14 Juli, 2007

Anakku Mengetuk Kulkas


Anakku Muh. Ainurridho Uno. Saya dan istri saya waktu itu saling ganggu, tidak taunya,
Alhamdulillah, lahir anak yang kami nanti-nantikan. Waktu mau kasih nama, rada susah juga.

Kami coba pegang prinsip agama. Bahwa nama bagusnya pendek saja. Tapi artinya juga harus bagus karena kalau dia dipanggil, maka panggilan itu bisa jadi doa. Saya dan istri saya beli banyak buku-buku nama sebelum hari H kelahiran anak kami. Selain kriteria agama, istri saya juga ada kriteria lain. Dia mau nama anaknya ada 'bau' Jepangnya. Soalnya dia terobsesi banyak sama Jepang dari cerita-cerita saya.

Akhirnya kami sepakat nama di atas.

Muhammad-nya sudah mencakup nama Bapak saya, Muhammad Amin Uno, orang dekatnya saya dengar sering panggil beliau 'Kak Moba'. Maklum ini cucu pertama dan satu-satunya sampai saat ini dari pihak keluarga saya. Jadi kami harus meniggalkan kesan bahwa nama si cucu terisnpirasi juga dari kakek dari papanya.

Kakek dari bundanya bernama Muhammad Nur Thahir. Bunyi 'Nur" dalam nama di atas juga tentu mendapat insprirasi dari nama kakek dari bundanya ini.

Ainurridha sendiri kalau tidak salah berarti 'enak dipandang mata'. Memang itu juga harapan kami. Bahwa anak kami ini selalu menjadi penghibur kami sampai kapan pun. Bagusnya lagi, dengan nama ini, kami bisa memanggilnya dengan sebutan 'Ai', yang dalam bahasa Jepang berarti cinta.

Lengkap deh semua kriteria yang dituntut.

Ternyata, si Ai memang enak kami pandang. Trus tingkahnya juga lucu. Tulisan ini terinspirasi dari tingkahnya semalam.

---------------------

Tahun ini Ai berumur 3 tahun. Bicaranya memang agak lambat dibanding anak seusianya. Tapi kami sudah bisa menangkap maksudnya dan dia pun sudah mulai menangkap apa yang kami ajarkan.

Setiap pulang ke rumah dari luar, kami memang selalu mengajarkan Ai untuk mengucap salam bagi orang yang di dalam. Rutinnya seturun dari mobil, saya menggendong Ai turun ke depan pintu rumah dan mulai mengetok pintu sambil mengucapkan "Assalaamu Alaikum!" untuk pembantu kami di dalam rumah.

Belakangan Ai sudah mengerti. Bahwa kalau tiba di pintu harus mengetuk dan mengucapkan salam. Jadi dia akhirnya selalu mendului saya. Tangannya mengetuk lembut sambil berteriak,"Calamulecuuum!"

Kami selalu senyum kalau lihat tingkahnya ini. Kami perhatikan ilmunya semakin meningkat. Setelah itu bukan saja kalau kami tiba di rumah dari luar, tapi kalau dia mau masuk kamar pun sering mengetuk dan ucap salam. Hahaha...kami senang sekali.

Tapi semalam bukan cuman bikin senang. Tapi bikin kami ketawa lebar. Ceritanya dia mau buka kulkas. Waktu sampai di pintu kulkas, dia mengetok dulu sekaligus beri salam.....

Saya dan istri saling pandang dan tersenyum lebar. Kata istri saya, "Nak, itu kulkas. Di dalamnya tidak ada orang. Jadi, Ai tidak usah bilang "Calamulecuum".........

Masih banyak ulah Ai yang lucu-lucu. Biasanya setelah saya perhatikan saya coba mengambil kesimpulan.

Dari ulahnya mengetuk kulkas sambil beri salam, saya jadi mengerti satu hikmah hidup.

Bahwa proses belajar itu tidak mesti langsung tau dan langsung benar. Bahwa belajar itu juga mencakup belajar dari kesalahan.

Kelihatannya ini masalah terbesar kita dewasa ini. Bicara tentang sistem pendidikan, sistem kita dirancang untuk takut salah. Malah dalam beberapa hal lebih ekstrim lagi, bahwa tidak boleh salah sama sekali!

Akibatnya, mental banyak orang kita jadi mental harus benar. Walaupun itu salah. Ujung-ujungnya timbul kebiasaan ABS = Asal Bapak Senang.

Padahal banyak penemuan besar dunia berawal dari kesalahan. Ada orang-orang tertentu malah berani berkumpul dalam 'Komunitas Berani Salah/Gagal'.

Mungkin manusia juga secara alamiah akan terbawa dengan kebiasaan ini. Susah memang kalau orang sudah dewasa dituntut seperti anak-anak dalam belajar. Anak-anak itu tidak merasa malu salah, seperti ai mengetuk pintu kulkas sambil beri salam.

Saya ada pengalaman bagus. Saya belajar ke Jepang sudah 2 kali kesempatan.

Pertama waktu SMA kelas 1 ikut pertukaran pelajar AFS/Yayasan Bina Antarbudaya. Saya ingat ketika itu saya berangkat ke Jepang dengan bekal 0 Nihon-go (bahasa Jepang). Sesampai di sana, saya tinggal di keluarga angkat Jepang asli, dan bersekolah di sma Jepang selayaknya anak Jepang yang lain. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya saya harus beradaptasi.

Tapi harus saya akui bahwa dengan usia semuda itu (sekarang juga masih muda seh...dibanding kakeknya Ai....hehehe...), semangat belajar saya masih tinggi dan perbedaharaan malu dan takut salah juga masih rendah. Jiwa adventurenya lebih banyak. Walhasil dalam waktu 2 bulan Alhamdulillah saya bisa menguasai bahasa Jepang sehari-hari. Setelah 4 bulan, sedikit banyak saya bisa berinteraksi dalam pelajaran sekolah. Perbendaharaan huruf Kanji juga maju pesat.

Tapi ceritanya sangat berbeda ketika saya berangkat lagi belajar untuk setahun di tahun 1996. Waktu itu saya kuliah. Suasananya sudah lebih formal. Dalam bergaul di kampus saya sudah takut dan malu kalau salah. Akibatnya berbeda sekali. Tetap saja saya akui Nihon-go saya banyak kemajuan. Tapi saya yakin kemajuannya akan lebih tinggi seandainya saya tetap bersikap seperti waktu masih sma.

Well....Ai mungkin masih akan tetap bertingkah lucu dan tidak pada tempatnya untuk beberapa saat. Dengan belajar hikmah ini, saya jadi terpikir, Ai bertindak tidak takut/malu salah di luar kendalinya. Kalau kita sebagai orang dewasa yang sudah bisa memegang kendali, bisa nggak ya mengendalikan supaya kita tidak takut/malu salah?


Mari kita coba....


13 Juli, 2007

Mulai dengan Memulai


Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 28 Juni 2007. Potingan ini menjawab pertanyaan seorang milister apakah saya ada menulis buku atau tidak? Selamat membaca.


**********


Bung Fadli dalam postingan saya terdahulu bahwa saya sedih karena file buku saya hilang oleh semut (mungkin gaya bahasa saya terlalu manis sampai semut pun terpanggil kali ya), itu serius. Tapi saya senang juga, sejak itu saya tidak pernah mau menyimpan gelas atau minuman apapun di samping laptop saya.

Saya senang juga karena anda mengingatkan saya tentang itu dan judul buku yang wafat secara prematur itu muncul kembali di benak saya. Saya mau sedikit menulis pagi ini terinspirasi oleh judulnya, "Mulai dengan Memulai".

Dari jejak memori yang tertinggal, chapter pembuka dimulai dengan setting berikut:

"Kisah ini balik ketika orang sedang mewujudkan impian untuk terbang ke bulan. Amerika sebagai negara terdepan dalam teknologi ini berkomitmen untuk menyediakan berapapun biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan impian mereka, the american dream, the people's dream, to land on the moon....menginjakka n kaki di bulan.

Singkat cerita semua ilmuwan dan teknisi terbaik dalam bidangnya dilkumpulkan. Blueprint dan prototype sudah dihasilkan. Kerja sebenarnya pun dimulai. Para ilmuwan dan teknisi bahu membahu membangun sebuah pesawat luar angkasa yang didorong oleh roket canggih yang diskenariokan akan membawa manusia ke orbit bulan untuk selanjutnya mendarat di atasnya.

Di sisi lain yang tidak kalah rumitnya adalah menyiapkan calon awak...para astronot yang harus merupakan orang-orang terbaik. Orang-orang yang bukan sekedar intelligent, tapi juga berani dan skillful sehingga mereka bisa menyelesaikan misi untuk menginjakkan kaki di bulan, tapi lebih dari itu kembali ke bumi dengan selamat. Proses penentuan para awak memakan waktu lama. Belum lagi proses persiapan mereka. Singkat cerita ini pun telah dilewati. Sekelompok orang-orang pilihan telah siap menjalankan misi.

Akhirnya tiba hari H. Hari penting yang akan tercatat dalam sejarah manusia. Hari penting yang akan membuktikan atau menggugurkan banyak hipotesis.

Semua mata dan telinga tertuju pada misi ini. Kesibukan berubah menjadi puncak ketegangan. Di bangunan pusat kendali misi, direktur pusat kendali menjadi aktor terpenting.

Tiba saat hitung mundur yang ditunggu-tunggu. Bagian bawah roket berukuran super besar sudah keluar asap mengepul, pertanda pesawat beroket pun siap meluncur ke atas. Monitor kesiapan masing-masing awak juga tidak menunjukkan kejanggalan. Sampai pada saat countdown, direktur pusat kendali mendapat konfirmasi bahwa misi siap!

Suara time operator akhirnya bergema...
TEN.....NINE. ...EIGHT. ...SEVEN. ...SIX... .FIVE.... FOUR...THREE. ...TWO... .ONE....ZERO! !

Tidak sepasang pun mata yang tidak tertuju pada landasan peluncuran. Anggota ahli pengendali fokus pada monitor di depan mereka dan pada sebuah monitor raksasa yang memperlihatkan kondisi pesawat secara utuh. ANEH! Pesawat tidak juga meluncur. Semua elemen bingung dan sibuk mencari-cari, jangan-jangan kesalahan ada di pihak mereka. Bingung..... tegang... ..kerigat berkucuran.. ...gugup. ...semua bercampur jadi satu!

Akhirnya penyebab tidak meluncurnya pesawat ditemukan! ............ ......... ......... ......... ......... ...

Ternyata.... ......Direktur Pusat Kendali Misi........ ........TIDAK MENEKAN TOMBOL START!"

Bung Fadli, itu sejauh yang saya bisa ingat tentang pembukaan almarhumah buku saya (saya sebut almarhumah karena dia so sweet dimakan semut.....)

Saya pikir analogi itu tepat untuk menggambarkan kondisi banyak orang. Ambil contoh istri saya. Berkali-kali dia deklarasi di tempat tidur. Pokoknya saya mau fitness, katanya. Dia sudah ngecek tempat fitnes yang bagus dan khusus wanita mengingat dia berjilbab. Dia juga sudah beli baju fitnesnya. Biar rame, dia juga sudah telepon teman supaya ada yang menemani, katanya. Pendek kata, semuanya sudah siap. Hanya satu, dia tidak pernah pergi ke tempat fitnes itu. Malasnya lebih besar.

Teman lama saya yang dosen juga punya masalah serupa. Ngerti dia bahwa untuk dapat beasiswa mesti punya TOEFL Score memadai. Tapi sejak dia ngomong ke saya dulu sampai sekarang, setau saya dia tidak pernah berinisiatif menghadiri kursus.

Serupa tapi tak sama adalah kakak ipar saya. Selalu saja mengeluh, batuknya tidak pernah berhenti. Ke dokter, dokter cuman minta satu, berhenti merokok! Kakak ipar saya sih setuju. Awalnya kelihatan dia sangat profesional dengan niatnya. Tapi bagaimana mau berhenti, sebungkus rokok yang dia bilang untuk jaga-jaga selalu ada di kantong celana.

Bung Fadli, mungkin anda punya banyak mimpi atau obsesi (yang baik-baik saja tentunya). Saya sarankan, apa pun itu, cobalah anda ambil langkah pertama, agar itu bisa membawa anda ke langkah ke dua, bahkan kalau perlu ketiga, dan seterusnya. Bukankah langkah ke 1000 tidak akan ada tanpa langkah pertama?

Soichiro Honda pendiri Honda Motor Company itu dikenal nakal dan bodoh di sekolahnya. Tapi dia minat besar pada permesinan. Asal tau saja Bung Fadli, sebelum bikin mobil, dia dulu jagonya bikin motor. Sekarang mobil racing Honda menyaingi Ferari. Tidak bakal ada itu kalau ia tidak mulai dengan langkah pertamanya dulu.

Jadi Bung Fadli,
Saya sumbang saran untuk anda, apapun impian anda, mulailah! Tanya bagaimana? Ya pokoknya mulai saja!

Mulai itu duluan, Mencapai impian belakangan!


Berikut adalah postingan saya di GM2020. Postingan ini menanggapi email seorang anggota milis tentang postingan saya sebelumnya, "Mulai dengan Memulai". Selamat membaca.


**********


Wassalam Bung Fadli,

Bismillah,

Bung, mulai itu duluan alias di depan.

Para motivator sekuler selalu menekankan, sebelum mulai tentukan target anda! Mereka bahkan berani berlebihan dengan mengatakan, buat target anda sejelas mungkin dalam bentuk hasil rupiah kalau itu rupiah, barang kalau itu barang, de el el kalau itu dll, dan tentukan waktunya secara spesifik, sebulankah, setahunkah, terserah. Saya dulu pengikut keras aliran ini bahkan mengajarkannya ke banyak orang. Tapi hasilnya, pernah sebulan penuh mesti bed rest akibat tifus, pernah menangis deras akibat maag, kena alergi akibat stress, dengan istri banyak berantemnya, de el el.

Padahal Muhammad SAW pembawa kalamullah berisi kalimat-kalimat motivasi numero uno! (baca=Number One, ini bukan salah seorang keluarga marga saya dan OH)

Innamal a'maalun binniyaat. Saya terjemahkan, ketika anda mulai, jangan pikir belakangnya dulu, tapi bikin depannya dulu. Yaitu tentukan niat anda...."masih ingat prinsip ini dipakai oleh para pekerja iklan dulu.."Gambar kuda kok buntutnya di depan?"...
Berniat harus baik. Agama kita mengharamkan anda berniat jelek. Makanya baru berniat baik saja kita sudah dapat ganjaran, sedangkan kalau berniat jelek, anda belum diganjar ketika belum terealisasi. Maknanya, Allah memberi kita kesempatan untuk senantiasa memperbaiki niat kita.

Nah, saya belajar banyak dari pengalaman baik pribadi ataupun via orang lain. Banyak orang logikanya terbolak balik (masih ingat postingan saya tentang Hukum DM?...itu serupa). Pada saat mulai, bukannya memperbaiki niatnya, malah sibuk menghitung hasil/impiannya.

Analoginya adalah begini. Suatu pagi anda duduk santai di teras sambil memandang halaman anda yang kosong melompong tanpa tumbuhan hijau. Halaman tetangga di rumah yang berhadapan menghentikan lamunan anda dan membawa rasa sejuk tersendiri sebab halaman itu hijau, teduh oleh rimbunan pohon mangga, dan ceria oleh warna-warni kembang sedang merekah.

Anda kemudian mendapat ilham. Alangkah indahnya kalau suasana itu ada di depan anda sendiri. Di halaman anda sendiri. Anda bisa menyentuhnya, bahkan bisa mencium baunya, bisa sesukanya sepuas-puasnya. Anda mulai berimajinasi. Bagaimana kalau anda menanam pohon dan tanaman-tanaman dengan jenis yang sama dan modelnya pun di atur sama di halaman anda. Tapi imajinasi anda mulai berkembang lebih liar. Anda mau lebih bagus dari halaman tetangga. Anda mulai menghayalkan jenis tanamam yang lebih terkenal, lebih mahal dari segi harga, dengan penataan disainer lanskap agar lebih paten, pokoknya semuanya harus lebih! Tapi kenyataan lain menyadarkan anda. Punya halaman seperti itu pasti biayanya mahal. Belum lagi pemeliharaannya. Hitung-hitung untuk memulainya butuh Rp 5jt minimal. Pemeliharaannya may be Rp500rb/bulan. Kebenaran versi anda mulai mendominasi. Daripada keluar biaya semahal itu, belum lagi kesibukan anda belum tentu bisa memperhatikannya kelak, akhir dari semuanya, ANDA MENGURUNGKAN NIAT BAIK ANDA!

Analogi ini sama dengan orang pengangguran yang ditawari berbisnis, setelah pikir panjang lebar ia memutuskan untuk tidak terima sebab takut kalau banyak uang harus dibawa ke bank trus dalam perjalanan ia bisa dirampok orang!

Bung Fadli, Insya Allah dengan mulai dengan niat baik dan jelas, dan ingat, niat baik dan jelas ketika akan direalisasikan harus dengan nama Allah "BISMILLAHIRRAHMAAN IRRAHIM" dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah untuk menunjukkan jalan kepada anda sekaligus memperbaiki jalan anda kalau salah.

Setelah itu, apa boleh kita langsung menuju ke hasil akhir? Eits, setahu saya sebelum akhir ada tengah-tengahnya. Begitu anda memulai dengan realisasi, ada proses. Proses ini bergantung ikhtiar anda dan cepat tidaknya anda mencapai hasil akhir dan seberapa bagus hasilnya tergantung seberapa dekat anda kepada The Almighty Decition Maker, Allah SWT. Tapi yakinlah, bahwa apapun hasilnya, kalau anda telah meminta kepada pengambil keputusan mutlak, itu PASTI BAIK buat anda!

Saya sarankan anda perhatikan komponen penentu yang lain. Ada Sunnatullah yang harus kita percayai, yaitu ketetapan Allah SWT. Kalau anda pernah baca postingan saya mengenai QADHA (kalau salah itu dari saya, kalau benar itu milik Allah SWT). Supaya gampang dimengerti, SUNNATULLAH ini sebenarnya bidang ilmu yang digeluti oleh Bung MY, hanya saja beliau fokus pada kejadian yang ada di alam. Padahal, dalam kehidupan ini bejibun SUNNATULLAH. Contoh, kalau mau dapat gaji atau upah, sunnatullah yang bisa kita baca saat ini adalah cari kerja atau usaha jualan.

Nah sunnatullah bagi saya seperti program super komputer yang memasukkan semua fungsi kehidupan dalam ketentuanNya sampai mengeluarkan hasil. Artinya, ketentuanNya juga tergantung pada masukan yang anda buat. Logikanya seperti oven panggang. Kalau anda masukkan adonan roti, keluarnya Insya Allah adalah roti. Kalau anda masukkan pisang yang sudah dipenyet, Insya Allah keluarannya adalah Pisang Epe.

Kesimpulan saya, hasil bergantung kepada masukan. Di sini ilmu motivasi dalam Islam menuntut kita untuk evaluasi. Ingat ayat, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" Quran Surah 103: 1-3.

Pengamalan ayat di atas dalam memotivasi kita menurut saya adalah:
Konsisten pada niat baik anda di awal (artinya konsisten pada apa yang anda tuju). Ini adalah pengejawantahan dari iman. Orang beriman niatnya baik, dan kalau niat anda baik, maka anda harus konsisten.
Orang rugi itu kalau hari ininya lebih jelek atau sama dengan hari kemarinnya. Tidak ada selisih plusnya. Jadi anda dituntut untuk selalu evaluasi.
Agar hasilnya baik, tahap awalnya anda mesti selalu minta nasehat kepada orang yang menguasai masalah dan tidak dzalim. Ini namanya belajar. Orang bekerja, berbisnis, atau apapun kegiatannya pada dasarnya adalah orang belajar. Salah besar kalau anda bisnis kue trus bertanyanya ke pebisnis besi bekas. Atau anda mau beternak tapi bertanya kepada petani. Di sini agama kita jelas menyatakan, bahwa anda juga kalau sudah sukses dalam bidang yang anda geluti, harus berbagi ilmu/menasehati orang lain. Jangan dzalim dan mau bagus sendiri.
Kata terakhir "menetapi kesabaran" adalah kalimat motivasi dahsyat! Dalam prosesnya nanti Insya Allah ada sukanya ada dukanya. Motivator sekuler tidak pernah menyebut kata 'sabar'. Agama kita mengangkat ini sebagai isu besar. Selain Insya Allah diganjar hasil bagus di dunia, di akhirat pun orang sabar jelas tempatnya di Jannah. Pengamatan saya, orang sabar itu orang yang tawakkal. Orang tawakkal itu selalu menyerahkan penentuan hasil kepada Allah. Orang tawakkal berikhtiar di kala hari terang, dan merapatkan kepala ke tempat sujud di kala orang lain sedang terlelap dalam gelapnya malam. Subhanallah! Bukankan ini nilai motivasi yang tak ternilai yang bisa kita serap dari kalamullah?!
Bung Fadli, setelah itulah baru kita bisa menikmati hasilnya. Hebatnya lagi kalau formula ini kita ikuti, hasilnya bukan saja baik, tapi Insya Allah akan berberkah. Orang yang dapat berkah bukan saja kaya dalam ukuran dunia kalau ia banyak uang, tapi juga akan bahagia senantiasa di dalam hati.

Jadi, Bung Fadli,
Mulai itu di depan, hasil akhir itu belakangan.. ..

Orang-orang Berselimut....


Tulisan ini saya posting do GM2020 tanggal 2 Juli 2007. Selamat membaca.


*********


Assalaamu Alaikum Wr. Wb.

Dear Milisters...

Ada beberapa kisah teman saya yang mau saya kisahkan. Untuk alasan privacy, nama tidak saya sebutkan.

------------ ------

Seorang teman pernah berkeluh kesah. Ia ke sana ke mari berkendara motor untuk cari duit. Ia seorang dosen bergelar S2. Istrinya juga Dosen. Dari kampus ia dan isterinya terima gaji. Tapi tentu anda bisa mengerti, seperti sebahagaian besar orang, ia rasa gajinya tidak cukup. Kebetulan ia Englishnya jago. Cara mengajarnya juga disuka banyak orang. Very communicative! Apalagi jebolan beasiswa IDP - Australia.

Saya harus akui dia orang yang gigih. Panas terik ia tahan. Hujan lebat pun ia terobos. Jam kerjanya panjang. Kalau pagi ia di utara kota, mungkin 2 jam setelah itu ia sudah di selatan kota. Pulang ke rumah di atas rata-rata jam pulang orang kebanyakan.

Ketika bertandang ke rumah saya suatu saat, saya suguhi kopi (saya lihat dia ngantuk soalnya). Saya bilang, "Kamu kelihatan capek sekali". Dia akui. Dia bilang dia kerja ngajar di kampus kurang lebih sama dengan dosen yang lain. Tapi ngajar di luar di kursus atau di privat cukup panjang. Dia jujur harus begitu untuk 'ngejar setoran'.

Itu baru kegiatan ngajarnya. Belum lagi keterlibatan di proyek. Saya bilang ke dia "Kamu lebih dari Superman!".

Tidak ada keberatan, dia mengaku dia malah butuh waktu kerja lebih panjang. Dia bilang, "Seandainya sehari bisa lebih dari 24 jam, itu pun mungkin tidak cukup buat saya!"

Saya tanya, kerja begitu keras dan panjang untuk apa? "Saya perlu UANG!" katanya.

------------ -----

Dear Milisters, teman saya ini BERSELIMUT! Ia berselimut ketidakpuasan. Menurut saya tidak akan ada jumlah uang terbesar yang bisa memuaskan kebutuhannya. Juga tidak akan ada lebih dari 24 jam waktu hidup untuk memuaskannya. Teman saya ini BERSELIMUT!

------------ -----

Seorang teman yang lain saya kisahkan lain lagi.

Dia ini sekarang yatim piatu. Dulu ketika orang tuanya masih hidup mereka termasuk keluarga berkecukupan. Cukup uang untuk bermewahan. Cukup banyak waktu untuk bersenang-senang. Semua orang dalam rumahnya cukup sibuk dengan kegiatan sendiri tanpa mau tahu kegiatan orang yang lain.

Sampai ajal telah menjemput kedua orang tuanya. Saya tidak tahu, bahwa di balik semua kecukupan yang dulu ia punyai, sekarang ia masih berkecukupan, hanya saja, kecukupannya sekarang adalah cukup banyak masalah.

Karena dulu ia hidup dalam kemanjaan, sekarang ia tidak tahu harus bagaimana. Saudara-saudaranya cari selamat sendiri. Maklum, sejak kedua orang tuanya masih hidup mereka memang sudah biasa saling cuek.

Masalah cukup besar karena teman saya ini bingung bagaimana untuk survive. Serunya lagi karena kepribadiannya juga bermasalah. Ia selalu curiga sama orang. Kepada saya dan teman-temannya yang lain, ia selalu merasa dicuekin (mungkin terbawa kondisi di kelurganya dulu). Kalau ada teman yang menawari pekerjaan, biasanya tidak bertahan lama. Ia cenderung bentrok dengan pemberi kerja karena terdapat kesan bahwa ia selalu merasa dieksploitasi. Mentang-mentang ia orang susah, katanya.

------------ ------

Dear Milisters, teman ini juga BERSELIMUT! Ia berselimut bayang-bayang masalah pribadinya. Ia mengerti bahwa ia bermasalah, tapi ia tetap curiga. Ia penuh rasa curiga. Teman saya ini BERSELIMUT!

------------ -----

Kisah tentang teman saya masih ada.

Kalau yang satu ini cukup dekat dengan saya. Ia secara langsung atau tidak langsung suka membeberkan masalah pekerjaannya. Ia dalam istilah banyak orang 'beruntung'. Masih kata orang lagi, ia bekerja di 'tempat basah'. Kerjanya di departemen pemerintah dan berurusan dengan proyek. Ia panitia proyek. Pernah dengan jelas ia ngomong ke saya. Proyek itu mau dibuat peraturan bagaimanamun tetap bisa diakali. Kata dia, bukan rahasia lagi bahwa pemenang tender sudah ketahuan di depan.

Mungkin para pemeriksa proyek sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu, katanya. Semua proyek harus diumumkan di media massa. Nah, trik dan tipsnya untuk mengelabui banyak pemain proyek, pengumuman dilakukan di koran yang tidak terkenal, atau melalui radio pada jam-jam malam di mana sebagian besar sudah tidur.

Saya pernah bertanya, "Bukannya sekarang pemerintah bekerja sama dengan koran-koran tertentu untuk mengumumkan proyek di koran itu?" Dia bilang, itupun bukan berarti tidak bisa diatur. Bisa dibilang semua peserta tender sudah saling kenal. Di antara mereka ada aturan bahwa pemenang yg sudah ditentukan sejak awal akan dibiarkan menang. Mereka akan bertindak sebagai pendamping. Tentu saja bukan berarti itu dengan ikhlas. Mereka dapat fee pendamping. Jangan heran kalau banyak orang yang punya lebih dari satu perusahaan, ngakunya kerja proyek pemerintah, tapi tidak pernah kelihatan di mana proyeknya, tapi hidupnya tetap bergelimang harta.

Saya bilang ke teman ini, "Itu bukannya curang dan korupsi?" Dia jawab enteng, korupsi itu kalau tidak sesuai aturan perundangan. Ini kan sesuai. Prosesnya aja yang kita atur. Lagian, susah mau kaya kalau tidak curang di jaman sekarang!

------------ ----

Dear Milisters, teman yang ini juga BERSELIMUT! Dia berselimut kecurangan. Ini cocok dengan tulisan Ahmad Deedat penulis The Choise. Segala sesuatu yang dari akal hanya akan menggelitik akal. Tapi kalau datangnya dari hati juga akan menggetarkan hati. Teman saya ini, sama juga, BERSELIMUT!

------------ -----

Dear Milisters,

Tolong baca DISCLAIMER berikut:

Tulisan ini semata-mata berkisah tentang teman saya. Apakah teman saya ini nyata atau fiktif, biarlah itu menjadi rahasia saya dan selain saya hanya ALLAH SWT yang Maha Mengetahui.

Kalau sekiranya anda Milister ada yang termasuk teman saya dan kisah di atas mirip dengan kisah anda, maka bisa jadi itu anda. Maka Anda adalah orang yang BERSELIMUT!

Kalau sekiranya anda Milister bukan teman saya tapi kisah anda mirip dengan kisah di atas, maka pasti itu bukan anda. Tapi tidak mengapa, meskipun anda bukan teman saya, tapi kisah anda mirip dengan kisah di atas, tetap saja, Anda adalah orang yang BERSELIMUT!

Kalau sekiranya anda Milister adalah teman saya atau bukan teman saya, dan kisah di atas tidak mirip dengan kisah di atas, jangan senang dulu, karena bisa saja Anda tetap tergolong orang yang BERSELIMUT!

Mungkin kisah Anda lain. Mungkin kisah anda seperti kisah-kisah di bawah ini:

- Anda marah terhadap sesuatu, dan anda terus saja marah. Anda tidak puas kalau anda tidak melampiaskan kemarahan, seakan tiada kata maaf dalam kamus anda. Maka anda adalah orang BERSELIMUT.

- Anda miskin dibandingkan orang sekitar anda, dan anda terus meratapi kemiskinan. Anda sibuk memelototi orang kaya sementara anda sendiri tidak mau bekerja atau berusaha untuk keluar dari kemiskinan. Maka anda adalah orang BERSELIMUT.

- Anda adalah anggota dari suatu bangsa. Bangsa anda tergolong bodoh dan terbelakang. Tapi bangsa anda tidak mau belajar dan mengapresiasi usaha bangsa lain. Bangsa anda terus gontok-gontokan. Maka Bangsa anda adalah BANGSA yang BERSELIMUT!

- Anda sudah mendapatkan 3 contoh lain tentang orang berselimut. Tapi Anda masih juga belum mengerti apa arti orang berselimut itu. Maka pikiran anda itu BERSELIMUT!

------------ ---

Tolong baca DISCLAMER ini masih berlanjut.

Kalau Anda, Keluarga Anda, Teman Anda, Pemerintah Anda, Bangsa Anda, Umat Anda, atau siapa saja tergolong BERSELIMUT, maka sebaiknya Anda dengar seruan berikut:

"Hai, Orang yang BERSELIMUT!"
"BANGUNLAH! Lalu beri PERINGATAN!"

Quran Surah 74 (1-2)

Anda, yang tergolong BERSELIMUT, tidak akan berdiri, dan keluar dari SELIMUT anda, apabila anda TIDAK BANGUN/BANGKIT!

Kalau selimut anda KEMISKINAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa anda tidak akan kaya apabila tidak bangun dan mengerjakan sesuatu.

Kalau selimut anda adalah KEMALASAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa satu-satunya cara anda harus rajin.

Kalau selimut anda adalah KEBODOHAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa tidak mungkin keluar dari kebodohan tanpa belajar.

Kalau selimut anda adalah KECURANGAN, bangunlah, peringatkan diri anda bahwa keuntungan dari kecurangan bukanlah keuntungan sebenarnya, malah kerugian bagi anda.

Kalau selimut bangsa anda ini adalah SALING TUDING, SALING SIKUT, SALING FITNAH, SALING DORONG, dan berbagai SALING yang lain, BANGUNLAH! Ingatkan bangsa anda bahwa itu tidak menyelesaikan masalah. Jangan pernah harap padi kalau anda tanam rumput. Jangan harap hasil bagus kalau bukan niatnya baik.

------------ ---

DISCLAIMER terakhir:

Jika anda orang Gorontalo, atau bukan orang Gorontalo, tinggal di Gorontalo atau bukan di Gorontalo, berbahasa Gorontalo atau tidak berbahasa Gorontalo, pengunjung tetap GM2020 atau bukan pengunjung tetap GM2020,

dan anda BERSELIMUT,

BANGUNGLAH! dan BERI PERINGATAN!