31 Juli, 2007

Ketika Allah Memurnikan


Ini kisah tentang keikhlasan. Keikhlasan bening yang dijaga kemurniannya oleh Sang Penuntut Keikhlasan.

Kisah ini nyata. Saya dengar sendiri dari adik ipar saya yang berkata bahwa ia mendengar dari ipar kemenakan kami. Ipar kemenakan kami berkata:

Istrinya ustadz Yus (untuk alasan menghormati dan memelihara keikhlasan beliau, nama saya samarkan) baru-baru bercerita tentang pengalaman luar biasa dari ustadz Yus yang diceritakan kepada istrinya dan beberapa jemaah beliau.

Istri ustadz Yus suatu saat berkeluh kesah. Duit nyaris habis sementara dapur harus terus berasap. Makanya istri ustadz Yus mengeluh kepada sang ustadz. "Ustadz, uang sudah tipis. Lain kali kalau ceramah, dan jemaah kasih amplop, diambil saja ustadz, untuk bekal hidup." Begitu pinta sang istri.

********

Ulasan saya tentang seorang ustadz Yus adalah sebagai berikut. Beliau masih muda. Usianya 2 tahun lebih tua dari saya. Beliau 37 tahun. Tapi dari segi keilmuan, beliau terbilang sangat senior. Belakangan saya tahu dari jaringan para pendakwah, ustadz Yus yang sangat sederhana itu bukan sekedar terkenal sebagai ahli hadits di Indonesia saja, tapi beliau juga terkenal di negara-negara Arab. Sebagai seorang pengkaji hadits yang diperhitungkan, dakwah beliau lintas negara. Meskipun beliau tidak ke mana-mana. Ketika diam bukan berarti beliau tidak berkata-kata. Ketika tidur bukan berarti beliau tak terjaga. Ketika susah bukan serta merta beliau melarat.

Ustadz Yus banyak menulis buku. Terutama tentang kajian hadits. Beliau gaptek. Tapi beliau bukan tipe yang mudah putus asa. Bukunya beliau diktekan kepada seorang juru ketik. Selanjutnya juru ketik yang melakukan kegiatan menulis yang sesungguhnya. Tapi toh buku-buku beliau terbit juga.

Saya lupa tepatnya. Tapi dalam ingatan saya belum lebih dari setengah tahun lalu. Beliau diberi ujian berat oleh Sang Khalik. Ketika beliau sedang mengantar istri dan satu di antara 2 anak kembar laki-laki beliau untuk membeli terang bulan di pinggir jalan. Setahu saya beliau tipe pengendara yang berhati-hati. Katanya sesampai di gerobag terang bulan di pinggir sebuah jalan raya, beliau memarkirkan motor di antara banyak motor lain yang diparkir berjejeran. Istri beliau yang lagi hamil turun untuk membeli terang bulan. Sementara ustadz Yus sendiri dan anak laki-lakinya menunggu di motor.

Tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam beliau dan anak sekonyong-konyong! Katanya beliau terseret cukup jauh. Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun. Anak laki-laki beliau tewas di tempat. Sementara ustadz Yus tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Saya sempat melayat ke rumah duka. Ketika saya tanya anggota keluarga beliau, katanya ustadz Yus belum diberitahu tentang kepergian anaknya sebab beliau sendiri masih sering tidak sadarkan diri.

Sekitar seminggu setelah itu saya menjenguk ustadz Yus yang memang sudah bisa dijenguk. Ternyata rahang mulut beliau retak dan harus dioperasi. Ketika saya jenguk, beliau masih dilarang dokter untuk bicara. Makanya beliau dilengkapi dengan whiteboard kecil sebagai media komunikasi.

Sungguh, tidak tampak wajah sedih yang berlebih-lebihan di wajah ustadz Yus. Saya tahu mestinya dalam kondisi seperti itu orang-orang biasa akan terus memperbincangkan musibah sebagai tanda berduka. Tapi beliau tetap bersahaja seperti biasa. Ketika saya tanya apa rencana beliau berikutnya, kata beliau, beliau akan ke Sudan untuk melanjutkan studi ilmu haditsnya.

Satu karakteristik ustadz Yus. Beliau tidak pernah mau berjanji. Kata Insya Allah pun tidak sembarang beliau gunakan. Ketika diundang menghadiri suatu acara, atau diminta ceramah, beliau biasanya hanya mengangguk tanda telah mengerti jadual yang diberitahukan. Seakan beliau sangat takut mendahului kehendak yang Maha Mengatur.

Ada lagi karakteristik lainnya. Ustadz Yus tidak pernah mau menerima amplop sehabis ceramah. Seakan beliau ingin menegaskan bahwa berdakwah bagi diri beliau bukan untuk cari uang. Beliau senantiasa meluruskan dan memurnikan niat di balik niatnya yang menurut saya sudah sangat lurus dan murni.

***********

Malam itu ustadz Yus akan keluar ceramah. Undangan ceramah ini dari sebuah mesjid yang sudah rutin beliau datangi. Ada keprihatinan dalam hati beliau. Beliau prihatin atas permintaan istrinya untuk menerima amplop. Makanya ketika didesak oleh sang istri, beliau akhirnya melanggar kebiasaan selama ini. Ustadz Yus mengiyakan permintaan istrinya.

Seperti biasa ustadz Yus keluar mengendarai motor bebek yang setia menemani misi dakwah beliau. Motor dipacu menuju mesjid yang dituju.

Aneh.

Ustadz Yus tidak mendapati mesjid yang dituju. Beliau berputar-putar dan terus mencari. Tapi tetap saja, mesjid yang sudah rutin didatanginya tidak didapatinya. Padahal jemaah sudah menunggu. Bukan kebiasaan ustadz Yus datang terlambat.

Aneh.

Ustadz Yus bahkan tersesat.

Akhirnya beliau menyerah. Ustadz Yus memutuskan pulang ke rumah. Dengan perasaan gundah gulana. Sesampainya di rumah, ustadz bersahaja ini menceritakan pengalamannya kepada sang istri.

Aneh.

Keesokan harinya, ustadz Yus mengecek mesjid yang beliau cari. Dengan mudah beliau menemukannya. Sebab mesjid tersebut memang rutin didatanginya.

************

"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa)kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya"

Quran surah Az Zumar (2).

Kisah ustaz Yus adalah otentik. Merinding bulu kuduk saya ketika mendengar kisah ini. Bahwa orang-orang yang senantiasa ikhlas akan dijaga keikhlasannya. Dan kalau yang menjaga dan memurnikan itu adalah Allah SWT, siapakah yang bisa merusaknya?

PILKADA Idol


Seandainya pemilihan kepala daerah seperti pemilihan Indonesian Idol di RCTI, urusannya akan sederhana.

Minggu lalu saya dan istri menunggui acara Grand Final Indonesian Idol sampai selesai. Sebenarnya saya bukan penggemar berat acara ini. Tapi istri saya setiap minggu tidak pernah ketinggalan. Akibatnya saya terbawa juga. Saya jadi ikut-ikutan menjagokan Rini yang selain cantik, teknik menyanyinya juga yahud.

Sebelum pengumuman di acara terakhir Result & Reunion, saya dan istri beberapa kali adu predikisi. Istri saya bilang, Wilson dari Ambon bisa saja unggul, sebab berdasarkan pengalaman, peserta dari kota-kota yang relatif lebih kecil justru lebih kompak pendukungnya mengirim SMS. Bahkan Walikota atau Gubernur asal kontestan bisa turun tangan menyediakan voucher untuk mengirim SMS dengan harapan kalau kontestan dukungannya menang, nama daerahnya juga akan terangkat.

Untuk argumen ini saya setuju dengan istri saya. Dulu waktu Indosiar masih getol-getolnya mengandalkan AFI, polanya memang serupa. Kebetulan pernah seorang kontestan dari Makassar ikut serta hingga ke Grand Final. Di Makassar ramai diadakan acara nonton bareng. Tidak kurang Walikota dan Gubernur hadir di nonton bareng itu. Bahkan mertua saya yang beberapa kalai menginap di rumah dan menonton acara itu tidak ketinggalan mengirim SMS agar wakil Makassar bisa menang.

Tapi saya dan istri saya beda pendapat untuk satu hal. Di Indonesian Idol terakhir, kelihatan sekali bahwa teknik menyanyi Rini jauh di atas Wilson. Istri saya bilang, pihak penyelenggara pasti akan campur tangan memenangkan Rini bagaimanapun hasil SMS yang masuk. Penyelenggara pasti tidak mau mengambil resiko bahwa kontestan yang kemampuannya lebih di bawah akan menang. Masih kata istri saya, ini juga masalah bisnis. Soalnya kalau peserta yang kurang baik yang menang, sementara penyelenggara menjanjikan kontrak rekaman, takut nanti albumnya kurang laris.

Pikiran istri saya terus saya bantah. Kata saya, masak sih RCTI berani membohongi publik? Ini kan kontes adu populer yang ditentukan oleh SMS. Kalau penyelenggara tidak konsisten dengan itu, mereka bisa kena tuntut karena membohongi publik.

Apapun adu argumennya, belakangan Rini keluar sebagai the next Indonesian Idol. Wilson, meskipun kalah, bukan berarti hidupnya tidak berubah. Paling tidak, baik Rini dan Wilson, keduanya akan berubah hidupnya, begitu senantiasa janji pembawa acara Ata dan Daniel.

Itulah kontes idol. Kontes ini setau saya memakan waktu sekitar 6 bulan dan melibatkan biaya tidak sedikit. Kontestan yang mendaftar pun banyak. Bahkan dalam Indonesian Idol yang menghasilkan Rini sebagai the next Indonesian Idol, penyelenggara mengklaim peserta yang ikut audisi sebanyak 90.000 kontestan! Luar biasa!

Tapi ternyata penentuan pemenang, bagaimanapun menegangkannya, sungguh sangat sederhana. Berdasarkan SMS yang masuk. Ini oleh penyelenggara diklaim sebagai representasi kopopuleran sang idol.

*******

Coba amati pemilihan kepala daerah (pilkada) di Negara kita. Saya perhatikan, modelnya kok jadi lebih mirip kontes idol ketimbang pemilihan pemimpin.

Bakal calonnya semua senada. Dalam materi kampanye pasti memuat unsur kesukuan. Kalau mau contoh gampang, simak iklan balon gubernur Jakarta, Fauzi Bowo. Jelas-jelas iklannya menyebutkan, ‘orang Betawi asli!’.

Metode kampanye juga tidak beda dari kontes idol. Ke mana-mana pakai konser nyanyi. Iklannya juga pakai artis-artis beken. Konvoi tidak habis-habis.

Nyata sekali kalau semuanya menyangkut popularitas. Sesuatu yang bisa didongkrak secara instan. Ujung-ujungnya tidak jauh-jauh dari duit. Siapa berduit lebih tebal, bisa mendongkrak popularitas lebih tinggi dengan berbagai cara instant.

*******

Masalahnya kontes idol bukan menyangkut hidup banyak orang. Semata-mata menyangkut 2 orang grand finalist. Bahwa setelah acara grand final, hidup kedua grand finalist secara material akan berubah signifikan.

Tapi pilkada adalah masalah rakyat banyak. Bukan sekedar adu popularitas yang akan merubah hidup 2 balon. Ini masalah berjamaah. Ini masalah perut kosong, kepala kosong, dan banyak kekosongan lain.

Kalaupun ada dari Indonesian Idol yang perlu kita tiru dan adaptasi dalam pilkada, adalah penekanan dari para pembawa acara hampir di setiap saat ditayangkannya kontes ini. Yaitu bahwa siapapun yang akan terpilih sebagai idol, keputusan ada di tangan anda. Keputusan ada di tangan Indonesia.

Perintah ini layak kita taati. Bahwa dalam pilkada, keputusan memang ada di tangan anda. Jadi, putuskanlah! Tapi tolong, putuskan dengan bijak. Berlandaskan analisis akurat. Bahwa balon yang anda tusuk bukan bermental idol yang hanya ingin mengubah nasib sendiri. Tapi bermental imam shalat yang ingin memimpin jamaah secara bersama-sama mencapai selamat.

Kalau ini yang terjadi, barulah layak di akhir kontes kita umumkan, bahwa Indonesia, atau rakyat, telah memilih……..

Wassalam.

Kejutan di Hari Jadiku


Alhamdulillah.

Hari ini hari jadi saya. 35 tahun lalu saya terlahir ke dunia.

Kejutan terbesar di hari istimewa ini adalah dari anakku, Muhammad Ainurridha Uno, 3 tahun. Yang ia berikan tepat ketika saya bangun sekitar pukul 4.40 WITA untuk melaksanakan shalat subuh.

Kebetulan mesjid kompleks kami telah seminggu ini rampung dan mulai difungsikan oleh warga. Sejak itu saya berusaha melaksanakan sebanyak mungkin shalat berjamaah di mesjid. Termasuk shalat subuh.

Subuh ini saya terbangun seperti biasa oleh suara weker yang saya pasang. Biasanya saat saya bangun, hal pertama yang saya lakukan adalah membuatkan susu botol untuk si Ai (nama panggilan anakku). Sudah jadi kebiasaan bahwa pada jam-jam shalat subuh Ai suka minta dibikinkan susu. Kadang setelah minum susu, bertepatan dengan saya selesai shalat subuh, Ai langsung bangun nonton TV sambil saya temani baca quran.

Tapi subuh ini lain. Sewaktu berwudhu, saya dengar pintu kamar dibuka. Dalam hati saya pikir, tumben istri saya bangun cepat padahal dia sedang tidak shalat? Biasanya kalau sedang tidak shalat, istri saya bangun telat. Ternyata begitu keluar dari kamar mandi, si Ai sudah di depan TV.

Sebab shalat subuh tinggal sebentar lagi, saya bergegas berganti pakaian. "Ai, bobok lagi nak ya. Papa mau sholat ke mesjid." Saya berusaha membujuk Ai untuk masuk ke kamar lagi. Ternyata begitu lihat saya berganti pakaian lengkap dengan songkok, Ai tahu kalau saya mau ke mesjid. Ia bilang, “Ai icut papa”. Wah, ini bisa repot, pikir saya. Padahal azan tinggal sebentar lagi.

Akhirnya saya masuk ke kamar. Saya bangunkan istri. Saya bilang kalau Ai mau ikut saya ke mesjid di gelap subuh. Istri saya masih mengantuk bilang, “Bawa saja, tapi naik mobil”. Kesimpulannya, saya bawa Ai ke mesjid. Buru-buru saya pakaikan jaket dan mengalungkan sajadah mungilnya yang sering ia bawa ke mesjid juga kalau maghrib.

Alhamdulillah. Ini pengalaman pertama Ai shalat subuh di mesjid. Sekaligus juga pertama bagi saya membawanya shalat subuh di mesjid. Ketika kembali ke rumah, perasaan saya bahagia. Ternyata kebiasaan yang selama ini saya contohkan sudah mulai membekas di hatinya. Semoga Allah terus memberi petunjuk kepada anakku agar selamat di dunia dan akhirat. Dan semoga pula ia terus memberiku kejutan-kejutan spiritual di hari jadiku.

Doaku menyertaimu anakku. Tidak berlebihan harapanku kepadamu. Kecuali bahwa suatu saat, kita berganti posisi, bahwa kau anakku, senantiasa mendoakanku, agar selamat di dunia dan akhirat. Agar kita semua selamat.

Amin

23 Juli, 2007

Keheranan Tak Habis-habis....Anggota DPRD Lucu


Kalau nama blog ini Persembahan Tak Habis-habis, untuk anggota DPRD mau saya kasih judul Keheranan Tak Habis-habis.


Bagaimana tidak. Saya sih tidak baca langsung, tapi dengar berita koran dari teman yang layak saya percaya intelijensinya, anggota DPRD Kota Makassar kemarin (22/7) bikin statemen lucu, mengherankan, tidak masuk akal, bahkan sangat layak ditertawakan (kalau ada demo tampil beda, saya pikir-pikir mau bikin demo ke DPRD Kota Makassar bukan untuk bikin ribut, tapi untuk menertawakan anggota DPRD....hahaha....).

Kata teman saya, ada anggota DPRD yang protes atas sistem pengajaran di sebuah sekolah di Makassar yang bahasa pengantarnya pakai bahasa Inggris. Alasan protesnya, takut nanti anak didik bisa lupa bahasa Indonesia!

Hahahaha...............lucu bin aneh kan?!

Saya bilang ke teman, jangan-jangan anggota DPRD itu jamaah si Usman Roy yang dulu ngaku-ngaku ustadz trus bikin shalat versi terjemahan. Masak segitu fobianya?

Anggota DPRD itu kalau dulu ikut API-TPI, pasti juara. Lucunya tidak ketulungan. Bukan cuman bikin kita ketawa terpingkal-pingkal, kalau terus ingat-ingat lawakan mereka, kita bisa kencing berdiri....hihihi.....

Ini pengalaman teman saya. Dia bertanggung jawab atas sebuah mall besar di Makassar. Suatu saat seorang anggota DPRD datang kunjungan mendadak. Mereka minta daftar seluruh item barang yang dijual dan dipajang di dalam mall. Setelah diberikan, si yang terhormat anggota DPRD yang cerdas bertanya, "Di antara barang-barang ini, ada yang expire, tidak?". Sambil tertawa teman saya cerita ke saya, "Masak kita ditanyai barang mana yang expire di antara 300.000 item. Sebagai pemeriksa, periksa aja. Kalau ada temuan, baru permasalahkan. Itu namanya mau temuan tapi nggak mau kerja. Dasar, sudah makan uang rakyat, paling ribut kalau ada temuan, untuk menemukan pun maunya 'dilayani', bukan nemu sendiri!"

Ada musim-musim tertentu, kata teman saya, anggota DPRD semakin menjadi-jadi kelucuannya. Menilik musim-musim ini saja, lucu sekali. Mau tau kapan musim-musim itu? Kalau dekat-dekat lebaran. Hahaha! Kalau sudah dekat lebaran, kata teman saya, lihat saja, para anggota DPRD yang wakil rakyat itu pasti sangat meningkat kinerjanya. Temuan kasusnya meningkat tajam. Sayangnya bukan murni untuk kepentingan rakyat. Anda tau kenapa temuannya banyak? Ujung-ujungnya amplop plus parcel. Lucu kan?

Lucunya anggota DPRD tidak berhenti sampai di situ. Selain lucu, mereka juga paling pandai cari sinonim kata. Ini pun menambah rating kelucuan mereka. Tanya contoh? Ada. Tambahan penghasilan untuk kantong pribadi bisa mereka namai "tunjangan komunikasi". Atau di lain kesempatan mereka namai "tunjangan laptop" (Tukul aja yang jelas-jelas bergantung ke laptop tidak dapat tunjangan laptop). Lha terbukti. Waktu tunjangan komunikasi dibatalkan oleh Depdagri, padahal para anggota DPRD se-nusantara sudah terima dan diminta dikembalikan, ternyata kan terbuka boroknya. Banyak yang protes. Katanya duitnya ada yang sudah terlanjur diapaki renovasi rumah, ada yang terlanjur dipakai beli mobil, untung-untung nggak ada yang ngaku sudah terlanjur dipakai kawin....hehehe....sekali lagi lucu bin aneh kan?

Mungkin kalau stasiun TV sudah kehabisan pelawak, tidak usah susah-susah bikin audisi. Ke gedung DPRD saja. Di sana banyak orang lucu kok...Atau kalau anda lagi stress mau ketawa ketiwi, ke sana saja. Atau kalau anda mau bikin organisasi 'Asosiasi Orang-orang Asli Lucunya Tidak Tanggung-tanggung dan Tidak Malu-malu Memperlihatkan Kelucuan Tapi Tetap Berstatus Terhormat' dan anda lagi cari anggota, ya ke sana juga.

Hidup anggota DPRD! Hidup lucu! Hihihi.....