12 Juli, 2007

Customer Satisfaction dalam Al Quran


Bismillahirrahmaanirrahim,


Al Walid bin Al Mughirah adalah salah seorang petinggi bangsa Quaraisy dari Bani Makhzum yang sangat konsisten mencemooh Rasululah SAW hingga ia dimatikan Allah SWT dalam kondisi mengenaskan.

Suatu saat Rasulullah SAW berkesempatan bertemu Al Walid bin Al Mughirah dan Beliau berpikir waktunya sangat tepat untuk mendakwahi pencemooh bebuyutan Beliau ini. Beliau berharap bahwa dengan begitu Al Walid bin Al Mughirah terbuka hatinya untuk masuk Islam.

Ketika Nabi SAW sedang berbicara dengan Al Walid bin Al Mughirah lewat seorang buta muslim bernama Ibnu Ummi Maktum yang menyela pembicaraan Beliau. Ibnu Ummi Maktum meminta Rasulullah SAW mengajarkannya bacaan Al Quran.

Rasulullah SAW merasa kesal dengan ulah Ibnu Ummi Maktum. Beliau merasa bahwa berdakwah terhadap Al Walid bin Al Mughirah adalah jauh lebih penting. Rasulullah SAW bermuka masam karena tidak senang. Beliau bahkan tidak meladeni permintaan Ibnu Ummi Maktum walaupun orang buta ini meminta berkali-kali.

(Sumber: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Hal 326-327, dengan modifikasi dari saya)

----------------

Berlatar belakang kejadian tersebut di atas, Allah SWT menurunkan ayat:

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling

2. karena telah datang seorang buta kepadanya

3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)

4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

6. maka kamu melayaninya

7. Padahal tidak ada (celaan) atas kamu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)

9. sedang ia takut kepada (Allah),

10. maka kamu mengabaikannya.

11. Sekali-sekali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

12. maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,

13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan

14. Yang ditinggikan lagi disucikan

QS Abasa: 1- 14

-----------------

Kisah di atas mungkin pernah kita dengar. Moral yang terkandung di dalam surah tersebut juga mungkin sering dibawakan oleh para pendakwah Islam. Tapi ada satu tinjauan yang luput dari perhatian. Bahkan tinjauan yang satu ini sangat relevan dengan kehidupan terkini. Saya menyebutnya Customer Satisfaction dalam Al Quran. Saya coba menuliskannya untuk pembaca.

Customer Satisfaction dalam Al Quran

Ibnu Ummi Maktum dalam kisah di atas sudah berstatus Islam. Ia adalah "Pelanggan/Konsumen" dari ajaran-ajaran Islam yang 'dijajakan' oleh Rasulullah SAW.

Al Walid bin Al Mughirah masih berstatus kafir. Ia ketika itu oleh Rasulullah SAW bermaksud untuk didakwahi. Ia baru berstatus "Calon Pelanggan/Konsumen".

Surah Abasa 1-14 di atas selain menegur Rasulullah SAW atas sikapnya, juga mengajarkan kepada Beliau, sekaligus kepada kita semua ummatnya, betapa Pelanggan/Konsumen itu adalah sangat penting. Juga, bahwa Pelanggan/Konsumen itu memiliki nilai lebih dibandingkan jika masih berstatus Calon Pelanggan/Konsumen.

Nilai-nilai untuk menempatkan Pelanggan/Konsumen pada posisi penting ini baru 1500 tahun kemudian disadari dan diagung-agungkan oleh manusia 'moderen'.

Mari kita bedah bagaimana timbang penting antara keduanya.

AL WALID BI AL MUGHIRAH (Calon Pelanggan)



  • 'tidak ada (celaan) atasmu kalau ia tidak membersihkan diri'........Calon Pelanggan itu baru calon. Ia belum pernah membeli. Kalaupun setelah anda melayaninya dia tidak membeli, anda tidak kehilangan apa-apa (tidak ada kerugian ril yang timbul)

IBNU UMMI MAKTUM (Pelanggan)



  • 'barangkali ia ingin membersihkan dirinya'........Pelanggan itu mungkin menghadapi kesulitan/hambatan dalam menggunakan produk/jasa yang kita jajakan. Untuk itu penting bagi produsen/penyedia jasa untuk memberi petunjuk yang benar. Menerangkan user manual agar tidak terjadi salah pemakaian. Kita bisa berhitung betapa besar potensi kerugian bila terjadi kesalahan pemakaian atas produk/jasa yang kita jual



  • 'dia ingin mendapatkan pengajaran'........Orang-orang pemasaran umumnya mengerti, bahwa melakukan cross-selling terhadap existing customer jauh lebih mudah dan murah dibandingkan terhadap New Prospect (calon pelanggan baru). Tidak heran kalau banyak perusahaan menyusun database pelanggan mereka dengan konsisten dan disiplin mengirimkan katalog produk/jasa mereka



  • 'barangsiapa menghendaki, tentulah ia memperhatikannya'........Anda tahu bagaimana kalau seorang pelanggan puas terhadap produk/jasa anda? Ia akan menjadi seorang fanatic customer. Ia akan menjadi agent of marketing/selling anda yang paling efektif dan efisien. Gratis lagi!

Ajaran tentang customer satisfaction dari Surah Abasa 1-14 di atas tidak berhenti sampai di situ. Mungkin anda bertanya. Kok ada satu poin yang tidak relevan dengan paham customer satisfaction dewasa ini? Seakan-akan bahwa kita cukup memaksimalkan pelayanan terhadap existing customer saja dan pelayanan secukupnya saja bagi new prospect.

Coba anda perhatikan ayat:

'karena telah datang seorang buta kepadanya',

dan ayat

'Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya'

'seorang buta' dan 'serba cukup' tentu sudah sangat lengkap dalam memberi gambaran kepada kita bahwa kita berhadapan dengan berbagai karakteristik stakeholder. Dari sisi pembeli, kita berhadapan dengan existing customer dan new prospect. Dari kedua ini pun, latar belakang mereka juga berbeda. Ada yang skalanya besar, adapula yang kecil. Ada yang high profile, adapula yang sebaliknya, low profile. Bagaimanapun itu QS Abasa 1-14 memberi pedoman:

'........maka kamu mengabaikannya. sekali-sekali jangan (demikian)!'

Penggalan ayat di atas tersusun dalam sistematika yang sangat bagus. 'maka kamu mengabaikannya' menunjukkan kondisi banyak penyedia produk/jasa yang salah dalam menangani pelanggan mereka. Mereka mengabaikannya. SOP yang diberikan adalah jelas, 'sekali-sekali jangan (demikian)'!

Kesimpulan

Tinjauan 'Kepuasan Pelanggan' dalam QS Abasa 1-14

Seorang pelanggan yang selama ini telah menggunakan produk/jasa kita harus kita layani dengan sebaik-baiknya. Pelayanan prima terhadap pelanggan yang ada meliputi:



  1. Pemberian informasi yang benar atas produk/jasa yang telah dijual

  2. Pemberian informasi atas produk/jasa lain yang dimiliki oleh perusahaan untuk memungkinkan terjadinya cross selling

Kedua jenis pelayanan di atas, apabila dilakukan secara konsisten, akan menghasilkan pelanggan fanatik yang kelak akan bertindak sebagai duta perusahaan. Dalam melayani/memuaskan pelanggan, harus dilakukan secara ikhlas/sepenuh hati tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Pembeda-bedaan bukan saja kontra produktif, tapi bisa mendatangkan kerugian bagi perusahaan. Sekali-sekali jangan demikian!

11 Juli, 2007

Piramida Batu vs Piramida Bambu


Kekaguman saya akan piramida firaun di Mesir sudah lama. Sayang saya tidak tahu banyak tentang piramida ini. Apalagi dari segi teknik, saya buta hal-hal yang berbau teknik sipil.

Tapi dari sedikit yang saya ketahui itu cukup mengajarkan banyak hal.

Piramida firaun mesir bahannya batu. Ukurannya besar dan beratnya tidak diragukan lagi tergolong “sangat berat”. Misteri bagaimana membangunnya menjadi lebih mengundang pertanyaan kalau kita lihat banyaknya jumlah batu yang harus dipakai. Pertanyaan tidak berhenti sebab ukuran bangunan yang begitu besar dan tinggi, membuat kita bertanya lagi, bagaimana menaikkan batu seberat itu ke susunan yang lebih tinggi?

Tapi kenyataannya bahwa piramida firaun Mesir berdiri kokoh hingga sekarang. Meninggalkan tanda-tanda bagi kita untuk membaca kekuasaan Allah SWT.

Dari ke-”sedikitan” pengetahuan akan piramida firaun mesir itu, ternyata ”penampakan” hikmah di baliknya tidak serta merta sedikit. Berikut apa yang saya lihat muncul itu.

Firaun itu adalah raja besar di jamannya. Ia berkelebihan. Ia berlebih dalam kepemilikan. Ia berlebih dalam kekuasaan. Ia bergelimang kekayaan di jamannya. Rakyatnya tunduk atas perintahnya. Bahkan ia pun mengklaim diri sebagai tuhan. Saking berlebihannya dia.

Ke-”berlebihan” firaun membuatnya berpikir bahwa sumber daya itu tidak ada nilainya. Membuang yang banyak, dia masih tetap punya lebih banyak. Makanya ia pikir tidak ada yang sulit. Kalau ia mau tinggal bilang. Rakyatnya, mau tidak mau harus mau. Makanya belakangan ia menganggap diri sebagai Tuhan. Dia punya versi sendiri tentang "Kun, fayakun".

Piramida batu firaun bisa terbangun dengan filosofi berlebihan firaun ini. Batu, yang notabene mewakili bahan bangunan terbaik dan termahal di kala itu, berapapun dan dari manapun diadakan. Tenaga kerja, tentu saja manusia, berapapun jumlah orangnya disediakan. Kalau ada yang mati selama proses kerja, tidak masalah, toh mereka hanya alat, begitu dari sudut pandang firaun.

Hasilnya, piramida batu yang kokoh bahkan hingga jaman moderen.

----------------------

Setelah terkagum-kagum dengan piramida batu firaun, pikiran saya menerawang ke sesuatu yang sedikit banyak berlawanan dari segi filosofi. Bagaimana kalau kita bangun piramida bambu?

Bentuknya sama persis dengan piramida batu – mungkin kalau saya tulis bentuk piramida saja anda sudah mengerti. Piramida ini sesuai namanya berbahan bambu. Tentu saja kekuatannya bukan tandingan piramida batu.

Bahan bambu adalah bahan yang murah. Mendapatkannya juga tidak susah. Ini jauh dari kesan berlebihan a la firaun. Bambu-bambu harus dipotong dalam ukuran tertentu, kemudian diikat satu sama lain sampai terbentuk formasi piramida yang kita mau.

----------------

Kalau kita sandingkan dua piramida ini, hanya bentuk piramidanya saja yang semua orang akan sepakat bahwa itu sama-sama piramida. Tapi yang lain, bagai bumi dan langit!


Bedah Piramida

Sekarang mari kita bedah kedua piramida ini. Di awal tulisan saya bilang banyak hikmah yang bisa ditarik. Berikut hasil bedah saya.

Piramida batu terbangun di atas perasaan sombong. Berlebihan. Mentang-mentang sumber daya yang ada dianggap berlimpah, maka pantaslah untuk dikorbankan. Atau kita boleh baca dihambur-hamburkan. Padahal piramida ini dibangun hanya untuk kesenangan penguasa. Makanya piramida ini juga identik dengan kekuasaan absolut. Kekuasaan yang pada akhirnya hancur ditelan laut.

Piramida bambu memiliki filosofi sebaliknya. Kalau dianggap piramida itu memang urgent untuk dibangun, maka pemilihan bahan baku bambu didasari oleh kesadaran bahwa sumber daya itu terbatas. Meskipun bahan bambu itu lemah dibanding batu, tapi bukan berarti tujuan mendirikan piramida dengan menggunakan bambu tidak bisa terwujud. Konsekuansinya tentu jelas. Piramida ini harus rajin diperiksa (dengan bahasa moderen ”di-maintain”). Untuk itu harus ada disiplin super yang menjamin bahwa unsur-unsur krusial piramida bambu tetap terjaga dan bisa berdiri kokoh. Pelanggaran atas kedisiplinan ini bisa berarti fatal.

Bangsa dan piramida

Dua jenis piramida di atas bisa kita analogikan dalam membaca perilaku sebuah bangsa.

Singapura itu miskin pada dasarnya. Saya lupa edisi kapan, tapi pernah harian Kompas memuat foto Singapura jaman dulu. Waktu lihat foto itu, sungguh mati saya pikir foto itu foto pasar sentral Makassar tempo doeloe. Kalau anda ingat bagaimana Singapura megap-megap waktu pemerintah kita larang ekspor pasir ke sana, itu bukti lain bagaimana Singapura yang pasir saja tidak punya.

Tapi Singapura itu sadar kalau mereka miskin. Mereka tahu mereka tidak bisa berlebihan. Mereka tahu bahwa kalau mau maju harus ikut aturan, dengan kata lain disiplin. Makanya jangan heran kalau Singapura adalah salah satu kota terbanyak dan terkeras aturannya di dunia.

Sekarang anda tahu sendiri. Ke mana lagi para jutawan Indonesia menghabiskan sore harinya dan pulang ke rumah di malam hari kalau bukan di Singapura? Di mana pula perusahaan-perusahaan raksasa dunia membuka pusat perwakilan Asia Tenggara kalau bukan di kota singa ini?

Jepang juga negara miskin. Kalau ini saya pribadi sebagai saksi. Saya pernah hindup di negeri matahari terbit ini dan menyaksikan betapa sebenarnya negara ini miskin. Luas wilayahnya jauh di bawah Indonesia. Hasil buminya apa lagi. Kondisi wilayah yang menjadi tempat banyak gunung berapi aktif ini mengenaskan. Sebentar-sebentar gempa. Kata Tsunami adalah kosa kata dari negara ini begitu akrabnya mereka dengan berbagai kesulitan alami.

Tapi siapa tidak kenal Jepang yang disebut kekuatan ekonomi ke-2 terbesar di dunia setelah Amerika? Ini surga bagi TKI kita. Mereka bisa banting tulang cari duit di sini secara legal maupun illegal dan mereka dibayar mahal. Saya tidak tahu kalau di negara lain, tapi mungkin hanya di Jepang ini seorang mahasiswa yang akan pulang ke negaranya, itu saya sendiri ketika program belajar saya selesai, harus bersusah payah mencari orang yang mau menerima TV dan kulkasnya, dan ujung-ujungnya harus membuangnya karena orang lain (baca: mahasiswa lain) sudah pada punya.

Dua contoh negara yang ”pada dasarnya” miskin di atas mungkin cukup menggambarkan apa yang saya maksud dengan Filosofi Piramida Bambu. Mungkin prematur atau tidak ilimiah, tapi bagi saya cukuplah. Filosofi ini mengajarkan kepada saya bahwa dengan menyadari berbagai keterbatasan kita akan terpaksa dan akhirnya terbiasa untuk disiplin. Kita akan sangat menghargai sumber daya dan tidak berlebih-lebihan. Kita akan patuh pada aturan sebab melanggar aturan berarti mencari masalah, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masalah yang beresiko merobohkan piramida kita sendiri.

Saya bukan tipe pesimis. Tapi pengamatan saya melihat bahwa bangsa kita terkena sindrom Piramida Batu. Kita terlena oleh kekayaan kita. Kita berpikir bahwa dengan kekayaan alam Indonesia sudah cukup untuk bersenang-senang. Kita sibuk melanggar aturan. Tindakan atas pelanggar hukum pun tebang pilih sesuai kepentingan penguasa. Kasus RMS di Ambon yang terjadi di depan presiden SBY belum lama ini kita ributkan dan saling cari siapa yang paling ’berhak’ disalahkan. Sementara kasus yang jelas-jelas sama di Papua melalui Konferensi Rakyat Papua yang mengeluarkan rekomendasi merdeka kita bilang harus dilihat secara bijaksana.

Mungkin sejarah firaun harus terulang. Bahwa firaun dan antek-anteknya harus ditelan laut dulu baru kita sadar. Entah bagaimana itu ditelan laut versi moderen ini. Tapi kalau setelah ditelan laut pun kita tidak sadar, bukan saja bahwa kita berfilosofi piramida batu, tapi kepala kita betul-betul sudah batu!

Catatan:

Gambar Piramida diambil dari www.monter.pl

23 Mei, 2007

Sense of Urgency


Seorang khalifah jauh setelah masa Rasul SAW terkenal hidup sederhana.

Suatu hari ia dapati anaknya pulang dari mengaji sambil menangis. Khalifah bertanya kepada anaknya, "Mengapa kamu menangis hai anakku?"

Si anak sambil terisak menjawab, "Aku malu ayah. Aku diejek teman-teman di sekolah mengaji. Katanya, kasihan bajunya pakai tambalan?"

Khalifah bilang, "Memangnya teman-temanmu tidak tahu kalau kamu anak khalifah?!"

"Justru itu ayah. Mereka bilang anak khalifah kok bajunya ditambal? Memangnya tidak punya uang beli baju?" Khalifah tersinggung. Ia kirim berita ke bendahara kerajaan. Ia minta bendahara mengecek apakah ia bisa mengambil gajinya di depan meskipun belum waktunya (kebetulan saat itu tinggal 7 hari lagi waktunya khalifah terima gaji).

Bendahara dengan patuh menjawab, "Ya Khalifah. Jangankan gaji bulan depan, gaji untuk setahun ke depan, bahkan dua tahun ke depan pun kalau Khalifah mau akan hamba berikan. Tapi sesuai dengan aturan, mohon Khalifah tanda tangan di selip penerimaan sebagai bukti Khalifah sudah ambil gaji di depan. Tentu saja bukan masalah buat sang Khalifah.

Sebelum tanda tangan ia baca baik-baik redaksi slip tersebut: "SAYA, YANG BERTANDA TANGAN DI BAWAH INI, KHALIFAH, MENYATAKAN TELAH MENGAMBIL DI DEPAN GAJI SAYA UNTUK BULAN JUNI, DAN MENJAMIN BAHWA SAYA AKAN TETAP HIDUP SAMPAI TANGGAL PENERIMAAN GAJI, YAITU TANGGAL 1 JUNI"

Membaca redaksi tanda terima itu, Khalifah bergetar seluruh tubuh menggigil ketakutan. Ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Serta merta ia bilang, "Wahai anakku, tunggulah. Insya Allah kalau saya masih hidup sampai tanggal terima gaji, kamu akan dibelikan baju baru!" Cerita ini juga saya kutip dari ceramah ustad. Isinya sangat mencerahkan. Tepatnya mengingatkan. Bahwa ajal bisa datang kapan saja!

Tulisan ini bukan mau membahas masalah ajal. Tapi cerita di atas menjadi latar belakang ide tulisan ini. Kita tidak pernah tahu kapan akhir dari kehidupan kita. Kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan 1 menit ke depan dalam kehidupan kita. Kalau kita ingin berakhir dengan baik, harus kita pastikan bahwa yang kita lakukan adalah yang baik-baik saja dan buruan untuk hanya mengerjakan yang baik-baik. Dengan mengingat bahwa kita berpacu dengan waktu dalam mengejar kebaikan, pada diri kita akan timbul sense of urgency.

Ini juga berlaku dalam bisnis. Saya pribadi sering merasakan atau mengalami untuk menunda-nunda pekerjaan. Akibatnya, justru pada detik-detik terakhir dari waktu yang ditentukan (dateline), saya buru-buru menyelesaikan pekerjaan. Efeknya bisa besar. Kadang saya jadi tidak punya waktu yang cukup untuk mengecek apakah hasil kerja saya sudah betul atau tidak. Sense of urgency perlu kita tumbuhkan sejak dini.

Apalagi kita orang Indonesia sudah dicap sebagai bangsa ngaret. Sense of urgency bisa menumbuhkan kedisiplinan. Ambil contoh orang Jepang. Mereka tahu bahwa mereka bukan negara kaya. Makanya harus kerja keras. Kalau tidak kerja keras tidak bisa bertahan sebagai bangsa. Ini juga terjadi dengan Singapura. Menumbuhkan sense of urgency tidak perlu sewa konsultan dan bayar mahal. Ilmu ini gratis. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa perlu bayar copyright fee.

Caranya dengan showing by doing. Di dalam keluarga, orang tua mesti jadi pionir. Di sebuah perusahaan, pimpinan mesti jadi ujung tombak. Di kemasyarakatan atau pemerintahan, sama saja, aparat harus jadi contoh. Berikut adalah beberapa contoh bentuk implementasi sense of urgency:

1. Daerah saya PADnya rendah, kalau dikorupsi semuanya akan habis

2. Wilayah saya penduduk miskinnya banyak, kalau tidak bikin program yang langsung kena sasaran, penduduk miskin akan semakin banyak

3. Murid-murid saya tahun depan akan menghadapi UAN. Kalau saya tidak giat mengajar mereka akan gagal

4.Dan lain-lain

Jadi jangan tunda lagi, mari kita tumbuhkan sense of urgency.......selama hayat masih di kandung badan.....


Catatan:
Sumber gambar dari www.healthmgttech.com

22 Mei, 2007

Hikmah Dari Sumbu Lilin


Lampu di kamar mandi saya semalam mati. Untuk itu saya pakai lilin. Lumayan terang sebagai pengganti lampu. Tapi lama kelamaan lilinnya mulai redup. Saya perhatikan materi lilinnya masih banyak bergumpalan di bagian dasar kaleng yang saya pakai sebagai dudukan. Tapi kok nyalanya jadi redup?

Setelah saya lihat lebih dekat, ternyata sumbunya sudah pendek. Jadi walaupun zat lilinnya masih banyak karena terkumpul di dasar kaleng, karena sumbu yang akan terbakar tidak ada lagi, nyalanya redup dan tidak bisa memancarkan cahaya terang.

Kebetulan sekali semalam juga saya hadiri takziah tetanggan yang kedukaan. Ustadnya ceramah sangat menggugah. Salah satu penekanan yang beliau sampaikan bunyinya,"Saudara-saudara, ketahuilah bahwa bagaimanapun banyaknya amalan anda, kelak di akhirat, buah dari amalan ini hanya dapat dinikmati apabila kita memiliki kuncinya, yaitu shalat. Jadi, buah amalan kita yang ada di dalam box hanya bisa kita buka bila memiliki kunci yaiti ibadah shalat yang kita miliki di dunia." Saya jadi sadar. Ternyata dalam hidup ada sumbu-sumbu, atau kunci-kunci yang penting agar sumber daya lain bisa berguna untuk kita. Salah satunya adalah ikhtiar.

Ada contoh bagus yang saya dapatkan tidak jauh dari rumah saya. Rumah saya berlokasi di kawasan kota baru yang sebelumnya memang tidak ditinggali orang. Sebuah grup pengembang nasional kemudian mengembangkan kawasan baru di areal ini dengan berbagai fasilitas. Bahkan pengembang bekerjasama dengan pemkot mereklamasi laut untuk membuat jalan pintas menuju kawasan ini. Di dalam kawasan dibangun macam-macam fasilitas. Ada mall, rekreasi pantai, dan kawasan ruko.

Jumlah penghuni memang mulai meningkat. Tapi satu tantangan terbesar yang dialami pengembang adalah jumlah pengunjung ke mall dan ruko sangat jauh di bawah harapan. Sepi selalu! Saya kagum karena pengelola terus mencari cara agar jumlah pengunjung ke mall dan ruko bisa meningkat.

Akhirnya mereka dapat ide. Di depan areal ruko, pengelola menyediakan kawasan berjualan makanan dan lain-lain, lengkap dengan tenda dan meja kursi, gratis bagi siapa saja untuk diapakai jualan. Bahkan disediakan pula layar lebar untuk nonton bareng sepak bola live atau F1 dan GP.

Cara ini ternyata manjur. Awalnya hanya penghuni kawasan yang sering datang karena memang ini sangat membantu orang-orang seperti saya yang tidak punya pembantu dan lebih sering cari makan di luar. Belakangan orang luar kawasan mulai berdatangan, terutama malam minggu dan hari minggu.

Sekarang saya perhatikan mall lebih ramai daripada dulu. Mungkin ini himah yang bisa kita tangkap. Bahwa sumbu atay kunci kita dalam hidup atau berusaha jangan sampai putus atau patah. Ikhtiar mesti selalu diadakan. Bagaimanapun banyaknya sumber daya lain seperti uang, pengetahuan atau keterampilan, tapi kalau tidak diaktualisasikan dengan ikhtiar, sumber daya itu jadi tidak berguna.

Sekarang mari kita cek. Apakah sumbu-sumbu lilin kita sudah cukup panjang untuk bisa memberi jalan kepada sumber daya lain agar sama-sama memberi cahaya terang menuju kemajuan?


Catatan: