10 Maret, 2008

Berbagi di Gorontalo


Bismillah,

Di Gorontalo saya 3 hari. Baru saja pulang kemarin. Makanya hari ini saya baru bisa nulis lagi.

Ada hikmah yang saya dapat. Setelah setengah tahun lebih menulis di blog, akhirnya hobi ini mulai terbayar. Saya diundang untuk memberi inspirasi kepada sedikit orang di Gorontalo yang betul-betul mau maju. Mereka ingin belajar lebih jauh tentang apa itu dan bagaimana memulai sebuah blog.

Asal tau saja, saya bukan professional blogger seperti sang legenda Bapak Budi Putra (beliau menjadi pembicara utama dalam acara seminar di Gorontalo itu) atau Bapak Amril Taufik Gobel (beliau tidak sempat hadir karena ada halangan tapi berdedikasi untuk tetap ambil bagian melalui teleconference). Saya masih amatiran, bahkan masih belajar. Tapi kejadian di Gorontalo tanggal 7-8/3/08 kemarin menjadi bukti bahwa orang belajar itu bisa lebih menguasai apa yang telah dipelajarinya melalui mengajarkannya kepada orang lain.

Bagi saya ini luar biasa. Ini kehormatan besar. Dan yang terpenting, ini rejeki besar pula. Mana tau di antara yang belajar itu ada yang lanjut nulis blog, menginspirasi orang, dinilai ibadah oleh Allah SWT, ujung-ujungnya awak kebagian nilai ibadah pula.

Kepada anda yang punya ilmu, mari berbagi yuk. Berbagi ilmu itu sedekah. Hanya dengan berbagi kita bisa lebih kaya. Ini bukan cuman tentang ilmu. Tentang harta pun Insya Allah begitu. Kalau saat ini anda rejekinya seret, mungkin anda kurang berbagi saja. Coba saja kalau tidak percaya. Berapapun itu, kapanpun itu, di manapun itu, cobalah berbagi.

27 Februari, 2008

Jadi kenapami? (baca: Emang kenapa?)


Pilkada sekarang beda dengan jaman pemilu dulu. Pilkada sekarang pakai standar internasional. Pilkada sekarang bertaburan balon (bakal calon). Dulu pilihannya sedikit. Sekarang, saking banyaknya jadi bingung milih. Dulu mau kampanye pilih-pilih kata. Salah-salah bisa dianggap penghianat negara. Sekarang kata-kata diobral. Pokoknya asal masyarakat suka dengar. Itu dia enaknya di Indonesia. Masyarakat sudah kadung terbuai oleh sinetron (ini versi lanjutannya telenovela yang ngetop duluan, maklum di Indonesia apa-apa harus impor dulu baru bisa bikin sendiri).

Ada lagi yang jadi ciri khas pilkada sekarang, ada debat calonnya. Semakin seru karena bukan saja calonnya yang berdebat, para pendukung pun ikut-ikutan berdebat. Malah lebih seru debat pendukungnya.

Ini satu contoh. Saya tulis berdasarkan hasil curi dengar debat pendukung, si Baco dan si Bocco, dua tukang becak pemerhati politik di ujung gang rumah saya.

----------

Baco : Weh, Bocco, kamu sudah pikir mau pilih siapa jadi walikota nanti? Saya bingung mau pilih siapa. Soalnya calonnya bagus semua…

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Ih, bagemana tidak bingung, sebenarnya saya mau pilih Pak Illy. Dia kan sudah menjabat tawwa. Kelihatannmi ada hasilnya. Apalagi orangnya juga merakyat ji. Kamu lihat toh, apalagi setahun belakangan ini dekat-dekat akhir masa jabatan, dia rajin sekali masuk keluar dusun…bagus ki to?

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Itumi….hampir bulat mi tekadku sebenarnya untuk dukung dia. Tapi kemarin waktu antar penumpang, ada ku lihat di panyingkul (baca: tikungan) posternya pak Abil, wah, kulihat dari lirikan matanya waktu difoto, kayaknya orangnya bagus tawwa. Cepat sekali meroket jabatannya. Dulu dia biasa-biasa ji, sekarang, sudah wakil rakyat mi! Kayaknya, dia patut dipertimbangkan…

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Tapi terus terang, kemarin saya dapat baju kaos, gambarnya pak Muhdar. Weh, di antara semua baju kaos gratis yang pernah ku dapat, ini paling bagusmi bahannya! Kentara kalau pak Muhdar itu orang kaya. Kayaknya lebih bagus kita pilih calon walikota orang kaya, siapa tahu kalau sudah banyak uangnya sebelum menjabat dia tidak korupsi….Apalagi, kita juga bisa belajar toh dari orang kaya seperti itu…..

Bocco : Jadi kenapami?

Baco : Tadi pagi toh, waktu baru bangun, saya tambah bingung…soalnya di tidurku tadi malam, saya mimpi didatangi arwahnya bapakku. Dia bilang, weh, Baco, kamu nanti pilih pak Agraham saja. Dia itu pengacara. Kamu itu nak, perlu perlindungan hukum. Nanti kalo berhadapan sama satpol PP dan becak kamu mau diambil, atau itu gubuk peninggalan bapak di samping got besar mau digusur, kamu bisa minta perlindungan hukum…..Bagus juga itu wasiat bapakku. Kayaknya kita ini, apami lagi kodong yang bisa kita harap selain kepastian hukum…..

Bocco : Jadi kenapami?....Weh, Baco, sudah-sudahmi itu kamu bicara pilkada. Dari tadi saya di sini nunggu kau bayar utangmu yang 3.000, sudah 7,5 bulan kau tidak bayar. Kalau kau tidak mau bayar sekarang, saya lapor polisi biar kau dapat kepastian hukum!

---------

TRAGIS!!

26 Februari, 2008

Believe it.....or not!


Artikel berikut adalah fiksi belaka. Bukan science fiction, atau pulp fiction, it is simply just fiction. Makanya banyak dari isinya jangan dipercaya. Cukup dibaca. Kalau suka ya Alhamdulillah. Kalau tidak suka, ya sudah.

Tapi asal anda tahu saja, dalam ilmu psikologi, kalau anda baca sesuatu yang terus terang, seperti kalimat di atas yang meminta anda jangan percaya, sebenarnya anda digiring untuk percaya. Seperti sekarang ini, begitu anda sudah melewati barisan kalimat ini, anda pasti akan semakin terangsang untuk percaya.

Jadi saya sebenarnya serba salah. Saya bilang ini fiksi dan jangan dipercaya, anda justru semakin mau percaya. Kalau saya bilang percaya saja, kenyataannya ini adalah fiksi belaka.

Jadi kalau begitu, kita ambil jalan tengahnya saja…believe it…or not!

--------

Believe it….or not! Orang-orang di pemerintahan sekarang (dengan ikhlas saya katakan ‘tidak semuanya begitu’) semakin pandai. Terutama giliran bikin anggaran. Di Sulsel contoh konkritnya. Di satu kabupaten, dalam anggaran ditulis target pengumpulan pajaknya adalah – saya kasih contoh saja – 1,5M. Anggaran yang diusulkan untuk mengumpulkan pajak itu 1,6M. Hahaha. Masak biaya pengumpulan pajaknya lebih besar daripada pajak yang mau dikumpulkan??!!

Believe it…..or not! Secara nasional kita sudah menghabiskan banyak sekali uang untuk menyelenggarakan sidang dewan yang akhirnya memutuskan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Tapi nauzubillah, sudah keluar uang banyak untuk menggerakkan tangan ketua DPR seorang ketok palu, palu sudah diketok sampai meja ketua lecet, anggaran pendidikan belum nyampe juga 20%. Tapi hebatnya, di Sulsel, politikus sibuk kampanye pendidikan mau digratiskan. Kalau yang 20% saja nggak pernah kesampaian, macam mana pula mau tambah subsidi supaya pendidikan gratis??!! Ajarin dong….

Believe it…..or not! Sampai detik ini, minyak tanah susahnya minta ampun. Kemarin dalam mobil sama istri, kami lewat sebuah jalan yang ada pasar tradisionalnya. Di antara kerumunan para penjual pinggir jalan, ada seorang yang jualannya ubi kayu. Jumlah ubi kayu yang dijual…? Believe it…..or not, hanya sebanyak dua genggaman tangan! Dasar otak bisnis, istri saya mulai berhitung. Kalau dagangan sebanyak itu dijual 5 ribu (itupun kata istri saya pasti sudah dianggap mahal sama kebanyakan ibu rumah tangga), untungnya berapa? Mungkin 2.500 rupiah. Trus kalau setiap hari pemasukan sebesar itu saja, dikali dengan 30 hari jualan, maka total pemasukan penjual itu sebulan 75.000! Kata istri saya, hidupnya bagaimana? Believe it….or not, orang itu ternyata masih hidup tuh. Makanya, biar kelangsungan hidupnya bisa terus bertahan, minyak tanah yang sudah mahal bagi mereka, tolong jangan dibikin langka. Tolong deh….kodong……..

Believe it…or not! Dari sekian lama saya belajar di sekolah, bapak mamak saya sudah keluar uang banyak untuk ongkosin, paling tidak saya tau bahwa namanya aturan dibuat untuk dipatuhi. Tahu siapa pihak pertama yang paling harus mematuhi aturan? Pembuat aturan! Tapi di negeri kita yang anda cintai ini, pembuat aturan bisa di urutan terbawah dalam mematuhi aturan….Asyiiikkk…Mau contoh? Banyak! Satu contoh saja. Spanduk, baliho, atau alat promosi lainnya, bahkan yang dipasang di pagar sendiri, sesuai aturannya harus bayar retribusi. Orang dinas pendapatan (apalagi sekarang mereka punya kelompok spionase berjudul ‘polisi PP’) paling lebar telinga dan tajam penciumannya kalau masuk urusan beginian. Pokonya kalau lihat spanduk tidak ada tanda tangan atau stempel Dispenda-nya, tunggu-tunggu saja anda dapat panggilan atau spanduk anda diturunkan. Nah, tapi sekarang, di pinggir jalan di hampir seluruh pelosok di nusantara, spanduk, poster, baliho, para politisi yang pengen cepat populer, terpajang bebas tanpa retribusi tanpa sensor! Hahaha…ini siapa yang bego, yah? Atau mungkin saya dulu waktu sekolah bayarnya kurang mahal sampai ilmu begituan tidak bisa masuk akal saya? Au ah, super gelap!

--------

Sekarang bagaimana? Anda masih mau percaya? Sekali lagi saya bilang itu yang di atas fiksi, lho. Jangan salahkan saya kalau anda salah pilih mau percaya atau mau tidak percaya.

Tapi masih ada satu fiksi lagi yang saya tidak mau lupa sampaikan ke anda.

Believe it…or not! Banyak aktris Hollywood naksir sama saya, lho…..


Gambar diambil dari sini.

22 Februari, 2008

Oknum Sejati


Bismillah,

Mungkin julukan “Mahasiswa” memang harus diganti. Terserah mau diganti apa….mau “Siswa” saja, “Mikrosiswa”, atau “Tukang Belajar”, terserah deh. Masalahnya dengan julukan “Maha” di depan “Siswa”, mereka yang tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan itu jadi sangat besar kepala. Kelihatannya mereka ge-er dengan gelar “Maha” itu. Padahal yang “Maha” itu hanya satu, hanya Allah SWT.

Saya terusik oleh berita TV pagi ini ketika sedang asyik di depan komputer. Sekelompok mahasiswa berdemo dan menyandera mobil dinas. Saya bukan membela mobil dinasnya. Saya juga bukan tidak setuju dengan demonya. Saya cuman terusik saja dengan tingkah ulah mereka.

Bayangkan mereka menurut saya jadi lebih rampok dari para perampok. Kalo para perampok ternak kerjanya sembunyi-sembunyi, mereka ini kerjanya terang-terangan. Terang-terangan merampok kebebasan pengguna jalan. Di berita pagi ini, mereka bagai cowboy jalanan menyandera mobil, menutup jalan, membakar ban. Mereka tidak segan-segan membentak orang yang lebih tua. Urat lehernya nyempul lebih besar daripada otot Gatotkaca kalau mereka lagi berteriak. Pengguna jalan tidak bisa ngapa-ngapain!
Maaf, kalau mereka mengaku manusia, pengguna jalan juga manusia choy! Mereka juga nyari duit. Mereka butuh makan. Mereka butuh duit untuk nebus obat kalo lagi sakit. Mereka butuh duit untuk beli rumah biar anak mereka yang masih kecil-kecil punya tempat berteduh. Dan yang terpenting, mereka butuh duit buat bayar uang kuliah anak mereka yang mahasiswa biar bisa jadi orang baik-baik, bukan untuk jadi rampok seperti cowboy jalanan ini! Ngerti nggak seeh???!!!

Begini jadinya kalau pendidikan kita kehilangan nilai dasarnya. Dulu waktu saya kecil, orang tua saya marah besar kalau lewat depan orang tua (pokoknya orang yang lebih tua) tidak nunduk-nunduk ‘tabe’ (jalan sambil nunduk tanda hormat). Jangankan membentak orang yang lebih tua, bersuara lebih keras saja saya sudah dicap tidak tau adat.

Memangnya kalau lagi memperjuangkan kebenaran tidak perlu ada aturan? Anda para Mahasiswa, kalau anda muslim, coba-coba buka buku pelajaran agama anda. Di dalam perang saja yang jelas-jelas dihalalkan membunuh lawan, Islam tetap menuntut para mujahid untuk menjaga etika perang. Lawan kalau sudah tobat dan minta ampun wajib diampuni! Kalau anda tidak tau ini berarti anda tidak pernah belajar. Kalau anda tidak pernah belajar, apapula hak anda untuk mengajari orang tentang kebenaran? Pakai kekerasan alias pemaksaan di jalanan lagi?!

Kalau begini terus kekhawatiran saya akan semakin akut. Mahasiswa kita kok semakin tidak terpelajar? Naga-naganya kampanye para politisi untuk bikin pendidikan gratis bakal tidak pernah kesampaian sampai akhir jaman. Bagaimana mau kesampaian? Mahasiswa semakin tidak terpelajar. Berati negara justru harus keluar uang lebih banyak lagi untuk mendidik mereka. Mendidik mereka entah sampai kapan.

Maaf, saya bukan pesimis. Saya miris.

Makanya saya mau menghimbau. Walaupun saya bukan dari departemen penerangan yang kerjanya biasanya memberi himbauan, apalagi mereka punya mobil pakai pengeras suara yang bisa didengar walaupun oleh orang yang lagi buang hajat di wc tersembunyi di lorong-lorong terjauh, tapi Insya Allah saya ikhlas beri himbauan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah seair. Atas nama kebaikan, atas nama kemajuan, atas nama bangsa dan negara, marilah kita kembalikan pendidikan anak-anak kita kepada pendidikan sebagaimana seharusnya. Pendidikan yang daripada berakarkan pada rumah tangga. Di mana orang tua bertindak sebagai guru. Sebagaimana anak belajar daripada tauladan orang tuanya. Seperti dulu, waktu saya belajar mengaji. Saya dimungkinken hormat senantiasa pada guru mengaji saya. Kalau salah baca saya dipukul daripada kaki saya pakai kayu. Setelah mengaji saya ngangkat air buat guru ngaji. Akhirnya ini membuat saya tetap menghargai daripada guru mengaji saya….Sekian

----------

Mohon maaf kalau tulisan ini tendensius. Sebenarnya tidak seperti itu. Saya ini bukan tipe orang rakus buang-buang nafsu amarah ke orang lain. Apalagi buang jenis nafsu yang lain. Mungkin ketika menulis di atas saya terbawa perasaan.

Saya tau, dari puluhan mahasiswa yang turun ke jalan, masih lebih banyak yang tidak begitu. Makanya memang tulisan ini bukan generalisasi. Tulisan ini menunjuk pada para oknum. Kalau anda mahasiswa dan ridak berkelakuan begitu, maka anda pada dasarnya tidak termasuk dalam oknum itu. Tapi kalau anda mahasiswa, dan berkelakuan begitu, dan anda bahkan tidak merasa tersinggung oleh sentilan tulisan ini, maka andalah oknum sejati itu!

Sadarlah! Sadarlah! Sadarlah!