdebat. Malah lebih seru debat pendukungnya.

Ini satu contoh. Saya tulis berdasarkan hasil curi dengar debat pendukung, si Baco dan si Bocco, dua tukang becak pemerhati politik di ujung gang rumah saya.

----------

Baco : Weh, Bocco, kamu sudah pikir mau pilih siapa jadi walikota nanti? Saya bingung mau pilih siapa. Soalnya calonnya bagus semua…

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Ih, bagemana tidak bingung, sebenarnya saya mau pilih Pak Illy. Dia kan sudah menjabat tawwa. Kelihatannmi ada hasilnya. Apalagi orangnya juga merakyat ji. Kamu lihat toh, apalagi setahun belakangan ini dekat-dekat akhir masa jabatan, dia rajin sekali masuk keluar dusun…bagus ki to?

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Itumi….hampir bulat mi tekadku sebenarnya untuk dukung dia. Tapi kemarin waktu antar penumpang, ada ku lihat di panyingkul (baca: tikungan) posternya pak Abil, wah, kulihat dari lirikan matanya waktu difoto, kayaknya orangnya bagus tawwa. Cepat sekali meroket jabatannya. Dulu dia biasa-biasa ji, sekarang, sudah wakil rakyat mi! Kayaknya, dia patut dipertimbangkan…

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Tapi terus terang, kemarin saya dapat baju kaos, gambarnya pak Muhdar. Weh, di antara semua baju kaos gratis yang pernah ku dapat, ini paling bagusmi bahannya! Kentara kalau pak Muhdar itu orang kaya. Kayaknya lebih bagus kita pilih calon walikota orang kaya, siapa tahu kalau sudah banyak uangnya sebelum menjabat dia tidak korupsi….Apalagi, kita juga bisa belajar toh dari orang kaya seperti itu…..

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Tadi pagi toh, waktu baru bangun, saya tambah bingung…soalnya di tidurku tadi malam, saya mimpi didatangi arwahnya bapakku. Dia bilang, weh, Baco, kamu nanti pilih pak Agraham saja. Dia itu pengacara. Kamu itu nak, perlu perlindungan hukum. Nanti kalo berhadapan sama satpol PP dan becak kamu mau diambil, atau itu gubuk peninggalan bapak di samping got besar mau digusur, kamu bisa minta perlindungan hukum…..Bagus juga itu wasiat bapakku. Kayaknya kita ini, apami lagi kodong yang bisa kita harap selain kepastian hukum…..

Bocco : Jadi kenapami?....Weh, Baco, sudah-sudahmi itu kamu bicara pilkada. Dari tadi saya di sini nunggu kau bayar utangmu yang 3.000, sudah 7,5 bulan kau tidak bayar. Kalau kau tidak mau bayar sekarang, saya lapor polisi biar kau dapat kepastian hukum!

---------

TRAGIS!!

26 Februari, 2008

Believe it.....or not!


Artikel berikut adalah fiksi belaka. Bukan science fiction, atau pulp fiction, it is simply just fiction. Makanya banyak dari isinya jangan dipercaya. Cukup dibaca. Kalau suka ya Alhamdulillah. Kalau tidak suka, ya sudah.

Tapi asal anda tahu saja, dalam ilmu psikologi, kalau anda baca sesuatu yang terus terang, seperti kalimat di atas yang meminta anda jangan percaya, sebenarnya anda digiring untuk percaya. Seperti sekarang ini, begitu anda sudah melewati barisan kalimat ini, anda pasti akan semakin terangsang untuk percaya.

Jadi saya sebenarnya serba salah. Saya bilang ini fiksi dan jangan dipercaya, anda justru semakin mau percaya. Kalau saya bilang percaya saja, kenyataannya ini adalah fiksi belaka.

Jadi kalau begitu, kita ambil jalan tengahnya saja…believe it…or not!

--------

Believe it….or not! Orang-orang di pemerintahan sekarang (dengan ikhlas saya katakan ‘tidak semuanya begitu’) semakin pandai. Terutama giliran bikin anggaran. Di Sulsel contoh konkritnya. Di satu kabupaten, dalam anggaran ditulis target pengumpulan pajaknya adalah – saya kasih contoh saja – 1,5M. Anggaran yang diusulkan untuk mengumpulkan pajak itu 1,6M. Hahaha. Masak biaya pengumpulan pajaknya lebih besar daripada pajak yang mau dikumpulkan??!!

Believe it…..or not! Secara nasional kita sudah menghabiskan banyak sekali uang untuk menyelenggarakan sidang dewan yang akhirnya memutuskan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Tapi nauzubillah, sudah keluar uang banyak untuk menggerakkan tangan ketua DPR seorang ketok palu, palu sudah diketok sampai meja ketua lecet, anggaran pendidikan belum nyampe juga 20%. Tapi hebatnya, di Sulsel, politikus sibuk kampanye pendidikan mau digratiskan. Kalau yang 20% saja nggak pernah kesampaian, macam mana pula mau tambah subsidi supaya pendidikan gratis??!! Ajarin dong….

Believe it…..or not! Sampai detik ini, minyak tanah susahnya minta ampun. Kemarin dalam mobil sama istri, kami lewat sebuah jalan yang ada pasar tradisionalnya. Di antara kerumunan para penjual pinggir jalan, ada seorang yang jualannya ubi kayu. Jumlah ubi kayu yang dijual…? Believe it…..or not, hanya sebanyak dua genggaman tangan! Dasar otak bisnis, istri saya mulai berhitung. Kalau dagangan sebanyak itu dijual 5 ribu (itupun kata istri saya pasti sudah dianggap mahal sama kebanyakan ibu rumah tangga), untungnya berapa? Mungkin 2.500 rupiah. Trus kalau setiap hari pemasukan sebesar itu saja, dikali dengan 30 hari jualan, maka total pemasukan penjual itu sebulan 75.000! Kata istri saya, hidupnya bagaimana? Believe it….or not, orang itu ternyata masih hidup tuh. Makanya, biar kelangsungan hidupnya bisa terus bertahan, minyak tanah yang sudah mahal bagi mereka, tolong jangan dibikin langka. Tolong deh….kodong……..

Believe it…or not! Dari sekian lama saya belajar di sekolah, bapak mamak saya sudah keluar uang banyak untuk ongkosin, paling tidak saya tau bahwa namanya aturan dibuat untuk dipatuhi. Tahu siapa pihak pertama yang paling harus mematuhi aturan? Pembuat aturan! Tapi di negeri kita yang anda cintai ini, pembuat aturan bisa di urutan terbawah dalam mematuhi aturan….Asyiiikkk…Mau contoh? Banyak! Satu contoh saja. Spanduk, baliho, atau alat promosi lainnya, bahkan yang dipasang di pagar sendiri, sesuai aturannya harus bayar retribusi. Orang dinas pendapatan (apalagi sekarang mereka punya kelompok spionase berjudul ‘polisi PP’) paling lebar telinga dan tajam penciumannya kalau masuk urusan beginian. Pokonya kalau lihat spanduk tidak ada tanda tangan atau stempel Dispenda-nya, tunggu-tunggu saja anda dapat panggilan atau spanduk anda diturunkan. Nah, tapi sekarang, di pinggir jalan di hampir seluruh pelosok di nusantara, spanduk, poster, baliho, para politisi yang pengen cepat populer, terpajang bebas tanpa retribusi tanpa sensor! Hahaha…ini siapa yang bego, yah? Atau mungkin saya dulu waktu sekolah bayarnya kurang mahal sampai ilmu begituan tidak bisa masuk akal saya? Au ah, super gelap!

--------

Sekarang bagaimana? Anda masih mau percaya? Sekali lagi saya bilang itu yang di atas fiksi, lho. Jangan salahkan saya kalau anda salah pilih mau percaya atau mau tidak percaya.

Tapi masih ada satu fiksi lagi yang saya tidak mau lupa sampaikan ke anda.

Believe it…or not! Banyak aktris Hollywood naksir sama saya, lho…..


Gambar diambil dari sini.

22 Februari, 2008

Oknum Sejati


Bismillah,

Mungkin julukan “Mahasiswa” memang harus diganti. Terserah mau diganti apa….mau “Siswa” saja, “Mikrosiswa”, atau “Tukang Belajar”, terserah deh. Masalahnya dengan julukan “Maha” di depan “Siswa”, mereka yang tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan itu jadi sangat besar kepala. Kelihatannya mereka ge-er dengan gelar “Maha” itu. Padahal yang “Maha” itu hanya satu, hanya Allah SWT.

Saya terusik oleh berita TV pagi ini ketika sedang asyik di depan komputer. Sekelompok mahasiswa berdemo dan menyandera mobil dinas. Saya bukan membela mobil dinasnya. Saya juga bukan tidak setuju dengan demonya. Saya cuman terusik saja dengan tingkah ulah mereka.

Bayangkan mereka menurut saya jadi lebih rampok dari para perampok. Kalo para perampok ternak kerjanya sembunyi-sembunyi, mereka ini kerjanya terang-terangan. Terang-terangan merampok kebebasan pengguna jalan. Di berita pagi ini, mereka bagai cowboy jalanan menyandera mobil, menutup jalan, membakar ban. Mereka tidak segan-segan membentak orang yang lebih tua. Urat lehernya nyempul lebih besar daripada otot Gatotkaca kalau mereka lagi berteriak. Pengguna jalan tidak bisa ngapa-ngapain!
Maaf, kalau mereka mengaku manusia, pengguna jalan juga manusia choy! Mereka juga nyari duit. Mereka butuh makan. Mereka butuh duit untuk nebus obat kalo lagi sakit. Mereka butuh duit untuk beli rumah biar anak mereka yang masih kecil-kecil punya tempat berteduh. Dan yang terpenting, mereka butuh duit buat bayar uang kuliah anak mereka yang mahasiswa biar bisa jadi orang baik-baik, bukan untuk jadi rampok seperti cowboy jalanan ini! Ngerti nggak seeh???!!!

Begini jadinya kalau pendidikan kita kehilangan nilai dasarnya. Dulu waktu saya kecil, orang tua saya marah besar kalau lewat depan orang tua (pokoknya orang yang lebih tua) tidak nunduk-nunduk ‘tabe’ (jalan sambil nunduk tanda hormat). Jangankan membentak orang yang lebih tua, bersuara lebih keras saja saya sudah dicap tidak tau adat.

Memangnya kalau lagi memperjuangkan kebenaran tidak perlu ada aturan? Anda para Mahasiswa, kalau anda muslim, coba-coba buka buku pelajaran agama anda. Di dalam perang saja yang jelas-jelas dihalalkan membunuh lawan, Islam tetap menuntut para mujahid untuk menjaga etika perang. Lawan kalau sudah tobat dan minta ampun wajib diampuni! Kalau anda tidak tau ini berarti anda tidak pernah belajar. Kalau anda tidak pernah belajar, apapula hak anda untuk mengajari orang tentang kebenaran? Pakai kekerasan alias pemaksaan di jalanan lagi?!

Kalau begini terus kekhawatiran saya akan semakin akut. Mahasiswa kita kok semakin tidak terpelajar? Naga-naganya kampanye para politisi untuk bikin pendidikan gratis bakal tidak pernah kesampaian sampai akhir jaman. Bagaimana mau kesampaian? Mahasiswa semakin tidak terpelajar. Berati negara justru harus keluar uang lebih banyak lagi untuk mendidik mereka. Mendidik mereka entah sampai kapan.

Maaf, saya bukan pesimis. Saya miris.

Makanya saya mau menghimbau. Walaupun saya bukan dari departemen penerangan yang kerjanya biasanya memberi himbauan, apalagi mereka punya mobil pakai pengeras suara yang bisa didengar walaupun oleh orang yang lagi buang hajat di wc tersembunyi di lorong-lorong terjauh, tapi Insya Allah saya ikhlas beri himbauan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah seair. Atas nama kebaikan, atas nama kemajuan, atas nama bangsa dan negara, marilah kita kembalikan pendidikan anak-anak kita kepada pendidikan sebagaimana seharusnya. Pendidikan yang daripada berakarkan pada rumah tangga. Di mana orang tua bertindak sebagai guru. Sebagaimana anak belajar daripada tauladan orang tuanya. Seperti dulu, waktu saya belajar mengaji. Saya dimungkinken hormat senantiasa pada guru mengaji saya. Kalau salah baca saya dipukul daripada kaki saya pakai kayu. Setelah mengaji saya ngangkat air buat guru ngaji. Akhirnya ini membuat saya tetap menghargai daripada guru mengaji saya….Sekian

----------

Mohon maaf kalau tulisan ini tendensius. Sebenarnya tidak seperti itu. Saya ini bukan tipe orang rakus buang-buang nafsu amarah ke orang lain. Apalagi buang jenis nafsu yang lain. Mungkin ketika menulis di atas saya terbawa perasaan.

Saya tau, dari puluhan mahasiswa yang turun ke jalan, masih lebih banyak yang tidak begitu. Makanya memang tulisan ini bukan generalisasi. Tulisan ini menunjuk pada para oknum. Kalau anda mahasiswa dan ridak berkelakuan begitu, maka anda pada dasarnya tidak termasuk dalam oknum itu. Tapi kalau anda mahasiswa, dan berkelakuan begitu, dan anda bahkan tidak merasa tersinggung oleh sentilan tulisan ini, maka andalah oknum sejati itu!

Sadarlah! Sadarlah! Sadarlah!

23 Januari, 2008

Segalanya versi saya


Bismillah,

Andaikan semua di dunia ini sesuai versi saya, tentu segalanya akan begitu indah.

Saya tidak akan pernah cacat hukum. Seperti kisah seorang camat dalam berita koran terkenal di Makassar kemarin. Adalah para kepala dusun dan kepala desa yang membuat prestasi. Mereka bisa mengumpulkan PBB dari masyarakat sesuai target. Bahkan ada yang melebihi. Oleh karenanya, mereka berhak dapat reward. Bagus, kan? Di pemerintahan juga sudah berlaku sistem punishment and reward. Tapi apa yang seharusnya adalah seutuhnya reward, ujung-ujungnya adalah reward mengandung punishment. Hahaha. Lucu kan?

Bagaimana tidak. Para Kepala Dusun dan Kepala Desa mestinya menerima reward berupa sepeda motor. Gratis! Tanpa embel-embel.

Ternyata embel-embelnya tidak rela kalau tidak diikutkan. Atau tepatnya, ada yang tidak rela meninggalkan embel-embel yang selama ini memang bejubel. Itulah si Camat, atasan dari para Kepala Dusun dan Kepala Desa.

Oleh pak camat, Kepala Desa dan Kepala Dusun harus nyetor 4 juta rupiah baru bisa ngambil hadiah motornya.

Jelas saja pak camat disoroti. Tapi dasar pak camat, jangankan disoroti, diplototi saja dengan wajah garang dia anggap kentut busuk baunya berlalu, dia dengan tenang menjawab, “Lha, PBB itu masuk sesuai target karena saya talangi dengan dana pribadi. Sekarang, wajar dong kalau dana pribadi saya minta kembali.” Pak camatnya cool….man!

Benar, kan? Andaikan segalanya sesuai versi pak camat, dan saya juga begitu, segalanya sesuai versi saya, aahhh…lebih indah dari bercinta!

Satu versi itu saja sudah indah. Kalau ditambah dengan versi ini, indahnya berlipat ganda. Saya tidak bakalan pernah dituduh korupsi. Atau kolusi. Apatah lagi nepotisme. Benda apa pula itu? Toh segalanya sesuai versi saya. Seperti Pemerintah Kota Makassar. Lapangan Karebosi yang selama ini bisa kita sebut sebagai Central Park-nya Makassar sudah diketuk palu untuk direvitalisasi.

Yah sudahlah. Kalau itu bagus buat masyarakat, apalagi akan mendatangkan keuntungan financial, kita mengertilah. Tapi semengerti-mengertinya kita, apalagi kalau kita sudah merasa terpaksa dan dipaksa mengerti, mbok ya rasa pengertian ini dihargai. Malah harus dihargai tinggi! Jangan di-sale alias dihargai murah, apalagi kalau tidak dihargai.

Masak ‘kau yang mulai kau tidak mengakhiri’? Itu bertentangan dengan ‘kau yang mulai kau yang mengakhiri’ dong. Itu jadinya tidak biasa dong. Itu patut dicurigai dong. Jangan-jangan, ada daaang ding dong!

Revitalisasi lapangan karebos itu pake uang. Bukan uang receh, uang gede! Yang namanya pake uang, ada yang diuntungkan. Yang namanya ambil untung, yah harus sesuai aturan. Masak revitalisasi lapangan karebosi yang belum ada AMDAL-nya, kontsruksi sudah jalan duluan? Logika mana pula itu yang diputar balikkan?

Yah begitulah, Pemkot Makassar punya keyakinan tentang kebenaran versi mereka. Kalau seandainya saya juga begitu, segalanya sesuai versi saya, wah hidup ini seindah milik kita berdua, yang lain mah…ngontrak!

Makanya kata bapak saya, “Nak, dunia ini ada aturannya. Aturan dari yang bikin dunia. Begitu juga akhirat nanti. Kalau seandainya masuk surga itu segalanya sesuai versi bapak, maka kamu, mamakmu, saudaramu, sepupumu, om dan tantemu, semua orang yang bapak senangi, semua orang yang baik sama bapak, kalau perlu semua orang yang bapak kenal, semuanya akan masuk surga.”

Benar kata bapak saya. Sayang versi syarat masuk surga atau neraka bukan ditentukan oleh bapak saya. Tapi oleh Yang Empunya Surga dan Neraka.

Tapi, masak karena ‘seandainya’ itu tidak terpenuhi maka kita mau habiskan sisa hidup dengan terus berkata ‘sayang…’. Bodoh amat? Justru karena kita tau bahwa segalanya di dunia ini bukan sesuatu yang disesuaikan dengan versi kita, maka versi yang berlaku itu yang semestinya kita ikuti.

Versi itu versi universal. Versi itu versinya Allah SWT. Bukan cuman universal di dunia, tapi universal juga di kampung akhirat.

Jadi, syukurlah segala sesuatu di dunia ini bukan ditentukan oleh versi saya. Karena kalau itu yang berlaku, maka anda para wanita cantik, akan saya kutuk jadi kodok! Sampai suatu hari saya bertindak sebagai pangeran datang mencium bibir kodok anda, dan anda tiba-tiba berubah jadi permainsuri cantik. Dan kita berdua hidup happily ever after….aaahhh.

Weh! Bangun! Bangung! Sudah siang!!!!!

07 Januari, 2008

Bodoh Berkali-kali!


Bismillah,

Ini tulisan pertama saya di tahun 2008. Belakangan ini saya susah sekali cari waktu untuk menulis. Tapi subuh ini sepulang shalat dari mesjid, mungkin Allah SWT sudah takdirkan bahwa saya harus memenuhi hak blog ini, maka saya paksakan diri menulis.

Keterpaksaan ini sebenarnya tidak seluruhnya benar. Entah mengapa ketika sedang memutar mobil untuk mundur ke belakang, saya belajar satu hikmah hidup lagi. Ini memunculkan ilham untuk ditulis.

Dalam kondisi lampu jalan yang tidak nyala, langit subuh yang gelap dan terasa semakin gelap oleh cuaca mendung di subuh ini, saya semata-mata mengandalkan sorotan lampu belakang mobil, kaca spion, beserta skill (keterampilan) bawa mobil yang kalau tidak salah sudah 10 tahun saya miliki.

Manuver memundurkan mobil saya lakukan dengan cepat. Tanpa hambatan. Dalam hati kecil saya cukup kagum. Kondisinya beda betul dengan awal-awal 10 tahun lalu. Jangankan memundurkan mobil sembari melihat jalan belakang lewat kaca spion, memasukkan mobil ke garasi saja dengan moncong mobil di depan saya pernah bikin masalah.

-----------

Rupa-rupanya ini serupa dan sebangun dengan kehidupan.

Setelah sekian lama hidup (bagi saya setelah 35 tahun), saya jadi semakin terlatih untuk membaca berbagai indikator dalam kehidupan. Indikator ini memberi saya petunjuk untuk mengambil keputusan, apakah melakukan sesuatu, menghindarinya, atau menolaknya.

Bodoh sekali saya, bila pengalaman hidup 35 tahun ini tidak memberi pelajaran. Atau lebih tepatnya, saya tidak mengambil pelajaran darinya.

Bodoh dua kali saya apabila saya pernah melakukan kesalahan selama 35 tahun ini, dan masih tetap pula melakukannya.

Bodoh berkali-kali saya, apabila selama 35 tahun ini saya menempuh jalan yang salah dan masih saja meyakini jalan itu benar!

“Masya Allah, janganlah Engkau biarkan aku, dan seluruh pembaca blog ini, beserta keluarga dan handai taulan, merugi di dunia ini. Bukakan hati kami untuk senantiasa belajar. Untuk senantiasa bertobat. Agar kami dapat masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukan orang-orang yang sesat…”

-----------

Klasik memang, tapi tak akan pernah lapuk termakan waktu, bila sekali lagi kita dengung-dengungkan peringatan Al-Quran terhadap manusia…..

“Demi masa……….”
“Sesunggunya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian…..”
Q.S 103: 1-2

Peringatan di atas bersifat universal dan up-to-date. Ini bukan peringatan BMG yang bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi cuaca. Ini juga bukan peringatan kepolisian atau kejaksaan yang bisa di-peti es-kan oleh uang banyak. Ini bukan warning massa yang cenderung anarkis.

Ini adalah peringatan lembut tapi tegas!

Hitung lagi! Hitung baik-baik! Jangan-jangan kita salah hitung?!

Orang menghitung saja bisa salah, apalagi kalau tidak menghitung baik-baik….?

07 Desember, 2007

The Chef of Words


Belakangan ini, setelah bertemu banyak orang, saya jadi berpikir, kita ini sebenarnya seperti seorang chef, tukang masak.

Anda tau, chef itu dikatakan semakin profesional apabila ia banyak tau resep masakan, hasil masakannya enak, dan terpenting, penyajiannya juga bagus. Masalah penyajian jangan dipandang enteng. Adakalanya kita tidak terlalu bernafsu sama jenis makanan tertentu, tapi karena oleh chef-nya disajikan dengan cara yang bagus, kita jadi ditunggangi nafsu.

Lha, sekarang kenapa kita ini seperti seorang chef?

Betul. Hanya saja bukan chef masakan, tapi chef of words. ‘Tukang masak’ kata-kata.

Begini, kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, sama dengan masakan yang dibuat oleh chef, efeknya hanya dua, membawa rasa enak (nikmat), atau sebaliknya, tidak enak. Makanya saya bilang kita itu persis seperti seorang chef.

Sebagai seorang chef of words, enak tidaknya kata-kata yang anda keluarkan bergantung pada beberapa hal.
Satu, ingredients atau bahan-bahan yang anda gunakan untuk menyusun kata-kata. Di sini, akan terlihat beda antara chef of words yang berilmu (baca: berwawasan) tinggi, dengan chef of words yang sebaliknya.

Saya kasih contoh. Biar mudah membedakannya, contohnya tidak jauh-jauh dari makanan. Bedakan perasaan yang ditimbulkan oleh dua kalimat berikut:

"Makanan ini enak"

dengan

"Makanan ini meninggalakan kesan mendalam di lidah"

Dua kalimat di atas sama dan sebangun tujuannya. Intinya makanan yang di sajikan berasa enak. Tapi berhubung ilmu chef of words yang mengeluarkan kalimat kedua lebih tinggi, maka perasaan yang ditimbulkan oleh kalimat itu juga beda.

Poin kedua yang mempengaruhi enak tidaknya hasil racikan chef of words adalah cara memasaknya, atau dalam hal ini, intonasi pengungkapannya. Dalam pergaulan lisan, tinggi rendah suara, penekanan terhadap kata, tiada lain adalah cara masak dari sang chef. Dalam ragam bahasa tulisan, variasi tulisan atau tanda baca adalah cara masaknya. Bandingkan lagi kalimat-kalimat berikut:

"Pendapatku enak."

dengan

"Pendapatku, ENAK!"

Anda bisa tangkap bedanya, kan?

Poin terakhir yang menjadi kunci enak tidaknya masakan sang chef adalah penyajian. Dalam hal ini, pemilihan kata yang tepat, sesuai dengan kondisi dan situasi, bisa dianalogikan sama dengan penyajian. Ini mirip dengan poin satu. Kalau di poin satu, wawasan menentukan berapa banyak pilihan kata yang dimiliki oleh sang chef. Di poin ini, seberapa lihai sang chef memilih di kata yang tepat di antara sekian banyak pilihan kata yang ia punyai.

Bedakan kesan yang ditimbulkan oleh dua kalimat berikut:

"Maaf bu, bakso habis!"

Dengan

"Maaf bu, kami kehabisan bahan. Bagaimana kalau besok ibu datang lebih cepat, saya janji kami tidak akan kehabisan bahan."

Kalimat pertama to the point. Kalimat kedua, tujuannya sama, tapi kesan yang ditimbulkan beda.

Mungkin masih banyak faktor yang mempengaruhi enak tidaknya perasaan yang ditimbulkan oleh kata-kata yang keluar dari mulut chef of words. Paling tidak, tulisan ini untuk membuka pikiran bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita merupakan sebuah produk, kita adalah produsen, dan pendengar kita adalah konsumen.

Prinsip ini semoga menyadarkan. Tidak ubahnya dunia bisnis, sebagai produsen kita tentu berharap punya banyak konsumen. Dengan kata lain kita berharap orang senang bergaul dengan kita akibat enaknya perasaan yang ditimbulkan oleh kata-kata yang keluar dari mulut kita.

Sekarang pilihan ada di tangan kita. Di tangan anda sebagai the chef of words. Anda mau jadi chef of words amatiran, atau mau jadi seorang professional? Up to you!

03 Desember, 2007

Mengapa Saya Berteman dengan Bapak Ini?


Bismillah,

Saya pernah berteman dengan seseorang yang kaya. Bisa anda tebak toh kenapa saya berteman dengan dia? Yah, karena dia banyak uangnya.

Saya pernah juga berteman dengan orang yang punya kuasa. Lagi-lagi gampang diterka, saya berteman dengan dia karena dia punya kuasa.

Belum habis. Saya pernah juga berteman dengan orang karena cantiknya. Ah, anda tau saja kalau saya mudah tergoda oleh kecantikan seseorang. Makanya saya berteman dengan orang cantik ini.

Tapi dari semua alasan kenapa saya berteman dengan banyak teman-teman saya, tidak ada satupun yang cocok untuk menggambarkan kenapa saya senang sekali berteman dengan bapak satu ini.

Orangnya relatif jauh berumur di atas saya. Maaf, dia sama sekali tidak good looking. Pakaiannya sangat sederhana, bahkan bagi beberapa orang yang tidak mengerti cenderung akan menilai bapak ini tidak tau tata karma berpakaian. Uangnya juga tidak banyak. Bisa jadi malah biaya ngopi saya dalam sebulan jauh lebih banyak dari uang yang dia hasilkan dalam sebulan.

Tapi apanya yang bikin saya betah berteman dengan bapak ini?

*******

Pagi tadi dia sms saya. Pak, saya mau ketemu bapak bisa dimana? Begitu pesan singkatnya. Di kantor saya, balas saya singkat.

Setelah shalat Dhuhur dia muncul. Terakhir saya dengar dia tabrakan dan saya tidak sempat (tidak mau menyempatkan?) membesuknya. Saya jabat tangannya dengan erat sembari bertanya antusias bagaimana kondisinya pasca kecelakaan.

Mungkin ini salah satu alasan mengapa saya suka berteman dengan bapak ini. Ketika saya tanya tentang kecelakaan itu, dia dengan serius dan semangat berkomentar begini, “Pak, kecelakaan itu betul-betul anugerah besar bagi saya. Saya luar biasa bersyukurnya!”

“Saya dapat banyak pelajaran dari Allah SWT, Pak. Pertama, saya nggak usah malu bongkar ke Bapak bahwa dapur saya itu kadang mengepul kadang tidak ada asap. Ketika saya kecelakaan dan pihak rumah sakit menghubungi keluarga saya di rumah bahwa saya harus dibawa ke rumah sakit Wahidin di Makassar, keluarga saya campur aduk antara sedih dan bingung. Mereka sedih karena saya kecelakaan, mereka juga bingung karena biaya ambulansnya saja Rp800 ribu! Belum lagi selama di rumah sakit saya koma 3 hari, total biaya yang harus keluarga kami keluarkan sekitar 8juta! Bapak tau bagaimana bingungnya keluarga kami?”

Dahi saya berkernyit. Hati saya sangat tertarik mendengar kelanjutan ceritanya.

“Bapak tau, sampai dengan saya sadar dan terbangun dan keluar dari rumah sakit, Alhamdulillah ternyata semua biaya diselesaikan oleh seseorang yang saya dan keluarga saya sampai detik ini tidak tahu siapa itu.”


Oh ya?! “Saya hanya terpaku takjub.

“Masih ada pelajaran kedua, pak.”

Mendengar ini saya sempat-sempatnya melakukan analisa. Bapak ini luar biasa memang. Pelajaran pertamanya saja bagi saya luar biasa, masih ada lagi ternyata pelajaran kedua. Saya kembali menegaskan kepada diri saya, barangkali ini dia yang bikin saya suka berteman dengan bapak ini….

“Waktu tubuh saya terbujur kaku karena koma, kata keluarga saya, rumah sakit Wahidin ramai sekali. Di sekitar ruang ICCU ada sekitar 200 orang datang menjenguk saya. Segitu banyaknya sampai-sampai keluarga pasien lain pada bertanya-tanya, ini yang sakit siapa? Apa dia seorang tokoh terkenal? Keluarga saya bilang kalau saya hanya seorang pengantar roti ke toko-toko. Orang-orang tidak percaya. Kata mereka mana ada pengantar roti ke toko-toko dijenguk sampai 200an orang lebih begini?”

Saat itu saya bisa merasakan bulu kuduk saya mulai berdiri satu per satu. Bisa saya bayangkan bagaimana hebohnya kalau ada orang dijenguk 200an orang sekaligus. Saya tanya bapak ini, “Mereka yang menjenguk itu siapa pak?”

“Jujur saja saya mungkin tidak mengenal banyak dari mereka. Tapi pikir saya, mungkin ini buah dari kesenangan saya bersilaturrahim dan menjenguk orang lain kalau lagi sakit.”

Hmmm…..pingin rasanya saya pahat kata-kata itu di dinding rumah saya biar tidak akan pernah hilang dan saya bisa baca terus…”Saya rasa, bapak ini beruntung karena di balik kecelakaan itu bapak dapat 2 pelajaran berharga,” kata saya.

“Masih ada lagi, pak” katanya bersemangat. Wah, kalau di balik kecelakaan ada lebih dari 2 pelajaran yang bisa diambil, ini yang ambil pelajaran pasti levelnya lebih tinggi dari professor nih….pantas kalau saya senang berteman dengan bapak ini. Mungkin ini alasan kenapa saya suka berteman dengan dia.

“Saya kena kecelakaan itu sepulang menjalankan kegiatan dakwah. Ketika tubuh saya kaku antara hidup dan mati, keluarga saya sudah dikumpulkan oleh pimpinan organisasi dakwah kami. Beliau bilang, ‘kalau terjadi yang terburuk pada tubuh kaku ini dan ia mesti kembali ke asalnya, Insya Allah dia tergolong mati syahid’…Ternyata setelah 3 hari saya sadar. Saya jadi berpikir, mungkin saya belum mati karena saya belum mencapai level syahid itu. Mungkin Allah memang masih memberi saya usia untuk memperbaiki diri dan ibadah saya agar suatu saat kalau saya mati sesungguhnya, saya bisa mencapai level syahid itu.”

Masya Allah. Seandainya gaya gravitasi bumi lebih besar dari yang ada sekarang, mungkin air mata saya sudah jatuh karena haru mendengar kesimpulan bapak ini. Subhanallah. Saya suka sekali berteman dengan bapak ini. Dia pandai mengambil hikmah. Dia sungguh banyak memiliki di balik ketiadaannya. Dia kokoh di balik kerapuhannya…..

******

Kalau ada banyak alasan mengapa kita berteman dengan seseorang, mungkin alasan mengapa saya berteman dengan bapak di atas adalah alasan terbaik.

Teman yang saya bilang saya temani karena kekayaannya, ada yang masih saya temani adapula yang sudah tidak lagi. Mungkin karena mereka tidak kaya lagi.

Teman yang saya bilang saya temani karena kekuasannya, ada yang masih saya temani adapula yang sudah tidak lagi. Mungkin karena mereka tidak berkuasa lagi.

Teman yang saya bilang saya temani karena dia cantik, ada yang masih saya temani adapula yang sudah tidak lagi. Mau apa lagi, mereka sudah hilang kecantikannya.

Tapi bapak ini, saya masih belum menemukan alasan yang tepat mengapa saya suka berteman dengannya. Tapi apapun itu, saya tidak punya alasan untuk menghentikan pertemanan kami karena apapun alasan yang saya jadikan alasan itu, sampai sekarang masih dia miliki. Sepertinya, itu tidak akan hilang. Makanya, Insya Allah kami akan berteman terus.

26 November, 2007

Ternyata salah hitung....


Assalaamu alaikum,

Bicara waktu, ‘cepat-lama’ itu relatif. Betul, kan?
Ini kenyataan. Tidak usah jauh-jauh ambil contoh. Kalau sedang puasa Senin-Kamis, adakalanya waktu terasa cepat berlalu, kadang pula sebaliknya. Seperti sekarang ini. Ketika sedang menulis, atau mengerjakan tugas di kantor, tanpa terasa sudah waktu pulang. Sekitar 8 jam kerja habis di kantor perut keroncongan oleh puasa sama sekali tidak terasa. Tapi lucunya, ketika waktu berbuka tinggal hitungan 10 menitan, baru terasa lamanya menunggu waktu azan di depan TV…hahaha…

Makanya buang-buang waktu saja kalau berdebat tentang persepsi waktu. Tapi belum lama ini saya dapat ilmu baru tentang ini. Bahwa ternyata selama ini persepsi manusia tentang waktu itu salah besar.

Nah, lho…kalau ada ilmu yang menafikan relativitas waktu a la manusia, ilmu darimana? Yah, darimana lagi kalau bukan dari Yang Empunya waktu? Dari mana lagi kalau bukan dari Allah SWT?

Jadi begini. Sehari di akhirat itu ternyata setara dengan 1000 tahun dunia. Wuih! Kebayang? Kalau begitu, sehari kan sama dengan 24 jam. Berarti sejam di akhirat setara dengan 41.7 tahun dunia (nyaris setengah abad) dong! Berarti lagi, kalau usia 100 tahun sudah dianggap panjang umur oleh manusia, berarti sama saja dengan usia 2 jam di akhirat! Pendek amat!

Sekarang jelas sekali. Kalau ummat Rasulullah SAW umurnya rata-rata 65 tahun, berarti setara akhiratnya 1.5 jam pun tidak. Kalau begini, apa kita masih mau merasa bahwa kita punya banyak waktu?

Semoga informasi ini bisa membuka wawasan. Agar kita betul-betul menghargai waktu. Pantas kalau di dalam Al-Quran Allah SWT pernah bersumpah demi waktu. Mestinya itu sudah lebih dari cukup bagi kita untuk terbelalak. Bahwa kita ini manusia memang sering salah hitung. Begitulah karena kita berparadigma bagai katak dalam tempurung. Hitungan kita hanya seluas tempurung kita.

******

Hidup kita tidak sampai 2 jam?! Saya saja kaget bertubi-tubi! Trus sekarang bagaimana dong?

Yah, mau bagaimana lagi, jalani saja hidup anda yang 2 jam itu. Saya sendiri berusaha begitu. Tapi kepanikan saya, begitupula anda seharusnya, tidak perlu berlebihan kalau anda tau apa yang bisa anda dapatkan dalam 2 jam itu. Apa? Keabadian!

Betul. Bagi anda yang pandai menggunakan hidup yang 2 jam, Allah SWT yang nggak pernah wanprestasi sudah menjanjikan keabadian hidup di surga-Nya. Tapi kalau sudah tau hitung-hitungan ini anda masih gagal menggunakan 2 jam anda, nerakanya Allah SWT dengan riang gembira menjadi tempat tinggal abadi anda.

Masih mau salah hitung?
Gambar diambil dari sini.

02 November, 2007

Korban Tali Rafia


Bismillah,

Dulu setiap Jumat saya dapat banyak ide untuk menulis. Sumbernya bisa dari mana saja. Paling banyak dari mana lagi kalau bukan dari khutbah Jumat di mesjid.

Hari ini jujur saya tidak dapat ide apa-apa dari khutbah Jumat. Soalnya saya jatuh tertidur dan agak pulas. Malu sekali rasanya saya pada diri sendiri. Apalagi saya duduk di saf paling depan (berharap dapat unta hehehe). Nanti terbangun ketika khatib sudah hampir selesai.

Sebenarnya hari ini malu saya berlipat ganda. Sebelumnya saya sudah berbuat zalim kepada seseorang.

Sebenarnya ini hal biasa. Seseorang tanpa permisi masuk ke gudang saya dan memunguti tali-tali raphia yang berserakan. Disangkanya tali itu tidak kami pakai lagi. Padahal saya sempat mengeluh kepada anak buah saya yang sebentar-sebentar meminta dibelikan tali. Saya sudah menegur mereka karena saya nilai mereka terlalu boros dan bekerja tidak efisien.

Makanya ketika melihat ada orang tanpa permisi memunguti tali-tali tersebut, saya serta merta menegur dengan keras. Di luar dugaan orang ini malah balik marah ke saya. Kami kemudian adu argumen. Ujung-ujungnya saya ditantang berkelahi. Alhamdulillah, meski emosi, apalagi ketika sedang bertengkar, saya biasakan diri membaca surah An-Nas dalam hati. Harapan saya, agar saya terlindungi. Apapun kejadiannya, kalau itu yang terbaik, saya selalu berharap bahwa Allah SWT melindungi.

Dalam suasana emosi, kepala saya sempat mikir. Malu juga kalau nanti saya berkelahi dan akibatnya fatal, trus muncul di koran besar-besar dengan judul “Korban Tali Rafia”. Iihh…ngeri! Makanya saya ambil inisiatif untuk menyudahi.

Agak repot juga. Apalagi anda mungkin pernah dengar bagaimana orang Makassar kalau lagi emosian. Untungnya meskipun bukan orang Makassar 100%, saya punya bekal bahasa Makassar cukuplah untuk menenangkan orang sesama Makassar kalau lagi marah. Ternyata diplomasi bahasa daerah kalau dalam kondisi begini efeknya maknyos punya!

Belakangan setelah semuanya reda, saya jadi malu sendiri. Kok bisa-bisanya karena tali rafia saya ‘meneriaki’ orang. Bagaimana pula kalau saya punya rantai emas semeter. Bisa-bisa saya berubah jadi setan kali yah……?

Subhanallah. Aku bersyukur kepada Allah yang senantiasa membimbing dalam kondisi apapun. Memang Allah adalah sebaik-baik pemberi jalan keluar. Kalau saja terjadi Korban Tali Rafia, bukan hanya saya, keluarga saya, karyawan saya, dan mungkin orang-orang yang berhubungan dengan bisnis saya, semua bisa kena imbas. Bisa jadi imbasnya besar bisa pula imbasnya kecil. Wallahu ‘alam bissawab.

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu agar aku dan para pembaca setia blog ini tidak ada yang jadi ‘Korban Tali Rafia’, baik sekarang dan sampai selamanya. Amin.


Gambar diambil dari sini.

Maaf Atas Pengkhianatan Ini....


Assalaami Alaikum Wr. Wb,

Pembaca blog setia saya. Demikian pula kerabat dan handai taulan. Serta sahabat, baik karib maupun yang akan karib......

Postingan ini bagi saya spesial. Sesungguhnya seluruh postingan bagi saya spesial. Hanya saja, khusus untuk postingan ini, saya tambahkan elemen perasaan yang lebih dalam. Saya tambahkan rasa sentimen yang tidak biasa atau tidak seperti biasanya.

Musababnya tentu ada.

Satu. Saya sungguh terlambat menuliskan pesan Ied Mubarak. Tapi sebagaimana kata orang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Makanya, kepada anda sekalian, terimalah untaian kata dari saya:

"Mohon Maaf Lahir Bathin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Shiyama wa shiyamakum"
ttd, Irwan, Ai, Heni.

Dua. Rasanya lama sekali sejak postingan terakhir saya. Saking lamanya, saya serasa asing terhadap blog ini. Bahkan kata sandi (password) untuk mengakses membuat postingan pun saya nyaris lupa. Padahal, saya sangat menikmati mengenal anda. Meskipun saya tidak atau belum pernah melihat anda pembaca secara langsung. Tapi rasa-rasanya, hati saya kok sudah sejiwa dengan hati anda.

Mungkin ini contoh kecil saja. Bagaimana kalau kita sudah cinta maka wujud itu tidak jadi masalah. Demikian adanya pula dengan iman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Saya dan anda pembaca, tentu tidak mementingkan untuk melihat wujud atau dzat-Nya. Tapi kita yakin dalam hati, kita tampilkan dalam kehidupan, bahwa kita mencintai-Nya. Semoga cinta kita kepada-Nya suatu saat berbalas dengan diizinkannya kita oleh-Nya untuk bercengkerama dengan-Nya bahkan dengan wujud sekaligus. Tapi tanpa itupun, cinta ini kepada-Nya sudah membuat hati sangat berbunga-bunga.

Pembaca blog setia. Anda bagi saya sudah seperti saudara. Sudah seperti teman. Bahkan sudah seperti kekasih. Maafkan saya kalau saya lama tidak menyapa anda melalui tulisan atau postingan saya. Saya bisa mencari seribu satu alasan untuk itu, tapi toh itu bukan tujuan saya meminta maaf. Saya merasa sudah berkhianat. Saya merasa lalai dan tidak konsisten untuk mempertahankan kebiasaan yang saya harap suatu saat menjadi tradisi, untuk senantiasa sharing dengan anda sekalian, tentu sharing yang baik, yang dilandasi oleh niat berbakti kepada Allah SWT. Niat untuk mendapatkan kebahagian hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

Sekali lagi,

Maafkan saya atas pengkhianatan ini......


Gambar diambil dari sini.

01 Oktober, 2007

Manusia Kapal Selam (Terinspirasi oleh Ustadz Irwan Fitri, LC)


Kapal selam dalam kondisi perang jarang sekali nongol ke permukaan. Paling nongol kalau perlu. Selebihnya tidak terlihat di permukaan. Tidak nongol.

Ustadz Irwan Fitri, LC ternyata mencermati kapal selam. Kata beliau, dalam bulan Ramadhan ini, ada, atau tepatnya, banyak, manusia seperti kapal selam. Bagaimana bisa?

Lihat saja mesjid-mesjid. Coba perhatikan dari sabang sampai merauke. Kalau 1 Ramadhan, mesjid pada penuh sesak. Pengurus sampai kewalahan mengatur jemaah. Seperti di mesjid kami. Kami bahkan menambah 5 petak tenda di sekeliling mesjid untuk mengantisipasi ini.

Ketika awal Ramadhan itu, banyak muka-muka baru yang saya sendiri baru lihat. Di situ saya tahu bahwa si anu dan si anu ternyata adalah tetangga sebelah kompleks. Bukan cuman jamaah berusia senior yang nongol, para pemuda dan pemudi juga pada keluar sarang. Pokoknya semua orang berlomba-lomba masuk mesjid. Semua orang pada nongol ke permukaan. Persis seperti kapal selam yang lagi nongol ke permukaan.

Sekarang sudah setengah Ramadhan terlewati. Sekarang kapal selam lagi menyelam. Seperti orang-orang yang tadinya nongol tapi sudah tenggelam. Mesjid-mesjid jadi banyak kemajuan. Kemajuan shaf. Tadinya shafnya penuh ke belakang, sekarang jadi maju ke depan. Ini namanya apa lagi kalau bukan kemajuan?

Inilah yang disindir oleh ustadz Irwan Fitri, LC sebagai manusia kapal selam. Awalnya nongol, sekarang sudah tenggelam. Tapi tunggu saja, ntar nongol lagi kok, sindir sang ustadz. Tunggu saja 1 Syawal, Hari Raya Idul Fitri. Orang-orang yang sudah pada tenggelam itu malah biasanya nomor satu muncul di lokasi shalat Ied. Baju yang dipakai mereka juga paling baru. Kopiahnya juga paling baru. Apalagi sarung dan sajadah. Pokoknya, mereka terlihat paling bahagia di antara orang-orang bahagia lainnya.

Apa setelah nongol di hari raya Ied mereka akan nongol terus?

Namanya juga manusia kapal selam. Paling juga bertahan sehari dua hari. Setelah itu menyelam lagi. Nggak nongol-nongol.

Takutnya satu hal. Saking asiknya menyelam, alias nggak nongol-nongol, ajal datang menjemput. Wah, ini celaka. Ini namanya tenggelam di dunia tenggelam di akhirat. Namanya orang celaka, sekali celaka akan terus celaka. Dan kalau di hari kemudian kita celaka, waduh, celakanya berkelanjutan alias abadi.

Jangan jadi ‘Manusia Kapal Selam’ deh….!


Catatan: Gambar diambil dari sini

Rejeki Besar


Hampir saja saya kehilangan rejeki besar. Tadi siang, sebelum shalat dhuhur, baru teringat kalau saya belum mengonfirmasi ustadz untuk ceramah teraweh malam ini. Sekitar seminggu lalu pernah begitu. Saya lupa menelepon mengingatkan ustadz yang sudah dijadualkan. Ujung-ujungnya, beliau tidak datang dan seperti biasa, saya harus mempertanggungjawabkan kelalaian. Saya harus bertindak jadi ustadz pengganti.

Telepon pertama ustadz Irwan Fitri, LC nadanya sibuk. Saya telepon lagi, masih senada seirama, tut tut tut tut….artinya sibuk. Saya genapkan telepon ketiga kalinya, rasanya bunyi itu baru saja terdengar….tut tut tut….

Capek deh. Begitu dalam hati saya. Kalau saya telepon lagi, jangan-jangan bunyinya “maaf, anda belum beruntung”….Ya sudah, kalau pak ustadz ini tidak datang biar saya ceramah lagilah….begitu tekad dalam dada. Tapi Tuhan masih menggerakkan saya untuk mencoba opsi terakhir, mengirim pesan SMS.

“Ass. U mengingatkn jadual cermh trwh mlm ini di mesjd Nurul Barakah Tanjung Bunga. Shalt Isya pk 7.45. Wass”. Begitu isi SMS yang saya kirim.

Setelah itu saya kembali larut pada kegiatan lain.

Tak disangka, menjelang waktu buka masuk sms. “Ana kurang jelas alamtnya. Bisa jempt ana di depan kantr camat? Sykrn”.

Berhubung nomor ustadz Irwan Fitri tidak saya simpan di memori HP, sempat kening berkerut. Siapa pula yang ngirim SMS pakai allughatul ‘arabiyah segala? Untung saya cepat ingat. Saat itu pula saya menelepon sang ustadz untuk menjelaskan rute menuju mesjid kami.

----------

Ustadz Irwan Fitri, LC ternyata bawa rejeki besar. Malam itu ceramah beliau memukau jemaah. Awalnya saya pikir gayanya akan sama dengan banyak penceramah sebelumnya yang kalem-kalem aja. Akibatnya, banyak jamaah jadi mengantuk. Termasuk saya yang beberapa malam ini mata rasanya berat sekali ketika mendengar ceramah. Padahal sudah saya akali dengan minum kopi pekat sebelum ke mesjid.

Kenapa ustadz Irwan Fitri, LC membawa rejeki besar?

Pertama, karena nama depan ustadz ini sama dengan nama saya. Kami sama-sama Irwan. Hehehe. Biasanya kalau orang nama Irwan pintar bercerita (kata orang Makassar, 'Pacarita'). Nggak percaya? Percayalah……Kalau saya salah, mengertilah…….

Kedua, karena ustadz ini ternyata pintar melucu. Obat paling mujarab melawan ngantuk. Wajar kalau sepanjang ceramah jemaah pada melek semua. Bahkan waktu pak ustadz tanya ke saya kalau ia boleh ceramah sekitar 20 menit, dengan semangat saya bilang, “tafaddal, ustadz”.

Ketiga, karena ustadz ini selain pintar melucu, isi ceramahnya juga bermutu. Anda tau tidak? Kalau anda dantang ke sebuah mejelis yang menawarkan ceramah agama, dan anda menyimaknya dengan khusyuk, apalagi mengambil pelajaran dari ceramah itu, maka itu rejeki nomplok. Sudah dinilai ibadah, dapat pahala berlipat ganda, dapat ilmu pula. Dengan begitu kelas anda naik setingkat, sebagaimana kita pahami bahwa orang yang beriman dan berilmu diangkat derajadnya satu tingkat oleh Allah. Bukankan itu rejeki besar?

----------

Makanya pulang-pulang ke rumah dari mesjid, saya putuskan menulis tentang ustadz Irwan Fitri, LC. Saya lagi senang nih, abis dapat rejeki. Moga-moga tulisan ini bernilai sedekah dari rejeki yang baru saya dapatkan. Sebab kalau anda mendapat sebuah hikmah dari balik tulisan ini, dan anda bersyukur karenanya, Insya Allah saya dapat rejeki lagi. Trus kalau anda memutuskan menceritakan hikmah itu kepada orang lain dan orang lain juga bersyukur karenanya, maka anda juga dapat rejeki lagi dan saya tentu dapat rejeki pula. Begitu seterusnya. Bagaimana rejeki kita tidak besar kalau begitu?

Keindahan Kelas Berat


Bismillahirrahmaanirrahiim,

Pembaca setia blog ini.

Allah SWT menjanjikan. Orang-orang yang tulus berpuasa akan mengalami 2 jenis kebahagiaan. Pertama saat berbuka, kedua saat bertemu dengan Tuhannya.

-----------

Hari Rabu (26/9) lalu saya berangkat ke Gorontalo untuk sebuah kerjaan. Ketika memesan tiket pesawat, saya tidak terlalu memperhatikan jadual keberangkatan, berhubung saya sudah sering menggunakan perusahaan penerbangan yang sama dan biasanya jadual terbangnya sering molor sampai pukul 8 malam.

Saya baru sadar bahwa jadual terbang kali ini sangat dekat dengan jadual buka puasa untuk wilayah Makassar, yaitu pukul 18.10. Itu saya sadari ketika saya menelepon Sandi, adik sepupu saya untuk mengabari bahwa saya akan ke Gorontalo. Sandi juga ternyata akan berangkat di hari yang sama, tapi dia memilih penerbangan yang lebih lambat. Kata dia, “Wah, kalau pakai pesawat itu repot kak. Baru buka puasa, makanan belum juga turun ke lambung sudah harus naik pesawat.”

Betul juga pikir saya. Tapi sudahlah. Tiket sudah di tangan dan takdir Allah memang begitu.

Berhubung saya berangkat bersama Bapak serta Om dan Tante saya, saya setuju saja mengikuti saran mereka untuk berangkat ke bandara pukul 15. Dalam hati saya membatin, cepat amat. Ngapain nunggu lama-lama di bandara? Tapi berhubung mereka adalah orang-orang yang sudah berumur, saya tidak mau ambil resiko terlambat atau terburu-buru karena gerak lambat mereka.

Eh, ternyata permintaan para orang tua saya ini membawa hikmah. Jalan macet menuju bandara luar biasa. Perjalanan kami lamban benar. Saat-saat seperti itu, saya bersyukur sekali. Betul kata-kata bijak, dengar nasehat orang tua.

Sesampai di bandara, urusan barang-barang saja sudah makan waktu lagi. Saya mesti tau diri sebagai anak. Sebagai ‘yang paling muda’, apa boleh buat, urusan barang saya monopoli. Barang yang ringan-ringan saja saya izinkan orang tua untuk menenteng. Selebihnya, ‘ana jadi superman’. Hehehe.

-----------

Tidak terasa waktu berlalu, sebentar lagi azan magrib pertanda buka. Rupanya urusan angkat mengangkat barang bikin saya sibuk tidak merasa waktu berlalu cepat. Mata saya, dan banyak pasang mata lain di ruang tunggu bandara kelihatannya berperilaku sama ketika itu, semua menatap layar ke arah yang sama, layar TV yang tersedia. Semua kelihatan khusyu’. Sesekali saya lirik jam handphone untuk memastikan waktunya tepat.

Tiba-tiba terdengar suara petugas informasi melalui pengeras suara yang biasa dipakai mengumumkan serba serbi keberangkatan dan kedatangan pesawat.
“Para pengguna bandara yang kami hormati. Dengan ini kami sampaikan bahwa waktu berbuka puasa bagai kaum muslimin dan muslimat telah tiba. Kami ucapkan selamat berbuka puasa.”

Alhamdulillah. Suara itu terdengar indah. Suara itu menjadi pertanda bahwa kerongkongan kering yang tadinya haram untuk dibasahi, akhirnya menjadi halal. Perut lapar yang tadinya haram diberi makan, akhirnya menjadi halal….

Memang, berbuka puasa di bandara terasa lain dari biasa. Namun tetap terasa indah. Keindahan itu terasa mencapai puncak, ketika secara serentak, orang-orang yang menunggu keberangkatan mengeluarkan bekal makan dan minum mereka dan di mata saya terlihat serentak pula mereka membatalkan puasa.

Air mata kebahagiaan saya nyaris meleleh, ketika di depan saya, seorang calon penumpang lelaki setengah baya, menawarkan bekal buka puasanya yang saya tau tidak banyak (kelihatannya orang ini hanya punya 2 potong roti yang mungkin ia kalkulasi dengan dua potong itu cukup membuatnya tahan menempuh perjalanan) kepada seorang lelaki muda lain di sampingnya. Subhanallah, sungguh adegan yang lebih bermutu dari adegan film peraih Oscar….

Di sudut yang lain, sempat pula saya saksikan seorang Bapak yang sadar bahwa di sampingnya duduk seorang remaja muslim yang tidak membawa bekal apa-apa. Ditawarinya air putih botol satu-satunya yang dimilikinya dan telah diminum sekitar sepertiganya. Si remaja terlihat sangat bersyukur. Kelihatannya ia bingung mau berbuka apa, sebab ia tidak punya bekal apa-apa. Kelihatannya ia seorang mahasiswa yang mau mudik dan duitnya pas-pasan sehingga tidak menyiapkan bekal berbuka (wallahu a’lam). Dengan antusias diterimanya botol air itu dan diminumnya pula sepertiganya. Subhanallah, ini adegan nyata terindah yang pernah saya lihat…….

-----------

Rasa-rasanya saya semakin khawatir. Ketika menulis ini sudah masuk malam 19 Ramadhan. Saya jadi bertanya-tanya, masih akankan saya menemui keindahan-keindahan kelas berat seperti di atas dalam hidup ini? Masih akankah saya jumpai aktor-aktor kawakan yang akan memerankan peran indah nan menyentuh hati?

Mumpung Ramadhan masih berlangsung, pencarianku akan terus berlangsung. Sebab aku suka keindahan. Aku terangsang oleh yang indah-indah. Tapi bukan oleh keindahan murahan bikinan setan. Tapi oleh keindahan hakiki yang membawa extacy abadi. Yang membawa kebahagiaan ketika bertemu Tuhan.

25 September, 2007

Rupanya ini rahasia mereka....


Rupanya ini rahasia mereka….

Pantas selama ini saya selalu bertanya-tanya di dalam hati. Kenapa banyak orang ahli ibadah kok sepertinya tidak bergairah mengejar materi? Padahal sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak ingin makan enak? Siapa sih yang tidak mau punya rumah mentereng lengkap dengan segala fasilitasnya? Siapa sih yang tidak mau pakai baju-baju bagus?

Lha, para ahli ibadah itu bukan orang bodoh. Jangan mentang-mentang mereka hidup sederhana kita anggap mereka sudah kehilangan ‘sense of luxury’. Salah besar, bung! Mereka tau kok mana yang mahal mana yang murah.

Tapi kenapa mereka memilih hidup bersahaja?

Rupanya ini rahasia mereka….

Sehabis sahur tadi malam, ahlinya para ahli, Bapak Quraisy Shihab membedah salah satu ayat dalam surat Al-Imran. Ayat itu rupanya menyinggung orang-orang kafir di zaman Rasulullah SAW. Orang-orang kafir Quraisy yang hidupnya betul-betul berlebih-lebihan sehingga Allah SWT seakan-akan menyentil mereka, “Hey orang-orang kafir! Segala nikmat sudah kamu habiskan di dunia. Jadi buat kamu tidak ada nikmat lagi!”. Masih menurut cerita Bapak Quraisy Shihab, Syaidina Umar RA suatu saat karena sangat haus meminta diambilkan air. Bertepatan dengan beliau akan minum, beliau mendengar sentilan ayat ini, beliau memutuskan untuk menunda minumnya karena merasa tidak ingin menghabiskan seluruh nikmatnya di dunia. Beliau ingin menunda kenikmatan untuk sesuatu yang kekal di akhirat, yaitu syurga Allah SWT.

Rupanya ini rahasia mereka….

Rahasia mereka rupanya menunda kanikmatan. Mubassir dong? Masak ada kenikmatan tapi kita tidak mau menikmatinya?

Salah besar. Para ahli ibadah menunda kenikmatan tapi bukan menyia-nyiakannya. Mereka lebih cenderung membaginya ke orang yang lebih butuh. Mereka merasa kaya dan memang mereka adalah kaya. Kalau bukan kaya di dunia Insya Allah dijamin kaya di akhirat.

Jadi rupanya, rahasia mereka adalah itu. Setelah tau itu saya tidak berhenti manggut-manggut.

“Begitu toh……..?”, dalam bahasa orang banyak.
“Kammanjo paeng di……?”, kata orang Makassar.
“I see…..I see…..”, kata orang bule.
“Naruhodo……”, kata orang Jepang.

24 September, 2007

Petualang Malam


Enggak tau kalau anda lebih tau. Yang saya tau sebatas yang pernah saya alami.

Ceritanya sudah lama. Waktu itu saya masih bujang. Ada urusan bisnis, saya ke Jakarta. Rekan bisnis saya sebagian besar adalah orang keturunan Tionghoa. Bosnya berkebangsaan Malaysia.

Selayaknya para pebisnis metropolitan, sore sebelum pulang ke hotel, oleh Ibu Er (nama saya samarkan) saya dititip pesan, “Pak, ntar malam Bapak dijemput untuk makan malam rame-rame ya pak.” Sebenarnya saya bukan tipe pria malam (suka keluar malam). Saya lebih prefer makan di hotel saja, selebihnya ya tidur. Makanya, selepas shalat Maghrib di hotel, saya telepon Ibu Er, “Bu, maaf, saya kurang enak badan. Mungkin masih capek akibat perjalanan tadi pagi. Saya makan di hotel saja ya. Sampaikan maaf saya sama Bos.”

Alhamdulillah. Malam itu skenarioku lolos.

Tapi keesokan malamnya kelihatannya saya tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakan yang sama. Ibu Er sendiri menjemput saya di hotel. “Pak, kita makam malam sambil karaokean yah.” Waduh, pikirku. Dunia begitu bukan duniaku…dalam hati aku membatin. Tapia pa boleh buat. Saya cuman bias manggut-manggut.

Kami akhirnya tiba di sebuah restoran di sebuah sudut ibukota (itu pikirku). Ketika masuk ke dalam, nyata bahwa tempat itu bukan sekedar restoran. Di dalamnya juga terdapat diskotek yang penuh dengan asap rokok. House musicnya minta ampun. Di beberapa sudut saya bias melihat jelas orang-orang yang kepalanya ‘geleng-geleng’, dalam hati saya pikir, “oh ini mungkin yang kata orang lagi fly….”

Jujur dalam hati saya tidak nyaman. Tapi sudahlah. Saya buat nyaman dan terkendali saja. Ibu Er mendekati. “Pak, ini tempat ngumpulnya cewek-cewek keturunan Tionghoa. Kalau ada yang Bapak suka, bisa dipesan lho…” Hahaha…saya senyum-senyum kecut saja. Sebagai lelaki saya sungguh tergoda. Tapi sebagai muslim, saya tak mau tergoda. Selain senyum, saya diam saja tidak menimpali.

Malam itu berlalu. Saya pun berusaha melaluinya. Pengalaman pahit tapi sangat berharga. Malam itu, saya jadi tahu bagaimana ritual para petualang…para petualang malam di ibukota…

---------

Allah SWT telah menerangkan di dalam Al-Quran, bahwa sesungguhnya di balik pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Juga bahwa Allah SWT telah menjadikan siang sebagai waktu bagi manusia untuk mencari nafkah, dan malam untuk beristirahat.

Siang mungkin biasa. Tapi malam. Banyak hal luar biasa yang terjadi. Pengalaman di diskotik ibukota malam itu memperluas wawasan saya bahwa begitu banyak orang memutuskan keluar dari jalurnya dengan memanfaatkan malam bukan untuk beristirahat.

Para petualang malam di diskotik itu sungguh kasihan. Mereka menukar kesunyian malam dengan kehingar bingaran. Mereka menukar kebeningan langit bertabur bintang dengan kekeruhan asap rokok. Mereka menukar hembusan angin malam yang terkendali dengan umbaran nafsu seks yang liar. Mereka menukar kesempatan malam untuk bertobat dengan berbuat dosa….

Nauzubillahi min dzalik……

----------

Bulan Ramadhan adalah bulan termulia di sisi Allah SWT. Bulan ini menawarkan banyak berkah. Oleh Allah SWT, pemegang otoritas tunggal di langit dan di bumi, amalan manusia akan dilipatgandakan pahalanya.

Jika bulannya adalah termulia, maka malam-malam bulan Ramadhan adalah terkhusus. Adalah suatu keuntungan hakiki bagi manusia muslim yang berhasil mendapatkan malam termulia di bulan Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar.

----------

Jika ada petualang malam yang mulia, maka para petualang ibadah malamlah mereka. Ketika orang lain asik berselimut, mereka bangkit. Ketika orang lain asik ngorok, mereka bersuara merdu. Ketika orang lain asik bermimpi, mereka justru di puncak kenikmatan berkomunikasi dengan Tuhan mereka..

Sungguh indah berada di sekitar para petualang ibadah malam. Jidat mereka hitam. Bibir mereka senantiasa basah dengan kata-kata pujian kepada Yang Maha Terpuji. Ruku’ mereka ikhlas. Sujud mereka sangat merendahkan diri mereka di depan Yang Maha Tinggi. Tak ada satupun gerakan yang tidak mereka nikmati.

Tak ada musik mengiringi. Tak ada hingar bingar. Tak ada nafsu yang diumbar.

----------

Malam memang penuh misteri. Kegelapannya bisa menawarkan banyak keindahan. Keindahan yang bisa semu dan meracuni, tapi bisa pula hakiki dan abadi.

Ini semua terbalik ke anda. Ini masalah pilihan. Pilihan senantiasa menawarkan kesempatan dan resiko. Namun sesungguhnya yang baik itu sangat jelas bedanya dari yang buruk. Sebagaimana bisa dijumpai dalam bahasa Al-Quran:

- Samakah orang buta dengan orang melihat?
- Samakah orang tuli dengan orang mendengar?
- Samakah orang yang diberi petunjuk dengan orang yang sesat?

Pilihannya sesungguhnya jelas. Namun ketika hati diliputi kemudharatan, dan petunjuk Allah tidak kunjung datang, percayalah, pilihan sesederhana itu bisa jadi sulit dan membingungkan sepanjang masa.

Wahai manusia malam. Jika kegelapan malam menarik hati anda, maka jadilah petualang malam yang benar. Jadilah petualang ibadah malam. Petualang yang perkasa. Petualang yang dibangga-banggakan Allah SWT.

Betapa bangganya…….


Note: Gambar diambil dari sini

23 September, 2007

Tentang aku, kau dan anak kita


Kemarin untuk pertama kali selama Ramadhan ini saya bawa si Ai (anak laki-laki saya) ikut berbuka puasa bersama ke mesjid. Terakhir Ai ikutan ke mesjid hampir setengah bulan lalu ketika kami sekeluarga ikut acara pengajian rutin malam jumat. Ai, waktu itu, seperti biasa, memimpin teman-temannya menjadi ‘gerombolan si ribut’ dengan berbagai suara teriakan mereka sambil berlarian keluar masuk mesjid.

Karena ‘lama’ tidak bertemu dengan teman-temannya, kemarin saya memutuskan untuk membawa Ai. Saya terkejut geli ketika sampai di depan mesjid, masih di dalam mobil, Ai melalui jendela berteriak pada kawanan teman-temannya yang rata-rata berumur 3 ~ 5 tahun, “Kakaaaaaaak……! Ini aku!”….hahaha….di mana pula dia belajar kata-kata itu….kayak dialog film-film Bollywood saja, pikirku.

Belakangan ini kosa kata Ai memang bertambah pesat. Ia sangat banyak meniru yang dilihat atau yang didengarnya.

Hanya saja, ada satu yang membuat saya khawatir. VCD kesukaannya salah satunya adalah seri-seri Ultraman (Utraman Dyna, Ultraman Gaia, Ultraman Max, dll). Saya perhatikan, dia sudah mulai meniru-niru gerakan pahlawan kesukannya itu. Sampai-sampai, saya sendiri pernah diterjangnya ketika sedang baring di tempat tidur.

Saya ingatkan anda, pembaca sekalian, hati-hatilah dengan tontonan anak-anak anda. Kalau tidak bias bahaya….

-----------

Tulisan ini khusus untuk suami istri.

Bicara tentang anak, kita juga mesti hati-hati kalau mau bertengkar. Yah, namanya juga manusia, wajarlah kalau sekali dua kali dikali beberapa kali (hehehe) ada pertengkaran dalam rumah tangga. Saya sendiri mengalami kok. Tapi Alhamdulillah, di dalam rekam jejak (track record) pertengkaran kami, sepanjang yang bisa kami inventarisir, belum atau Insya Allah tidak akan ada barang-barang yang pecah atau rusak. (Pernah sekali nyamuk yang tidak tau diri bahwa kami sedang bertengkar tiba-tiba hinggap di hidung saya….saya timpuk habis sebagai pelampiasan….hehehe….sang nyamuk mati, hidungku pun sakit…)

Tapi kalau mau bertengkar, terutama yang punya anak, pilih waktu dan tempat yang benar.

Lho, bertengkar itu juga mesti pakai seni, saudara-saudara. Sekarang saya tanya, anda kalau bertengkar, mau cepat selesai atau mau berlama-lama? Aneh kalau anda pilih mau berlama-lama. Berarti anda termasuk penggemar atau hobi bertengkar.

Nah, ini saya kasih jimat anti bertengkar. Insya Allah dengan jimat ini pertengkaran anda tidak akan berlangsung lama. Paling setengah ronde juga pasangan bertengkar anda sudah akan KO.

Jimat ini asli lho. Dapatnya dari orang pintar dan terkenal mumpuni. Orang pintar ini juga dapatnya dari orang pintar lain. Pokoknya sudah saya telusuri riwayat jimat ini, dan para ahli sepakat bahwa jimat ini tergolong mumpuni shahih…

Akan saya transfer ke anda sekarang juga.

Berikut caranya. Tolong anda pergi berwudlu. Setelah berwudlu, lakukan shalat sunnat wudhu 2 rakaat. Setelah itu, siapkan kertas kosong ukuran 10 cm x 10 cm. Letakkan di atas meja di depan anda. Selanjutnya, lipat 2 kertas itu. Hasil lipatannya anda lipat 2 lagi. Begitu seterusnya sampai lipatannya sudah tidak bisa dilipat lagi. Kantongi jimat ini dan pastikan bahwa kalau anda akan bertengkar dengan suami atau istri, anda bisa meraih dan menggunakannya kapan saja.

Cara penggunaan. Ketika keadaan sudah memenuhi syarat disebut sebagai pertengkaran, ketika suami atau istri anda sudah mulai ngomel ngalor ngidul nyebut macam-macam, maka di sinilah saat yang paling tepat untuk mengeluarkan jimat mumpuni anda! Sebelum menggunakan, bacalah ‘Audzubillahi minasysyaitoonirrajiiimm’…selanjutnya keluarkan jimat dan gigit keras-keras (bukan dikunyah!) dengan gigi bagian depan anda. Pokoknya lakukan ini sepanjang suami atau istri anda masih ngomel-ngomel (kata orang Makassar: ‘pote-pote’). Kalau ngomel-ngomelnya semakin keras, gigit jimat anda semakin keras pula. Insya Allah, ngomel-ngomel suami atau istri akan berakhir cepat sebelum satu ronde. Selesai.

---------

Hahaha….serius amat mau pake jimat bertengkar…

Orang bertengkar itu ditunggangi setan. Makanya lihat warna muka orang kalau lagi bertengkar, merah kan? Itu karena setan dibuat dari api. Makanya dengan menunggangi orang yang lagi marah, warna setan kelihatan jelas.

Bapak-Ibu, kalau suami sedang marah, berarti ia sedang jadi api yang berapi-api. Nah, kalau lagi begini, ibu jangan jadi bensin dengan menimpali omelan suami. Mendingan ibu-ibu diam sambil menggigit jimat. Kalau kebetulan lagi megang HP yang berkamera, mending muka suami dipotret close up, ntar kalau marahnya sudah selesai, perlihatkan hasil potretnya….hahaha….

Saya bukan penasehat perkawinan lho. Saya saja juga sering minta nasehat perkawinan dari orang yang lebih ‘berpengalaman’. Bukan berpengalaman kawin….hehehe…tapi berpengalaman mengendalikan amarah mereka kalau lagi marah. Soalnya, kalau suami istri lagi bertengkar, itu bukan masalah suami istri itu saja. Anak pun bisa ikut-ikutan susah.

Jadi, Bapak-Ibu, suami-istri, saudara-saudari, kalau mau bertengkar, pilih waktu dan tempat yang tepat, juga pakai cara yang tepat, dan ingat selalu, camkan dalam hati bahwa ini bukan sekedar aku dan kau, “Ini tentang aku, kau, dan anak kita….” Jadi, hati-hati….