13 Juli, 2007

Orang-orang Berselimut....


Tulisan ini saya posting do GM2020 tanggal 2 Juli 2007. Selamat membaca.


*********


Assalaamu Alaikum Wr. Wb.

Dear Milisters...

Ada beberapa kisah teman saya yang mau saya kisahkan. Untuk alasan privacy, nama tidak saya sebutkan.

------------ ------

Seorang teman pernah berkeluh kesah. Ia ke sana ke mari berkendara motor untuk cari duit. Ia seorang dosen bergelar S2. Istrinya juga Dosen. Dari kampus ia dan isterinya terima gaji. Tapi tentu anda bisa mengerti, seperti sebahagaian besar orang, ia rasa gajinya tidak cukup. Kebetulan ia Englishnya jago. Cara mengajarnya juga disuka banyak orang. Very communicative! Apalagi jebolan beasiswa IDP - Australia.

Saya harus akui dia orang yang gigih. Panas terik ia tahan. Hujan lebat pun ia terobos. Jam kerjanya panjang. Kalau pagi ia di utara kota, mungkin 2 jam setelah itu ia sudah di selatan kota. Pulang ke rumah di atas rata-rata jam pulang orang kebanyakan.

Ketika bertandang ke rumah saya suatu saat, saya suguhi kopi (saya lihat dia ngantuk soalnya). Saya bilang, "Kamu kelihatan capek sekali". Dia akui. Dia bilang dia kerja ngajar di kampus kurang lebih sama dengan dosen yang lain. Tapi ngajar di luar di kursus atau di privat cukup panjang. Dia jujur harus begitu untuk 'ngejar setoran'.

Itu baru kegiatan ngajarnya. Belum lagi keterlibatan di proyek. Saya bilang ke dia "Kamu lebih dari Superman!".

Tidak ada keberatan, dia mengaku dia malah butuh waktu kerja lebih panjang. Dia bilang, "Seandainya sehari bisa lebih dari 24 jam, itu pun mungkin tidak cukup buat saya!"

Saya tanya, kerja begitu keras dan panjang untuk apa? "Saya perlu UANG!" katanya.

------------ -----

Dear Milisters, teman saya ini BERSELIMUT! Ia berselimut ketidakpuasan. Menurut saya tidak akan ada jumlah uang terbesar yang bisa memuaskan kebutuhannya. Juga tidak akan ada lebih dari 24 jam waktu hidup untuk memuaskannya. Teman saya ini BERSELIMUT!

------------ -----

Seorang teman yang lain saya kisahkan lain lagi.

Dia ini sekarang yatim piatu. Dulu ketika orang tuanya masih hidup mereka termasuk keluarga berkecukupan. Cukup uang untuk bermewahan. Cukup banyak waktu untuk bersenang-senang. Semua orang dalam rumahnya cukup sibuk dengan kegiatan sendiri tanpa mau tahu kegiatan orang yang lain.

Sampai ajal telah menjemput kedua orang tuanya. Saya tidak tahu, bahwa di balik semua kecukupan yang dulu ia punyai, sekarang ia masih berkecukupan, hanya saja, kecukupannya sekarang adalah cukup banyak masalah.

Karena dulu ia hidup dalam kemanjaan, sekarang ia tidak tahu harus bagaimana. Saudara-saudaranya cari selamat sendiri. Maklum, sejak kedua orang tuanya masih hidup mereka memang sudah biasa saling cuek.

Masalah cukup besar karena teman saya ini bingung bagaimana untuk survive. Serunya lagi karena kepribadiannya juga bermasalah. Ia selalu curiga sama orang. Kepada saya dan teman-temannya yang lain, ia selalu merasa dicuekin (mungkin terbawa kondisi di kelurganya dulu). Kalau ada teman yang menawari pekerjaan, biasanya tidak bertahan lama. Ia cenderung bentrok dengan pemberi kerja karena terdapat kesan bahwa ia selalu merasa dieksploitasi. Mentang-mentang ia orang susah, katanya.

------------ ------

Dear Milisters, teman ini juga BERSELIMUT! Ia berselimut bayang-bayang masalah pribadinya. Ia mengerti bahwa ia bermasalah, tapi ia tetap curiga. Ia penuh rasa curiga. Teman saya ini BERSELIMUT!

------------ -----

Kisah tentang teman saya masih ada.

Kalau yang satu ini cukup dekat dengan saya. Ia secara langsung atau tidak langsung suka membeberkan masalah pekerjaannya. Ia dalam istilah banyak orang 'beruntung'. Masih kata orang lagi, ia bekerja di 'tempat basah'. Kerjanya di departemen pemerintah dan berurusan dengan proyek. Ia panitia proyek. Pernah dengan jelas ia ngomong ke saya. Proyek itu mau dibuat peraturan bagaimanamun tetap bisa diakali. Kata dia, bukan rahasia lagi bahwa pemenang tender sudah ketahuan di depan.

Mungkin para pemeriksa proyek sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu, katanya. Semua proyek harus diumumkan di media massa. Nah, trik dan tipsnya untuk mengelabui banyak pemain proyek, pengumuman dilakukan di koran yang tidak terkenal, atau melalui radio pada jam-jam malam di mana sebagian besar sudah tidur.

Saya pernah bertanya, "Bukannya sekarang pemerintah bekerja sama dengan koran-koran tertentu untuk mengumumkan proyek di koran itu?" Dia bilang, itupun bukan berarti tidak bisa diatur. Bisa dibilang semua peserta tender sudah saling kenal. Di antara mereka ada aturan bahwa pemenang yg sudah ditentukan sejak awal akan dibiarkan menang. Mereka akan bertindak sebagai pendamping. Tentu saja bukan berarti itu dengan ikhlas. Mereka dapat fee pendamping. Jangan heran kalau banyak orang yang punya lebih dari satu perusahaan, ngakunya kerja proyek pemerintah, tapi tidak pernah kelihatan di mana proyeknya, tapi hidupnya tetap bergelimang harta.

Saya bilang ke teman ini, "Itu bukannya curang dan korupsi?" Dia jawab enteng, korupsi itu kalau tidak sesuai aturan perundangan. Ini kan sesuai. Prosesnya aja yang kita atur. Lagian, susah mau kaya kalau tidak curang di jaman sekarang!

------------ ----

Dear Milisters, teman yang ini juga BERSELIMUT! Dia berselimut kecurangan. Ini cocok dengan tulisan Ahmad Deedat penulis The Choise. Segala sesuatu yang dari akal hanya akan menggelitik akal. Tapi kalau datangnya dari hati juga akan menggetarkan hati. Teman saya ini, sama juga, BERSELIMUT!

------------ -----

Dear Milisters,

Tolong baca DISCLAIMER berikut:

Tulisan ini semata-mata berkisah tentang teman saya. Apakah teman saya ini nyata atau fiktif, biarlah itu menjadi rahasia saya dan selain saya hanya ALLAH SWT yang Maha Mengetahui.

Kalau sekiranya anda Milister ada yang termasuk teman saya dan kisah di atas mirip dengan kisah anda, maka bisa jadi itu anda. Maka Anda adalah orang yang BERSELIMUT!

Kalau sekiranya anda Milister bukan teman saya tapi kisah anda mirip dengan kisah di atas, maka pasti itu bukan anda. Tapi tidak mengapa, meskipun anda bukan teman saya, tapi kisah anda mirip dengan kisah di atas, tetap saja, Anda adalah orang yang BERSELIMUT!

Kalau sekiranya anda Milister adalah teman saya atau bukan teman saya, dan kisah di atas tidak mirip dengan kisah di atas, jangan senang dulu, karena bisa saja Anda tetap tergolong orang yang BERSELIMUT!

Mungkin kisah Anda lain. Mungkin kisah anda seperti kisah-kisah di bawah ini:

- Anda marah terhadap sesuatu, dan anda terus saja marah. Anda tidak puas kalau anda tidak melampiaskan kemarahan, seakan tiada kata maaf dalam kamus anda. Maka anda adalah orang BERSELIMUT.

- Anda miskin dibandingkan orang sekitar anda, dan anda terus meratapi kemiskinan. Anda sibuk memelototi orang kaya sementara anda sendiri tidak mau bekerja atau berusaha untuk keluar dari kemiskinan. Maka anda adalah orang BERSELIMUT.

- Anda adalah anggota dari suatu bangsa. Bangsa anda tergolong bodoh dan terbelakang. Tapi bangsa anda tidak mau belajar dan mengapresiasi usaha bangsa lain. Bangsa anda terus gontok-gontokan. Maka Bangsa anda adalah BANGSA yang BERSELIMUT!

- Anda sudah mendapatkan 3 contoh lain tentang orang berselimut. Tapi Anda masih juga belum mengerti apa arti orang berselimut itu. Maka pikiran anda itu BERSELIMUT!

------------ ---

Tolong baca DISCLAMER ini masih berlanjut.

Kalau Anda, Keluarga Anda, Teman Anda, Pemerintah Anda, Bangsa Anda, Umat Anda, atau siapa saja tergolong BERSELIMUT, maka sebaiknya Anda dengar seruan berikut:

"Hai, Orang yang BERSELIMUT!"
"BANGUNLAH! Lalu beri PERINGATAN!"

Quran Surah 74 (1-2)

Anda, yang tergolong BERSELIMUT, tidak akan berdiri, dan keluar dari SELIMUT anda, apabila anda TIDAK BANGUN/BANGKIT!

Kalau selimut anda KEMISKINAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa anda tidak akan kaya apabila tidak bangun dan mengerjakan sesuatu.

Kalau selimut anda adalah KEMALASAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa satu-satunya cara anda harus rajin.

Kalau selimut anda adalah KEBODOHAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa tidak mungkin keluar dari kebodohan tanpa belajar.

Kalau selimut anda adalah KECURANGAN, bangunlah, peringatkan diri anda bahwa keuntungan dari kecurangan bukanlah keuntungan sebenarnya, malah kerugian bagi anda.

Kalau selimut bangsa anda ini adalah SALING TUDING, SALING SIKUT, SALING FITNAH, SALING DORONG, dan berbagai SALING yang lain, BANGUNLAH! Ingatkan bangsa anda bahwa itu tidak menyelesaikan masalah. Jangan pernah harap padi kalau anda tanam rumput. Jangan harap hasil bagus kalau bukan niatnya baik.

------------ ---

DISCLAIMER terakhir:

Jika anda orang Gorontalo, atau bukan orang Gorontalo, tinggal di Gorontalo atau bukan di Gorontalo, berbahasa Gorontalo atau tidak berbahasa Gorontalo, pengunjung tetap GM2020 atau bukan pengunjung tetap GM2020,

dan anda BERSELIMUT,

BANGUNGLAH! dan BERI PERINGATAN!

12 Juli, 2007

Menciptakan v Menemukan


Tulisan ini adalah postingan saya di GM2020 tanggal 3 Juli 2007 dengan subjek Bicara Matematika dalam Al Quran. Di sini judulnya saya ubah supaya lebih relevan.

**********

Bismillahirrahmaani rrahiim..

Ini topik 'ana suka. Sepanjang 'ana belajar, baik itu belajar secara de facto maupun de yure, 'ana perhatikan bahwa ada dua kata yang terdoktrin di kepala 'ana dan mungkin banyak orang lain. Bila kedua kata ini disebut, pikiran 'ana, dan kemungkinan besar pikiran banyak orang akan langsung tertuju pada para ilmuwan.

Kedua kata itu adalah "Menciptakan" dan "Menemukan".

"Men-cipta-kan" kata dasarnya adalah CIPTA. Barangkali kalo 'ana sebut dalam allugathul Inggrisiyah- nya, sama dengan "To Create". 'Ana tidak mau menambah arti yang lebih detail karena 'ana tidak punya kamus bahasa di depan 'ana sekarang. 'Ana asumsi bahwa pembaca sekalian mengerti yang 'ana maksud. Kalau tidak mengerti, mengertilah!

"Menemukan" kata dasarnya TEMU. Barangkali kalo 'ana sebut dalam allugathul Inggrisiyah- nya, sama dengan "To Invent" (Catatan: karena dalam kasus ini 'ana bicara tentang penemuan oleh para ilmuwan). 'Ana sekali lagi tidak mau menambah arti yang lebih detail karena 'ana tidak punya kamus bahasa di depan 'ana sekarang. Asumsi 'ana masih sama bahwa pembaca sekalian mengerti yang 'ana maksud. Kembali lagi, kalau tidak mengerti, mengertilah!

Dalam hemat 'ana, menciptakan itu cenderung kepada mengadakan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Jadi masih menurut 'ana, kalau ada kalimat:

"Thomas Alpha Edison menciptakan Bola Lampu",

Itu berarti Edison mengadakan Bola Lampu dari yang tidak ada menjadi ada.

Untuk tujuan yang sama, kalau 'ana bilang:

"Thomas Alpha Edison menemukan Bola Lampu",

Itu berarti Bola Lampu pada dasarnya dari sononya sudah ada. Edison, hanya menemukan jalan untuk mempertemukan berbagai bahan melalui eksperimen, yang akhirnya membuatkan kombinasi tepat dari berbagai bahan/alat/materi, jadilah sesuatu yang dinamai Bola Lampu.

Sebagai seorang Muslim, yang diharuskan berpegang pada Al-Qiran dan As-Sunnah, baru belakangan ini 'ana sadar akan perbedaan signifikan dari penggunaan kedua kata tersebut.

Kata "Menciptakan" itu tentu memiliki makna. Bagi 'ana, kata ini wajib dan hanya wajib diperuntukkan kepada Allah SWT Sang Pencipta. Ada kata lain yang memilki makna yang sama dengan ini dalam allughatul Indonesiyah kita ini, yaitu "Menjadikan" .

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu. ......... "
"Dia Yang menjadikan bumi........ ......... .."

Kedua penggalan ayat sebagai referensi di atas terdapat dalam ayat berurutan 21-22 QS Al-Baqarah.

Beda Menciptakan dan Menemukan

Sebagai orang yang percaya bahwa segala sesuatu adalah CIPTA-an Allah SWT, maka 'ana tidak melihat ada kemungkinan di mana manusia bisa berada sejajar dengan Sang Pencipta. Oleh karenanya, apapun prestasi ilmiah yang dicapai oleh seorang ilmuwan, 'ana bertekekad, sekaligus 'ana mengajak pembaca sekalian untuk juga bertekad untuk tidak memberi gelar kepada ilmuwan siapapun sebagai PENCIPTA (CREATOR) atas prestasi ilmiah yang telah dibuatnya. Untuk itu, 'ana mengusulkan untuk kita konsisten menggunakan kata PENEMU (INVENTOR).

Einstein adalah penemu E=MC2. Begitu juga semua ilmuwan yang menemukan penemuan lain yang diinspirasi oleh temuan Einstein ini 'ana sebut sebagai penemu saja.

Einstein tidak menciptakan Energi dan Massa.

Thomas Alpha Edison seperti yang 'ana cerita di atas juga penemu Bola Lampu. Edison menemukan kombinasi yang tepat dari berbagai alat maupun bahan yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan produk turunan yaitu Bola Lampu.

Ummat Islam berpotensi sebagai Penemu (lebih dari itu menjadi Penemu Besar)

Ummat Islam itu sudah banyak kecolongan. Kenapa 'ana bilang begitu? Para ilmuwan non-Islam, apalagi yang tidak mengenal dan tidak pernah membaca Al-Quran, mesti bersusah payah mencari ide penemuan. Bahasa awamnya, setiap bangun pagi, para ilmuwan non-Islam akan mulai dengan berpikir "Apalagi yang harus saya temukan hari ini?"

Adapun ilmuwan-ilmuwan Islam dalam hemat 'ana, telah diberkahi oleh The Real Creator Allah SWT dengan ide-ide penemuan yang jika difollow-up akan membawa ke berbagai penemuan dari kecil hingga yang besar. Agak sulit bagi 'ana untuk mengetahui kriteria penemuan terbesar itu seperti apa. Sebab, menurut The Real Creator sendiri, ilmu yang diberikan oleh-Nya kepada manusia itu, pada dasarnya bagai setitik atom di tengah lautan ilmu (bahkan tidak ada kata yang bisa menggambarkan kebesaran ilmu The Real Creator).

Mari 'ana angkat ayat di Quran, Surat 30: 23.

Di sini Allah SWT memberi petunjuk, bahwa Ia sebagai The Real Creator telah menjadikan malam itu untuk kita tidur beristirahat, dan siang untuk berusaha/kerja.

Melalui ayat ini saja, banyak ide penemuan yang bisa muncul:

1. Apa itu malam, dan apa itu siang? Bagaimana proses pergantiannya.

2. Mengapa malam itu membuat manusia tidur? Apa ada koneksi antara gelapnya malam dengan sesuatu di dalam tubuh manusia sehingga setiap kali malam tiba manusia akan merasa ngantuk dan akan pergi tidur?

3. Pertanyaan 2 di atas juga bisa diterapkan untuk berbagai penemuan mengenai siang.

4. Apa akibat kalau manusia memutarbalikkan kondisi, di mana malam dia kerja, siang dia tidur? Adakah konsekuensi biologisnya? Adakah konsekuensi sosialnya? Adakah konsekuansi ekonominya? De el el

5. Apakah kalau saat ini malam di Gorontalo, di tempat lain juga dalam kondisi malam? Pertanyaan yang sama bisa diaplikasikan untuk siang. Kalau tidak, bagaiaman suatu tempat yang dalam kondisi malam dan tempat yang lain dalam kondisi siang saling berhubungan?

Pertanyaan di atas kalau 'ana lanjutkan bisa banyak sekali. Padahal itu baru inspirasi dari 1 ayat di atas.

Padahal, ilmuwan itu adalah orang-orang yang berpikir. Dan orang-orang yang berpikir ini lebih dahulu ditantang di banyak tempat dalam Al-Quran bahwa kalau mereka betul-betul berpikir, mereka akan menjumpai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

Jadi, kalau kita mau bicara matematika dalam Quran, penemuan kita atas suatu hal yang berhubungan dengan ilmu ini akan terus membawa kita ke penemuan yang lain.

Doa 'ana adalah, semoga para ilmuwan, khususnya ilmuwan muslim, setelah menemukan sesuatu, sadah bahwa mereka baru saja menemukan sesuatu yang memperlihatkan tanda-tanda kebesaran/kekuasaan Allah SWT. Kalau ini mereka resapi, Insya Allah tidak akan ada penemuan yang membawa kerusakan di muka bumi. Para ilmuwan itu akan semakin merunduk seperti padi karena berisi. Faktanya, padi itupun yang semakin berisi, semakin merunduk karena memang patuh kepada Sunnatullah. Bukan cuman padi, coba saja lihat jenis-jenis pohon buah yang lain, semuanya ketika semakin berisi akan semakin merunduk. 'Ana pikir ini jelas adalah satu lagi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

Adakah yang mau bicara topik lain selain matematika dalam Al Quran?

Yang digoyang digoyang yang.....


Tulisan ini adalah postingan saya di GM2020 tanggal 10 Juli 2007


***********


Anak tersayang,"Papa tunggu mau isi air ke botol ini dulu yah"
Papa,"Iya nak. Cepat yah, panas nih"

10 menit berlalu
Papa,"Nak, kalau botolnya kamu goyang-goyangin begitu, kapan penuhnya. Itu yang masuk malah sedikit sekali"
Anak tersayang,"Nggak apa-apa deh papa. Kan sambil maen"
Papa,"Lho memangnya tujuan kamu apa?"
Anak tersayang,"Masukin air ke botol....... .."

30 menit berlalu. Sinar matahari semakin terik.
Papa,"Nak, sudah 30menit. Botolnya nggak bakalan penuh kalau kamu goyang-goyangin begitu"
Anak tersayang,"Yee papa kan sudah dibilangin, cuman mau masukin air ke botol"

Sejam berlalu. Matahari lagi di puncak. Panaaaas betul. Anak tersyang tiba-tiba haus. Air di dalam botol 1cm pun belum nyampe tingginya. Botol masih juga digoyang-goyangkan. Tiba-tiba hausnya tidak tertahan lagi. Tapi........ ......air tiba-tiba mati!
Anak tersyang,"Papa! Airnya mati. Hauuuus!"
Papa,"Lho, kan di botolmu ada air?"
Anak tersayang,"Airnya sedikit sekali!"
Papa,"Memangnya sekarang kamu mau air untuk apa?"
Anak tersyang,"Minuuuumm mm....... ......... .....!"
Papa,"...... ......... ......... ......... ..."

------------ --------- ---------

Kalau anda jadi papa bagaimana? Bingung kan? Sudahlah. Tidak usah bingung.

Samping kiri kanan muka belakang saya banyak kejadian begitu kok. Katanya belajar. Tapi tidak serius. Iya sih, belajar itu seperti masukin air ke botol. Botol digoyang-goyang sekalipun airnya tetap masuk. Pertanyaannya masuk berapa banyak?

Eh, mungkin di Gorontalo juga begitu kali ya? Tampak depannya sih pada membangun. Kelihatannya giat sangat pula. Keringat bercucuran. Bagus aja kalau sementara tidak makan. Soalnya di Makassar banyak terbaliknya. Giliran kerja aja adem ayem tidak berkeringat dijamin bebas daki, giliran makan kayak pemadam kebakaran. Air keringatnya meleleh-leleh. Orang Bugis bilang 'erok ande tea eco!" Hahaha.....

Trus tampak belakang gimana? Mudah-mudahan baguus. Jangan sampai botolnya goyang-goyang.

"Bung Ir1 sudahlah. Anda ini kok protes terus?! Kalau botolnya goyang-goyang yang penting airnya masuk!"

"Ya uwes....aku mengalah deh. Botolnya lebih digoyang aja lagi. Biar dinamis gitu."

Lha, teori membangun ya begitu itu Bung Ir1! Step by step. One at a time. You must get the feel. Enjoy while you can.

Goblok! Emang siapa yang minta membangun itu dalam semalam? Emang kisah Tangkuban Perahu? Bolak balik telapak tangan?

Tanya contoh kasus? Itu entah kapan terakhir ke Gorontalo saya ke gunung-gunung daerah kwandang. Kaguuuum. Pembangunan jalan terus lho. Sampai ke puncak gunung lagi. Makanya gunungnya gundul. Atas nama pembangunan pohon jadi korban. Itu dia tuh kalo pembangunan pake atas nama. Kenapa tidak sekalian balik nama saja? Jangan bilang pembangunan, tapi penggundulan.

Eh Bung Ir1, tapi Gorontalo terkenal lho. Seantero nusantara Gubernurnya paling banyak bicara di TV. Berapa kali diisukan jadi menteri. Propinsi lain mana begitu?

Yeee, anda telmi. Gubernur propinsi lain bicara tidak di TV. Tapi di depan rakyat. Kalo isu mau jadi menteri, itu karena wartawan TV di propinsi lain lagi sibuk aja jadi tidak bisa terima amplop pak Gubernur untuk bikin isu.

Trus gimana dong? Ya mau gimana lagi? Botolnya digoyang aja terus. Kalau perlu pakai irama biar berseni gitu. Kan ada lagunya...yang digoyang digoyang yang......

Susah nih tulisan Bung Ir1.
Ya emang susah! Kalau mau gampang, itu botol jangan digoyang uti. Eh, asal ngana tau aja, itu botol ngana tidak goyang saja, di bawahnya ada yang bocorin. Air jatuh melulu. Apalagi kalo ngana goyang. Sabantar kalo ngana so haus air juga pada kering ngana tau rasa lho ya. Kalo nanti ngana haus, ngana minum uap air sana!

Penakut v Pengecut


Penakut v Pengecut adalah tulisan saya menanggapi keputusan moderator atas di-ban nya salah seorang anggora milis GorontaloMaju2020 (GM2020). Beberapa waktu sebelumnya seorang anggota berulah tidak baik sehingga saya menuntut ybs untuk di-ban dari keanggaotaan milis.

Pro dan kontra tentu saja terjadi. Awalnya, saya dapat kesan bahwa saya sendirian menuntut orang ini supaya di-ban. Walaupun melalui Yahoo Messanger banyak orang terang-terangan mendukung.

Sebenarnya orang itu sudah saya maafkan. Paling tidak saya mencoba menjalankan perintah agama bahwa dalam melakukan sesuatu janganlah berlebih-lebihan. Maka dalam counter posting dari masukan seorang member, saya menulis postingan yang ingin melupakan kasus ini. Saya beri subjek "sudahlah.....". Kenyataannya tanggapan dari yang bersangkutan di luar dugaan bagi saya bersifat provokatif.

Tidak disangka seorang member lain muncul dengan ketegasan. Ancamannya, "Kalau bukan orang ini dikeluarkan, saya yang akan keluar!"

Saya kagum dengan ancaman member ini yang tidak setengah-setengah demi memperjuangkan kebenaran. Akhirnya, saya reply posting di ancaman dia, saya bilang, saya ngikut.

Seru juga karena dateline yang kami berikan hingga tengah malam tgl 11 Juli 2007 kemarin. Saya bilang ke member itu, "Deg-degan juga menunggu ajal keanggotaan di mailist ini. Jangan lupa baca syahadat."

Alhamdulillah, tim moderator yang dipimpin seorang adinda yang sedang belajar di USA akhirnya memutuskan mem-ban orang yang kami permasalahkan.

Setiba di kantor, melihat keputusan itu, saya posting komentar di bawah.

-------------------------------------

Assalaamu alaikum wr wb,


Alhamdulillah.

Pagi ini saya mau mulai dengan diam. Diam tapi ribut! Yang ribut cuman jari-jari saya. Soalnya persis di jalan depan kantor saya tadi ada tulisan bosar-bosar "Ssst! Jangan ribut! Ada galian!"

Moderator terima kasih. Statement bahwa anda mem-ban 1 member bukan karena 2 "krucil" sudah benar. Dan kepada member yg bertanya siapa menang siapa kalah, jawaban saya, pertanyaan itu tidak relevan dan signifikan. Pertanyaan itu hanya buat di Republik Mimpi yang sekarang sedang berduka karena Presidennya berpulang. Kita berdoa semoga saudara muslim kita yang berpulang ini mendapat ganjaran yang baik di sisi Allah SWT.

Para moderators adalah orang-orang biasa meminjam istilah Pak Agung Mozin. Mereka adalah "para penakut" (Cat: bacanya jangan berhenti di sini yah. Kalo berhenti di sini ana dapat masalah besar nanti)

Ada kasus yang lebih parah. Terjadinya di negara bagian Republik Mimpi, namanya Republik Mimpi Basah. Penduduknya hobinya mandi subuh-subuh. Wajar juga kalau mereka suka mandi subuh-subuh. Mereka banyak kotornya sih. Masak para penakut dibilang pengecut.

Penakut sama pengecut bedanya opo toh?! (baca dengan logat Tukul pls).

Gini mas. Takut itu ya takut. Kalo sampeyan ora ngerti artine, berarti sampeyan Wong Deso. Iyo toh? Lha kalo pengecut itu adalah takut ora pada tempatne.

Saya jadi ingat teman saya. Tampangnya aja gokil. Tapi kata-katanya choi, bahasa Indonesia yang baik dan berhikmah!

Katanya dia, dulu dia pernah dapat insentif jalan-jalan ke Malaysia dari kantornya. Nggak Malaysia dong kalau tidak ke Genting Highland.... kata banyak orang. Tentu dia juga ke sana karena dari kantor sudah disusun begitu. Cerita dia, Genting Highland itu yah Las Vegasnya Malaysia (wallahu a'lam karena ana blm pernah ke dua tempat itu). Waktu saya tanya bagaimana tampak dan rasanya masuk Casino, kata dia, "Aku nggak masuk." Lho kok tidak? Sayang kan mumpung gratis dibayarin. Kata dia,"Iya mumpung gratis, tapi saya takut! Kalo pas lagi di dalam saya tiba-tiba kena stroke dan mati, gimana? Namanya saya mati konyol. Bukan khusnul khatimah!"

Ini dia mental para penakut. Mental yang sesungguhnya berani! Takut pada tempatnya. Coba kalau negara kita penuh dengan orang-orang takut yang pada tempatnya seperti para moderators. Bukan justru takut tidak pada tempatnya, setali tiga uang berani juga tidak pada tempatnya.

Bang, Bing, Bung! Orang takut itu berani. Kalau tidak percaya coba sampeyan puasa. Puasa itu tanggung jawabnya langsung dengan Sang Khalik. Puasanya orang pengecut penuh kebimbangan. Wah, gimana kalau saya puasa hari ini ada rekan bisnis dari luar negeri mesti dientertain siang-siang ginama dong? Padahal bisnis ini 'em-em'-an lho. Atau bimbang karena lapar. Gimana kalau saya puasa ntar tubuhku pada merosot. Termasuk tai lalatku. Padahal ini hoki lho.

Hihihi....pengecut itu lucu. Beraninya tidak pada levelnya. Badannya kelas berat maunya ikut bertanding di kelas bulu. Sudah gitu bulu hidung pula...hahaha

Well....saudara, saudari, dan sederet sodoro......

Kalau mau takut mesti liat-liat. Kalau takutnya di tempat yang salah, nanti jadi pengecut.

By the way, anda tau tidak saya tulis ini tentang siapa? Itu.....si daeng becak depan kantor, badannya segede gondoruwo, dadanya penuh bulu abis rebonding, ototnya sekeras kabel, kalo habis makan tusuk giginya badik bertuah, takutnya.... ......... ..sama kecoa! Hahaha....daeng. ...daeng. ...