<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954</id><updated>2011-04-22T10:50:27.761+08:00</updated><title type='text'>Persembahan Tak Habis-Habis......</title><subtitle type='html'>'Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh (laut)lagi sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Quran S. Luqman:27
-- Blog ini berisi persembahan yang tak habis-habis atas renungan, perasaan, catatan saya, Irwan F. Uno, atas berbagai kalimat Allah yang saya temui dalam hidup...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6282480123042254864</id><published>2008-04-18T07:14:00.002+08:00</published><updated>2008-04-18T07:22:53.085+08:00</updated><title type='text'>Apa kata akhirat?!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/SAfblf7B8KI/AAAAAAAAAJE/E8D0ZHeYQMw/s1600-h/tn_question.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190358532838518946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="117" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/SAfblf7B8KI/AAAAAAAAAJE/E8D0ZHeYQMw/s320/tn_question.jpg" width="75" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini naga-naganya semakin men-‘dunia’ saja. Orang pokoknya kalau mau goyang selalu ingat slogan ‘Apa kata dunia?!’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf saudara-saudara, saya mau tambah slogan baru, ‘Apa kata akhirat?!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terutama untuk mengingatkan pemerintah tentang kasus Ahmadiyah yang sudah diputus sebagai ‘aliran sesat’. Tanya posisi saya bagaimana? Wah, jangan pakai nanya posisi deh. Ahmadiyah dari awal sudah jelas-jelas provokator Islam. Celakanya, pemerintah atau pengusung slogan ‘Apa kata dunia?!’ yang senangnya memang ‘main api’, bukannya mencari jalan keluar, tapi justru membuat keruh suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, bagaimana tidak? Jelas toh, bagaiaman Islam itu tegak? Kalo mengaku Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah rasul terakhir. Titik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masak si nabi palsu saja Ahmad Mushadek kasusnya tidak perlu nunggu lama dan pake keputusan presiden segala bisa kelar? Masak Ahmadiyah yang dari awalnya sudah jelas Islam gadungan harus nunggu sekian lama, kalo perlu harus nunggu korban dulu baru mau divonis? Apa kata akhirat?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadiyah ini memang mau numpang beken aja. Maunya ngaku Islam, tapi bukan cuma malu-malu, tapi malu-maluin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kalau semuanya serba bertanya ‘Apa kata dunia?!’ dulu. Pemerintah kalau bicara di depan public menyikapi masalah beginian, kelihatannya sopan banget. Jaga tata krama. Belum-belum sudah ingatkan jangan ada keributan. Yang mau ribut itu siapa? Tapi bagemana juga orang tidak ribut kalau dikasih tau baik-baik telinga seakan budeg?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih Ahmadiyah jadi masalah? Agar anda tau ‘Apa kata akhirat?!’ kalau masalah ini tidak diselesaikan, saya copy-paste-kan tulisan Imam Syamsi Ali, imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;-----&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ahmadiyah dan Religious Freedom &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Altenatif terbaik bagi Ahmadiyah adalah; keluar dari Islam atau mengakui Nabi Mummad sebagai Nabi terakhir. Jika tidak, akan terus timbul reaksi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: M. Syamsi Ali&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hari Senin, 7 Januari kemarin, saya menerima kunjungan rombongan pengurus Ahmadiyah USA yang tergabung dalam sebuah organisasi Ahmadiyah Movement in Islam, Inc. Saya menerima mereka dalam kapasitas saya mendampingi staf PTRI New York, mewakili pemerintah, untuk mendengarkan keluhan dan uneg-uneg mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya kunjungan mereka tidak membawa sesuatu yang istimewa. Semuanya adalah menyampaikan apa yang sudah pernah dimuat oleh berbagai media massa tentang (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia seperti Parung, Bogor , Padang , dll. Pada intinya, mereka mengutuk peristiwa-persitiwa tersebut dan mendesak pemerintah RI untuk membawa pelakunya ke meja hijau.&lt;br /&gt;Rupanya beberapa anggota pengurus Ahmadiyah, tanpa saya sadari, sudah mengenal saya. Mereka mengenal saya dari acara Pre- Ramadan Conference di kepolisian New York setiap menjelang Ramadan. Saya kebetulan memang seringkali menjadi salah seorang pembicara pada acara tersebut, yang juga dihadiri oleh perwakilan Ahmadiyah yang juga dianggap Muslim oleh kepolisian New York &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah basa basi ala diplomat, pembicaraan menjurus kemudian kepada (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga Ahmadiyah di Pakistan. Perlu diketahui, Ahmadiyah adalah pergerakan yang secara institusi terlarang di Pakistan dan pengikutnya tidak dianggap bagian dari masyarakat Muslim. Tegasnya, mereka dengan keyakinannya yang keluar dari Al-Quran dan As Sunnah dianggap keluar dari agama Islam dan karenanya dianggap non Muslim minoritas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Penetapan warga Ahmadiyah di Pakistan sebagai non Muslim justeru dilakukan oleh pemerintahan yang tidak berafiliasi ke Islam ketika itu, yaitu pemerintahan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, ayah mendiang Benazir Bhutto, pada tahun 1974. Keputusan tegas dan besar ini terjadi hanya setahun setelah Zulfikar Ali Bhutto menduduki jabatannya sebagai PM Pakistan. Sejak itu pula Ahmadiyah di Pakistan merupakan organisasi terlarang, tapi pengikutnya tetap bebas menjalankan keyakinannya secara pribadi-pribadi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sejak awal mendengarkan mereka, hati saya sudah hampir memberontak. Pasalnya, sejak semula mereka secara tidak langsung menuduh ulama-ulama Indonesia sebagai radikal (dengan istilah mullah) dan melanggar HAM. Lebih dari itu, dengan membandingkan antara kejadian-kejadian di Pakistan dan Indonesia, mereka seolah menuduh bahwa pemerintah Indonesia mengabaikan HAM dan bahkan ikut mendukung kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh apa yang disebutnya sebagai anggota radikal dari komunitas Muslim Indonesia.&lt;br /&gt;Puncaknya ketika mereka menuduh ulama-ulama Pakistan, termasuk Abu A’la Maududi, sebagai ulama-ulama pembunuh dan menganjurkan pengikutnya untuk membunuh orang-orang Islam lainnya yang tidak sejalan dengan idiologi mereka. Ternyata mereka sudah memiliki cuplikan-cuplikan yang diambil dari berbagai sumber mengenai mereka. Setelah saya perhatikan seraya beradu argumentasi, saya temukan bahwa cuplikan-cuplikan yang mereka pegangi untuk menyerang para ulama sunni itu diambil sepotong-sepotong dan ditafsirkan secara salah untuk membenarkan argumentasi mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, pertemuan itu tidak lagi bercirikan diplomasi tapi cukup memanas dengan argumentasi keagamaan dan rasionalitas. Dari semua argumentasi yang mereka berikan, hanya satu hal dapat diterima. Yaitu bukankah semua manusia memiliki hak untuk mengikuti keyakinan masing-masing? Dengan kata lain, kata kunci “religious freedom” menjadi satu-satunya alasan yang dipakai untuk membela eksistensi mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Isu kebebasan beragama&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini memang cukup banyak tokoh Muslim yang tiba-tiba tampil menjadi “champion of religious freedom”. Mungkin mereka ikhlas membela apa yang dipersepsikan oleh umum, khususnya barat, sebagai masyarakat lemah (marginalized) , atau boleh jadi juga karena membela masyarakat yang dipersepsikan termarjinalkan itu memang “rewarding”. Tentu maksud saya adalah cepat mendapatkan apresiasi, dukungan oleh yang kuat, dan yang lebih khusus cepat menemukan pahala duniawinya (beasiswa, dukungan dana, media suppot, dll).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kebebasan beragama bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Jauh sebelum dunia barat berkoar untuk jaminan kebebasan beragama, Islam sejak 15 abad silam sudah menjamin dengan ayat Al Quran, hadits maupun praktek-praktek Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Sehingga pemberian kebebasan beragama dalam tatanan masyarakat Muslim adalah “religiously is obligatory” (secara agama adalah wajib). Bahkan Rasulullah mengancam untuk menjadi musuh bagi mereka yang menyakiti “dzimmi” (non Muslim minoritas dalam tatanan masyarakat Muslim.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia telah membuktikan ini. Tidak ada negara di dunia ini yang memberikan posisi terpenting kepada warga “non majority” kecuali Indonesia . Bahkan ada masa-masa di mana kaum minoritas jauh lebih “teranak maniskan” ketimbang kaum mayoritas. Berapa jumlah menteri non Muslim di Indonesia ? Berapa sekjen/dirjen (eselon I) di berbagai departemen pemerintahan dan swasta di negara kita? Silahkan jumlah dubes/diplomat tingkat tinggi non Muslim di kementrian luar negeri Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semua ini menunjukkan bahwa secara negara (state) dan pemerintahan (governance) Indonesia tidak membeda-bedakan warganya. Semua memiliki hak dan kesempatan yang sama serta memiliki hak pembelaan berdasarkan konstitusi negara Indonesia yang disetujui bersama. Maka, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam dan Kong Hu chu, dan bahkan agama-agama lainnya yang secara formal tidak terakui, bebas menjalankan keyakinan dan ibadahnya masing-masing dan dijamin secara konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Isu Ahmadiyah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ahmadiyah oleh pengikutnya diyakini sebagai agama Islam dan bukan agama baru. Tapi pada saat yang sama, Islam yang mereka sampaikan adalah Islam yang secara prinsip menyimpang dari dasar-dasar ajaran Islam yang baku . Dan karena perbedaan mendasar yang diakui oleh mereka inilah, warga Ahmadiyah tidak mungkin mau menjadi makmum di belakang Imam Muslim selain Ahmadiyah. Pada prinsipnya, mereka menganggap Muslim yang tidak satu kepercayaan/ iman dengan mereka sebagai kafir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada beberapa hal yang paling prinsipil dari kesesatan Ahmadiyah adalah:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pertama, bahwa meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah Nabi atau rasul yang menerima wahyu. Oleh karenanya, Muhammad S.A.W. bukanlah nabi dan rasul Allah yang terakhir (khaatam an anbiyyin).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kedua, bahwa kitab suci terakhir bukan Al Quran tapi al Kitab yang diterima oleh Mirza Gulam Ahmad dengan nama Tadzkirah. Kitab ini memuat ayat-ayat Al Quran yang diputar balik dan dicampur dengan berbagai seruan-seruan Mirza Gulam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketiga, bahwa melaksanakan ibadah haji ke Mekah tanpa melakukannya ke kota suci mereka, yaitu Rabwah dan Qadiyan di India adalah haji yang kering dan tidak diterima. Kenyataannya, Mirza Gulam Ahmad juga tidak pernah menjalankan ibadah haji selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keempat, bahwa bangkit melawan penjajah (Inggris) ketika itu bukan jihad tapi pemberontakan. Mirza Gulam juga menuliskan buku panduan jihad yang pada intinya mengutuk para pejuang India yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan Inggris ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kelima, Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha' 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari lima perbedaan prinsipil di atas, jelas orang-orang Ahmadiyah memiliki keyakinan dan sistim yang berbeda dengan kaum Muslimin. Maka, ketika mereka mengkafirkan orang Islam (dalam pandangan mereka) adalah sangat wajar. Sebab memang, orang-orang Islam sejati tidak mengimani/meyakini ajaran mereka, sehingga wajar kalau mereka memang kafir kepada ajaran Ahmadiyah Qadiyaniah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Inti permasalahan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maka, isu Ahmadiyah bukan pada “religious freedom” atau isu kebebasan beragama. Melainkan isu “penodaan” agama Islam yang dianut secara luas oleh masyarakat setempat. Kalaulah seandainya Ahmadiyah diakui sebagai agama, sekte, keyakinan baru yang sama sekali tidak dikaitkan dengan ajaran Islam yang murni, tentu tidak akan menimbulkan permasalahan. Kejawen dan praktek-praktek keyakinan lokal juga kan tidak pernah selama ini dipermasalahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maka, ketika Majelis Ulama Indonesia menfatwakan bahwa Ahmadiyah sesat dan melaporkan ke Kejaksaan Agung sebagai bukan ajaran Islam, mereka telah melakukan fungsinya sebagai pembenteng akidah umat. Yang aneh adalah jika ada pemutar balikan yang terjadi dalam ajaran Islam, lantas ulama diam atau malah mendukung. Bagi saya, ini adalah ulama yang memiliki pemikiran terjungkir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Namun demikian, dengan segala hak umat Islam membela akidah dan kemurnian ajaran agamanya, adalah tidak sama sekali dibenarkan untuk melakukan kekerasan-kekerasan dan pengrusakan. Prilaku kekerasan dan pengrusakan adalah prilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan tauladan Rasulullah SAW. Sebaliknya, justeru akan menampakkan Islam pada posisi yang semakin tidak menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, sebagaimana saya sampaikan kepada delegasi Ahmadiyah Amerika, ada dua alternatif bagi mereka:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pertama, deklarasikan sendiri bahwa Ahmadiyah adalah agama baru dan bukan Islam, atau kedua, tetap mengaku Muslim dengan kesesatan-kesesatan tapi dipandang sebagai “pengacau” dan “penoda” agama orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jika alternatif kedua yang dipilih, akan sangat wajar jika nantinya timbul berbagai reaksi dari masyarakat yang merasa dirugikan (victimized) . Kalau tetap ingin tegar menghadapi reaksi-reaksi tersebut, silahkan maju tak gentar. Hadapi reaksi umat Islam melalui prosedur hukum dan politik yang ada. Toh pada akhirnya dalam dunia (what so called) demokratik saat ini, semua ditentukan oleh kekuatan dan kelihaian argumentasi yang dimiliki oleh masing-masing pihak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Yang pasti, umat Islam yang sadar akan tetap melihat “kesesatan” (baca kekufuran) itu selama mereka masih bertahan dengan keyakinan mereka. Semoga saja keputusan pemerintah melihat secara jelas permasalahan ini, sehingga tidak terjadi opresi kepada mayoritas atas nama membela minoritas. Lebih tragis lagi jika pembelaan itu hanya karena sebuah tekanan dari orang lain atas nama “kebebasan beragama”, yang dalam konteks Ahmadiyah di Indonesia adalah out of context! [&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/"&gt;http://www.hidayatullah.com/&lt;/a&gt;]New York, 8 Januari 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6282480123042254864?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6282480123042254864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6282480123042254864' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6282480123042254864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6282480123042254864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/04/apa-kata-akhirat.html' title='Apa kata akhirat?!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/SAfblf7B8KI/AAAAAAAAAJE/E8D0ZHeYQMw/s72-c/tn_question.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4985886327898919235</id><published>2008-03-22T10:22:00.001+08:00</published><updated>2008-03-22T10:25:08.863+08:00</updated><title type='text'>Happy Birthday ya Rasulullah SAW</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R-Rt-GBb4PI/AAAAAAAAAI0/Nz5IW2ZmBCw/s1600-h/happy+birthday.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180386384918864114" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R-Rt-GBb4PI/AAAAAAAAAI0/Nz5IW2ZmBCw/s320/happy+birthday.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maunya sih…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maunya sih saya dapat hak istimewa dari negara ini. Dari siapapun itu sebagai pemimpin tertinggi yang katanya, keputusannya, titahnya, pasti didengar dan dilaksanakan. Kalau yang tertinggi itu adalah presiden, ya dari presiden. Kalo itu misalnya Mahkamah Agung, ya Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak muluk-muluk. Maunya sih, saya, apapun kesalahan saya, baik yang sekarang maupun yang akan datang kalau ada, diampuni, diputihkan, dianggap tidak pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maunya saya ada alasannya. Saya menganggap diri patuh hukum. Saya bersih. Saya konsisten. Pokoknya jangan takut. Saya teladan. Makanya, maunya saya seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ntar dulu. Maunya saya di atas tidak main-main, lho! Saya serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi, ntar dulu. Walau serius, saya agak ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, lebih dari 1.400 tahun lalu, ada kejadian beneran. Suatu malam, Aisyah RA, isteri Nabi Muhammad SAW, menuggui beliau yang lagi shalat malam. Shalatnya lama. Saking lamanya, Aisyah kecapain menunggu, beliau jatuh tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terbangun, Aisyah pikir suaminya sudah selesai shalat. Beliau cek lagi, ternyata Rasulullah masih shalat juga. Bahkan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Aisyah saking capainya menunggu, beliau jatuh tertidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ketika terbangun lagi, Aisyah mendapati Nabi SAW telah selesai shalat. Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, Engkau telah mendapat jaminan masuk syurga. Dosa-dosamu baik yang sekarang maupun yang nanti pasti diampuni. Mengapa pula Engkau bersusah payah mesti shalat dan beribadah sampai sebanyak ini? Bukankah cukup dengan ibadah biasa-biasa saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjawab, “Bukankah bagus apabila aku mendapat gelar sebagai hamba yang senantiasa bersyukur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan saya, karena saya bukan Rasulullah SAW. Sebenarnya model ragu seperti ini tidak beralasan. Saya memang bukan Rasulullah. Tapi Rasulullah juga manusia. Beliau merasa lapar, sakit, sedih, gembira, bahkan, Beliau juga meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terus terang, keraguan saya berdasarkan contoh terkini dari alam sekitar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja lihat, orang-orang yang berpredikat sebagai penegak hukum, tanpa legitimasi dari siapapun, justru bertindak dan memamerkan diri sebagai orang-orang yang kebal hukum. Mereka justru menginjak-injak hukum yang seharusnya mereka tegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan raya yang sudah semakin sumpek dan macet, sering saja ada tontonan tidak mengasyikkan ketika para petinggi yang seharusnya bertanggung jawab atas pengentasan kemacetan malah membuat jalan semakin macet dengan ngebutnya mereka sembari dapat kawalan forraider.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya saya ragu. Inikah pengejawantahan peringatan Maulid Nabi SAW yang setiap tahun kita peringati dengan budget yang tidak sedikit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal cinta Rasul mestinya mengikuti sunnahnya. Sunnah Rasul banyak yang enak bagi kita, tidak sedikit pula yang tidak enak. Malah, perasaan banyak orang, kayaknya banyak tidak enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran yang enak-enak, seperti sunnah Poligami, semua pria pada mendaftar duluan. Tapi giliran yang tidak untuk shalat on-time, mana mereka yang daftar duluan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, maunya saya, saya urungkan. Saya takut, kalau nanti saya dijamin bahwa semua salah saya baik yang sekarang maupun akan datang akan diampuni, saya malah berubah jadi orang salah. Saya bakal jadi besar kepala. Saya tidak mau seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, maunya saya, saya ubah. Mumpung ini masih suasana Maulid Nabi SAW, maunya saya, kita betul-betul meneladani sunnah Beliau. Cinta Rasul adalah meneladani sunnahnya. Hanya dengan begitu beliau akan Happy. Bahkan tanpa menyanyikan lagu Happy Birthday di hari kelahiran beliau, beliau sudah akan happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau kan, anda begitu? Kalau saya sih, itu memang mau saya. Insya Allah saya akan berusaha agar Rasulullah SAW menjadi happy setiap kali saya mengenang birthday-nya. Happy Birthday ya Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4985886327898919235?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4985886327898919235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4985886327898919235' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4985886327898919235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4985886327898919235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/03/happy-birthday-ya-rasulullah-saw.html' title='Happy Birthday ya Rasulullah SAW'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R-Rt-GBb4PI/AAAAAAAAAI0/Nz5IW2ZmBCw/s72-c/happy+birthday.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3336972330277286384</id><published>2008-03-16T22:28:00.003+08:00</published><updated>2008-03-16T22:38:11.080+08:00</updated><title type='text'>Tolong bantu saya!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R90wepad8_I/AAAAAAAAAIs/d1_YzQopCO4/s1600-h/help.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178348449617015794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R90wepad8_I/AAAAAAAAAIs/d1_YzQopCO4/s320/help.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pembaca sekalian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini serius. Saya mohon dengan sangat bantuan anda yang bisa membantu. Menurut saya ini sudah keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini sudah melampaui batas. Bahkan batas itu sendiri pun saya tidak tau ada atau tidak. Tapi sekali ini, saya tidak bisa tinggal diam. Saya harap anda juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga anda membaca Harian Fajar edisi Sabtu 16/3 kemarin. Mengerikan! Diberitakan bahwa Pemda Sulsel sedang menyiapkan perangkat perda baru untuk memungut 99 jenis retribusi dan pungutan baru. Fantastik! Panas dingin saya mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin saya merinding, emosi, sedih, marah, mau muntah, rasa gado-gado pokoknya, ada satu rancangan perda untuk retribusi penggunaan genset untuk keperluan pribadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahahaha…..hihihihi…..huhuhu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ndak tau bagaimana lagi saya harus menulis ini. Anda, tau, sebagai pemerintah, mereka itu bertanggung jawab menyediakan kebutuhan vital masyarakat. Lha, listrik itu sampai sekarang belum jelas toh bagaimana nasibnya? Di mana-mana di Indonesia ini masih byar-pet! Syukur-syukur sekarang di Makassar sudah berkurang. Tapi dengar-dengar dengan harga minyak melambung tinggi, kita-kita sudah pada disuruh siap-siap untuk kembali ke jaman byar-pet lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bagaimana? Masa di era super maju begini kondisi kelistrikan kita masih primitive begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah. Kita mungkin memang harus bersabar. Tapi sabar itu jangan dieksploitasi lagi, dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masak untuk mengatasi rumah sendiri gelap gulita karena ketidak mampuan pemerintah mengatasi problema listrik, kita inisiatif beli genset mini, beli minyak yang nota bene dari negeri sendiri tapi dihargai harga dunia yang oleh spekulan dibikin selangit, trus kita masih dikenai retribusi surat izin usaha ketenagalistrikan untuk keperluan pribadi (IUKS) pula? Hitung-hitungan apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, capek saya jadi warga negara di Indonesia ini. Bagaimana tidak? Setiap hari saya banting tulang dalam bisnis, dengan ikhlas saya bayar pajak, dari pajak itu oleh Pemda dipakai bangun jembatan penyeberangan di titik-titik padat kendaraan, belakangan, untuk pakai jembatan penyeberangan itu harus bayar retribusi pula! Hebat, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi begini saya tidak tau mau ngapain lagi? Mau protes ke Pemda? Hahaha, jangan melucu, ah! Itu perda retribusi jembatan penyeberangan dan banyak lagi retribusi lain yang memang tidak seharusnya ada, sudah dianulir sama Menteri Dalam Negeri. Pak Menteri bilang, itu ndak boleh. Ndak sesuai aturan itu. Makanya perdanya harus dicabut, dan yang penting, tidak boleh ada pungutan begitu lagi. Eh, Pemda mah cuek bebek! Ndak peduli….yang penting duit masuk terus…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar gaya preman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalo sudah begini saya sudah tidak berdaya lagi. Saya serasa sudah diperkosa dan tidak mampu melawan. Makanya saya mendingan minta tolong anda. Anda kalo bisa bantu saya, bantulah. Kalo anda orang sakti, seperti para anggota DPR yang ceplas ceplosnya bisa bikin bolak balik negeri ini, bantulah saya. Jangan cuman bisa janji. Jangan cuman bisa terima gaji dan tunjangan. Jangan cuman bisa tanya, "mau dibantu apa?" Saya tidak tau. Pokoknya, bantulah…….&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Gambar &lt;a href="http://gigcat.midhudson.org/"&gt;dari sini.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3336972330277286384?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3336972330277286384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3336972330277286384' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3336972330277286384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3336972330277286384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/03/tolong-bantu-saya.html' title='Tolong bantu saya!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R90wepad8_I/AAAAAAAAAIs/d1_YzQopCO4/s72-c/help.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2815768861331519280</id><published>2008-03-10T06:09:00.002+08:00</published><updated>2008-03-10T18:23:38.627+08:00</updated><title type='text'>Berbagi di Gorontalo</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R9RgpZad8-I/AAAAAAAAAIk/WfJi-eKKTa8/s1600-h/gorontalo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175868136068346850" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R9RgpZad8-I/AAAAAAAAAIk/WfJi-eKKTa8/s320/gorontalo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Gorontalo saya 3 hari. Baru saja pulang kemarin. Makanya hari ini saya baru bisa nulis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hikmah yang saya dapat. Setelah setengah tahun lebih menulis di blog, akhirnya hobi ini mulai terbayar. Saya diundang untuk memberi inspirasi kepada sedikit orang di Gorontalo yang betul-betul mau maju. Mereka ingin belajar lebih jauh tentang apa itu dan bagaimana memulai sebuah blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tau saja, saya bukan professional blogger seperti sang legenda Bapak &lt;a href="http://www.budiputra.com/"&gt;Budi Putra &lt;/a&gt;(beliau menjadi pembicara utama dalam acara seminar di Gorontalo itu) atau Bapak &lt;a href="http://daengbattala.com/"&gt;Amril Taufik Gobel &lt;/a&gt;(beliau tidak sempat hadir karena ada halangan tapi berdedikasi untuk tetap ambil bagian melalui teleconference). Saya masih amatiran, bahkan masih belajar. Tapi kejadian di Gorontalo tanggal 7-8/3/08 kemarin menjadi bukti bahwa orang belajar itu bisa lebih menguasai apa yang telah dipelajarinya melalui mengajarkannya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya ini luar biasa. Ini kehormatan besar. Dan yang terpenting, ini rejeki besar pula. Mana tau di antara yang belajar itu ada yang lanjut nulis blog, menginspirasi orang, dinilai ibadah oleh Allah SWT, ujung-ujungnya awak kebagian nilai ibadah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada anda yang punya ilmu, mari berbagi yuk. Berbagi ilmu itu sedekah. Hanya dengan berbagi kita bisa lebih kaya. Ini bukan cuman tentang ilmu. Tentang harta pun Insya Allah begitu. Kalau saat ini anda rejekinya seret, mungkin anda kurang berbagi saja. Coba saja kalau tidak percaya. Berapapun itu, kapanpun itu, di manapun itu, cobalah berbagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2815768861331519280?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2815768861331519280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2815768861331519280' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2815768861331519280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2815768861331519280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/03/berbagi-di-gorontalo.html' title='Berbagi di Gorontalo'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R9RgpZad8-I/AAAAAAAAAIk/WfJi-eKKTa8/s72-c/gorontalo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-64085096016994071</id><published>2008-02-27T07:28:00.003+08:00</published><updated>2008-02-27T07:39:24.991+08:00</updated><title type='text'>Jadi kenapami? (baca: Emang kenapa?)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R8ShDGgSkBI/AAAAAAAAAIc/0VgTXReEaG4/s1600-h/tukang+becak.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171435346785898514" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R8ShDGgSkBI/AAAAAAAAAIc/0VgTXReEaG4/s320/tukang+becak.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pilkada sekarang beda dengan jaman pemilu dulu. Pilkada sekarang pakai standar internasional. Pilkada sekarang bertaburan balon (bakal calon). Dulu pilihannya sedikit. Sekarang, saking banyaknya jadi bingung milih. Dulu mau kampanye pilih-pilih kata. Salah-salah bisa dianggap penghianat negara. Sekarang kata-kata diobral. Pokoknya asal masyarakat suka dengar. Itu dia enaknya di Indonesia. Masyarakat sudah kadung terbuai oleh sinetron (ini versi lanjutannya telenovela yang ngetop duluan, maklum di Indonesia apa-apa harus impor dulu baru bisa bikin sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang jadi ciri khas pilkada sekarang, ada debat calonnya. Semakin seru karena bukan saja calonnya yang berdebat, para pendukung pun ikut-ikutan berdebat. Malah lebih seru debat pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini satu contoh. Saya tulis berdasarkan hasil curi dengar debat pendukung, si Baco dan si Bocco, dua tukang becak pemerhati politik di ujung gang rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baco : &lt;em&gt;Weh&lt;/em&gt;, Bocco, kamu sudah pikir mau pilih siapa jadi walikota nanti? Saya bingung mau pilih siapa. Soalnya calonnya bagus semua…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocco : Jadi kenapa&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baco : Ih, bagemana tidak bingung, sebenarnya saya mau pilih Pak Illy. Dia kan sudah menjabat &lt;em&gt;tawwa&lt;/em&gt;. Kelihatann&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt; ada hasilnya. Apalagi orangnya juga merakyat &lt;em&gt;ji&lt;/em&gt;. Kamu lihat &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt;, apalagi setahun belakangan ini dekat-dekat akhir masa jabatan, dia rajin sekali masuk keluar dusun…bagus &lt;em&gt;ki to&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocco : Jadi kenapa&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baco : Itu&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt;….hampir bulat &lt;em&gt;mi&lt;/em&gt; tekadku sebenarnya untuk dukung dia. Tapi kemarin waktu antar penumpang, ada ku lihat di &lt;em&gt;panyingkul &lt;/em&gt;(baca: tikungan) posternya pak Abil, wah, kulihat dari lirikan matanya waktu difoto, kayaknya orangnya bagus &lt;em&gt;tawwa&lt;/em&gt;. Cepat sekali meroket jabatannya. Dulu dia biasa-biasa &lt;em&gt;ji&lt;/em&gt;, sekarang, sudah wakil rakyat mi! Kayaknya, dia patut dipertimbangkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocco : Jadi kenapa&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baco : Tapi terus terang, kemarin saya dapat baju kaos, gambarnya pak Muhdar. &lt;em&gt;Weh&lt;/em&gt;, di antara semua baju kaos gratis yang pernah ku dapat, ini paling bagus&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt; bahannya! Kentara kalau pak Muhdar itu orang kaya. Kayaknya lebih bagus kita pilih calon walikota orang kaya, siapa tahu kalau sudah banyak uangnya sebelum menjabat dia tidak korupsi….Apalagi, kita juga bisa belajar toh dari orang kaya seperti itu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocco : Jadi kenapa&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baco : Tadi pagi toh, waktu baru bangun, saya tambah bingung…soalnya di tidurku tadi malam, saya mimpi didatangi arwahnya bapakku. Dia bilang, &lt;em&gt;weh&lt;/em&gt;, Baco, kamu nanti pilih pak Agraham saja. Dia itu pengacara. Kamu itu nak, perlu perlindungan hukum. Nanti kalo berhadapan sama satpol PP dan becak kamu mau diambil, atau itu gubuk peninggalan bapak di samping got besar mau digusur, kamu bisa minta perlindungan hukum…..Bagus juga itu wasiat bapakku. Kayaknya kita ini, apa&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt; lagi &lt;em&gt;kodong &lt;/em&gt;yang bisa kita harap selain kepastian hukum…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocco : Jadi kenapa&lt;em&gt;mi&lt;/em&gt;?....&lt;em&gt;Weh&lt;/em&gt;, Baco, sudah-sudah&lt;em&gt;mi &lt;/em&gt;itu kamu bicara pilkada. Dari tadi saya di sini nunggu kau bayar utangmu yang 3.000, sudah 7,5 bulan kau tidak bayar. Kalau kau tidak mau bayar sekarang, saya lapor polisi biar kau dapat kepastian hukum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRAGIS!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-64085096016994071?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/64085096016994071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=64085096016994071' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/64085096016994071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/64085096016994071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/02/jadi-kenapami-baca-emang-kenapa.html' title='Jadi kenapami? (baca: Emang kenapa?)'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R8ShDGgSkBI/AAAAAAAAAIc/0VgTXReEaG4/s72-c/tukang+becak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-438802059113336456</id><published>2008-02-26T08:00:00.003+08:00</published><updated>2008-02-26T08:10:04.729+08:00</updated><title type='text'>Believe it.....or not!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R8NX3WgSkAI/AAAAAAAAAIU/TudalgFuyUQ/s1600-h/believe+it+or+not.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171073405596897282" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R8NX3WgSkAI/AAAAAAAAAIU/TudalgFuyUQ/s320/believe+it+or+not.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Artikel berikut adalah fiksi belaka. Bukan science fiction, atau pulp fiction, it is simply just fiction. Makanya banyak dari isinya jangan dipercaya. Cukup dibaca. Kalau suka ya Alhamdulillah. Kalau tidak suka, ya sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi asal anda tahu saja, dalam ilmu psikologi, kalau anda baca sesuatu yang terus terang, seperti kalimat di atas yang meminta anda jangan percaya, sebenarnya anda digiring untuk percaya. Seperti sekarang ini, begitu anda sudah melewati barisan kalimat ini, anda pasti akan semakin terangsang untuk percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya sebenarnya serba salah. Saya bilang ini fiksi dan jangan dipercaya, anda justru semakin mau percaya. Kalau saya bilang percaya saja, kenyataannya ini adalah fiksi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau begitu, kita ambil jalan tengahnya saja…believe it…or not!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Believe it….or not! Orang-orang di pemerintahan sekarang (dengan ikhlas saya katakan ‘tidak semuanya begitu’) semakin pandai. Terutama giliran bikin anggaran. Di Sulsel contoh konkritnya. Di satu kabupaten, dalam anggaran ditulis target pengumpulan pajaknya adalah – saya kasih contoh saja – 1,5M. Anggaran yang diusulkan untuk mengumpulkan pajak itu 1,6M. Hahaha. Masak biaya pengumpulan pajaknya lebih besar daripada pajak yang mau dikumpulkan??!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Believe it…..or not! Secara nasional kita sudah menghabiskan banyak sekali uang untuk menyelenggarakan sidang dewan yang akhirnya memutuskan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Tapi nauzubillah, sudah keluar uang banyak untuk menggerakkan tangan ketua DPR seorang ketok palu, palu sudah diketok sampai meja ketua lecet, anggaran pendidikan belum nyampe juga 20%. Tapi hebatnya, di Sulsel, politikus sibuk kampanye pendidikan mau digratiskan. Kalau yang 20% saja nggak pernah kesampaian, macam mana pula mau tambah subsidi supaya pendidikan gratis??!! Ajarin dong….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Believe it…..or not! Sampai detik ini, minyak tanah susahnya minta ampun. Kemarin dalam mobil sama istri, kami lewat sebuah jalan yang ada pasar tradisionalnya. Di antara kerumunan para penjual pinggir jalan, ada seorang yang jualannya ubi kayu. Jumlah ubi kayu yang dijual…? Believe it…..or not, hanya sebanyak dua genggaman tangan! Dasar otak bisnis, istri saya mulai berhitung. Kalau dagangan sebanyak itu dijual 5 ribu (itupun kata istri saya pasti sudah dianggap mahal sama kebanyakan ibu rumah tangga), untungnya berapa? Mungkin 2.500 rupiah. Trus kalau setiap hari pemasukan sebesar itu saja, dikali dengan 30 hari jualan, maka total pemasukan penjual itu sebulan 75.000! Kata istri saya, hidupnya bagaimana? Believe it….or not, orang itu ternyata masih hidup tuh. Makanya, biar kelangsungan hidupnya bisa terus bertahan, minyak tanah yang sudah mahal bagi mereka, tolong jangan dibikin langka. Tolong deh….kodong……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Believe it…or not! Dari sekian lama saya belajar di sekolah, bapak mamak saya sudah keluar uang banyak untuk ongkosin, paling tidak saya tau bahwa namanya aturan dibuat untuk dipatuhi. Tahu siapa pihak pertama yang paling harus mematuhi aturan? Pembuat aturan! Tapi di negeri kita yang anda cintai ini, pembuat aturan bisa di urutan terbawah dalam mematuhi aturan….Asyiiikkk…Mau contoh? Banyak! Satu contoh saja. Spanduk, baliho, atau alat promosi lainnya, bahkan yang dipasang di pagar sendiri, sesuai aturannya harus bayar retribusi. Orang dinas pendapatan (apalagi sekarang mereka punya kelompok spionase berjudul ‘polisi PP’) paling lebar telinga dan tajam penciumannya kalau masuk urusan beginian. Pokonya kalau lihat spanduk tidak ada tanda tangan atau stempel Dispenda-nya, tunggu-tunggu saja anda dapat panggilan atau spanduk anda diturunkan. Nah, tapi sekarang, di pinggir jalan di hampir seluruh pelosok di nusantara, spanduk, poster, baliho, para politisi yang pengen cepat populer, terpajang bebas tanpa retribusi tanpa sensor! Hahaha…ini siapa yang bego, yah? Atau mungkin saya dulu waktu sekolah bayarnya kurang mahal sampai ilmu begituan tidak bisa masuk akal saya? Au ah, super gelap!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bagaimana? Anda masih mau percaya? Sekali lagi saya bilang itu yang di atas fiksi, lho. Jangan salahkan saya kalau anda salah pilih mau percaya atau mau tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada satu fiksi lagi yang saya tidak mau lupa sampaikan ke anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Believe it…or not! Banyak aktris Hollywood naksir sama saya, lho…..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gambar diambil &lt;a href="http://images.google.com/imgres?imgurl=http://www.gifttrap.com/images/blue/GiftTRAP-CA-yellow_52.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.gifttrap.com/blue1/image_full/13433/&amp;amp;h=434&amp;amp;w=434&amp;amp;sz=107&amp;amp;hl=en&amp;amp;start=9&amp;amp;sig2=8vq5ggsupT3BhEnFSoBBYg&amp;amp;um=1&amp;amp;tbnid=Dd8sauc3yy0MrM:&amp;amp;tbnh=126&amp;amp;tbnw=126&amp;amp;ei=J1fDR5LsMqnOpgTSpfTkDQ&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dbelieve%2Bit%2Bor%2Bnot%26ndsp%3D18%26um%3D1%26hl%3Den%26rlz%3D1T4SKPB_enID257ID257%26sa%3DN"&gt;dari sini.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-438802059113336456?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/438802059113336456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=438802059113336456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/438802059113336456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/438802059113336456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/02/believe-itor-not.html' title='Believe it.....or not!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R8NX3WgSkAI/AAAAAAAAAIU/TudalgFuyUQ/s72-c/believe+it+or+not.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3211294497832420401</id><published>2008-02-22T07:25:00.002+08:00</published><updated>2008-02-22T07:38:07.400+08:00</updated><title type='text'>Oknum Sejati</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R74JMWgSj_I/AAAAAAAAAIM/ChbIqvAPpOw/s1600-h/demo+mhs.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169579530072002546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R74JMWgSj_I/AAAAAAAAAIM/ChbIqvAPpOw/s320/demo+mhs.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin julukan “Mahasiswa” memang harus diganti. Terserah mau diganti apa….mau “Siswa” saja, “Mikrosiswa”, atau “Tukang Belajar”, terserah deh. Masalahnya dengan julukan “Maha” di depan “Siswa”, mereka yang tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan itu jadi sangat besar kepala. Kelihatannya mereka ge-er dengan gelar “Maha” itu. Padahal yang “Maha” itu hanya satu, hanya Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terusik oleh berita TV pagi ini ketika sedang asyik di depan komputer. Sekelompok mahasiswa berdemo dan menyandera mobil dinas. Saya bukan membela mobil dinasnya. Saya juga bukan tidak setuju dengan demonya. Saya cuman terusik saja dengan tingkah ulah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan mereka menurut saya jadi lebih rampok dari para perampok. Kalo para perampok ternak kerjanya sembunyi-sembunyi, mereka ini kerjanya terang-terangan. Terang-terangan merampok kebebasan pengguna jalan. Di berita pagi ini, mereka bagai cowboy jalanan menyandera mobil, menutup jalan, membakar ban. Mereka tidak segan-segan membentak orang yang lebih tua. Urat lehernya nyempul lebih besar daripada otot Gatotkaca kalau mereka lagi berteriak. Pengguna jalan tidak bisa ngapa-ngapain!&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maaf, kalau mereka mengaku manusia, pengguna jalan juga manusia choy! Mereka juga nyari duit. Mereka butuh makan. Mereka butuh duit untuk nebus obat kalo lagi sakit. Mereka butuh duit untuk beli rumah biar anak mereka yang masih kecil-kecil punya tempat berteduh. Dan yang terpenting, mereka butuh duit buat bayar uang kuliah anak mereka yang mahasiswa biar bisa jadi orang baik-baik, bukan untuk jadi rampok seperti cowboy jalanan ini! Ngerti nggak seeh???!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini jadinya kalau pendidikan kita kehilangan nilai dasarnya. Dulu waktu saya kecil, orang tua saya marah besar kalau lewat depan orang tua (pokoknya orang yang lebih tua) tidak nunduk-nunduk ‘tabe’ (jalan sambil nunduk tanda hormat). Jangankan membentak orang yang lebih tua, bersuara lebih keras saja saya sudah dicap tidak tau adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya kalau lagi memperjuangkan kebenaran tidak perlu ada aturan? Anda para Mahasiswa, kalau anda muslim, coba-coba buka buku pelajaran agama anda. Di dalam perang saja yang jelas-jelas dihalalkan membunuh lawan, Islam tetap menuntut para mujahid untuk menjaga etika perang. Lawan kalau sudah tobat dan minta ampun wajib diampuni! Kalau anda tidak tau ini berarti anda tidak pernah belajar. Kalau anda tidak pernah belajar, apapula hak anda untuk mengajari orang tentang kebenaran? Pakai kekerasan alias pemaksaan di jalanan lagi?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begini terus kekhawatiran saya akan semakin akut. Mahasiswa kita kok semakin tidak terpelajar? Naga-naganya kampanye para politisi untuk bikin pendidikan gratis bakal tidak pernah kesampaian sampai akhir jaman. Bagaimana mau kesampaian? Mahasiswa semakin tidak terpelajar. Berati negara justru harus keluar uang lebih banyak lagi untuk mendidik mereka. Mendidik mereka entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, saya bukan pesimis. Saya miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya saya mau menghimbau. Walaupun saya bukan dari departemen penerangan yang kerjanya biasanya memberi himbauan, apalagi mereka punya mobil pakai pengeras suara yang bisa didengar walaupun oleh orang yang lagi buang hajat di wc tersembunyi di lorong-lorong terjauh, tapi Insya Allah saya ikhlas beri himbauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara sebangsa dan setanah seair. Atas nama kebaikan, atas nama kemajuan, atas nama bangsa dan negara, marilah kita kembalikan pendidikan anak-anak kita kepada pendidikan sebagaimana seharusnya. Pendidikan yang daripada berakarkan pada rumah tangga. Di mana orang tua bertindak sebagai guru. Sebagaimana anak belajar daripada tauladan orang tuanya. Seperti dulu, waktu saya belajar mengaji. Saya dimungkinken hormat senantiasa pada guru mengaji saya. Kalau salah baca saya dipukul daripada kaki saya pakai kayu. Setelah mengaji saya ngangkat air buat guru ngaji. Akhirnya ini membuat saya tetap menghargai daripada guru mengaji saya….Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf kalau tulisan ini tendensius. Sebenarnya tidak seperti itu. Saya ini bukan tipe orang rakus buang-buang nafsu amarah ke orang lain. Apalagi buang jenis nafsu yang lain. Mungkin ketika menulis di atas saya terbawa perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tau, dari puluhan mahasiswa yang turun ke jalan, masih lebih banyak yang tidak begitu. Makanya memang tulisan ini bukan generalisasi. Tulisan ini menunjuk pada para oknum. Kalau anda mahasiswa dan ridak berkelakuan begitu, maka anda pada dasarnya tidak termasuk dalam oknum itu. Tapi kalau anda mahasiswa, dan berkelakuan begitu, dan anda bahkan tidak merasa tersinggung oleh sentilan tulisan ini, &lt;strong&gt;maka andalah oknum sejati itu!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarlah! Sadarlah! Sadarlah!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3211294497832420401?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3211294497832420401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3211294497832420401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3211294497832420401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3211294497832420401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/02/oknum-sejati.html' title='Oknum Sejati'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R74JMWgSj_I/AAAAAAAAAIM/ChbIqvAPpOw/s72-c/demo+mhs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6126268496290246872</id><published>2008-01-23T10:57:00.000+08:00</published><updated>2008-01-23T11:05:16.802+08:00</updated><title type='text'>Segalanya versi saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R5atjuzp3II/AAAAAAAAAIE/9EssIsdTjmY/s1600-h/frog.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158501252571192450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R5atjuzp3II/AAAAAAAAAIE/9EssIsdTjmY/s320/frog.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan semua di dunia ini sesuai versi saya, tentu segalanya akan begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan pernah cacat hukum. Seperti kisah seorang camat dalam berita koran terkenal di Makassar kemarin. Adalah para kepala dusun dan kepala desa yang membuat prestasi. Mereka bisa mengumpulkan PBB dari masyarakat sesuai target. Bahkan ada yang melebihi. Oleh karenanya, mereka berhak dapat reward. Bagus, kan? Di pemerintahan juga sudah berlaku sistem punishment and reward. Tapi apa yang seharusnya adalah seutuhnya reward, ujung-ujungnya adalah reward mengandung punishment. Hahaha. Lucu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak. Para Kepala Dusun dan Kepala Desa mestinya menerima reward berupa sepeda motor. Gratis! Tanpa embel-embel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata embel-embelnya tidak rela kalau tidak diikutkan. Atau tepatnya, ada yang tidak rela meninggalkan embel-embel yang selama ini memang bejubel. Itulah si Camat, atasan dari para Kepala Dusun dan Kepala Desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh pak camat, Kepala Desa dan Kepala Dusun harus nyetor 4 juta rupiah baru bisa ngambil hadiah motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas saja pak camat disoroti. Tapi dasar pak camat, jangankan disoroti, diplototi saja dengan wajah garang dia anggap kentut busuk baunya berlalu, dia dengan tenang menjawab, “Lha, PBB itu masuk sesuai target karena saya talangi dengan dana pribadi. Sekarang, wajar dong kalau dana pribadi saya minta kembali.” Pak camatnya cool….man!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, kan? Andaikan segalanya sesuai versi pak camat, dan saya juga begitu, segalanya sesuai versi saya, aahhh…lebih indah dari bercinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu versi itu saja sudah indah. Kalau ditambah dengan versi ini, indahnya berlipat ganda. Saya tidak bakalan pernah dituduh korupsi. Atau kolusi. Apatah lagi nepotisme. Benda apa pula itu? Toh segalanya sesuai versi saya. Seperti Pemerintah Kota Makassar. Lapangan Karebosi yang selama ini bisa kita sebut sebagai Central Park-nya Makassar sudah diketuk palu untuk direvitalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah sudahlah. Kalau itu bagus buat masyarakat, apalagi akan mendatangkan keuntungan financial, kita mengertilah. Tapi semengerti-mengertinya kita, apalagi kalau kita sudah merasa terpaksa dan dipaksa mengerti, mbok ya rasa pengertian ini dihargai. Malah harus dihargai tinggi! Jangan di-sale alias dihargai murah, apalagi kalau tidak dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masak ‘kau yang mulai kau tidak mengakhiri’? Itu bertentangan dengan ‘kau yang mulai kau yang mengakhiri’ dong. Itu jadinya tidak biasa dong. Itu patut dicurigai dong. Jangan-jangan, ada daaang ding dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revitalisasi lapangan karebos itu pake uang. Bukan uang receh, uang gede! Yang namanya pake uang, ada yang diuntungkan. Yang namanya ambil untung, yah harus sesuai aturan. Masak revitalisasi lapangan karebosi yang belum ada AMDAL-nya, kontsruksi sudah jalan duluan? Logika mana pula itu yang diputar balikkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah begitulah, Pemkot Makassar punya keyakinan tentang kebenaran versi mereka. Kalau seandainya saya juga begitu, segalanya sesuai versi saya, wah hidup ini seindah milik kita berdua, yang lain mah…ngontrak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya kata bapak saya, “Nak, dunia ini ada aturannya. Aturan dari yang bikin dunia. Begitu juga akhirat nanti. Kalau seandainya masuk surga itu segalanya sesuai versi bapak, maka kamu, mamakmu, saudaramu, sepupumu, om dan tantemu, semua orang yang bapak senangi, semua orang yang baik sama bapak, kalau perlu semua orang yang bapak kenal, semuanya akan masuk surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata bapak saya. Sayang versi syarat masuk surga atau neraka bukan ditentukan oleh bapak saya. Tapi oleh Yang Empunya Surga dan Neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, masak karena ‘seandainya’ itu tidak terpenuhi maka kita mau habiskan sisa hidup dengan terus berkata ‘sayang…’. Bodoh amat? Justru karena kita tau bahwa segalanya di dunia ini bukan sesuatu yang disesuaikan dengan versi kita, maka versi yang berlaku itu yang semestinya kita ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi itu versi universal. Versi itu versinya Allah SWT. Bukan cuman universal di dunia, tapi universal juga di kampung akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, syukurlah segala sesuatu di dunia ini bukan ditentukan oleh versi saya. Karena kalau itu yang berlaku, maka anda para wanita cantik, akan saya kutuk jadi kodok! Sampai suatu hari saya bertindak sebagai pangeran datang mencium bibir kodok anda, dan anda tiba-tiba berubah jadi permainsuri cantik. Dan kita berdua hidup happily ever after….aaahhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weh! Bangun! Bangung! Sudah siang!!!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6126268496290246872?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6126268496290246872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6126268496290246872' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6126268496290246872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6126268496290246872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/01/segalanya-versi-saya.html' title='Segalanya versi saya'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R5atjuzp3II/AAAAAAAAAIE/9EssIsdTjmY/s72-c/frog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3967639202719795803</id><published>2008-01-07T05:35:00.000+08:00</published><updated>2008-01-07T05:39:41.714+08:00</updated><title type='text'>Bodoh Berkali-kali!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R4FKIGHwJnI/AAAAAAAAAH8/htuy-8zegG0/s1600-h/calculator.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152480951631095410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R4FKIGHwJnI/AAAAAAAAAH8/htuy-8zegG0/s320/calculator.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tulisan pertama saya di tahun 2008. Belakangan ini saya susah sekali cari waktu untuk menulis. Tapi subuh ini sepulang shalat dari mesjid, mungkin Allah SWT sudah takdirkan bahwa saya harus memenuhi hak blog ini, maka saya paksakan diri menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpaksaan ini sebenarnya tidak seluruhnya benar. Entah mengapa ketika sedang memutar mobil untuk mundur ke belakang, saya belajar satu hikmah hidup lagi. Ini memunculkan ilham untuk ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi lampu jalan yang tidak nyala, langit subuh yang gelap dan terasa semakin gelap oleh cuaca mendung di subuh ini, saya semata-mata mengandalkan sorotan lampu belakang mobil, kaca spion, beserta skill (keterampilan) bawa mobil yang kalau tidak salah sudah 10 tahun saya miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuver memundurkan mobil saya lakukan dengan cepat. Tanpa hambatan. Dalam hati kecil saya cukup kagum. Kondisinya beda betul dengan awal-awal 10 tahun lalu. Jangankan memundurkan mobil sembari melihat jalan belakang lewat kaca spion, memasukkan mobil ke garasi saja dengan moncong mobil di depan saya pernah bikin masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya ini serupa dan sebangun dengan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama hidup (bagi saya setelah 35 tahun), saya jadi semakin terlatih untuk membaca berbagai indikator dalam kehidupan. Indikator ini memberi saya petunjuk untuk mengambil keputusan, apakah melakukan sesuatu, menghindarinya, atau menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh sekali saya, bila pengalaman hidup 35 tahun ini tidak memberi pelajaran. Atau lebih tepatnya, saya tidak mengambil pelajaran darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh dua kali saya apabila saya pernah melakukan kesalahan selama 35 tahun ini, dan masih tetap pula melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh berkali-kali saya, apabila selama 35 tahun ini saya menempuh jalan yang salah dan masih saja meyakini jalan itu benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masya Allah, janganlah Engkau biarkan aku, dan seluruh pembaca blog ini, beserta keluarga dan handai taulan, merugi di dunia ini. Bukakan hati kami untuk senantiasa belajar. Untuk senantiasa bertobat. Agar kami dapat masuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukan orang-orang yang sesat…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasik memang, tapi tak akan pernah lapuk termakan waktu, bila sekali lagi kita dengung-dengungkan peringatan Al-Quran terhadap manusia…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi masa……….”&lt;br /&gt;“Sesunggunya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian…..”&lt;br /&gt;Q.S 103: 1-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan di atas bersifat universal dan up-to-date. Ini bukan peringatan BMG yang bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi cuaca. Ini juga bukan peringatan kepolisian atau kejaksaan yang bisa di-peti es-kan oleh uang banyak. Ini bukan warning massa yang cenderung anarkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah peringatan lembut tapi tegas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung lagi! Hitung baik-baik! Jangan-jangan kita &lt;a href="http://irwan-uno.blogspot.com/2007/11/ternyata-salah-hitung.html"&gt;salah hitung&lt;/a&gt;?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang menghitung saja bisa salah, apalagi kalau tidak menghitung baik-baik….?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3967639202719795803?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3967639202719795803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3967639202719795803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3967639202719795803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3967639202719795803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2008/01/bodoh-berkali-kali.html' title='Bodoh Berkali-kali!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R4FKIGHwJnI/AAAAAAAAAH8/htuy-8zegG0/s72-c/calculator.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1496543259994235158</id><published>2007-12-07T15:42:00.000+08:00</published><updated>2007-12-07T15:47:09.881+08:00</updated><title type='text'>The Chef of Words</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R1j5sOG9V7I/AAAAAAAAAH0/JEmKZbSFH5g/s1600-h/chef+of+words.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141133512740263858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R1j5sOG9V7I/AAAAAAAAAH0/JEmKZbSFH5g/s320/chef+of+words.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Belakangan ini, setelah bertemu banyak orang, saya jadi berpikir, kita ini sebenarnya seperti seorang &lt;em&gt;chef&lt;/em&gt;, tukang masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tau, chef itu dikatakan semakin profesional apabila ia banyak tau resep masakan, hasil masakannya enak, dan terpenting, penyajiannya juga bagus. Masalah penyajian jangan dipandang enteng. Adakalanya kita tidak terlalu bernafsu sama jenis makanan tertentu, tapi karena oleh chef-nya disajikan dengan cara yang bagus, kita jadi ditunggangi nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lha,&lt;/em&gt; sekarang kenapa kita ini seperti seorang chef?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Hanya saja bukan chef masakan, tapi &lt;em&gt;chef of words&lt;/em&gt;. ‘Tukang masak’ kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, kata-kata yang keluar dari mulut seseorang, sama dengan masakan yang dibuat oleh chef, efeknya hanya dua, membawa rasa enak (nikmat), atau sebaliknya, tidak enak. Makanya saya bilang kita itu persis seperti seorang chef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang chef of words, enak tidaknya kata-kata yang anda keluarkan bergantung pada beberapa hal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu, i&lt;em&gt;ngredients &lt;/em&gt;atau bahan-bahan yang anda gunakan untuk menyusun kata-kata. Di sini, akan terlihat beda antara chef of words yang berilmu (baca: berwawasan) tinggi, dengan chef of words yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kasih contoh. Biar mudah membedakannya, contohnya tidak jauh-jauh dari makanan. Bedakan perasaan yang ditimbulkan oleh dua kalimat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanan ini enak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanan ini meninggalakan kesan mendalam di lidah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat di atas sama dan sebangun tujuannya. Intinya makanan yang di sajikan berasa enak. Tapi berhubung ilmu chef of words yang mengeluarkan kalimat kedua lebih tinggi, maka perasaan yang ditimbulkan oleh kalimat itu juga beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin kedua yang mempengaruhi enak tidaknya hasil racikan chef of words adalah cara memasaknya, atau dalam hal ini, intonasi pengungkapannya. Dalam pergaulan lisan, tinggi rendah suara, penekanan terhadap kata, tiada lain adalah cara masak dari sang chef. Dalam ragam bahasa tulisan, variasi tulisan atau tanda baca adalah cara masaknya. Bandingkan lagi kalimat-kalimat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendapatku enak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendapatku, ENAK!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa tangkap bedanya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin terakhir yang menjadi kunci enak tidaknya masakan sang chef adalah penyajian. Dalam hal ini, pemilihan kata yang tepat, sesuai dengan kondisi dan situasi, bisa dianalogikan sama dengan penyajian. Ini mirip dengan poin satu. Kalau di poin satu, wawasan menentukan berapa banyak pilihan kata yang dimiliki oleh sang chef. Di poin ini, seberapa lihai sang chef memilih di kata yang tepat di antara sekian banyak pilihan kata yang ia punyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedakan kesan yang ditimbulkan oleh dua kalimat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf bu, bakso habis!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf bu, kami kehabisan bahan. Bagaimana kalau besok ibu datang lebih cepat, saya janji kami tidak akan kehabisan bahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pertama &lt;em&gt;to the point&lt;/em&gt;. Kalimat kedua, tujuannya sama, tapi kesan yang ditimbulkan beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih banyak faktor yang mempengaruhi enak tidaknya perasaan yang ditimbulkan oleh kata-kata yang keluar dari mulut chef of words. Paling tidak, tulisan ini untuk membuka pikiran bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita merupakan sebuah produk, kita adalah produsen, dan pendengar kita adalah konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ini semoga menyadarkan. Tidak ubahnya dunia bisnis, sebagai produsen kita tentu berharap punya banyak konsumen. Dengan kata lain kita berharap orang senang bergaul dengan kita akibat enaknya perasaan yang ditimbulkan oleh kata-kata yang keluar dari mulut kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang pilihan ada di tangan kita. Di tangan anda sebagai the chef of words. Anda mau jadi chef of words amatiran, atau mau jadi seorang professional? &lt;em&gt;Up to you!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1496543259994235158?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1496543259994235158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1496543259994235158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1496543259994235158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1496543259994235158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/12/chef-of-words.html' title='The Chef of Words'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R1j5sOG9V7I/AAAAAAAAAH0/JEmKZbSFH5g/s72-c/chef+of+words.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3001899855536289693</id><published>2007-12-03T16:01:00.000+08:00</published><updated>2007-12-04T13:23:37.274+08:00</updated><title type='text'>Mengapa Saya Berteman dengan Bapak Ini?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R1O4yuG9V6I/AAAAAAAAAHs/8CUiZXgvr1U/s1600-R/Chain.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139654781270054818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R1O4yuG9V6I/AAAAAAAAAHs/Qa3dpE_EYV0/s320/Chain.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah berteman dengan seseorang yang kaya. Bisa anda tebak &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt; kenapa saya berteman dengan dia? Yah, karena dia banyak uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah juga berteman dengan orang yang punya kuasa. Lagi-lagi gampang diterka, saya berteman dengan dia karena dia punya kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis. Saya pernah juga berteman dengan orang karena cantiknya. Ah, anda tau saja kalau saya mudah tergoda oleh kecantikan seseorang. Makanya saya berteman dengan orang cantik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari semua alasan kenapa saya berteman dengan banyak teman-teman saya, tidak ada satupun yang cocok untuk menggambarkan kenapa saya senang sekali berteman dengan bapak satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangnya relatif jauh berumur di atas saya. Maaf, dia sama sekali tidak &lt;em&gt;good looking&lt;/em&gt;. Pakaiannya sangat sederhana, bahkan bagi beberapa orang yang tidak mengerti cenderung akan menilai bapak ini tidak tau tata karma berpakaian. Uangnya juga tidak banyak. Bisa jadi malah biaya ngopi saya dalam sebulan jauh lebih banyak dari uang yang dia hasilkan dalam sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apanya yang bikin saya betah berteman dengan bapak ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi dia sms saya. Pak, saya mau ketemu bapak bisa dimana? Begitu pesan singkatnya. Di kantor saya, balas saya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat Dhuhur dia muncul. Terakhir saya dengar dia tabrakan dan saya tidak sempat (tidak mau menyempatkan?) membesuknya. Saya jabat tangannya dengan erat sembari bertanya antusias bagaimana kondisinya pasca kecelakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini salah satu alasan mengapa saya suka berteman dengan bapak ini. Ketika saya tanya tentang kecelakaan itu, dia dengan serius dan semangat berkomentar begini, “Pak, kecelakaan itu betul-betul anugerah besar bagi saya. Saya luar biasa bersyukurnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dapat banyak pelajaran dari Allah SWT, Pak. Pertama, saya nggak usah malu bongkar ke Bapak bahwa dapur saya itu kadang mengepul kadang tidak ada asap. Ketika saya kecelakaan dan pihak rumah sakit menghubungi keluarga saya di rumah bahwa saya harus dibawa ke rumah sakit Wahidin di Makassar, keluarga saya campur aduk antara sedih dan bingung. Mereka sedih karena saya kecelakaan, mereka juga bingung karena biaya ambulansnya saja Rp800 ribu! Belum lagi selama di rumah sakit saya koma 3 hari, total biaya yang harus keluarga kami keluarkan sekitar 8juta! Bapak tau bagaimana bingungnya keluarga kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahi saya berkernyit. Hati saya sangat tertarik mendengar kelanjutan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak tau, sampai dengan saya sadar dan terbangun dan keluar dari rumah sakit, Alhamdulillah ternyata semua biaya diselesaikan oleh seseorang yang saya dan keluarga saya sampai detik ini tidak tahu siapa itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya?! “Saya hanya terpaku takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih ada pelajaran kedua, pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ini saya sempat-sempatnya melakukan analisa. Bapak ini luar biasa memang. Pelajaran pertamanya saja bagi saya luar biasa, masih ada lagi ternyata pelajaran kedua. Saya kembali menegaskan kepada diri saya, barangkali ini dia yang bikin saya suka berteman dengan bapak ini….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu tubuh saya terbujur kaku karena koma, kata keluarga saya, rumah sakit Wahidin ramai sekali. Di sekitar ruang ICCU ada sekitar 200 orang datang menjenguk saya. Segitu banyaknya sampai-sampai keluarga pasien lain pada bertanya-tanya, ini yang sakit siapa? Apa dia seorang tokoh terkenal? Keluarga saya bilang kalau saya hanya seorang pengantar roti ke toko-toko. Orang-orang tidak percaya. Kata mereka mana ada pengantar roti ke toko-toko dijenguk sampai 200an orang lebih begini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya bisa merasakan bulu kuduk saya mulai berdiri satu per satu. Bisa saya bayangkan bagaimana hebohnya kalau ada orang dijenguk 200an orang sekaligus. Saya tanya bapak ini, “Mereka yang menjenguk itu siapa pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jujur saja saya mungkin tidak mengenal banyak dari mereka. Tapi pikir saya, mungkin ini buah dari kesenangan saya bersilaturrahim dan menjenguk orang lain kalau lagi sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm…..pingin rasanya saya pahat kata-kata itu di dinding rumah saya biar tidak akan pernah hilang dan saya bisa baca terus…”Saya rasa, bapak ini beruntung karena di balik kecelakaan itu bapak dapat 2 pelajaran berharga,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih ada lagi, pak” katanya bersemangat. Wah, kalau di balik kecelakaan ada lebih dari 2 pelajaran yang bisa diambil, ini yang ambil pelajaran pasti levelnya lebih tinggi dari professor nih….pantas kalau saya senang berteman dengan bapak ini. Mungkin ini alasan kenapa saya suka berteman dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kena kecelakaan itu sepulang menjalankan kegiatan dakwah. Ketika tubuh saya kaku antara hidup dan mati, keluarga saya sudah dikumpulkan oleh pimpinan organisasi dakwah kami. Beliau bilang, ‘kalau terjadi yang terburuk pada tubuh kaku ini dan ia mesti kembali ke asalnya, Insya Allah dia tergolong mati syahid’…Ternyata setelah 3 hari saya sadar. Saya jadi berpikir, mungkin saya belum mati karena saya belum mencapai level syahid itu. Mungkin Allah memang masih memberi saya usia untuk memperbaiki diri dan ibadah saya agar suatu saat kalau saya mati sesungguhnya, saya bisa mencapai level syahid itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah. Seandainya gaya gravitasi bumi lebih besar dari yang ada sekarang, mungkin air mata saya sudah jatuh karena haru mendengar kesimpulan bapak ini. Subhanallah. Saya suka sekali berteman dengan bapak ini. Dia pandai mengambil hikmah. Dia sungguh banyak memiliki di balik ketiadaannya. Dia kokoh di balik kerapuhannya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada banyak alasan mengapa kita berteman dengan seseorang, mungkin alasan mengapa saya berteman dengan bapak di atas adalah alasan terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang saya bilang saya temani karena kekayaannya, ada yang masih saya temani adapula yang sudah tidak lagi. Mungkin karena mereka tidak kaya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang saya bilang saya temani karena kekuasannya, ada yang masih saya temani adapula yang sudah tidak lagi. Mungkin karena mereka tidak berkuasa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang saya bilang saya temani karena dia cantik, ada yang masih saya temani adapula yang sudah tidak lagi. Mau apa lagi, mereka sudah hilang kecantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bapak ini, saya masih belum menemukan alasan yang tepat mengapa saya suka berteman dengannya. Tapi apapun itu, saya tidak punya alasan untuk menghentikan pertemanan kami karena apapun alasan yang saya jadikan alasan itu, sampai sekarang masih dia miliki. Sepertinya, itu tidak akan hilang. Makanya, Insya Allah kami akan berteman terus.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3001899855536289693?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3001899855536289693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3001899855536289693' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3001899855536289693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3001899855536289693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/12/mengapa-saya-berteman-dengan-bapak-ini.html' title='Mengapa Saya Berteman dengan Bapak Ini?'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R1O4yuG9V6I/AAAAAAAAAHs/Qa3dpE_EYV0/s72-c/Chain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7926854530530152286</id><published>2007-11-26T13:19:00.000+08:00</published><updated>2007-11-26T13:23:56.671+08:00</updated><title type='text'>Ternyata salah hitung....</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R0pXp07PtEI/AAAAAAAAAHk/IIFk1Azz5Gw/s1600-h/waktu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137014701062861890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R0pXp07PtEI/AAAAAAAAAHk/IIFk1Azz5Gw/s320/waktu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Assalaamu alaikum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara waktu, ‘cepat-lama’ itu relatif. Betul, kan?&lt;br /&gt;Ini kenyataan. Tidak usah jauh-jauh ambil contoh. Kalau sedang puasa Senin-Kamis, adakalanya waktu terasa cepat berlalu, kadang pula sebaliknya. Seperti sekarang ini. Ketika sedang menulis, atau mengerjakan tugas di kantor, tanpa terasa sudah waktu pulang. Sekitar 8 jam kerja habis di kantor perut keroncongan oleh puasa sama sekali tidak terasa. Tapi lucunya, ketika waktu berbuka tinggal hitungan 10 menitan, baru terasa lamanya menunggu waktu azan di depan TV…hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya buang-buang waktu saja kalau berdebat tentang persepsi waktu. Tapi belum lama ini saya dapat ilmu baru tentang ini. Bahwa ternyata selama ini persepsi manusia tentang waktu itu salah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lho…kalau ada ilmu yang menafikan relativitas waktu a la manusia, ilmu darimana? Yah, darimana lagi kalau bukan dari Yang Empunya waktu? Dari mana lagi kalau bukan dari Allah SWT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini. Sehari di akhirat itu ternyata setara dengan 1000 tahun dunia. Wuih! Kebayang? Kalau begitu, sehari kan sama dengan 24 jam. Berarti sejam di akhirat setara dengan 41.7 tahun dunia (nyaris setengah abad) dong! Berarti lagi, kalau usia 100 tahun sudah dianggap panjang umur oleh manusia, berarti sama saja dengan usia 2 jam di akhirat! Pendek amat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang jelas sekali. Kalau ummat Rasulullah SAW umurnya rata-rata 65 tahun, berarti setara akhiratnya 1.5 jam pun tidak. Kalau begini, apa kita masih mau merasa bahwa kita punya banyak waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga informasi ini bisa membuka wawasan. Agar kita betul-betul menghargai waktu. Pantas kalau di dalam Al-Quran Allah SWT pernah bersumpah demi waktu. Mestinya itu sudah lebih dari cukup bagi kita untuk terbelalak. Bahwa kita ini manusia memang sering salah hitung. Begitulah karena kita berparadigma bagai katak dalam tempurung. Hitungan kita hanya seluas tempurung kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kita tidak sampai 2 jam?! Saya saja kaget bertubi-tubi! Trus sekarang bagaimana dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mau bagaimana lagi, jalani saja hidup anda yang 2 jam itu. Saya sendiri berusaha begitu. Tapi kepanikan saya, begitupula anda seharusnya, tidak perlu berlebihan kalau anda tau apa yang bisa anda dapatkan dalam 2 jam itu. Apa? Keabadian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Bagi anda yang pandai menggunakan hidup yang 2 jam, Allah SWT yang nggak pernah wanprestasi sudah menjanjikan keabadian hidup di surga-Nya. Tapi kalau sudah tau hitung-hitungan ini anda masih gagal menggunakan 2 jam anda, nerakanya Allah SWT dengan riang gembira menjadi tempat tinggal abadi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mau salah hitung?&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gambar diambil &lt;a href="http://www.blogger.com/www.cosway-taiwan.com.tw"&gt;dari sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7926854530530152286?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7926854530530152286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7926854530530152286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7926854530530152286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7926854530530152286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/11/ternyata-salah-hitung.html' title='Ternyata salah hitung....'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/R0pXp07PtEI/AAAAAAAAAHk/IIFk1Azz5Gw/s72-c/waktu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2303287041807725898</id><published>2007-11-02T13:52:00.000+08:00</published><updated>2007-11-02T13:56:28.750+08:00</updated><title type='text'>Korban Tali Rafia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ryq7UFK_FbI/AAAAAAAAAHc/9YUz46J7ldc/s1600-h/rope.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5128117079374763442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ryq7UFK_FbI/AAAAAAAAAHc/9YUz46J7ldc/s320/rope.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu setiap Jumat saya dapat banyak ide untuk menulis. Sumbernya bisa dari mana saja. Paling banyak dari mana lagi kalau bukan dari khutbah Jumat di mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini jujur saya tidak dapat ide apa-apa dari khutbah Jumat. Soalnya saya jatuh tertidur dan agak pulas. Malu sekali rasanya saya pada diri sendiri. Apalagi saya duduk di saf paling depan (berharap dapat unta hehehe). Nanti terbangun ketika khatib sudah hampir selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hari ini malu saya berlipat ganda. Sebelumnya saya sudah berbuat zalim kepada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini hal biasa. Seseorang tanpa permisi masuk ke gudang saya dan memunguti tali-tali raphia yang berserakan. Disangkanya tali itu tidak kami pakai lagi. Padahal saya sempat mengeluh kepada anak buah saya yang sebentar-sebentar meminta dibelikan tali. Saya sudah menegur mereka karena saya nilai mereka terlalu boros dan bekerja tidak efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya ketika melihat ada orang tanpa permisi memunguti tali-tali tersebut, saya serta merta menegur dengan keras. Di luar dugaan orang ini malah balik marah ke saya. Kami kemudian adu argumen. Ujung-ujungnya saya ditantang berkelahi. Alhamdulillah, meski emosi, apalagi ketika sedang bertengkar, saya biasakan diri membaca surah An-Nas dalam hati. Harapan saya, agar saya terlindungi. Apapun kejadiannya, kalau itu yang terbaik, saya selalu berharap bahwa Allah SWT melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana emosi, kepala saya sempat mikir. Malu juga kalau nanti saya berkelahi dan akibatnya fatal, trus muncul di koran besar-besar dengan judul &lt;em&gt;“Korban Tali Rafia”&lt;/em&gt;. Iihh…ngeri! Makanya saya ambil inisiatif untuk menyudahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak repot juga. Apalagi anda mungkin pernah dengar bagaimana orang Makassar kalau lagi emosian. Untungnya meskipun bukan orang Makassar 100%, saya punya bekal bahasa Makassar cukuplah untuk menenangkan orang sesama Makassar kalau lagi marah. Ternyata diplomasi bahasa daerah kalau dalam kondisi begini efeknya maknyos punya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan setelah semuanya reda, saya jadi malu sendiri. Kok bisa-bisanya karena tali rafia saya ‘meneriaki’ orang. Bagaimana pula kalau saya punya rantai emas semeter. Bisa-bisa saya berubah jadi setan kali yah……?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah. Aku bersyukur kepada Allah yang senantiasa membimbing dalam kondisi apapun. Memang Allah adalah sebaik-baik pemberi jalan keluar. Kalau saja terjadi Korban Tali Rafia, bukan hanya saya, keluarga saya, karyawan saya, dan mungkin orang-orang yang berhubungan dengan bisnis saya, semua bisa kena imbas. Bisa jadi imbasnya besar bisa pula imbasnya kecil. Wallahu ‘alam bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, aku berlindung kepadaMu agar aku dan para pembaca setia blog ini tidak ada yang jadi ‘Korban Tali Rafia’, baik sekarang dan sampai selamanya. Amin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gambar diambil &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/cindy47452/138432725/"&gt;dari sini.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2303287041807725898?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2303287041807725898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2303287041807725898' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2303287041807725898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2303287041807725898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/11/korban-tali-rafia.html' title='Korban Tali Rafia'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ryq7UFK_FbI/AAAAAAAAAHc/9YUz46J7ldc/s72-c/rope.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-9174741757386009224</id><published>2007-11-02T13:05:00.000+08:00</published><updated>2007-11-02T13:25:20.485+08:00</updated><title type='text'>Maaf Atas Pengkhianatan Ini....</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ryq0tVK_FaI/AAAAAAAAAHU/YAgeRe8bDp4/s1600-h/forgive+me.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5128109816585065890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ryq0tVK_FaI/AAAAAAAAAHU/YAgeRe8bDp4/s320/forgive+me.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Assalaami Alaikum Wr. Wb,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca blog setia saya. Demikian pula kerabat dan handai taulan. Serta sahabat, baik karib maupun yang akan karib......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Postingan ini bagi saya spesial. Sesungguhnya seluruh postingan bagi saya spesial. Hanya saja, khusus untuk postingan ini, saya tambahkan elemen perasaan yang lebih dalam. Saya tambahkan rasa sentimen yang tidak biasa atau tidak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musababnya tentu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu. Saya sungguh terlambat menuliskan pesan Ied Mubarak. Tapi sebagaimana kata orang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Makanya, kepada anda sekalian, terimalah untaian kata dari saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohon Maaf Lahir Bathin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Shiyama wa shiyamakum"&lt;br /&gt;ttd, Irwan, Ai, Heni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua. Rasanya lama sekali sejak postingan terakhir saya. Saking lamanya, saya serasa asing terhadap blog ini. Bahkan kata sandi (password) untuk mengakses membuat postingan pun saya nyaris lupa. Padahal, saya sangat menikmati mengenal anda. Meskipun saya tidak atau belum pernah melihat anda pembaca secara langsung. Tapi rasa-rasanya, hati saya kok sudah sejiwa dengan hati anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini contoh kecil saja. Bagaimana kalau kita sudah cinta maka wujud itu tidak jadi masalah. Demikian adanya pula dengan iman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Saya dan anda pembaca, tentu tidak mementingkan untuk melihat wujud atau dzat-Nya. Tapi kita yakin dalam hati, kita tampilkan dalam kehidupan, bahwa kita mencintai-Nya. Semoga cinta kita kepada-Nya suatu saat berbalas dengan diizinkannya kita oleh-Nya untuk bercengkerama dengan-Nya bahkan dengan wujud sekaligus. Tapi tanpa itupun, cinta ini kepada-Nya sudah membuat hati sangat berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca blog setia. Anda bagi saya sudah seperti saudara. Sudah seperti teman. Bahkan sudah seperti kekasih. Maafkan saya kalau saya lama tidak menyapa anda melalui tulisan atau postingan saya. Saya bisa mencari seribu satu alasan untuk itu, tapi toh itu bukan tujuan saya meminta maaf. Saya merasa sudah berkhianat. Saya merasa lalai dan tidak konsisten untuk mempertahankan kebiasaan yang saya harap suatu saat menjadi tradisi, untuk senantiasa sharing dengan anda sekalian, tentu sharing yang baik, yang dilandasi oleh niat berbakti kepada Allah SWT. Niat untuk mendapatkan kebahagian hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan saya atas pengkhianatan ini......&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gambar diambil &lt;a href="http://images.search.yahoo.com/images/view?back=http%3A%2F%2Fsearch.yahoo.com%2Fsearch%3Fei%3DUTF-8%26p%3Dforgive%2Bme%2Bpicture%26fp_ip%3DID&amp;amp;w=250&amp;amp;h=350&amp;amp;imgurl=www.lavenderpop.com%2Fcards%2Fart%2Fforgive_me.jpg&amp;amp;size=23.3&amp;amp;name=forgive_me.jpg&amp;amp;rcurl=http%3A%2F%2Fwww.lavenderpop.com%2Fcards%2Fmisc%2Fforgive_me.html&amp;amp;rurl=http%3A%2F%2Fwww.lavenderpop.com%2Fcards%2Fmisc%2Fforgive_me.html&amp;amp;p=forgive+me&amp;amp;type=jpeg&amp;amp;no=2&amp;amp;tt=44%2C805"&gt;dari sini.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-9174741757386009224?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/9174741757386009224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=9174741757386009224' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/9174741757386009224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/9174741757386009224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/11/maaf-atas-pengkhianatan-saya.html' title='Maaf Atas Pengkhianatan Ini....'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ryq0tVK_FaI/AAAAAAAAAHU/YAgeRe8bDp4/s72-c/forgive+me.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-8767370734323557901</id><published>2007-10-01T05:51:00.000+08:00</published><updated>2007-10-31T16:58:29.289+08:00</updated><title type='text'>Manusia Kapal Selam (Terinspirasi oleh Ustadz Irwan Fitri, LC)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAceij8POI/AAAAAAAAAHM/HFz4FCpuHmM/s1600-h/kapal+selam.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116120487692090594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAceij8POI/AAAAAAAAAHM/HFz4FCpuHmM/s320/kapal+selam.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kapal selam dalam kondisi perang jarang sekali nongol ke permukaan. Paling nongol kalau perlu. Selebihnya tidak terlihat di permukaan. Tidak nongol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Irwan Fitri, LC ternyata mencermati kapal selam. Kata beliau, dalam bulan Ramadhan ini, ada, atau tepatnya, banyak, manusia seperti kapal selam. Bagaimana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja mesjid-mesjid. Coba perhatikan dari sabang sampai merauke. Kalau 1 Ramadhan, mesjid pada penuh sesak. Pengurus sampai kewalahan mengatur jemaah. Seperti di mesjid kami. Kami bahkan menambah 5 petak tenda di sekeliling mesjid untuk mengantisipasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awal Ramadhan itu, banyak muka-muka baru yang saya sendiri baru lihat. Di situ saya tahu bahwa si anu dan si anu ternyata adalah tetangga sebelah kompleks. Bukan cuman jamaah berusia senior yang nongol, para pemuda dan pemudi juga pada keluar sarang. Pokoknya semua orang berlomba-lomba masuk mesjid. Semua orang pada nongol ke permukaan. Persis seperti kapal selam yang lagi nongol ke permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah setengah Ramadhan terlewati. Sekarang kapal selam lagi menyelam. Seperti orang-orang yang tadinya nongol tapi sudah tenggelam. Mesjid-mesjid jadi banyak kemajuan. Kemajuan shaf. Tadinya shafnya penuh ke belakang, sekarang jadi maju ke depan. Ini namanya apa lagi kalau bukan kemajuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disindir oleh ustadz Irwan Fitri, LC sebagai manusia kapal selam. Awalnya nongol, sekarang sudah tenggelam. Tapi tunggu saja, ntar nongol lagi kok, sindir sang ustadz. Tunggu saja 1 Syawal, Hari Raya Idul Fitri. Orang-orang yang sudah pada tenggelam itu malah biasanya nomor satu muncul di lokasi shalat Ied. Baju yang dipakai mereka juga paling baru. Kopiahnya juga paling baru. Apalagi sarung dan sajadah. Pokoknya, mereka terlihat paling bahagia di antara orang-orang bahagia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa setelah nongol di hari raya Ied mereka akan nongol terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga manusia kapal selam. Paling juga bertahan sehari dua hari. Setelah itu menyelam lagi. Nggak nongol-nongol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takutnya satu hal. Saking asiknya menyelam, alias nggak nongol-nongol, ajal datang menjemput. Wah, ini celaka. Ini namanya tenggelam di dunia tenggelam di akhirat. Namanya orang celaka, sekali celaka akan terus celaka. Dan kalau di hari kemudian kita celaka, waduh, celakanya berkelanjutan alias abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan jadi ‘Manusia Kapal Selam’ deh….!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Catatan: Gambar diambil &lt;a href="http://www.kitsune.addr.com/Rifts/Rifts-Earth-Vehicles/Virginia_Submarine.jpg"&gt;dari sini&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-8767370734323557901?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/8767370734323557901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=8767370734323557901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8767370734323557901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8767370734323557901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/10/manusia-kapal-selam-terinspirasi-oleh.html' title='Manusia Kapal Selam (Terinspirasi oleh Ustadz Irwan Fitri, LC)'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAceij8POI/AAAAAAAAAHM/HFz4FCpuHmM/s72-c/kapal+selam.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1469740387011560406</id><published>2007-10-01T05:37:00.001+08:00</published><updated>2007-10-01T05:41:45.142+08:00</updated><title type='text'>Rejeki Besar</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAXQij8PMI/AAAAAAAAAG8/5KUHV8I8oNw/s1600-h/rejeki+besar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116114749615783106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAXQij8PMI/AAAAAAAAAG8/5KUHV8I8oNw/s320/rejeki+besar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hampir saja saya kehilangan rejeki besar. Tadi siang, sebelum shalat dhuhur, baru teringat kalau saya belum mengonfirmasi ustadz untuk ceramah teraweh malam ini. Sekitar seminggu lalu pernah begitu. Saya lupa menelepon mengingatkan ustadz yang sudah dijadualkan. Ujung-ujungnya, beliau tidak datang dan seperti biasa, saya harus mempertanggungjawabkan kelalaian. Saya harus bertindak jadi ustadz pengganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon pertama ustadz Irwan Fitri, LC nadanya sibuk. Saya telepon lagi, masih senada seirama, tut tut tut tut….artinya sibuk. Saya genapkan telepon ketiga kalinya, rasanya bunyi itu baru saja terdengar….tut tut tut….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capek deh. Begitu dalam hati saya. Kalau saya telepon lagi, jangan-jangan bunyinya “maaf, anda belum beruntung”….Ya sudah, kalau pak ustadz ini tidak datang biar saya ceramah lagilah….begitu tekad dalam dada. Tapi Tuhan masih menggerakkan saya untuk mencoba opsi terakhir, mengirim pesan SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ass. U mengingatkn jadual cermh trwh mlm ini di mesjd Nurul Barakah Tanjung Bunga. Shalt Isya pk 7.45. Wass”. Begitu isi SMS yang saya kirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya kembali larut pada kegiatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, menjelang waktu buka masuk sms. “Ana kurang jelas alamtnya. Bisa jempt ana di depan kantr camat? Sykrn”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung nomor ustadz Irwan Fitri tidak saya simpan di memori HP, sempat kening berkerut. Siapa pula yang ngirim SMS pakai allughatul ‘arabiyah segala? Untung saya cepat ingat. Saat itu pula saya menelepon sang ustadz untuk menjelaskan rute menuju mesjid kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Irwan Fitri, LC ternyata bawa rejeki besar. Malam itu ceramah beliau memukau jemaah. Awalnya saya pikir gayanya akan sama dengan banyak penceramah sebelumnya yang kalem-kalem aja. Akibatnya, banyak jamaah jadi mengantuk. Termasuk saya yang beberapa malam ini mata rasanya berat sekali ketika mendengar ceramah. Padahal sudah saya akali dengan minum kopi pekat sebelum ke mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ustadz Irwan Fitri, LC membawa rejeki besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, karena nama depan ustadz ini sama dengan nama saya. Kami sama-sama Irwan. Hehehe. Biasanya kalau orang nama Irwan pintar bercerita (kata orang Makassar, 'Pacarita'). Nggak percaya? Percayalah……Kalau saya salah, mengertilah…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena ustadz ini ternyata pintar melucu. Obat paling mujarab melawan ngantuk. Wajar kalau sepanjang ceramah jemaah pada melek semua. Bahkan waktu pak ustadz tanya ke saya kalau ia boleh ceramah sekitar 20 menit, dengan semangat saya bilang, “tafaddal, ustadz”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, karena ustadz ini selain pintar melucu, isi ceramahnya juga bermutu. Anda tau tidak? Kalau anda dantang ke sebuah mejelis yang menawarkan ceramah agama, dan anda menyimaknya dengan khusyuk, apalagi mengambil pelajaran dari ceramah itu, maka itu rejeki nomplok. Sudah dinilai ibadah, dapat pahala berlipat ganda, dapat ilmu pula. Dengan begitu kelas anda naik setingkat, sebagaimana kita pahami bahwa orang yang beriman dan berilmu diangkat derajadnya satu tingkat oleh Allah. Bukankan itu rejeki besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya pulang-pulang ke rumah dari mesjid, saya putuskan menulis tentang ustadz Irwan Fitri, LC. Saya lagi senang nih, abis dapat rejeki. Moga-moga tulisan ini bernilai sedekah dari rejeki yang baru saya dapatkan. Sebab kalau anda mendapat sebuah hikmah dari balik tulisan ini, dan anda bersyukur karenanya, Insya Allah saya dapat rejeki lagi. Trus kalau anda memutuskan menceritakan hikmah itu kepada orang lain dan orang lain juga bersyukur karenanya, maka anda juga dapat rejeki lagi dan saya tentu dapat rejeki pula. Begitu seterusnya. Bagaimana rejeki kita tidak besar kalau begitu?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1469740387011560406?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1469740387011560406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1469740387011560406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1469740387011560406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1469740387011560406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/10/rejeki-besar.html' title='Rejeki Besar'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAXQij8PMI/AAAAAAAAAG8/5KUHV8I8oNw/s72-c/rejeki+besar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-5167368307576485932</id><published>2007-10-01T05:28:00.000+08:00</published><updated>2007-10-01T05:36:49.993+08:00</updated><title type='text'>Keindahan Kelas Berat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAVZyj8PLI/AAAAAAAAAG0/0PRvKXO3EK4/s1600-h/keindahan.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116112709506317490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAVZyj8PLI/AAAAAAAAAG0/0PRvKXO3EK4/s320/keindahan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillahirrahmaanirrahiim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca setia blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menjanjikan. Orang-orang yang tulus berpuasa akan mengalami 2 jenis kebahagiaan. Pertama saat berbuka, kedua saat bertemu dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu (26/9) lalu saya berangkat ke Gorontalo untuk sebuah kerjaan. Ketika memesan tiket pesawat, saya tidak terlalu memperhatikan jadual keberangkatan, berhubung saya sudah sering menggunakan perusahaan penerbangan yang sama dan biasanya jadual terbangnya sering molor sampai pukul 8 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru sadar bahwa jadual terbang kali ini sangat dekat dengan jadual buka puasa untuk wilayah Makassar, yaitu pukul 18.10. Itu saya sadari ketika saya menelepon Sandi, adik sepupu saya untuk mengabari bahwa saya akan ke Gorontalo. Sandi juga ternyata akan berangkat di hari yang sama, tapi dia memilih penerbangan yang lebih lambat. Kata dia, “Wah, kalau pakai pesawat itu repot kak. Baru buka puasa, makanan belum juga turun ke lambung sudah harus naik pesawat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul juga pikir saya. Tapi sudahlah. Tiket sudah di tangan dan takdir Allah memang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung saya berangkat bersama Bapak serta Om dan Tante saya, saya setuju saja mengikuti saran mereka untuk berangkat ke bandara pukul 15. Dalam hati saya membatin, cepat amat. Ngapain nunggu lama-lama di bandara? Tapi berhubung mereka adalah orang-orang yang sudah berumur, saya tidak mau ambil resiko terlambat atau terburu-buru karena gerak lambat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, ternyata permintaan para orang tua saya ini membawa hikmah. Jalan macet menuju bandara luar biasa. Perjalanan kami lamban benar. Saat-saat seperti itu, saya bersyukur sekali. Betul kata-kata bijak, dengar nasehat orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di bandara, urusan barang-barang saja sudah makan waktu lagi. Saya mesti tau diri sebagai anak. Sebagai ‘yang paling muda’, apa boleh buat, urusan barang saya monopoli. Barang yang ringan-ringan saja saya izinkan orang tua untuk menenteng. Selebihnya, ‘ana jadi superman’. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa waktu berlalu, sebentar lagi azan magrib pertanda buka. Rupanya urusan angkat mengangkat barang bikin saya sibuk tidak merasa waktu berlalu cepat. Mata saya, dan banyak pasang mata lain di ruang tunggu bandara kelihatannya berperilaku sama ketika itu, semua menatap layar ke arah yang sama, layar TV yang tersedia. Semua kelihatan khusyu’. Sesekali saya lirik jam handphone untuk memastikan waktunya tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara petugas informasi melalui pengeras suara yang biasa dipakai mengumumkan serba serbi keberangkatan dan kedatangan pesawat.&lt;br /&gt;“Para pengguna bandara yang kami hormati. Dengan ini kami sampaikan bahwa waktu berbuka puasa bagai kaum muslimin dan muslimat telah tiba. Kami ucapkan selamat berbuka puasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Suara itu terdengar indah. Suara itu menjadi pertanda bahwa kerongkongan kering yang tadinya haram untuk dibasahi, akhirnya menjadi halal. Perut lapar yang tadinya haram diberi makan, akhirnya menjadi halal….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, berbuka puasa di bandara terasa lain dari biasa. Namun tetap terasa indah. Keindahan itu terasa mencapai puncak, ketika secara serentak, orang-orang yang menunggu keberangkatan mengeluarkan bekal makan dan minum mereka dan di mata saya terlihat serentak pula mereka membatalkan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata kebahagiaan saya nyaris meleleh, ketika di depan saya, seorang calon penumpang lelaki setengah baya, menawarkan bekal buka puasanya yang saya tau tidak banyak (kelihatannya orang ini hanya punya 2 potong roti yang mungkin ia kalkulasi dengan dua potong itu cukup membuatnya tahan menempuh perjalanan) kepada seorang lelaki muda lain di sampingnya. Subhanallah, sungguh adegan yang lebih bermutu dari adegan film peraih Oscar….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut yang lain, sempat pula saya saksikan seorang Bapak yang sadar bahwa di sampingnya duduk seorang remaja muslim yang tidak membawa bekal apa-apa. Ditawarinya air putih botol satu-satunya yang dimilikinya dan telah diminum sekitar sepertiganya. Si remaja terlihat sangat bersyukur. Kelihatannya ia bingung mau berbuka apa, sebab ia tidak punya bekal apa-apa. Kelihatannya ia seorang mahasiswa yang mau mudik dan duitnya pas-pasan sehingga tidak menyiapkan bekal berbuka (wallahu a’lam). Dengan antusias diterimanya botol air itu dan diminumnya pula sepertiganya. Subhanallah, ini adegan nyata terindah yang pernah saya lihat…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasanya saya semakin khawatir. Ketika menulis ini sudah masuk malam 19 Ramadhan. Saya jadi bertanya-tanya, masih akankan saya menemui keindahan-keindahan kelas berat seperti di atas dalam hidup ini? Masih akankah saya jumpai aktor-aktor kawakan yang akan memerankan peran indah nan menyentuh hati? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mumpung Ramadhan masih berlangsung, pencarianku akan terus berlangsung. Sebab aku suka keindahan. Aku terangsang oleh yang indah-indah. Tapi bukan oleh keindahan murahan bikinan setan. Tapi oleh keindahan hakiki yang membawa extacy abadi. Yang membawa kebahagiaan ketika bertemu Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-5167368307576485932?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/5167368307576485932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=5167368307576485932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/5167368307576485932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/5167368307576485932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/10/keindahan-kelas-berat.html' title='Keindahan Kelas Berat'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RwAVZyj8PLI/AAAAAAAAAG0/0PRvKXO3EK4/s72-c/keindahan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-5045209614875877079</id><published>2007-09-25T05:48:00.000+08:00</published><updated>2007-09-25T05:50:32.018+08:00</updated><title type='text'>Rupanya ini rahasia mereka....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvgxFyj8PKI/AAAAAAAAAGs/DGO_5NRfruA/s1600-h/rahasia.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113891352420826274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvgxFyj8PKI/AAAAAAAAAGs/DGO_5NRfruA/s320/rahasia.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rupanya ini rahasia mereka….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas selama ini saya selalu bertanya-tanya di dalam hati. Kenapa banyak orang ahli ibadah kok sepertinya tidak bergairah mengejar materi? Padahal sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak ingin makan enak? Siapa sih yang tidak mau punya rumah mentereng lengkap dengan segala fasilitasnya? Siapa sih yang tidak mau pakai baju-baju bagus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, para ahli ibadah itu bukan orang bodoh. Jangan mentang-mentang mereka hidup sederhana kita anggap mereka sudah kehilangan ‘sense of luxury’. Salah besar, bung! Mereka tau kok mana yang mahal mana yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa mereka memilih hidup bersahaja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ini rahasia mereka….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis sahur tadi malam, ahlinya para ahli, Bapak Quraisy Shihab membedah salah satu ayat dalam surat Al-Imran. Ayat itu rupanya menyinggung orang-orang kafir di zaman Rasulullah SAW. Orang-orang kafir Quraisy yang hidupnya betul-betul berlebih-lebihan sehingga Allah SWT seakan-akan menyentil mereka, “Hey orang-orang kafir! Segala nikmat sudah kamu habiskan di dunia. Jadi buat kamu tidak ada nikmat lagi!”. Masih menurut cerita Bapak Quraisy Shihab, Syaidina Umar RA suatu saat karena sangat haus meminta diambilkan air. Bertepatan dengan beliau akan minum, beliau mendengar sentilan ayat ini, beliau memutuskan untuk menunda minumnya karena merasa tidak ingin menghabiskan seluruh nikmatnya di dunia. Beliau ingin menunda kenikmatan untuk sesuatu yang kekal di akhirat, yaitu syurga Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ini rahasia mereka….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia mereka rupanya menunda kanikmatan. Mubassir dong? Masak ada kenikmatan tapi kita tidak mau menikmatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah besar. Para ahli ibadah menunda kenikmatan tapi bukan menyia-nyiakannya. Mereka lebih cenderung membaginya ke orang yang lebih butuh. Mereka merasa kaya dan memang mereka adalah kaya. Kalau bukan kaya di dunia Insya Allah dijamin kaya di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi rupanya, rahasia mereka adalah itu. Setelah tau itu saya tidak berhenti manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu toh……..?”, dalam bahasa orang banyak.&lt;br /&gt;“Kammanjo paeng di……?”, kata orang Makassar.&lt;br /&gt;“I see…..I see…..”, kata orang bule.&lt;br /&gt;“Naruhodo……”, kata orang Jepang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-5045209614875877079?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/5045209614875877079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=5045209614875877079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/5045209614875877079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/5045209614875877079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/rupanya-ini-rahasia-mereka.html' title='Rupanya ini rahasia mereka....'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvgxFyj8PKI/AAAAAAAAAGs/DGO_5NRfruA/s72-c/rahasia.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7108730965539070666</id><published>2007-09-24T00:06:00.000+08:00</published><updated>2007-09-24T00:13:09.521+08:00</updated><title type='text'>Petualang Malam</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvaQNSj8PJI/AAAAAAAAAGk/thOx5TJHGaw/s1600-h/tahajjud.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113432984921062546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvaQNSj8PJI/AAAAAAAAAGk/thOx5TJHGaw/s320/tahajjud.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Enggak tau kalau anda lebih tau. Yang saya tau sebatas yang pernah saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya sudah lama. Waktu itu saya masih bujang. Ada urusan bisnis, saya ke Jakarta. Rekan bisnis saya sebagian besar adalah orang keturunan Tionghoa. Bosnya berkebangsaan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya para pebisnis metropolitan, sore sebelum pulang ke hotel, oleh Ibu Er (nama saya samarkan) saya dititip pesan, “Pak, ntar malam Bapak dijemput untuk makan malam rame-rame ya pak.” Sebenarnya saya bukan tipe pria malam (suka keluar malam). Saya lebih prefer makan di hotel saja, selebihnya ya tidur. Makanya, selepas shalat Maghrib di hotel, saya telepon Ibu Er, “Bu, maaf, saya kurang enak badan. Mungkin masih capek akibat perjalanan tadi pagi. Saya makan di hotel saja ya. Sampaikan maaf saya sama Bos.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Malam itu skenarioku lolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keesokan malamnya kelihatannya saya tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakan yang sama. Ibu Er sendiri menjemput saya di hotel. “Pak, kita makam malam sambil karaokean yah.” Waduh, pikirku. Dunia begitu bukan duniaku…dalam hati aku membatin. Tapia pa boleh buat. Saya cuman bias manggut-manggut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akhirnya tiba di sebuah restoran di sebuah sudut ibukota (itu pikirku). Ketika masuk ke dalam, nyata bahwa tempat itu bukan sekedar restoran. Di dalamnya juga terdapat diskotek yang penuh dengan asap rokok. House musicnya minta ampun. Di beberapa sudut saya bias melihat jelas orang-orang yang kepalanya ‘geleng-geleng’, dalam hati saya pikir, “oh ini mungkin yang kata orang lagi fly….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur dalam hati saya tidak nyaman. Tapi sudahlah. Saya buat nyaman dan terkendali saja. Ibu Er mendekati. “Pak, ini tempat ngumpulnya cewek-cewek keturunan Tionghoa. Kalau ada yang Bapak suka, bisa dipesan lho…” Hahaha…saya senyum-senyum kecut saja. Sebagai lelaki saya sungguh tergoda. Tapi sebagai muslim, saya tak mau tergoda. Selain senyum, saya diam saja tidak menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu berlalu. Saya pun berusaha melaluinya. Pengalaman pahit tapi sangat berharga. Malam itu, saya jadi tahu bagaimana ritual para petualang…para petualang malam di ibukota…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT telah menerangkan di dalam Al-Quran, bahwa sesungguhnya di balik pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Juga bahwa Allah SWT telah menjadikan siang sebagai waktu bagi manusia untuk mencari nafkah, dan malam untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang mungkin biasa. Tapi malam. Banyak hal luar biasa yang terjadi. Pengalaman di diskotik ibukota malam itu memperluas wawasan saya bahwa begitu banyak orang memutuskan keluar dari jalurnya dengan memanfaatkan malam bukan untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petualang malam di diskotik itu sungguh kasihan. Mereka menukar kesunyian malam dengan kehingar bingaran. Mereka menukar kebeningan langit bertabur bintang dengan kekeruhan asap rokok. Mereka menukar hembusan angin malam yang terkendali dengan umbaran nafsu seks yang liar. Mereka menukar kesempatan malam untuk bertobat dengan berbuat dosa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nauzubillahi min dzalik……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan termulia di sisi Allah SWT. Bulan ini menawarkan banyak berkah. Oleh Allah SWT, pemegang otoritas tunggal di langit dan di bumi, amalan manusia akan dilipatgandakan pahalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bulannya adalah termulia, maka malam-malam bulan Ramadhan adalah terkhusus. Adalah suatu keuntungan hakiki bagi manusia muslim yang berhasil mendapatkan malam termulia di bulan Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada petualang malam yang mulia, maka para petualang ibadah malamlah mereka. Ketika orang lain asik berselimut, mereka bangkit. Ketika orang lain asik ngorok, mereka bersuara merdu. Ketika orang lain asik bermimpi, mereka justru di puncak kenikmatan berkomunikasi dengan Tuhan mereka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah berada di sekitar para petualang ibadah malam. Jidat mereka hitam. Bibir mereka senantiasa basah dengan kata-kata pujian kepada Yang Maha Terpuji. Ruku’ mereka ikhlas. Sujud mereka sangat merendahkan diri mereka di depan Yang Maha Tinggi. Tak ada satupun gerakan yang tidak mereka nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada musik mengiringi. Tak ada hingar bingar. Tak ada nafsu yang diumbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam memang penuh misteri. Kegelapannya bisa menawarkan banyak keindahan. Keindahan yang bisa semu dan meracuni, tapi bisa pula hakiki dan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua terbalik ke anda. Ini masalah pilihan. Pilihan senantiasa menawarkan kesempatan dan resiko. Namun sesungguhnya yang baik itu sangat jelas bedanya dari yang buruk. Sebagaimana bisa dijumpai dalam bahasa Al-Quran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Samakah orang buta dengan orang melihat?&lt;br /&gt;- Samakah orang tuli dengan orang mendengar?&lt;br /&gt;- Samakah orang yang diberi petunjuk dengan orang yang sesat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihannya sesungguhnya jelas. Namun ketika hati diliputi kemudharatan, dan petunjuk Allah tidak kunjung datang, percayalah, pilihan sesederhana itu bisa jadi sulit dan membingungkan sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai manusia malam. Jika kegelapan malam menarik hati anda, maka jadilah petualang malam yang benar. Jadilah petualang ibadah malam. Petualang yang perkasa. Petualang yang dibangga-banggakan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bangganya…….&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Note: Gambar diambil &lt;a href="http://rds.yahoo.com/_ylt=A9G_Rq3djPZGXAMAdEijzbkF/SIG=129lll8l4/EXP=1190649437/**http://www.flickr.com/photos/firdausmubarik/36778122/"&gt;dari sini&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7108730965539070666?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7108730965539070666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7108730965539070666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7108730965539070666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7108730965539070666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/petualang-malam.html' title='Petualang Malam'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvaQNSj8PJI/AAAAAAAAAGk/thOx5TJHGaw/s72-c/tahajjud.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-339564695112016110</id><published>2007-09-23T09:40:00.000+08:00</published><updated>2007-09-23T22:40:06.164+08:00</updated><title type='text'>Tentang aku, kau dan anak kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvXEdCj8PII/AAAAAAAAAGc/cDQNg1RGjg4/s1600-h/bertengkar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113208955131935874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvXEdCj8PII/AAAAAAAAAGc/cDQNg1RGjg4/s320/bertengkar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kemarin untuk pertama kali selama Ramadhan ini saya bawa &lt;a href="http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/anakku-muh.html"&gt;si Ai &lt;/a&gt;(anak laki-laki saya) ikut berbuka puasa bersama ke mesjid. Terakhir Ai ikutan ke mesjid hampir setengah bulan lalu ketika kami sekeluarga ikut acara pengajian rutin malam jumat. Ai, waktu itu, seperti biasa, memimpin teman-temannya menjadi ‘gerombolan si ribut’ dengan berbagai suara teriakan mereka sambil berlarian keluar masuk mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ‘lama’ tidak bertemu dengan teman-temannya, kemarin saya memutuskan untuk membawa Ai. Saya terkejut geli ketika sampai di depan mesjid, masih di dalam mobil, Ai melalui jendela berteriak pada kawanan teman-temannya yang rata-rata berumur 3 ~ 5 tahun, “Kakaaaaaaak……! Ini aku!”….hahaha….di mana pula dia belajar kata-kata itu….kayak dialog film-film Bollywood saja, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini kosa kata Ai memang bertambah pesat. Ia sangat banyak meniru yang dilihat atau yang didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ada satu yang membuat saya khawatir. VCD kesukaannya salah satunya adalah seri-seri Ultraman (Utraman Dyna, Ultraman Gaia, Ultraman Max, dll). Saya perhatikan, dia sudah mulai meniru-niru gerakan pahlawan kesukannya itu. Sampai-sampai, saya sendiri pernah diterjangnya ketika sedang baring di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingatkan anda, pembaca sekalian, hati-hatilah dengan tontonan anak-anak anda. Kalau tidak bias bahaya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini khusus untuk suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang anak, kita juga mesti hati-hati kalau mau bertengkar. Yah, namanya juga manusia, wajarlah kalau sekali dua kali dikali beberapa kali (hehehe) ada pertengkaran dalam rumah tangga. Saya sendiri mengalami kok. Tapi Alhamdulillah, di dalam rekam jejak (track record) pertengkaran kami, sepanjang yang bisa kami inventarisir, belum atau Insya Allah tidak akan ada barang-barang yang pecah atau rusak. (Pernah sekali nyamuk yang tidak tau diri bahwa kami sedang bertengkar tiba-tiba hinggap di hidung saya….saya timpuk habis sebagai pelampiasan….hehehe….sang nyamuk mati, hidungku pun sakit…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau mau bertengkar, terutama yang punya anak, pilih waktu dan tempat yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, bertengkar itu juga mesti pakai seni, saudara-saudara. Sekarang saya tanya, anda kalau bertengkar, mau cepat selesai atau mau berlama-lama? Aneh kalau anda pilih mau berlama-lama. Berarti anda termasuk penggemar atau hobi bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini saya kasih jimat anti bertengkar. Insya Allah dengan jimat ini pertengkaran anda tidak akan berlangsung lama. Paling setengah ronde juga pasangan bertengkar anda sudah akan KO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jimat ini asli lho. Dapatnya dari orang pintar dan terkenal mumpuni. Orang pintar ini juga dapatnya dari orang pintar lain. Pokoknya sudah saya telusuri riwayat jimat ini, dan para ahli sepakat bahwa jimat ini tergolong mumpuni shahih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan saya transfer ke anda sekarang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut caranya. Tolong anda pergi berwudlu. Setelah berwudlu, lakukan shalat sunnat wudhu 2 rakaat. Setelah itu, siapkan kertas kosong ukuran 10 cm x 10 cm. Letakkan di atas meja di depan anda. Selanjutnya, lipat 2 kertas itu. Hasil lipatannya anda lipat 2 lagi. Begitu seterusnya sampai lipatannya sudah tidak bisa dilipat lagi. Kantongi jimat ini dan pastikan bahwa kalau anda akan bertengkar dengan suami atau istri, anda bisa meraih dan menggunakannya kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penggunaan. Ketika keadaan sudah memenuhi syarat disebut sebagai pertengkaran, ketika suami atau istri anda sudah mulai ngomel ngalor ngidul nyebut macam-macam, maka di sinilah saat yang paling tepat untuk mengeluarkan jimat mumpuni anda! Sebelum menggunakan, bacalah ‘Audzubillahi minasysyaitoonirrajiiimm’…selanjutnya keluarkan jimat dan gigit keras-keras (bukan dikunyah!) dengan gigi bagian depan anda. Pokoknya lakukan ini sepanjang suami atau istri anda masih ngomel-ngomel (kata orang Makassar: ‘pote-pote’). Kalau ngomel-ngomelnya semakin keras, gigit jimat anda semakin keras pula. Insya Allah, ngomel-ngomel suami atau istri akan berakhir cepat sebelum satu ronde. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha….serius amat mau pake jimat bertengkar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bertengkar itu ditunggangi setan. Makanya lihat warna muka orang kalau lagi bertengkar, merah kan? Itu karena setan dibuat dari api. Makanya dengan menunggangi orang yang lagi marah, warna setan kelihatan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak-Ibu, kalau suami sedang marah, berarti ia sedang jadi api yang berapi-api. Nah, kalau lagi begini, ibu jangan jadi bensin dengan menimpali omelan suami. Mendingan ibu-ibu diam sambil menggigit jimat. Kalau kebetulan lagi megang HP yang berkamera, mending muka suami dipotret close up, ntar kalau marahnya sudah selesai, perlihatkan hasil potretnya….hahaha….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan penasehat perkawinan lho. Saya saja juga sering minta nasehat perkawinan dari orang yang lebih ‘berpengalaman’. Bukan berpengalaman kawin….hehehe…tapi berpengalaman mengendalikan amarah mereka kalau lagi marah. Soalnya, kalau suami istri lagi bertengkar, itu bukan masalah suami istri itu saja. Anak pun bisa ikut-ikutan susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Bapak-Ibu, suami-istri, saudara-saudari, kalau mau bertengkar, pilih waktu dan tempat yang tepat, juga pakai cara yang tepat, dan ingat selalu, camkan dalam hati bahwa ini bukan sekedar aku dan kau, “Ini tentang aku, kau, dan anak kita….” Jadi, hati-hati….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-339564695112016110?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/339564695112016110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=339564695112016110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/339564695112016110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/339564695112016110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/tentang-aku-kau-dan-anak-kita.html' title='Tentang aku, kau dan anak kita'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RvXEdCj8PII/AAAAAAAAAGc/cDQNg1RGjg4/s72-c/bertengkar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4036017667919496145</id><published>2007-09-18T12:03:00.000+08:00</published><updated>2007-09-18T12:13:31.337+08:00</updated><title type='text'>Tekadku sudah bulat!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ru9QWVt2beI/AAAAAAAAAGM/B4T2PDJenbM/s1600-h/kopiah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111392446805601762" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ru9QWVt2beI/AAAAAAAAAGM/B4T2PDJenbM/s320/kopiah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Insya Allah semakin bulat tekadku. Ini gara-gara kopiah. Sudah berapa hari ini selama Ramadhan saya berkopiah ke kantor. Sebenarnya di rumah juga biasanya kalau Ramadhan saya sering berkopiah. Rasanya senang aja. Saya jadi lebih termotivasi dalam beribadah. Pokoknya asal ada waktu luang, saya gunakan untuk ibadah. Paling sering baca Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara kopiah, beberapa pelanggan yang masuk ke kantor kami menyapa saya dengan sebutan ‘Pak Haji’. Saya sih diam saja disapa begitu. Dalam hati rasanya geli, karena saya belum haji. Saya lirik staf saya yang mendengar saya disapa begitu, juga senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kejadian pertama. Dulu juga pernah begitu. Semuanya gara-gara kopiah. Waktu ‘aku tak biasa’ dengan insiden ini, saya protes. ‘Maaf, saya belum haji, jadi tolong jangan panggil dengan sebutan ‘Pak Haji’”….protesku. Tapi jawaban seorang pemanggil menggelitik simpul harapanku untuk menerima ‘insiden’ ini dengan justru hati berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, pak. Kalau dipanggil ‘Pak Haji’ yah terima saja. Kalau Bapak belum haji juga tidak apa-apa. Bapak bilang ‘amin’ saja dalam hati biar jadi kenyataan. Mana tau di sekitar Bapak lagi ada malaikat lewat juga ikut meng’amin’kan, nanti Bapak bisa naik haji beneran karena doa itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul juga pikir saya. Makanya sejak saat itu, saya tidak pernah protes lagi. Bahkan jujur harus saya akui, salah satu motivasi saya pakai kopiah ke kantor akhirnya bertambah satu, “biar terjadi insiden ‘mendoakan’ oleh para pelanggan”, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insiden serupa tapi tak sama juga terjadi ketika saya lagi senang-senangnya pakai baju koko kemana-mana. Waktu itu ada kakak ipar dapat hadiah baju koko dari saudaranya. Setelah dicoba, ternyata dia kekecilan. Jadilah baju koko itu dihibahkan ke saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan warnanya putih. Warna ini bagi saya adalah warna ibadah. Mbok ya ibadah itu bagusnya putih bersih, melambangkan ketulusan dan kemurnian. Bukan karena pamrih atau riya. Makanya kalau lihat ustadz datang ceramah ke mesjid dengan pakaian serba putih, saya jadi terobsesi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil baju koko hibahan kakak ipar sering saya pakai ke mana-mana. Selain warnanya yang putih, model dan motifnya juga bagus dan memang cocok untuk kegiatan selain ibadah. Atau mungkin tepatnya, baju ini semakin mempertegas motivasi saya untuk ‘mengibadahkan’ semua aktifitas lain termasuk pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bermodal baju koko putih ke mana-mana, ditambah saya termasuk ‘pemelihara janggut amatiran’ (saya bilang amatiran karena janggut saya tidak panjang-panjang amat seperti para pemelihara janggut professional), orang ternyata menangkap citra lain. Terjadilah insiden saya dipanggil dengan sebutan ‘ustadz’. Hahaha….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara kopiah dan baju koko di atas, saya jadi belajar satu hikmah. Bahwa memang dunia ini penuh dengan simbol-simbol yang melambangkan kebaikan dan kebukurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berkopiah, berbaju koko, sekaligus berjanggut kelihatannya memenuhi syarat simbol-simbol yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ustadz. Masak ‘rocker’ sih? Mana ada rocker kalau tampil sehari-hari pakai kopiah, baju koko, dan berjanggut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra memang belum tentu sesuai kenyataan. Tapi paling tidak, citra bisa menjadi pintu gerbang sebelum masuk ke dalam hati seseorang yang sesungguhnya. Ketika pintu gerbangnya ‘rada aneh’ maka besar kemungkinan kita ‘berprasangka’ aneh pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang prasangka, sekarang banyak orang ikut seminar bayar mahal di hotel berbintang sekedar untuk belajar bagaimana menghindarkan diri dari prasangka lho…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya pendekatannya sederhana. Pertama, dalam Islam kita memang dilarang berprasangka. Jadi sebenarnya nggak usah bayar mahal untuk kuasai ilmu ‘bebas prasangka’ ini. Rajin-rajin aja ikut pengajian pak ustadz. Ustadz kelas kampungpun ilmunya pasti sama kok dengan ustadz kelas hotel bintang lima. Semuanya akan bilang, “Jemaah sekalian, berprasangka buruk itu dilarang dalam Islam….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berhubung menghilangkan prasangka itu susah, apalagi banyak orang memang malas menghadiri pengajian, maka mending kita jauh-jauh aja dari hal-hal yang membuat orang berprasangka buruk tentang kita. Istilah dakwahnya, ‘mari kita menghindari fitnah’. Jadi, daripada daripada, lebih baik lebih baik….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, sekali lagi, tekadku sudah bulat. Pernyataan kebulatan tekad ini semua gara-gara kopiah. Bahwa sesering mungkin saya akan pakai kopiah ke kantor atau ke mana-mana. Supaya ‘insiden’ saya dipanggil Pak Haji bisa lebih sering terjadi. Supaya setiap kali saya dipanggil begitu saya akan bilang ‘amiin’ dalam hati. Dan supaya Insya Allah dengan begitu pula Allah mengabulkan doaku…..agar suatu saat saya juga bisa naik haji…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, tekadku sudah bulat! Insya Allah…..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4036017667919496145?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4036017667919496145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4036017667919496145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4036017667919496145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4036017667919496145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/tekadku-sudah-bulat.html' title='Tekadku sudah bulat!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Ru9QWVt2beI/AAAAAAAAAGM/B4T2PDJenbM/s72-c/kopiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6218737474249103026</id><published>2007-09-13T11:45:00.000+08:00</published><updated>2007-09-22T19:28:13.616+08:00</updated><title type='text'>Pengganti SMS: Marhaban Yaa Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuizY1t2bdI/AAAAAAAAAGE/2U_zrEML2Nc/s1600-h/Ramadhan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5109531016569449938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuizY1t2bdI/AAAAAAAAAGE/2U_zrEML2Nc/s320/Ramadhan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillahirrahmaanirrahiim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca penghaus hikmah yang Insya Allah dapat petunjuk dari Yang Maha Pemberi Petunjuk. Jika ada gawean terbesar di kalangan ummat manusia, gawean Ramadhan tentulah yang paling besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawean ini bukan sekedar besar. Gawean ini mulia. Ini tentang kita manusia dengan Allah Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa setiap memasuki bulan Ramadhan, HP saya senantiasa berdering. Pertanda banyak SMS masuk. Anda tahu, ini termasuk satu momen yang saya tunggu-tunggu. Berbagai pesan permohonan maaf untuk terus mengencangkan silaturrahim ditulis dengan rapih dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasinya sungguh berbeda dengan dulu ketika orang sekedar menulis “Mohon maaf lahir bathin.” Kini meskipun esensinya sama, para kolega seakan berlomba untuk indah seindah-indahnya. Mungkin memang, memasuki Ramadhan, bulan yang menawarkan keindahan murni, pengaruhnya dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu contoh:&lt;br /&gt;“Jika semua harta adalah racun, maka zakatlah penawarnya. Jika seluruh umur adalah dosa, maka tobat adalah obatnya. Jika seluruh bulan adalah noda, maka Ramadhan adalah pemutihnya. Marhaban ya Ramdhan, mohon maaf lahir bathin. Semoga ibadah kita di bulan ini berlangsung khusyuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan di atas dikirim oleh seorang kolega. Belum-belum saya sudah merasa sesak. Belum-belum saya sudah merasa sentimentil. Belum-belum saya sudah merasa bak seorang pujangga. Dunia ini indah dan bertambah indah tak habis-habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang lain dan saya tahu adalah pembaca setia blog ini mengirim dalam bahasa Inggris:&lt;br /&gt;“Liberating the heart can be attained through 4 virtues: Humility before Allah alone, needing Allah alone, fearing and respecting Allah alone, and hoping from Allah alone.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan di atas sungguh berbeda dari banyak pesan lain yang saya terima. Tidak ada kata permohonan maaf. Tapi bagi saya, tanpa kata itupun sudah seharusnya memberi maaf itu dibudayakan. Jauh lebih penting lagi, pesan ini singkat tapi bermakna panjang. SMS serasa bukan singkatan yang tepat untuk menggambarkan pesan ini. Mungkin lebih tepatnya ‘Short Message but Long Meaning’ (SMLM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah tamu penting. Segala aji penyambut tamu terbaik, keluarkanlah! Jika saja Ramadhan adalah ‘seorang aktor’, mungkin tidak ada ‘red carpet’ yang cocok untuk menyambut kedatangan ‘aktor ganteng serba bersih’ ini. Jika saja bungkuk ala Jepang ‘o-jigi’ kita anggap maksimal dalam menghormati tamu, mungkin tidak ada sudut bungkuk maksimal untuk bisa menghormati tamu Allah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan oleh suguhan Harun Yahya di dalam tayangan videonya. Sebuah kutipan yang sangat berarti terus mengiang di telinga saya.&lt;br /&gt;“Kebesaran Allah sungguh terlihat dalam berbagai hal yang kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba resapi kutipan ini. Biarkan dia larut dalam hati. Biarkan ia memutihkan hati kita yang hitam kelam. Biarkan ia membawa ‘rasa garam’ terhadap pengabdian kita yang ‘hambar’ selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh. Saya bingung. Saya terharu. Saya kaku. Ingin kusambut Ramdhan ini dengan sambutan terbaik. Namun apa pula yang sebanding baiknya dengan bulan Allah yang terbaik ini? Aku terlalu miskin di hadapan Allah. Aku terlalu kecil di hadapan Allah. Aku kehabisan kata-kata…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya Ramadhan……..&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir bathin. Irwan, Ai, Heni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pesan ini sejatinya ingin kami kirim melaui SMS. Tapi setelah kami timbang-timbang, kayaknya pesan ini kepanjangan. Biar kami kirim lewat Blog ini saja. Mohon diterima) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6218737474249103026?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6218737474249103026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6218737474249103026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6218737474249103026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6218737474249103026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/bismillahirrahmaanirrahiim-pembaca.html' title='Pengganti SMS: Marhaban Yaa Ramadhan'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuizY1t2bdI/AAAAAAAAAGE/2U_zrEML2Nc/s72-c/Ramadhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4470713847954039531</id><published>2007-09-11T11:30:00.000+08:00</published><updated>2007-09-11T11:41:14.064+08:00</updated><title type='text'>Mau dong punya bukit.....</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuYMOWaZ8cI/AAAAAAAAAF8/qkTMJAeFgj8/s1600-h/menabung.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5108784267972440514" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuYMOWaZ8cI/AAAAAAAAAF8/qkTMJAeFgj8/s320/menabung.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pernah saya tulis tentang bilangan besar dan bilangan kecil. Waktu itu, untuk Allah SWT Yang Maha Besar, maka saya dedikasikan ke-besar-an itu hanya kepada Allah. Tapi saya lupa, Allah tidak menciptakan sesuatu itu sia-sia. Tidak ada dalam kamus-Nya seperti itu. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang kecil sekalipun. Makanya salah satu sifat-Nya adalah Maha Halus. Maksudnya, Allah tahu apapun itu dalam tingkatan yang paling halus sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tentang bilangan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya malas menabung. Rasanya saya terlalu memandang enteng kalau harus menabung duit dan jumlahnya keci-kecil saja. Setiap mau menabung dan jumlahnya tergolong ‘kecil’, dalam hati terasa ada perasaan melecehkan, “Ini menabung kecil-kecil begini untuk apa? Kapan besarnya? Mana bisa beli rumah dengan jumlah kecil-kecil begini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tekad saya adalah menunggu hasil kerjaan ‘besar’, kemudian menabung sekaligus. Hasilnya? Hahaha, nggak pernah bisa nabung karena jarang dapat ‘kerjaan besar’!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah ajaran Islam itu lengkap dan menyadarkan, bagi orang yang mau sadar……..(kalau memang dari sononya tidak mau sadar, sampe mati pun nggak bakal sadar saudara-saudara!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya tersindir oleh ceramah seorang ustadz. Kata pak ustadz, “Bapak-bapak, Allah dalam menilai ketaatan dan pengabdian seorang hamba tidak bergantung kepada kuantitasnya. Tapi yang terpenting adalah konsistensi dan keikhlasannya dalam beribadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil contoh shalat tahajjud. Allah jauh lebih menyukai orang yang hanya mampu bangun dan mengerjakan shalat tahajjud 2 rakaat setiap malam dan berkelanjutan (konsisten dijaga), daripada orang yang dalam setahun hanya shalat tahajjud di suatu malam dan jumlah rakaatnya 100!” begitu lanjut pak ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus pak ustadz memberi kesimpulan, “Artinya, amalan apapun itu, baik shalat sunnat, puasa sunnat, sedekah, dan lain-lain, jangan dinilai besarnya, tapi konsistensi kita dalam menjalankannya meskipun itu kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa uraian di atas justru membuat saya mengevaluasi kebiasaan menabung saya. Mungkin sudah begitu kehendak Allah dalam memberi petunjuk. Saya jadi berpikir, soal menabung sepetinya sama saja. Yang terpenting bukan berapa besar yang kita tabung, tapi konsistensi kita menabung secara regular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan sekedar 'yang penting menabung......'. Ini juga erat hubungan dalam membentuk mental atau kebiasaan suka menabung. Nanti ujung-ujungnya bisa berentetan kebaikan yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau metal suka menabung sudah didapat, otomatis muncul juga mental ‘hemat’. Mana ada orang suka menabung yang tidak hemat? Justru karena hemat lah ia bisa menabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus apa? Masih ada. Orang yang suka menabung adalah orang yang suka menghargai apapun. Alias tidak boros. Anda pernah ‘rasa’ kan kalau membeli sesuatu dari hasil keringat sendiri yang ditabung? Anda pasti akan menghargai benda yang anda beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, orang yang suka menabung Insya Allah bersikap mandiri. Mungkin terpengaruh dari kegigihannya dalam menabung dan mengumpulkan uang untuk target-target tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dengar ulasan ustadz itu manajemen keuangan pribadi saya ubah. Berapapun itu saya mesti mencoba konsisten untuk menabung. Bahkan kalau itu hanya ‘uang receh’ sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sekarang penasaran. Kalau filosofi ini diterapkan dalam pembangunan, mestinya negara kita tidak perlu pakai jurus ‘anggaran berimbang’ atau bahkan ‘anggaran minus’. Anggaran berimbang kan berarti pemasukannya sama dengan pengeluarannya. Kalau anggaran minus berarti pengelurannya lebih besar daripada pemasukannya. Kekurangan pemasukan ditutupi dari utang, seperti negara kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja filosofi ini diterapkan oleh pemerintah, saya yakin bin percaya angka kemiskinan berkurang. Bukan sekedar ditekan (termasuk ditekan di atas kertas supaya pemerintah yang berkuasa tidak terlihat bodoh dan malu-maluin). Program pengentasan kemiskinan dibiayai dari tabungan. Dengan begini harga diri bangsa juga bisa terangkat. Jangan seperti sekarang yang justru sebaliknya. Pemerintah seperti bingung mau membangun pakai uang dari mana. Akhirnya, apa-apa dari bangsa ini lantas digadaikan. Termasuk juga harga diri……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kalau sudah tahu bahwa menabung itu adalah masalah konsistensi, yuk kita konsisten untuk menabung. Biar jumlahnya kecil-kecil tidak mengapa. seperti kata pepatah, 'lama-lama juga jadi bukit." Mau dong punya bukit.........&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4470713847954039531?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4470713847954039531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4470713847954039531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4470713847954039531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4470713847954039531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/mau-dong-punya-bukit.html' title='Mau dong punya bukit.....'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuYMOWaZ8cI/AAAAAAAAAF8/qkTMJAeFgj8/s72-c/menabung.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6192395790854107393</id><published>2007-09-06T21:38:00.000+08:00</published><updated>2007-09-06T21:45:56.387+08:00</updated><title type='text'>Ex-Muslim, Muslim kembali?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuADOmaZ8bI/AAAAAAAAAF0/b5jbs1xTdwE/s1600-h/ex+muslim.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5107085526802493874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuADOmaZ8bI/AAAAAAAAAF0/b5jbs1xTdwE/s320/ex+muslim.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pernah. Mungkin timing-nya tepat ketika seorang lelaki penjaja jasa pijat mengetuk pintu kamar kos-kosan saya (waktu itu saya masih bujang) dan saya sedang pilek. Badan memang sakit semua, jadi dengan senang hati saya terima penawaran jasa lelaki ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang pijat yang mengaku bernama Syahrul ini terlihat sopan sekali. Sebelum mulai, ia minta izin ke saya, “Pak, sebelum mulai boleh saya berdoa sesuai kepercayaan saya?”. Saya bilang saya tidak keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai berdoa. Dari doanya, saya tahu bahwa dia adalah seorang Kristen katolik. Sedikit berkernyit kening saya, sebab ia bernama ‘Syahrul’, nama yang sejatinya banyak dipakai orang Muslim. Tapi mungkin karena saya terlalu letih, plus bagi saya tidak sopan untuk bertanya hal-hal seperti itu, maka saya memutuskan menutup mata untuk menikmati jasa pijat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Syahrul orangnya suka bicara. Tanpa saya tanya ia banyak bercerita. Uniknya, yang dia ceritakan justru pertanyaan yang tidak saya tanyakan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu saya Muslim pak.” Oh ya? Celutuk saya.&lt;br /&gt;“Saya bahkan pentolan remaja mesjid. Sehari-harinya di mesjid.” Tentu saja, saya jadi bertanya kenapa ia jadi murtad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya rajin tahajjud pak. Bahkan bisa dibilang banyak ibadah sunnat saya laksanakan seperti wajib. Tapi ada satu yang terus menghantui pikiran saya. Bagaimana sesungguhnya zat atau wujud Tuhan itu?” Hmmmm, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu saat saat saya tahajjud sambil memikirkan zat Tuhan, rasanya saya mendengar suara, ‘Hai orang yang sedang beribadah, ubahlah cara ibadahmu!’ begitu bunyi suara itu pak.” Dalam hati saya mulai tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah mendengar suara itu saya jadi bingung. Besok-besoknya saya bertanya pada banyak ustadz, tapi tidak ada satupun yang memberi jawaban memuasakan.” Masak sih? Pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu hari saya dengan hati kosong jalan-jalan ke depan sebuah katedral. Kebetulan di depan katedral berdiri seorang pendeta. Saya diajak mampir. Saya cerita perihal mimpi saya. Pendeta itu bilang bahwa sesungguhnya suara itu meminta saya untuk berubah dari Islam menjadi Kristen. Saya pikir, mungkin ini benar. Maka jadilah saya sekarang seorang katolik.” Wah, menyedihkan, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya mulai buka mulut. Walaupun sebenarnya malas karena badan capek. Saya tanya, “Setelah kamu jadi katolik, bagaimana perasaan kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merasa lebih tenang pak. Saya sekarang rajin beribadah ke gereja”, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya lagi, “Trus, apa saja hal-hal baru yang kamu rasakan dalam agama baru ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sekarang rasanya lebih dermawan. Ini sesuai dengan ajaran gereja. Rasa-rasanya, semakin banyak saya memberi, rejeki saya juga semakin besar. Makanya saya merasa lebih tenang sekarang.” Jawab Syahrul dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang giliran saya yang bicara banyak, pikir saya. “Rul, kamu tau tidak bahwa di Islam, ajaran tentang menjadi dermawan itu jauh lebih lengkap? Dalam Islam, jangankan dengan harta, bersedekah itu juga bisa dengan senyuman. Islam mengaturnya bahkan sampai sejauh itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya Syahrul mencoba mengingat-ingat ajaran-ajaran Islam yang dulu diyakininya. Pijitannya tidak sekuat sebelumnya. Saya yakin dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tantang dia, “Rul, kamu cari di agama baru kamu, ajaran yang tidak kamu temui dalam Islam, kecuali tentang konsep Tuhannya yang sudah pasti berbeda. Coba saja kamu pikir-pikir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya tantangan saya bikin Syahrul mesti berpikir keras. Dia bahkan berhenti memijit. Tapi dia belum ngomong apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lanjut. “Menurut saya, kalau betul kamu mendengar suara seperti yang kamu bilang waktu dulu masih Islam, mestinya suara itu teguran kepada kamu. Kamu kan tahu, dalam Islam, kita dilarang keras berpikir atau bertanya tentang zat atau wujud Tuhan itu bagaimana. Orang bisa jadi gila kalau mikir itu. Mestinya suara ‘Ubahlah cara beribadahmu!’ jangan kamu artikan mengubah agamamu. Tapi betul-betul beribadah bukan untuk memikirkan zat Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat muka Syahrul jadi merah pucat. Pucat pasi. “Astagfirullah, bapak benar.” Entah Syahrul sadar atau tidak bahwa kata-katanya barusan sama sekali bukan kata-kata orang Kristen. Sampai di sini saya diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrul gantian yang bicara. “Wah, sepertinya bapak benar. Sekarang saya harus bagaimana pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rul, saya tidak mau bicara bohong. Setahu saya, dosa syirik karena menyekutukan Allah atau karena keluar dari Islam itu tidak termaafkan. Tapi berhubung tobat itu urusan hamba langsung dengan Allah, kamu syahadat aja lagi sekarang dan tobat langsung kepada Allah. Urusan diterima atau tidak, itu belakangan. Yang penting kamu tobat dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Syahrul yang dulu ex-Muslim menjadi Muslim kembali. Sekali dua kali dia masih menghubungi saya. Setelah itu lama saya tidak dengar kabar tentang dia. Sampai suatu saat, rasa-rasanya saya kepingin dipijat lagi, saya coba telepon dia. Syahrul tidak di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, suatu hari saya terima telepon dari Syahrul. “Assalamu alaikum pak”. Setelah menjawab salamnya, saya tanya bagaimana kabar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, saya sekarang lebih banyak di Jeneponto (nama kabupaten, sekitar 4 jam perjalanan mobil dari kota Makassar) pak. Saya dikontrak sebuah mesjid untuk jadi imam selama Ramadhan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya bingung mau bertingkah bagaimana. Orang yang pernah murtad dikontrak jadi imam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya memutuskan untuk mengucapkan selamat dan membesarkan hatinya untuk terus berkarya di jalan agama. Tidak dalam posisi saya untuk menjatuhkan vonis ke dia, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini membuat saya senang sekaligus sedih. Senang karena saya telah mengembalikan seorang yang pernah melenceng dari jalan lurus kembali ke jalan yang benar. Tapi sedih karena ini kenyataan. Bahwa banyak orang mengaku Muslim tapi beribadah dengan cara yang salah. Parahnya kalau kesalahan ini fatal, bisa mengeluarkan orang dari keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baguslah kalau kita yang ‘masih Muslim’ untuk banyak berpikir dan berserah diri kepada Allah. Sambil kita bertanya dalam hati, “sudahkah saya beribadah dengan cara yang benar?” Kemudian yang terpenting dari segalanya, ‘Bertanyalah kepada orang yang benar ketika anda berstatus ‘tidak tahu’. Soalnya, salah bertanya, anda bisa terjerumus ke jalan yang salah.’ Naudzu billahi min dzalik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6192395790854107393?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6192395790854107393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6192395790854107393' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6192395790854107393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6192395790854107393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/ex-muslim-muslim-kembali.html' title='Ex-Muslim, Muslim kembali?'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RuADOmaZ8bI/AAAAAAAAAF0/b5jbs1xTdwE/s72-c/ex+muslim.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2458372422954362613</id><published>2007-09-04T15:04:00.000+08:00</published><updated>2007-09-06T11:04:28.356+08:00</updated><title type='text'>2 Hablun</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rt0DxmaZ8aI/AAAAAAAAAFs/bp846VzaL7I/s1600-h/2+hablun.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106241703167783330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rt0DxmaZ8aI/AAAAAAAAAFs/bp846VzaL7I/s320/2+hablun.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi barusan istri saya cerita ke saya. Katanya dia diajak main curang oleh orang dalam suatu urusan. Tentu saja istri saya menolak. Apalagi terungkap bahwa kalau main curang dilakukan, orang yang kena rugi masih kenalan istri saya. Semakin tegas dia menolak. Katanya, selain tidak mau main curang, saya tidak mau merusak hubungan baik saya dengan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cerita itu saya masih berpikir-pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah menolak main curang itu satu hal. Setau saya, bagi kita Muslim, kekuatan iman tentu akan menjadi benteng penolak untuk main curang. Makanya kalau masih ada Muslim yang main curang, besar kemungkinan imannya belum segitu kuat untuk membentengi dirinya untuk main curang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada yang berkesan sebagai hikmah dari cerita istri saya. Status ‘kenal’ terhadap seseorang ternyata juga menjadi penegas untuk menolak main curang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi terbukti betapa indah ajaran Islam. Rasulullah SAW dari sulu menggaris bawahi, bahwa sebagai manusia, kita perlu menjaga 2 hal. Satu, hablunminallah, hubungan kita dengan Allah. Ke dua, hablinminannas, hubungan kita dengan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, cerita istri saya di atas erat hubungannya dengan hablunminannas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tempat kita hidup belakangan ini memang banyak berubah. Banyak yang sudah terekayasa. Ketika saya tinggal di Jepang, saat itu lagi ramai-ramainya orang bicara tentang ‘tamagocchi’. Ini adalah permainan elektronik yang dianggap seperti piaran hidup, yang layaknya piaraan lain perlu dikasih makan, diajak bermain, diobati, diminumkan susu dan macam-macam perlakuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran kalau dari anak kecil hingga orang dewasa di Jepang, belakangan menjalar ke banyak negara di benua lain, tergila-gila tamagocchi. Mereka bisa menyalurkan obsesi ‘memelihara’ mahluk hidup, walaupun benda yang dipelihara sesungguhnya hanya program komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya geleng-geleng kepala ketika menonton sebuah acara tengah malam di sebuah TV swasta di Jepang, mereka menyiarkan acara pemakaman tamagocchi yang ‘mati’ (dengan kata lain gagal dipelihara oleh si empunya permainan). Hebohnya lagi, ada ‘kuburan tamagocchi’. Mereka yang peliharaannya (kebanyakan diberi nama sesuka pemiliknya) mati, boleh mendaftarkan jasad peliharaannya di kuburan ini, dan mesti membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri merasakan bagaimana gemparnya orang-orang ketika sedang melihat-lihat pajangan CD di sebuah record store di Jepang, tiba-tiba diumumkan bahwa toko itu mengadakan penjualan tamagocchi dan orang akan dilayani sesuai urutan antrian. Wah, gaduh ribut bercampur kocar kacir orang-orang berebutan antri. Saya cuman bisa bengong. Padahal, kalau saya ikut rebutan, mungkin posisi antri saya bisa paling depan karena saya memang berdiri tidak jauh dari kasir…..hahaha…..lucu kalau ingat waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Jepang, negara yang penuh dengan rekayasa……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh disayangkan kalau 2 ‘hablun’ pada bagian pembukaan tulisan ini juga direkayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang, tiba-tiba muncul di TV bahwa hablunminallahnya bagus. Ke mana-mana pakai peci. Orang pergi umrah setiap tahun diam-diam, dia baru mau berangkat umrah pertama saja sudah rebut-ribut di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ada yang tiba-tiba muncul di TV bahwa hablunminnasnya bagus. Dikesankan bahwa ia sering berkunjung ke panti asuhan. Di depan kamera peluk-peluk anak yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sayang kalau soal ‘hablun’ direkayasa. Padahal Tuhan sendiri sudah tegasakan. Kalau kau mau untung, banyak-banyaklah kau mengingat Allah. Kalau kau mau panjang umur, banyak-banyaklah kau bersilaturrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau hablunnya direkayasa, saya khawatir, janji Tuhan tidak berlaku. Bukannya dapat untung malah dapat buntung. Bukannya panjang umur malah banyak musuh, dicaci maki orang, ujung-ujungnya, bisa cepat almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2458372422954362613?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2458372422954362613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2458372422954362613' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2458372422954362613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2458372422954362613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/2-hablun.html' title='2 Hablun'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rt0DxmaZ8aI/AAAAAAAAAFs/bp846VzaL7I/s72-c/2+hablun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7732365405533202149</id><published>2007-09-02T06:36:00.001+08:00</published><updated>2007-09-02T06:37:37.591+08:00</updated><title type='text'>Puasalah!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RtnpoWaZ8ZI/AAAAAAAAAFk/3lskYDpvqWM/s1600-h/puasa.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105368532021539218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RtnpoWaZ8ZI/AAAAAAAAAFk/3lskYDpvqWM/s320/puasa.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillahirrahmaanirrahiim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh berlimpah ruah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, bagi orang-orang yang mau membacanya. Baca satu di antaranya, adalah hasil ciptaan-Nya yang berpasang-pasangan. Ada laki ada perempuan. Ada jantan ada betina. Ada besar ada kecil. Ada panjang ada pendek. Untuk mendata pasangan-pasangan ini saja kita bisa membuat beberapa jilid kamus. Bahkan mungkin tak akan ada habis-habisnya……..wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran, mengapa manusia tidak mengambil hikmah dan mencoba menyontek sifat-sifat Allah sebatas derajat kemanusiannya. Kalau Allah itu Maha Kasih, mengapa pula kita tidak saling mengasihi. Kalau Allah Maha Pemberi Maaf, mengapa pula kita tidak senantiasa mengedepankan pemberian maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptaan Allah yang berpasang-pasangan mestinya juga patut dicontoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa pemerintah Indonesia paling enggan menyontek sifat Allah. Padahal presiden dan wapres kita sepanjang sejarah Indonesia berdiri senantiasa muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu coba lihat bagaimana harga-harga sembako di Indonesia hanya kenal kata ‘naik’ harga. Tidak pernah dengar saya pemerintah mengumumkan ‘turun’ harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prihatin benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari kemarin, bukan satu dua kali berita tentang kenaikan harga diberitakan media. Hari saya dibuka oleh berita kelangkaan minyak tanah. Di beberapa daerah orang ngantri panjang. Masya Allah……..Kasihan amat. Indonesia yang dikenal dunia sebagai produsen minyak, yang minyaknya diekspor ke luar negeri, di dalam negeri sendiri malah ngantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ada berita tarif tol naik. Masalah jalan tol, kelihatannya pemerintah pintar bikin prioritas. Sayang prioritasnya salah tempat. Kalau jalan tol saja, rajin dibangun karena orang lewat mesti bayar. Tapi jalan umum bebas hambatan (freeway), mana ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat tarik nafas, ada berita kenaikan lain lagi. Menurut salah satu TV swasta, di mana-mana harga beras sudah merangkak naik. Saya suka karena TV swasta masih pakai kata ‘merangkak’, paling tidak bikin suasana hati sedikit dingin dan tidak panik. Padahal mungkin yang sebenarnya sudah bukan merangkak, lebih tepatnya ‘melangkah lebar’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya kalau ada yang ‘turun’ biasanya bawa mudharat di negara kita. Pelototi pelabuhan Merak. Jumlah kapal yang melayani arus muat barang dari pelabuhan Merak tiba-tiba turun. Sontak jumlah antrian ‘tiba-tiba naik’. Antrian truk sampai 15km! Efeknya lagi, karena pasokan barang ke Medan jadi ‘tiba-tiba turun’, tentu harga jadi ‘tiba-tiba naik’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai rakyat, saya pusing. Kalau biasanya tujuh keliling, ini lebih parah, pusing tujuh panjang kali lebar kali tinggi. Ah, pokoknya pusiiiiiiiiiiing……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bisa turun gimana, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita turunkan paksa saja……..! Ngawur, mana bisa harga dirunkan paksa? Ntar bisa dituduh memperkosa. Kan yang namanya paksa memaksa itu memperkosa. Tapi jangan salah, ada juga memperkosa tidak pakai pemaksaan, tapi pakai ‘kebijakan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Au ah, gelap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah, tidak usah makan, tidak usah minum. Kita puasa saja. Mestinya kalau puasa membuat permintaan sembako jadi turun. Kalau permintaan turun, berarti harga juga akan turun. Itu teorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok setiap masuk Ramadhan harga-harga malah melambung naik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya gampang. Berarti banyak orang ‘tidak puasa’. Kalau harga sontak naik, banyak orang bukan sekedar ‘tidak puasa’, tapi malah menjadi ‘lebih rakus’.&lt;br /&gt;Makanya, memasuki Ramadhan nanti Insya Allah, puasalah!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7732365405533202149?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7732365405533202149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7732365405533202149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7732365405533202149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7732365405533202149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/09/puasalah.html' title='Puasalah!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RtnpoWaZ8ZI/AAAAAAAAAFk/3lskYDpvqWM/s72-c/puasa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7196190933169068678</id><published>2007-08-16T08:55:00.000+08:00</published><updated>2007-08-16T08:56:59.039+08:00</updated><title type='text'>Bagi Fikir</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RsOg0maZ8YI/AAAAAAAAAFc/8HJxpltrnio/s1600-h/bagi+fikir.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5099096028638474626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RsOg0maZ8YI/AAAAAAAAAFc/8HJxpltrnio/s320/bagi+fikir.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini kosa kata baru bagi saya. Sebelumnya saya tahu ada kosa kata ‘bertukar pikiran’, tapi begitu mendengar kosa kata ini, saya langsung suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ustadz Misbah yang memperkenalkannya. Semalam saya baru kenal beliau. Kunjungannya tiba-tiba, diajak oleh anak menantu salah seorang jamaah. Alhamdulillah. Sejak mesjid kami berdiri, kami sering ketiban rezeki tiba-tiba dengan kedatangan ‘usatdz tak diundang’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da Maghrib yang dipimpin oleh Ustadz Misbah, beliau meminta para jamaah tinggal sejenak mengisi majelis. Karena tiba-tiba, jumlah jamaah memang tidak sebanyak jamaah pengajian rutin Jumat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau mulai. Ustadz Misbah bilang, beliau tidak akan ceramah. Katanya, berdasarkan pengalaman, banyak jamaah yang sudah bosan dengar ceramah. Makanya beliau bilang, bagaimana kalau para jamaah ‘berbagi fikir’ saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tertarik mendengar mukaddimah beliau. Dan benar, beliau hanya beri sedikit pengantar, selanjutnya beliau minta jamaah untuk bicara memberi pertanyaan, atau komentar kalau ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah majelis bagi fikir berlangsung hangat. Pertanyaan dari satu jamaah ditimpali komentar oleh jamaah lain. Ustadz Misbah hanya memberi referensi bila diperlukan. Mirip betul dengan forum diskusi di sekolah saya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Fikir yang dibagi-bagi’ isinya juga menarik. Tapi saya mau lebih fokus memberi catatan tentang kegiatan bagi fikir itu sendiri. Ada komentar menarik yang membekas keras dari Ustadz Misbah. Beliau bilang, fikir itu letak kemajuan manusia. Manusia bisa maju karena fikir. Ketika manusia berhenti mengeksplorasi fikir-nya, berhenti pula kemajuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju. Ini pemikiran jenius. Ini adalah pendidikan yang sesungguhnya. Ini dobrakan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan hal baru bahwa kita dicoba untuk disadarkan atau dicerahkan tentang betapa pentingnya pendidikan. Wong deso sekalipun sekarang ini lancar bicara tentang pentingnya pendidikan. Masalahnya, kita sudah terlalu jauh dibelokkan dari jalur yang benar. Bahwa pendidikan itu seharusnya berlangsung di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja untuk siapa saja, dan dalam bentuk apa saja. Pendidikan bukan cuman di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Misbah sudah membuktikan. Buktinya, dalam majelis bagi fikir semalam, kami belajar banyak. Yang hadir mulai dari Dg. Bella yang kalau duduk tasyahud sudah tidak bisa dan terpaksa duduk bersila, sampai dengan anak saya si Ai yang kerjanya cuman lari ke sana ke mari di sekitar mesjid untuk ngusir nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu poin yang sangat signifikan dan relevan dari majelis bagi fikir dalam hubungannya dengan dunia sekarang yang sangat materialistis, bahwa ketika kita tidak punya sebentuk benda sekalipun untuk dibagi lagi dengan sesama, kita masih punya ‘fikir’ untuk kita bagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya………. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7196190933169068678?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7196190933169068678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7196190933169068678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7196190933169068678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7196190933169068678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/bagi-fikir.html' title='Bagi Fikir'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RsOg0maZ8YI/AAAAAAAAAFc/8HJxpltrnio/s72-c/bagi+fikir.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3820342612780728536</id><published>2007-08-11T21:07:00.000+08:00</published><updated>2007-09-22T19:26:08.885+08:00</updated><title type='text'>Bimbim si Bocah Petualang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rr2-DvTJYnI/AAAAAAAAAFU/Dp26iajDz8E/s1600-h/bimbim.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097439324698927730" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rr2-DvTJYnI/AAAAAAAAAFU/Dp26iajDz8E/s320/bimbim.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bimbim (nama saya samarkan), usia sekitar 10 tahun. Anak ini bikin hati saya…… bergetar haru sekaligus terinspirasi. Sudah beberapa lama saya amati. Anak ini rajin ke sekali ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin dengan usia sekecil itu ia pamrih. Kepada siapa ia mau cari muka? Mau dibilang riya juga rasanya jauh. Wong yang tergolong anak-anak yang paling sering nongol ikut sujud berjamaah di mesjid ya cuman dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mesjid kami belum jadi, kami hanya bisa ngumpul ibadah jamaah di bulan Ramadhan di bawah kolong rumah yang disulap jadi mesjid (baca: &lt;a href="http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/semoga-bagus-berkelanjutan.html"&gt;Semoga bagus berkelanjutan&lt;/a&gt;). Itu terjadi selama 3 tahun. Di situ sosok Bimbim mulai menarik perhatian saya. Di antara barisan bocah, Bimbim selalu terdepan. Dia sudah terlihat menonjol. Selalu selepas ustadz selesai ceramah, Bimbim sudah siap dengan buku tugas dari sekolahnya untuk minta tanda tangan ustadz. Pernah saya lihat raut sedih sekali di wajah Bimbim, ketika dia tanya ke saya, “Om, tema ceramah pak ustadz tadi apa, om?”.&lt;br /&gt;“Wah, om tidak ingat Bim.”&lt;br /&gt;Jelas sekali raut kekecewaan di wajah polosnya yang bersih bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mesjid kami resmi terbuka, Bimbim lagi-lagi di barisan depan bocah yang bersuka ria. Kalau bocah lain senang, karena selain bisa ikutan shalat, yang lebih penting ada tempat berkumpul untuk bermain berjamaah pula. Bimbim sih sama. Tapi kentara bahwa Bimbim perhatian betul dengan kegiatan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau cari Bimbim cari di mesjid. Begitu kira-kira kondisi objektif Bimbim sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Magrib berjamaah malam petang ini Bimbim beraksi lagi. Saya tiba di mesjid ketika jemaah masih sepi. Kalau tidak salah baru 3 orang, terhitung Bimbim yang sedang wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat waktu shalat sudah masuk, saya minta salah seorang jamaah dewasa untuk adzan. Bapak ini menolak sambil menunjuk ke arah Bimbim. Saya setuju. Saya kasih isyarat ke Bimbim untuk adzan. Dengan wajah riang, Bimbim mengepalkan tangan sambil berguman, “Yes!!”. Seakan-akan Bimbim baru menang lotere!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senyum sembunyi-sembunyi melihat tingkah Bimbim. Rupanya sudah lama dia menanti-nanti kehormatan mendengungkan adzan. Untuk mengundang sesamanya bocah, mengundang om dan tante, untuk datang meraih kemenangan. Bersama Bimbim tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantunan adzannya jernih. Suaranya betul-betul bocah. Bocah yang memanggil-manggil. Halus. Santun. Murni. Subhanallah! Nyaris-nyaris airmata saya jatuh mendengar suara Bimbim. Tapi cepat saya sembunyikan. Malu sama jamaah lain. Dalam hati saya bertanya, akankah suara sandal kecil Bimbim terdengar di surga? Sebagaimana Bilal si tukang adzan Rasulullah SAW? Semoga. Amin ya rabbal alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Joko (nama saya samarkan) adalah tetangga saya. Sebenarnya masih tetangga jauh. Kami tinggal di jalan berbeda tapi masih satu kompleks. Dari rumah saya, saya bisa melihat jelas ke rumah Pak Joko, termasuk ketika dia dan beberapa orang tetangga samping rumahnya berkumpul di depan rumahnya hampir setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Joko dan tetangga sekitar rumahnya yang masih sejalan kelihatannya akrab sekali. Kegemaran mereka juga identik. Mereka suka ngumpul sambil minum-minum minuman beralkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak kenal betul Pak Joko. Tapi kebiasaan-kebiasaan Pak Joko &lt;em&gt;and the gank&lt;/em&gt; saya tahu dari tetangga depan rumahnya juga, yang tidak masuk gank. Kelihatannya kebiasaan minum Pak Joko sudah parah. Pernah, kata tetangga depan rumahnya itu, Pak Joko pulang dari kantor tidak langsung pulang ke rumah. Ia singgah di sebuah warung kopi. Ngobrol ngalor ngidul dengan pengunjung lain yang kelihatannya juga gank-nya Pak Joko. Walaupun warung kopi, yang diminum bukan kopi, tapi bir. Bir diminum seperti air. Di-glek-glek-glek dan glek. Minum banyak! Sampai-sampai Pak Joko tumbang. Tidak bisa bangun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang warung menelepon adik Pak Joko untuk menjemputnya bawa pulang ke rumah. Begitu sampai di depan rumahnya, Pak Joko betul-betul linglung. Dia masih sempoyongan. Dia teriak-teriak, “Ini bukan rumahku! Masak rumahku begini?” Sampai-sampai malam itu Pak Joko dilarikan ke rumah sakit. Rupanya dia masih beruntung. Hasil pemeriksaan dokter tekanan darahnya sangat tinggi malam itu dan kalau tidak cepat dibawa ke rumah sakit, Pak Joko bisa pindah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya geleng-geleng kepala waktu dengar cerita lucu tentang Pak Joko. Katanya, kalau naik pesawat, Pak Joko bawa minuman jenis ‘brandy’ dimasukkan ke botol aqua kecil dan disimpan di tas yang dia bawa masuk ke cabin pesawat. Kalau pesawat bergoncang hebat, Pak Joko minum brandy-nya dulu baru baca-baca ‘doa’ minta selamat. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Pak Joko. Bahkan sampai saat ini kelihatannya masih begitu. Naga-naganya masih akan begitu. Kalau begitu terus, celaka betul Pak Joko itu. Kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingat-ingat fakta ini, saya jadi sedih. Tahukah anda, bahwa Pak Joko adalah bapaknya Bimbim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan cerita fiksi. Ini fakta. Kalau anda datang ke mesjid kompleks kami, saya bisa tunjukkan ke anda si Bimbim bocah ‘petualang akhirat’. Begitu juga Pak Joko ‘petualang alkohol’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, dua setting yang berbeda untuk dua pribadi yang berhubungan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Ini semua misteri Allah. Bisa jadi Bimbim di saat dewasa berubah bejat. Aku berdoa kepada Allah agar senantiasa menumpahkan petunjuk kepada Bimbim agar tidak begitu. Agar Bimbim tetap Bimbim seperti sekarang. Bimbim yang sepak terjangnya mengundang air mata haru kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi Pak Joko juga suatu saat bertobat. Semuanya bergantung kepada Allah. Barang siapa yang dibukakan hatinya dan diberi pentujuk ke jalan yang lurus, siapa pula yang dapat membelokkanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indah bila suatu saat Pak Joko bertobat. Saya bermimpi, bahwa suatu saat tangan-tangan kokoh Pak Joko menggandeng tangan mulus mungil Bimbim, berdua bersarung berkopiah, beriringan menuju mesjid untuk berjamaah. Berdua menegakkan perintah Allah. Berdua menjadi kekuatan. Kekuatan yang justru dirindukan oleh bangsa kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah. Aku berdoa ke hadiratmu. Bukakan pintu hati Pak Joko. Yang dagingnya besar tapi berhikmah kecil. Dan kuatkan hati Bimbim. Yang ukurannya masih kecil tapi berhikmah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jika ternyata banyak versi Joko dan Bimbim di negara ini, kabulkan pula doaku yang sama untuk mereka. Dan jadikanlah kami mengambil pelajaran terbaik dari kisah Joko dan Bimbim.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3820342612780728536?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3820342612780728536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3820342612780728536' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3820342612780728536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3820342612780728536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/bimbim-nama-saya-samarkan-usia-sekitar.html' title='Bimbim si Bocah Petualang'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rr2-DvTJYnI/AAAAAAAAAFU/Dp26iajDz8E/s72-c/bimbim.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2364463782962441621</id><published>2007-08-10T06:28:00.000+08:00</published><updated>2007-08-10T06:30:56.630+08:00</updated><title type='text'>Tempat Aman Berbuat Dosa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RruVkfTJYmI/AAAAAAAAAFM/CRqx3D7IURY/s1600-h/sabar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096831857409483362" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RruVkfTJYmI/AAAAAAAAAFM/CRqx3D7IURY/s320/sabar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di dunia ini, adakah tempat di mana kita bebas melakukan dosa?&lt;br /&gt;Rasanya tidak tuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil satu dosa, minum alkohol. Itu haram, makanya otomatis dosa. Di Negara-negara barat terutama, minum alkohol memang bebas. Tapi ketika orang barat datang ke negara-negara arab atau bahkan di Indonesia, tetap saja mereka tidak bebas minum alkohol kapanpun dan dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat dosa yang lain, berzinah. Ini kasusnya sama. Jangankan di negara-negara Islam, di Amerika, negara penganut kebebasan universal, berzinah tetap saja dianggap pelanggaran. Paling tidak bagi mereka yang menikah. Mana ada laki-laki pezinah terang-terangan mau mengaku ke istrinya bahwa ia pulang telat malam ini karena ‘mau berzinah’ dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi juga dosa. Kalau yang ini, bukan cuman berhadapan dengan hukum Tuhan, hukum manusia pun keras terhadapnya. Di Cina, negara yang muncul belakangan sebagai kekuatan ekonomi dunia, korupsi jangan main-main. Nyawa taruhannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang manusia suka berbuat dosa. Ini karena manusia dilengkapi dengan hawa nafsu. Anehnya karena semua perbuatan dosa itu menyenangkan. Wajar saja kalau manusia selalu mencari pembenaran agar bisa tetap menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh pornografi. Namanya paha mulus, dada montok, bibir sensual, dan berbagai item pengundang syahwat, dari dulu sih begitu-begitu saja. Kecuali kalau anda pengikut paham Evolusi Charles Darwin, berarti kalimat pembuka paragraf ini tidak berlaku. Tapi itu juga berarti anda mengakui bahwa nenek moyang anda adalah monyet. Lebih dari itu, bisa jadi nenek moyangnya nenek moyang anda adalah kucing, bahkan cecak. Masak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang dari dulu begitu-begitu, maka, kalau slogan SEKWILDA (seputar wilayah dada), dan BUPATI (buka paha tinggi-tinggi) mengundang syahwat anda, maka itu mengundang syahwat nenek moyang anda, termasuk nenek moyang saya. Kan nenek moyang kita sama, iya kan? Kalau dari dulu itu mengundang syahwat, saya tidak mengerti kalau sekarang itu tidak mengundang syahwat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, kalau dari dulu pornografi adalah pornografi yang divonis haram oleh Allah dan Rasul-Nya, vonis itu masih berlaku, karena memang subjek dan objek vonis masih sama. Terus, kenapa sekarang pendirian kita bisa berubah bahwa SEKWILDA dan BUPATI bahkan diapresiasi karena itu bentuk dari profesionalisme dan pengejawantahan kebebasan universal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berbeda pandangan dalam hal ini, sekarang terbukti, bahwa berbuat dosa yang berhubungan dengan pornografi tidak sepenuhnya bebas. Paling tidak kalau anda di dalam ‘wilayah saya’, saya tidak akan membiarkan anda mengusung ide kebebasan itu tanpa mendapat tantangan dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pertanyaan awal, kalau begitu, di manakah tempat kita bisa bebas melakukan dosa dan semua orang sepakat bahwa itu bisa dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi, saya berani bilang, nggak ada tuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada kabar bagus kalau anda penggemar berbuat dosa. Dari buku-buku agama (khususnya yang menyangkut halal haram) yang saya baca (salah satunya adalah tulisan Syeikh Yusuf Qardhawi), konon awalnya di dunia ini segala sesuatunya adalah HALAL!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau makan apa saja boleh. Mau tidur dengan siapa saja boleh. Bahkan incest (hubungan seksual dengan saudara) pun boleh. Kedengarannya asyik punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, larangan makan makanan tertentu, minum minuman tertentu, tidur dengan orang tertentu, mengambil barang tertentu, dan berbagai varian perbuatan dosa tertentu, datang belakangan dan bertahap. Hikmahnya, kalau bukan hukuman, itu adalah cobaan (Semoga Allah mengampuni saya kalau salah dalam mengambil kesimpulan ini. Bagi anda yang lebih tahu kebenarannya, mohon koreksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok saya bilang kabar bagus? Iya, saya bilang bagus karena ternyata awalnya Allah membolehkan semua perbuatan dosa itu. Kalau begitu, mungkinkah suatu saat Allah akan membolehkannya kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlindung kepada Allah dari niat-niat berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah saya melalui berbagai telaah para ulama yang telah melewati berbagai telaah para alim dan seterusnya, menyatakan bahwa tempat di mana kita bebas berbuat dosa itu ada. Yaitu di SURGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau makan apa saja, Insya Allah boleh. Mau tidur dengan siapa saja, Insya Allah boleh. Mau rumah besar yang pakai, jangankan kolam renang, tapi sungai air susu, ada! Pokoknya SURGA adalah tempat dipuaskannya berbagai hawa nafsu yang telah tertahan terkendali selama ‘puluhan atau ratusan tahun yang singkat’ selama hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, ketika segala sesuatunya berlimpah, ketika segala sesuatunya menyenangkan, ketika segala sesuatunya abadi, ketika segala sesuatunya diridhai oleh Sang Pemberi, tanpa harus mengkhawatirkan masalah legalitas, dan itu hanya terjadi di SURGA, masihkan kita akan berpikir tentang berbuat dosa? Berbuat dosa di SURGA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tidak tuh! Karena di SURGA tidak ada dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau anda penggemar berbuat dosa, bias anda bersabar ‘sebentar saja’?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2364463782962441621?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2364463782962441621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2364463782962441621' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2364463782962441621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2364463782962441621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/tempat-aman-berbuat-dosa.html' title='Tempat Aman Berbuat Dosa'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RruVkfTJYmI/AAAAAAAAAFM/CRqx3D7IURY/s72-c/sabar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6860370860106456332</id><published>2007-08-08T12:40:00.000+08:00</published><updated>2007-08-08T13:05:21.721+08:00</updated><title type='text'>Bilangan Kecil &amp; Bilangan Besar</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrlOuPTJYkI/AAAAAAAAAE8/NzAEpENuCOY/s1600-h/bilangan.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096191009634214466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrlOuPTJYkI/AAAAAAAAAE8/NzAEpENuCOY/s320/bilangan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillahirrahmaanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ini bukan dari saya. Ilmu ini ilmunya Allah. Ilmunya Allah tidak akan pernah habis-habis. Sebagaimana judul blog saya dan pengantarnya.&lt;br /&gt;Ilmunya Allah banyak. Bilangannya besar. Semoga saya tidak salah, tetapi bilangan kecil tidak berlaku bagi Allah. Bilangan kecil hanya berlaku bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, jumlah orang menang selalu jauh lebih kecil daripada jumlah orang kalah. Jumlah orang yang menghadiri pengajian selalu lebih kecil daripada yang tidak. Jumlah orang kaya selalu lebih kecil daripada orang miskin, seperti pula ditegaskan oleh Hukum Pareto, bahwa 80% uang yang beredar dikuasai oleh 20% orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Allah Maha Pengasih dan Pemurah. Ketika kita bicara tentang nikmat, yang berlakupun adalah bilangan besar. Nikmatnya Allah sungguh besar. Saking besarnya, tidak ada otak seencer apapun, tidak ada prosesor secepat apapun, yang mampu menghitungnya. Kalau tidak percaya, coba saja! Coba saja hitung, berapa liter beras yang sudah kita makan selama hidup kita? Berapa gallon air yang sudah kita minum? Berapa ekor ikan yang sudah kita santap? Berapa ini dan berapa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, apa pula yang bisa membuat kita kufur nikmat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita tak sadar. Bahwa nikmat Allah ada di mana-mana. Tak seinci tanah di dunia di mana kita bisa mengingkari bahwa di situ tidak ada nikmat Allah. Makanya jangan pandang enteng. Jangan menyia-nyiakan apapun. Apalagi menganggap sesuatu tiada berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pikir. Di zaman Rasulullah SAW, manusia apa kenal ban mobil? Tapi Allah sudah menyediakan bahan bakunya berupa pohon karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir lagi. Di zaman Rasulullah SAW, manusia apa kenal minyak tanah, bensin, gas, atau bahan bakar lainnya? Tapi Allah sudah menyediakan semuanya di perut bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih, pikir lagi. Di zaman Rasulullah SAW, manusia apa kenal komputer? Tapi Allah sudah menyediakan bahan baku hardware dan brainware yang bisa membuat software.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini nikmat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, sejarah bisa berulang. Sesuatu yang saat ini kita pandang enteng, pandang sebelah mata, bisa jadi di generasi ke tujuh kita malah jadi bahan vital. Ketika Allah sudah menyediakan bahan bakunya, sungguh keterlaluan bila kita masih juga malas memikirkan bagaimana menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah ilham ba’da Isya. Distimulasi oleh ustadz Mansur Salim (Semoga Allah memberi berkah berlimpah ruah kepada beliau. Beliau sudah nyaris tidak melihat mata lahirnya. Tapi mata hatinya, Subhanallah! Tembus pandang atas berbagai hikmah kehidupan). Beliau tiba-tiba menelepon saya katanya mau berkunjung ke mesjid kompleks kami yang baru jadi dan mau kasih ceramah kalau ada yang mau dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kalau Allah yang punya ilmu, Allah memasukkan dalam hati seseorang, Allah menggerakkan bibir seseorang untuk mengajarkan ilmunya, maka terlalu banyak hikmah yang harus dipetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini rasanya terlalu ringkas untuk menulis semua hikmah yang terpetik. Tapi biarlah. Sesedikit apapun yang bisa saya rekam di sini, yang penting esensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada 2 esensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu. Bahwasanya Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Apapun ada tujuannya. Apapun ada gunanya. Kalau tidak ketahuan sekarang, mungkin nanti. Kalau bukan oleh kita, mungkin oleh anak cucu kita. Makanya kita jangan memandang enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua. Bahwasanya sebagai muslim yang bersyukur, seharusnya kita hidup di bawah semangat ‘Para Penemu’ (the Inventors). Kita seharusnya menguasai penemuan-penemuan besar dalam bidang apapun dalam kehidupan ini. Rutinitas hidup kita harusnya adalah rutinitas ilmiah. Kalau salah dicatat sebagai kesalahan dan tidak diulang lagi. Langkah berikutnya adalah mencari jalan lain yang tidak salah. Jalan lain yang benar. Bukankah dengan cara ini kita akan bertemu dengan kebenaran pada akhirnya? Kebenaran yang tidak lain adalah penemuan? Bukankah ini yang disebut dengan metode ilmiah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ini terdengar sedikit atau kecil. Tapi bila kita amalkan, dahsyat! Besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu apa lagi?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6860370860106456332?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6860370860106456332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6860370860106456332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6860370860106456332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6860370860106456332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/bilangan-kecil-bilangan-besar.html' title='Bilangan Kecil &amp; Bilangan Besar'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrlOuPTJYkI/AAAAAAAAAE8/NzAEpENuCOY/s72-c/bilangan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4568056220175765194</id><published>2007-08-07T07:23:00.000+08:00</published><updated>2007-08-08T13:06:46.474+08:00</updated><title type='text'>Demo 100% Halal!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrlPVvTJYlI/AAAAAAAAAFE/8jFUJwy9cT0/s1600-h/demo.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096191688239047250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrlPVvTJYlI/AAAAAAAAAFE/8jFUJwy9cT0/s320/demo.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nggak tau ini asyik apa tidak asyik. Karyawan sebuah perusahaan di Medan demo karena mau di PHK. Demo itu biasa di Indonesia. Bahkah demo itu perlu. Kalau tidak, kalangan media bisa kehabisan berita. Tapi yang tidak biasa, cara demo karyawan perusahaan di Medan ini. Mereka demo buka baju! Yang bikin heboh di pemberitaan media massa, karena yang demo buka baju bukan hanya karyawan pria, tapi juga karyawan wanita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nauzubillahi min dzalik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata peserta demo mereka begitu karena tidak ada lagi yang peduli akan nasib mereka. Masak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 hal yang mau saya komentari. Mungkin kalau saya rajin mikir, lebih banyak hal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tentang cara demo dengan buka baju. Ini haram! Maaf, bukan bermaksud melecehkan, apalagi yang ikutan demo kemarin kebanyakan wanita tua. Haram weh! Saya khawatir aja, kalau cara-cara begini kita anggap biasa, lama-lama jadi kebiasaan. Bisa keterusan. Awalnya cuman orang Medan. Awalnya ibu-ibu berumur. Kalau sudah biasa, bukan cuman orang Medan, tapi orang Jawa, orang Sulawesi, orang Kalimantan, semua pada ikut-ikutan. Kalau di Papua sih bukan demo untuk PHK, tapi demo adat. Bukan adat Papua kalau tidak menari sambil buka baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berabe kalau demo buka baju sudah menular ke ibu-ibu muda. Wah ini pasti ribut. Serunya bisa nambah. Coba aja bayangkan kalau yang demo buka baju itu para pramugari muda nan elok cantik. Bisa-bisa yang kuat iman jadi goyah. Yang tadinya berteriak lantang ‘Haram’ bisa luntur dikit jadi ‘Halam’. Media yang meliput juga tidak kalah riuh. Kalau tadinya sekelas Kompas, Media Indonesia, Republika, pasti kalau yang demo buka baju para dara ayu, media yang datang bertambah seperti Playboy Indonesia, FHM, dan anda sebut semua media syahwat yang lain deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tentang klaim para peserta demo bahwa mereka begitu karena tidak ada yang peduli akan nasib mereka. Eh, apa sudah lupa pada yang Maha Peduli?! Yah, gimana Yang Maha Peduli mau peduli kalau ibu-ibu pendemo sendiri tidak peduli kepada-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah segala sesuatu itu ada maksudnya? Mana tahu para pendemo mau di PHK karena pekerjaan lain yang lebih bagus sudah menunggu? Mana tahu kalau pekerjaan sekarang ternyata membahayakan? Mana tahu kalau Yang Maha Peduli tahu kalau para pendemo lebih bagus kerja wiraswasta daripada jadi karyawan? Siapa yang tahu? Dialah yang Maha Tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbok ya demo cari cara kreatif. Tapi cara baik-baik dong. Kalau sudah begini naga-naganya, mungkin di MUI sudah perlu ada bagian yang mengeluarkan sertifikat halal khusus untuk cara-cara demo. Jadi kalau orang berdemo, ada sertifikatnya. Tertulis besar-besar: DEMO INI 100% HALAL!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu kali yah? Hehehe&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4568056220175765194?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4568056220175765194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4568056220175765194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4568056220175765194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4568056220175765194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/demo-100-halal.html' title='Demo 100% Halal!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrlPVvTJYlI/AAAAAAAAAFE/8jFUJwy9cT0/s72-c/demo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-364888627740972694</id><published>2007-08-06T17:38:00.000+08:00</published><updated>2007-08-08T13:09:48.375+08:00</updated><title type='text'>Kalla Evans Part 2</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrcEQvTJYjI/AAAAAAAAAE0/M0JCHFEAlr8/s1600-h/evans-gareth.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095546189014196786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrcEQvTJYjI/AAAAAAAAAE0/M0JCHFEAlr8/s320/evans-gareth.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Analisa berita yang muncul di harian Kompas (4/7) tentang Wapres Kalla yang meminta kegiatan studi banding dihapus saja, dan tentang mantan menlu Australia Garreth Evans yang datang jauh-jauh ngajari kita bahwa Indonesia rawan konflik, tidak berhenti di Part1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya dong, kalau ada &lt;a href="http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/kalla-evans-part-1.html"&gt;part1&lt;/a&gt; ada kelanjutannya. Ini part2-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah saya analisa lebih jauh, orang-orang Indonesia memang cerdik cendekia. Kalau kisah-kisah orang Indonesia yang cerdik itu banyak sekali. Sudah jadi komoditas, saking banyaknya. Contoh para pejabat korup yang cerdik. Silahkan baca atau tonton atau dengar berita setiap hari. Ada saja pejabat yang diseret ke meja hijau karena kasus korupsi. Tapi dasar cerdik, bukan berarti kalau sudah di meja hijaukan mereka tidak bisa ‘memutih’-kan suasana. Mulai dari yang sudah kena vonis tapi tidak masuk penjara dengan alasan sakit, sampai dengan yang kena tuduh bisa mengubah status jadi saksi saja. Pokoknya kalau ada kontes cerdik se-dunia, pejabat Indonesia masuk 10 besar lah. Mungkin hanya kalah sama Abunawas yang memang jadi panutan para cerdik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada yang melegakan. Selain orang-orang cerdik, kita juga masih punya stok orang cerdik-cendekia. Cerdik berwawasan, ikhlas, dan berorientasi ibadah. Tindakannya memang untuk kemakmuran orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat Jaksa Agung Indonesia yang tidak berumur panjang? Betul, almarhum Baharuddin Lopa. Beliau ini harus kita akui kecerdikannya, begitu pula kecendekiawanannya. Masih ingat saya baca profil beliau di Kompas dulu. Mantan Menkumham yang juga asal Makassar Hamid Awaluddin bercerita pernah diundang Lopa makan siang. Hamid Awaluddin bilang, dia kira seperti biasanya pejabat, akan diundang makan siang di restoran bagus. Ternyata akhirnya bereka berdua makan siang nasi bungkus di kantor Lopa. Sungguh pribadi cerdik-cendekia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meminta studi banding dihapus saja, Wapres Kalla juga bisa kita bilang cerdik-cendekia. Tentang Wapres Kalla, saya punya kesan beliau orang konsisten. Kalau anda jeli, lihat ‘pakaian resmi’ beliau sehari-hari. Kemeja lengan panjang polos (kalau tidak salah warnanya selalu putih. Dulu masih tahun 2000, saya di Makassar bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) bikin pelatihan ekspor yang dibiayai oleh pihak JICA. Waktu itu dengan counterpart dari Kementerian Perdagangan pusat, kami sedang pikir-pikir untuk mencari siapa yang akan membuka acara. Kebetulan Pak Jusuf Kalla baru berhenti sebagai Menteri Perdagangan. Saya mengontak kantor beliau di Makassar sekitar seminggu sebelum acara. Kepada sekretaris beliau, saya minta tolong dengan sangat supaya bisa ‘digol’-kan agenda kami ke dalam jadual Pak Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil di hari H beliau muncul sendirian. Tak ada romobongan. Pakaiannya, persis seperti yang sering anda lihat di TV sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat. Di Gorontalo ada SMU Cendekia. Nama ini bagus sekali sebagai nama sekolah. Kata ‘cerdik’-nya tidak ada. Saya pernah diundang 2 kali untuk datang memberi motivasi belajar kepada para siswanya. Bangunan sekolahnya bagus. Apalagi itu ada di Gorontalo, yang ketika saya berkunjung ke sana, baru jadi provinsi. Dalam hati saya berpikir, Sulsel provinsi saya bermukim harus cemburu kalau begini. Orang Gorontalo sudah berpikir menghasilkan para cerdik-cendekia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pamungkas tulisan ini, kembali ke Pak Guru Evans yang mulia yang datang jauh-jauh ‘tanpa pamrih’ untuk kasih tahu Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqi bahwa Indonesia rawan konflik. Syukurlah. Pak Jimly ternyata dari kalangan cerdik-cendekia. Kalimat pamungkas beliau dalam menjamu ‘tamunya’ adalah, “Indonesia memang rawan konflik. Tapi potensi internal masih jauh lebih besar untuk bisa menghindari konflik itu.” Hahaha! Ini kalau saya bilang Mr. Evans di angkat dulu. Setelah itu baru di-smah down! Sungguh pribadi yang cerdik dan cendekia pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral terpenting di balik Kalla Evans Part2, juga tidak jauh-jauh dari part1. Bahwa sudahilah mental inferior dalam belajar dan berinisiatif. Mengutip Pak Jimly, ditambah interpretasi bebas saya atas perkataan beliau, orang-orang bule itu ciptaan Tuhan. Kita juga ciptaan Tuhan. Kita tidak perlu bersikap inferior terhadap bule-bule itu. Tidak perlu juga bersikap superior. Sebaik-baik sesuatu adalah yang tengah-tengah. Begitu agama Islam mengajarkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gambar diambil &lt;a href="http://images.search.yahoo.com/images/view?back=http%3A%2F%2Fsearch.yahoo.com%2Fsearch%3Fei%3DUTF-8%26p%3Dgareth%2Bevans%2Bpicture%26fp_ip%3DID&amp;w=152&amp;amp;h=202&amp;imgurl=www.australianpolitics.com%2Fimages%2Fpeople%2Fevans-gareth.jpg&amp;amp;size=6.2&amp;name=evans-gareth.jpg&amp;amp;rcurl=http%3A%2F%2Fwww.australianpolitics.com%2Fmedia%2F98-02-20evans-speech.shtml&amp;rurl=http%3A%2F%2Fwww.australianpolitics.com%2Fmedia%2F98-02-20evans-speech.shtml&amp;amp;p=gareth+evans&amp;type=jpeg&amp;amp;amp;no=1&amp;amp;tt=740"&gt;dari sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-364888627740972694?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/364888627740972694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=364888627740972694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/364888627740972694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/364888627740972694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/kalla-evans-part-2.html' title='Kalla Evans Part 2'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrcEQvTJYjI/AAAAAAAAAE0/M0JCHFEAlr8/s72-c/evans-gareth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4071672701182097809</id><published>2007-08-06T17:36:00.000+08:00</published><updated>2007-08-06T18:02:03.143+08:00</updated><title type='text'>Kalla Evans Part 1</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrbxX_TJYiI/AAAAAAAAAEs/-phTIKEG3Xk/s1600-h/Kalla.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095525422847320610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrbxX_TJYiI/AAAAAAAAAEs/-phTIKEG3Xk/s320/Kalla.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tentu ini kehendak Allah. Ketika dua kejadian berbeda muncul jadi berita di hari dan halaman yang sama di harian Kompas edisi 4/7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita pertama tentang perintah Wapres Jusuf Kalla. Kalla minta para pejabat tidak usah bikin kegiatan studi banding lagi ke luar negeri kalau memang tidak benar-benar penting. Satu karena ini menghabiskan uang rakyat. Kedua, mitra di luar negeri, kata Kalla, sudah capek dengan kunjungan pejabat Indonesia. Hari ini ada yang datang studi banding dan nanya satu hal, besoknya ada lagi yang datang padahal isi pertanyaannya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kedua tentang kunjungan mantan menlu Australia Garreth Evans ke Mahkamah Konstitusi. Selain sowan, Evans mengingatkan ketua MK betapa besar potensi konflik di Indonesia. Konflik kata Evans, terutama besar potensinya di Aceh, Ambon, dan Papua. Salah satu yang berpotensi menyebabkan konflik adalah masalah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca umumnya saya yakin menganggap dua berita itu tidak ada hubungannya. Tapi saya lihat hubungannya ada. Entah kenapa cuman saya yang lihat. Mungkin karena cuman saya yang mau menghubung-hubungkan kedua berita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya hubungannya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jawabannya terlalu mengada-ada. Tapi biar saja. Yang penting ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya komentar dulu tentang berita pertama. Mau hapus studi banding? Impossible! Studi banding itu salah satu penggerak ekonomi Indonesia. Bayangkan, dengan studi banding ke luar negeri, industri pertama yang kena imbas bagusnya adalah travel agent dan perusahaan penerbangan. Teman saya, dan boleh tanya teman anda, yang kerja di dua industri itu sudah konfirmasi ke saya, klien terbesar mereka ya pejabat. Terus ada industri media, terutama cetak, lebih spesifik lagi majalah, lebih detail lagi majalah shopping. Nah, karena kegiatan belanja di luar negeri (yang dibungkus dengan judul studi banding) oleh pejabat itu memerlukan persiapan (dengan kata lain perlu mengecek katalog belanja dulu), majalah shopping adalah jawaban paling tepat. Calo-calo imigrasi juga kena imbas. Setiap pejabat yang mau keluar negeri, tentu harus pakai paspor. Namanya juga pejabat, malas dong turun tangan langsung ke lapangan. Makanya pakai calo urus paspor. Di sini saja uang beredar besar. Lucunya, para pejabat itu sebelum berangkat shopping ke luar negeri, mesti didahului shopping juga di dalam negeri. Ini untuk memenuhi perlengkapan standar sebagai ‘turis’. Namanya juga mau naik pesawat jauh lintas negera, harus berkelas dong. Namanya juga ‘turis’ gitu loh! Terbilang kaca mata rayban sebagai perlengkapan standar. Ditambah tas troli kulit. Satu untuk bagasi satu untuk bawa masuk kabin. Jaket juga mesti yang bagus. Apalagi kalau negara tujuan bermusim empat. Perlu dong ada syal, sweater, penutup kepala wol, sarung tangan, de el el. Untuk urusan ini saja uang beredarnya selangit. Senter-senter saya, mungkin ini yang bikin angka inflasi naik terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau daftar di atas, saya teruskan, bisa tidak habis-habis. Pokoknya, ekonomi Indonesia berputar balik karena studi banding ini. Tapi sayang, industri percetakan buku tulis dan alat tulis tidak terlalu kena imbasnya. Mungkin lokasi toko-toko yang jual buku tulis dan alat tulis kurang bagus atau tersembunyi jadi selalu kelupaan kena imbas. Padahal mereka semestinya justru sangat dibutuhkan kalau pejabat itu studi banding. Kan untuk menulis hasil studinya selama di luar negeri. Itu pasti banyak. Yah, kalau ternyata selama di luar negeri aslinya memang cuman belanja, kan buku tulis dan alat tulis tetap penting untuk menulis daftar belanjaan gitu, biar tidak ada yang kelupaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tentang berita kedua. Ini ada orang bule mantan pejabat datang ke Indonesia kasih tau kita bahwa kita rawan konflik. Lucu, karena orang bule mengaku-ngaku lebih tahu daripada kita sendiri yang sehari-hari hidup, makan, tidur, ‘e’e di negeri ini. Orang-orang bule itu memang kadang bertingkah betul. Tidak semua memang, tapi kebanyakanlah. Kalau nggak percaya hitung sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trauma saya sebagai bangsa diajari oleh orang bule ketika dulu masih jaman Soeharto, Indonesia sudah di puncak krisis, diajari pula oleh IMF yang pemimpinnya waktu itu saya lupa tapi kalau tidak salah orang Belanda. Ada kan fotonya besar-besar, Presiden Soeharto disuruh tanda tangan sambil difoto, di shooting, dan dipelototi orang sebangsa sedunia, sambil bos-nya IMF lipat tangan serasa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya lihat saja sampai sekarang. Belum kelar krisis satu, muncul dua krisis baru. Belum habis kaget kita, ditimpa lagi 3 kiris. Ini namanya deret apa sih? Deret ukur atau deret hitung? Kalau saya sih menamakan ini ‘deret terus’, deretannya terus-terus saja ada. Seperti virus di komputer saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bagian terakhirnya. Di sini hubungan kedua berita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Mungkin karena studi banding ke luar negeri memang mustahil wal mustahal kita hapuskan, dengan kata lain ini sudah jadi budaya formal legal, yang secara tersirat sudah ada dalam standar operating procedure setiap orang jadi pejabat, maka orang-orang di luar negeri pun sudah tahu. Bahwa pejabat Indonesia itu suka minta diajarin. Mereka sudah ngerti, biar pejabatnya bergelar Dr.-PhD, orang Indonesia memang merendahkan diri dengan selalu mau diajari. Makanya Garreth Evans datang mengajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini namanya tidak ada akibat kalau tidak ada sebab. Apalagi bule-bule Eropah dan Amerika, sudah badan mereka tinggi, klop deh citranya kalau mereka memang cocok jadi guru untuk kita. Belakangan orang-orang Asia lain seperti Jepang, Korea, Cina sudah mulai ikut-ikutan. Tapi bagusnya, karena badan mereka tidak setinggi ‘guru-guru’ kita dari Eropah-Amerika, tingkah mereka lebih seperti tutor, atau guru les. Tapi tetap saja, mereka ngajari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini anda bisa lihat hubungan kedua berita di atas, kan? Berhubungan, kan? Kalau Wapres Kalla minta studi banding dihapus karena alasan yang sudah disebutkan di bagian awal tulisan ini, saya juga minta dihapus karena alasan yang ini. Karena studi banding bikin kita di mata orang-orang luar negeri semakin bodoh saja. Kita selalu menempatkan diri sebagai mau diajar saja. Kita tidak pernah menghargai proses. Bahwa dengan sistem yang kita bikin sendiri, meskipun nanti terbukti ada salahnya, yang penting kita evaluasi dan perbaiki, itu tetap lebih bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya mau bagaimana lagi? Wong uang beredar melalui studi banding ini besar?! Celakanya, ini membantu ekonomi kita juga berputar. Berputar jungkir balik tapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusiiiiiiiiiing………………!!!!!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gambar diambil &lt;a href="http://www.liputan6.com/"&gt;dari sini&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4071672701182097809?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4071672701182097809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4071672701182097809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4071672701182097809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4071672701182097809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/kalla-evans-part-1.html' title='Kalla Evans Part 1'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrbxX_TJYiI/AAAAAAAAAEs/-phTIKEG3Xk/s72-c/Kalla.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-447819011311487286</id><published>2007-08-05T13:43:00.000+08:00</published><updated>2007-08-05T14:21:41.530+08:00</updated><title type='text'>Bloggasme!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrVsK_TJYfI/AAAAAAAAAEU/Uy1yqZu4A3Q/s1600-h/bloggasme.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095097489485816306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrVsK_TJYfI/AAAAAAAAAEU/Uy1yqZu4A3Q/s320/bloggasme.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sorry. Maaf. Gomen nasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga anda mengerti arti kata yang menjadi judul di atas. Suku pertama 'Blog' tentu anda mengerti. Suku belakang 'gasme', saya yakin anda juga tau asalnya dari mana. Yang jelas sekarang saya lagi dipuncak kenikmatan ber-Blog. Saya sedang Bloggasme!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan dunia Blog dicomblangi beberapa orang. Pertama saudar Taufik Polapa. seorang member sekaligus provokator di Mailing List Gorontalo Maju 2020 (GM 2020). Bung Taufik mengirimkan saya email tentang blognya. Setelah saya klik, "Oh, ini namanya Blog?" pikir saya ketika itu. Jujur saya tertarik. Maklum, ada fotong Bung Icky (pangginlan Bung Taufik Polapa) dan macam-macam tentang dia di situ. Bagus juga kalau saya punya blog sendiri....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk dicinta, Bang Amril Taufik Gobel yang tiba. Bang Amril, adalah provokator lain di milis yang sama. Hanya saja, abang yang satu ini provokator masalah internet. Beliau, melalui YM, menyenangkan hati saya bahwa beliau suka tulisan-tulisan saya di milis. Baliau tawarkan,"Bung Irwan, bikin Blog saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tidak gaptek-gaptek amat. Tapi semangat belajar teknologi maju tidak sedahsyat dulu. Sekarang ini kalau mau belajar teknologi baru memang harus pakai 'viagra' dulu biar bisa 'on' semangat saya. Nah, Bang Amril ini bawa viagra untuk saya. Bang Amril setuju untuk bikin blog saya ini, selebihnya saya tinggal posting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat. Waktu itu tanggal 11 Juli, pagi, Bang Amril ketika chatting dengan saya di YM setuju membuatkan saya blog. Pikir saya untuk itu butuh beberapa hari atau mungkin minggu. Ternyata sorenya sekitar jam 3, Bang Amril SMS saya, "Pak Irwan, Blognya sudah jadi. Selamat berblog ria".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms ini saya tanggapi biasa saja. Tapi setelah saya coba akses, bukan cuman blog saya, beberapa tulisan saya di milis GM2020 sudah bisa dibaca. Ada fotonya lagi! Subhanallah! Tidak bisa saya lukiskan betapa senangnya saya ketika itu. Semoga kerja bagus Bang Amril tidak saya sia-siakan dengan terus memosting tulisan bagus pula. Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu rutinitas hidup saya banyak berubah. Staf kantor saya mungkin bisa merasakan. Saya lebih banyak di ruangan kerja. Buku-buku yang dulu bertumpuk belum saya baca sekarang saya baca habis untuk cari bahan tulisan. Di rumah setali tiga uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya juga lihat perubahan ini. apalagi sejak saya pakai modem Indosat yang bisa dibawa-bawa. Sebagian besar waktu saya habiskan di depan laptop untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua tulisan saya posting memang. Banyak pertimbangan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya ke toko buku, saya beli banyak buku tentang blogging. Istri saya bilang, kok beli buku lagi? Kan masih banyak buku yang belum dibaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Namanya juga lagi merasa nikmat. Nikmatnya Bloggasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau nyoba? Buktiin aja. Rame-rame kalau perlu. Halal kok!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Foto diambil &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/pscafe/17554898/"&gt;dari sini&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-447819011311487286?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/447819011311487286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=447819011311487286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/447819011311487286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/447819011311487286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/bloggasme.html' title='Bloggasme!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrVsK_TJYfI/AAAAAAAAAEU/Uy1yqZu4A3Q/s72-c/bloggasme.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2743003992764455715</id><published>2007-08-03T23:37:00.000+08:00</published><updated>2007-08-04T07:06:22.867+08:00</updated><title type='text'>Kok nggak kepikir, ya?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrO0zPTJYeI/AAAAAAAAAEM/060YNfg-Lc4/s1600-h/sunset.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094614395859329506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrO0zPTJYeI/AAAAAAAAAEM/060YNfg-Lc4/s320/sunset.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Baca kalimat judul, mungkin kita sudah bisa menebak, ini urusannya dengan kreatifitas. Betul. Bukan satu dua kali saya pernah ucapkan kalimat itu. Kok nggak kepikir ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya sekitar 3 tahun lalu. Ceritanya bermula ketika saya akrab dengan yang mulia Konsul Jenderal Jepang di Makassar ketika itu, Bapak Motokatsu Watanabe (biasa saya sapa Watanabe-san).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watanabe-san sangat berbeda dengan para pejabat Konjen yang pernah saya kenal di Makassar. Kelihatannya pejabat satu ini gila kerja dan penuh ide di kepalanya. Mungkin karena ini kami akrab. Saking akrabnya, orang jadi sering salah sangka, bahwa saya adalah staf penerjemah resmi Watanabe-san. Padahal saya diminta tolong beliau secara pribadi untuk menemani ke berbagai kegiatan (termasuk banyak kegiatan resmi sebenarnya), dan saya dengan senang hati menemani sekaligus menjadi penerjemahnya. 100% free of charge!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What’s in it for me? Untungnya buat saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, saya jadi ketemu banyak orang yang mungkin kalau bukan jalan dengan Watanabe-san saya tidak bakal pernah punya kesempatan berkenalan. Ambil contoh, saya pernah menemani beliau sampai ke Gorontalo, bahkan bertindak sebagai penerjemah beliau dalam pertemuan-pertemuan resmi selama di Gorontalo. Termasuk ketika bertemu dengan Gubernur Fadel Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, saya ngelantur kejauhan. Tulisan ini bukan tentang hubungan saya dengan Watanabe-san. Tulisan ini sesuai prolog, tentang kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Watanabe-san, suatu ketika beliau telepon saya. “Irwan-san, tolong datang ke kantor saya, saya perlu bicarakan sesuatu”. Sayapun datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mejanya, Watanabe-san punya satu set proposal dalam bahasa Jepang. Beliau mulai bicara ke saya, “Irwan-san, di Jepang ada organisasi pencinta sunset. Saya lihat Pantai Losari punya sunset indah sekali. Tapi kenapa di sini tidak ada organisasi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Saya pikir, betul juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Watanabe-san lanjut to the point. “Irwan-san. Saya mau bikin program pertukaran foto sunset antara sunset Makassar dengan organisasi pencinta sunset di Jepang. Di Jepang organisasi ini serius sekali. Mereka rutin bikin pameran foto di masing-masing daerah di Jepang. Bagaimana kalau kita kontak mereka dan minta bikin di Makassar dan Makassar sebagai tuan rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Kembali saya pikir, betul juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Watanabe-san bicara panjang lebar. Saya setuju membantu. Kami pun langsung action ketika beliau minta dipertemukan dengan beberapa orang dari instansi terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang saya tidak mengerti dari Watanabe-san. Ketika bertemu dengan beberapa orang dan berbicara tentang ide sunset-nya, ia dengan berani bilang, “Sunset Pantai Losari indah sekali. Bahkan termasuk dalam satu di antara tiga sunset terindah di dunia.” Statement ini dibuatnya berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Tanya ke Watanabe-san, “Emang dari mana tahu kalau sunset losari satu di antara tiga terindah di dunia?” Jawabnya, “Yah, saya karang-karang saja. Emangnya ada yang mau cari tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Kali ini pun saya berpikir lagi, betul juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu masih ada beberapa kali saya berpikir. Kelihatannya Watanabe-san penuh dengan ide yang bikin saya selalu berpikir, betul juga yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dua hal yang tidak bisa saya lupa dari pengalaman dengan Watanabe-san. Satu, beliau beberapa kali bilang bahwa banyak sekali hal yang kita anggap sepele padahal sebenarnya bisa tidak sepele. Bahkan kalau kita pandai melihat peluang di belakangnya, hal-hal sepele itu bias berubah menjadi signifikan. Seperti kisah sunset di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua, ternyata meskipun seorang diplomat yang tidak bisa bicara sembarangan, Watanabe-san berani bicara sembarangan. Tentu dengan perhitungan dan tidak membawa mudharat. Ini masalah strategi atau taktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pelajaran berharga itu sampai sekarang selalu saya ingat. Faedahnya besar. Terutama kalau mau jadi kreatif. Dengan kata lain, untuk menjadi kreatif, banyak-banyaklah mencermati hal-hal yang dianggap sepele oleh orang banyak. Pacu diri anda untuk berpikir berbagai macam kemungkinan. Caranya? Tanyakan sebelum menyesal, “Kok nggak kepikir ya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2743003992764455715?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2743003992764455715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2743003992764455715' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2743003992764455715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2743003992764455715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/kok-nggak-kepikir-ya.html' title='Kok nggak kepikir, ya?'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrO0zPTJYeI/AAAAAAAAAEM/060YNfg-Lc4/s72-c/sunset.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1188399916481793395</id><published>2007-08-03T07:51:00.000+08:00</published><updated>2007-08-05T14:31:45.852+08:00</updated><title type='text'>Semoga Bagus Berkelanjutan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrVuqvTJYhI/AAAAAAAAAEk/XsuXVzq_Pbg/s1600-h/bagus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095100233969918482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrVuqvTJYhI/AAAAAAAAAEk/XsuXVzq_Pbg/s320/bagus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Assalaamu alaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah Jumat ke-3 sejak mesjid di kompleks saya Kompleks Taman Losari, difungsikan. Namanya Nurul Barakah. Belum diresmikan, tapi begitu kami sepakat menamakan mesjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara Mesjid Nurul Barakah, banyak tetangga sejamaah sering berkaca-kaca matanya kalau kami berkumpul. Maklum, karena masih baru, para jamaah masih sentimentil kalau mengingat-ingat sejarah berdirinya mesjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal di kompleks sekarang sudah masuk tahun ke-5. Meski bukan penduduk sejak awal, sedikit banyak saya tahu sejarah berdirinya mesjid Nurul Barakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, kalau ada waktu ke Makassar, coba anda kunjungi kompleks perumahan Tanjung Bunga. Kata orang, ini Lippo Karawaci-nya Makassar. Memang pengembangnya juga sama-sama Grup Lippo. Di wilayah perumahan Tanjung Bunga ada cukup banyak kompleks cluster. Di antaranya kompleks tempat saya tinggal. Selain itu ada mall, lokasi wisata pantai, sekolah bertaraf internasional, bahkan sementara dibangun lokasi wisata waterboom oleh kelompok bisnis besar nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada yang aneh. Di kompleks ini sejak awal tidak ada sarana ibadah, termasuk mesjid. Makanya banyak yang mencibir, masak kompleks besar dan moderen begini tidak ada mesjidnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah awalnya, kalau kami bertetangga sesama muslim berkumpul, impian punya mesjid selalu jadi topik primer pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri dapat banyak pengalaman berharga. Ternyata orang bertetangga memang sangat majemuk. Dalam mewujudkan impian punya mesjid ini misalnya, ada tetangga yang bilang, “Kita langsung saja turunkan massa. Kita protes, masak kompleks perumahan bergengsi tidak ada mesjid? Apalagi jelas, ini ada perdanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga lain lebih lunak. “Bagusnya jangan sampai rame-rame begitu, pak. Kita bicara baik-baiklah dengan pengelola. Mestinya mereka bisa mengerti. Apalagi perda juga mengatur begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang bahkan sudah berpikir untuk melibatkan pihak internasional. “Kalau perlu, libatkan pihak Arab Saudi”. Tetangga ini mengaku ia punya jaringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, mungkin karena niatnya baik, Allah menunjukkan jalan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami jemaah kompleks memutuskan untuk mulai saja dari hal kecil. Yang penting jamaah bisa ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan di dalam kompleks ada satu rumah berbentuk panggung (rumah jadi yang biasa dipesan orang dari Manado). Di bawahnya ada kolong berlantai paving. Kami pikir, ini sangat ideal. Space yang tersedia untuk shalat cukup luas di kolong rumah. Sarana air bersih dan sumber listrik juga tersedia. Yang terpenting, pemilik rumah yang memang tidak pernah tinggal di rumah itu juga mengizinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Action pertama diambil. Tempat ini kami sulap menjadi mushallah setiap Ramadhan. Tiga tahun lalu ketika kami memulai, semuanya sederhana sekali. Karpet digelar, sekeliling kolong rumah dididirikan kain penutup, pipa wudhu dipasang. Saya masih ingat, 3 tahun lalu listrik di Makassar masih sering byarpet, maka kami pasang genset untuk selalu siap-siap kalau pas lagi ibadah listrik mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena para inisiator adalah para amatiran dalam mengelola tempat ibadah, lucunya karena kami tidak terpikir serius untuk mengontak penceramah jauh sebelum Ramadhan tiba. Akibatnya, ceramah tarwih lebih banyak kosongnya. Di sini pula saya mulai karir sebagai ‘ustadz amatiran’. Maklum, ditodong isi ceramah, daripada kosong ya sudah, saya bicara macam-macam. Para tetangga juga daripada kosong pada manggut-manggut aja dengar ceramah saya. Nggak tau mereka ngerti atau tidak? Hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berikutnya lebih bagus. Mushallah darurat bawah kolong kami terlihat lebih cantik. Jamaah pun lebih banyak, termasuk dari kompleks-kompleks lain, bahkan dari kampung terdekat juga datang ke mushallah kami. Kenyataannya, penceramah masih banyak yang kosong. Lagi-lagi, saya sering diminta ‘ceramah’. Bedanya, tahun ke-2 ‘pangkat’ saya dinaikkan sepihak oleh jamaah untuk sekaligus jadi imam kalau pak imam profesinal tidak datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu saya selalu jadi was-was. Kalau begini bisa malu saya. Ntar kalau tiap hari imam, bacaan saya bias habis, berabe deh. Makanya ‘dengan terpaksa’ saya mulai belajar lagi dan menghapal surah-surah lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun ke-2 ini secara berjamaah kami ketiban untung. Alhamdulillah, seorang warga kompleks kami terpilih menjadi Wakil Walikota (Wawali). Di sini perjuangan mendirikan mesjid dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah terbesar karena pengembang sudah menetapkan sebuah lokasi yang cukup jauh dari pemukiman tapi masih dalam wilayah mereka untuk membangun mesjid. Setelah melihat lokasi, kami semua berkesimpulan sama, siapa yang akan mengisi mesjid terutama untuk shalat 5 waktu di lokasi sejauh itu? Paling juga shalat Jumat dan hari raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal kekuatan baru dengan adannya Wawali sebagai warga, kami mencoba menekan pengembang. Apalagi Pemkot Makassar memang punya saham di perusahaan yang membawahi kompleks perumahan besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil pucuk dicinta ulam tiba. Wawali main tembak langsung. Direksi perusahaan melunak hatinya. Tepat di bulan Ramadhan, malam-malam setelah shalat tarwih, direksi, wawali, dan beberapa tokoh kompleks melakukan survey langsung ke lapangan. Akhirnya ditetapkan satu lokasi, jaraknya sekitar 100 meter dari pos satpam kompleks kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para jamaah kompleks sangat bersemangat. Tapi gambar tak seindah warna aslinya. Janji tinggal janji. Realisasi tak kunjung datang. Sebulan menunggu tak ada aksi. Dua bulan menuggu masih sama. Tiga, empat, bahkan setahun mengunggu, masih tak ada realisasi. Akhirnya wakil jamaah turun gunung lagi. Wawali juga ikut mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setahun lebih, barulah pengembang bertindak nyata. Mesjid yang kami idam-idamkan pun berdiri. Walaupun jauh dari impian sebenarnya, paling tidak perjuangan kami tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, komentar banyak orang waktu pertama kali melihat mesjid ini, lebih mirip gereja daripada mesjid. Hahaha. Saya sendiri tersenyum kecut waktu lihat modelnya pertama kali. Tapi sudahlah. Allah yang punya kuasa, Allah pula yang memberi jalan. Yang terbaik tentu dari-Nya. Yang jelek-jelek pasti ulah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mesjid Nurul Barakah sudah berdiri. Perubahan terbesar bagi jamaah kompleks, kalau dulu mereka sering kumpul sambil ngobrol sambil merokok sambil…..main domino! Sekarang berbeda! Ngumpulnya di mesjid. Sambil ngobrol pengembangan mesjid. Malah lebih jauh, mereka sekarang bikin yayasan. Programnya canggih-canggih. Mau bikin Baitul Mal. Santuni anak yatim. Pokoknya semua semangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah terus memberkahi kompleks kami. Saya yang sampai sekarang ngontrak rumah di sini, terus terang, susah untuk meninggalkan kompleks ini pindah ke kompleks lain. Semoga ini semua bagus. Semoga bagusnya berkelanjutan. Amin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Foto diambil &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/viewsfromtwo/1014050803/"&gt;dari sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1188399916481793395?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1188399916481793395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1188399916481793395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1188399916481793395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1188399916481793395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/08/semoga-bagus-berkelanjutan.html' title='Semoga Bagus Berkelanjutan'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RrVuqvTJYhI/AAAAAAAAAEk/XsuXVzq_Pbg/s72-c/bagus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-8744060160040164572</id><published>2007-07-31T22:33:00.000+08:00</published><updated>2007-07-31T23:01:17.711+08:00</updated><title type='text'>Ketika Allah Memurnikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq9OmvTJYdI/AAAAAAAAAEE/a3TN-52SNyU/s1600-h/murni.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093376131018088914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq9OmvTJYdI/AAAAAAAAAEE/a3TN-52SNyU/s320/murni.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini kisah tentang keikhlasan. Keikhlasan bening yang dijaga kemurniannya oleh Sang Penuntut Keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini nyata. Saya dengar sendiri dari adik ipar saya yang berkata bahwa ia mendengar dari ipar kemenakan kami. Ipar kemenakan kami berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya ustadz Yus (untuk alasan menghormati dan memelihara keikhlasan beliau, nama saya samarkan) baru-baru bercerita tentang pengalaman luar biasa dari ustadz Yus yang diceritakan kepada istrinya dan beberapa jemaah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri ustadz Yus suatu saat berkeluh kesah. Duit nyaris habis sementara dapur harus terus berasap. Makanya istri ustadz Yus mengeluh kepada sang ustadz. "Ustadz, uang sudah tipis. Lain kali kalau ceramah, dan jemaah kasih amplop, diambil saja ustadz, untuk bekal hidup." Begitu pinta sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan saya tentang seorang ustadz Yus adalah sebagai berikut. Beliau masih muda. Usianya 2 tahun lebih tua dari saya. Beliau 37 tahun. Tapi dari segi keilmuan, beliau terbilang sangat senior. Belakangan saya tahu dari jaringan para pendakwah, ustadz Yus yang sangat sederhana itu bukan sekedar terkenal sebagai ahli hadits di Indonesia saja, tapi beliau juga terkenal di negara-negara Arab. Sebagai seorang pengkaji hadits yang diperhitungkan, dakwah beliau lintas negara. Meskipun beliau tidak ke mana-mana. Ketika diam bukan berarti beliau tidak berkata-kata. Ketika tidur bukan berarti beliau tak terjaga. Ketika susah bukan serta merta beliau melarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Yus banyak menulis buku. Terutama tentang kajian hadits. Beliau gaptek. Tapi beliau bukan tipe yang mudah putus asa. Bukunya beliau diktekan kepada seorang juru ketik. Selanjutnya juru ketik yang melakukan kegiatan menulis yang sesungguhnya. Tapi toh buku-buku beliau terbit juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa tepatnya. Tapi dalam ingatan saya belum lebih dari setengah tahun lalu. Beliau diberi ujian berat oleh Sang Khalik. Ketika beliau sedang mengantar istri dan satu di antara 2 anak kembar laki-laki beliau untuk membeli terang bulan di pinggir jalan. Setahu saya beliau tipe pengendara yang berhati-hati. Katanya sesampai di gerobag terang bulan di pinggir sebuah jalan raya, beliau memarkirkan motor di antara banyak motor lain yang diparkir berjejeran. Istri beliau yang lagi hamil turun untuk membeli terang bulan. Sementara ustadz Yus sendiri dan anak laki-lakinya menunggu di motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam beliau dan anak sekonyong-konyong! Katanya beliau terseret cukup jauh. Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun. Anak laki-laki beliau tewas di tempat. Sementara ustadz Yus tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat melayat ke rumah duka. Ketika saya tanya anggota keluarga beliau, katanya ustadz Yus belum diberitahu tentang kepergian anaknya sebab beliau sendiri masih sering tidak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar seminggu setelah itu saya menjenguk ustadz Yus yang memang sudah bisa dijenguk. Ternyata rahang mulut beliau retak dan harus dioperasi. Ketika saya jenguk, beliau masih dilarang dokter untuk bicara. Makanya beliau dilengkapi dengan whiteboard kecil sebagai media komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, tidak tampak wajah sedih yang berlebih-lebihan di wajah ustadz Yus. Saya tahu mestinya dalam kondisi seperti itu orang-orang biasa akan terus memperbincangkan musibah sebagai tanda berduka. Tapi beliau tetap bersahaja seperti biasa. Ketika saya tanya apa rencana beliau berikutnya, kata beliau, beliau akan ke Sudan untuk melanjutkan studi ilmu haditsnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu karakteristik ustadz Yus. Beliau tidak pernah mau berjanji. Kata Insya Allah pun tidak sembarang beliau gunakan. Ketika diundang menghadiri suatu acara, atau diminta ceramah, beliau biasanya hanya mengangguk tanda telah mengerti jadual yang diberitahukan. Seakan beliau sangat takut mendahului kehendak yang Maha Mengatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi karakteristik lainnya. Ustadz Yus tidak pernah mau menerima amplop sehabis ceramah. Seakan beliau ingin menegaskan bahwa berdakwah bagi diri beliau bukan untuk cari uang. Beliau senantiasa meluruskan dan memurnikan niat di balik niatnya yang menurut saya sudah sangat lurus dan murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu ustadz Yus akan keluar ceramah. Undangan ceramah ini dari sebuah mesjid yang sudah rutin beliau datangi. Ada keprihatinan dalam hati beliau. Beliau prihatin atas permintaan istrinya untuk menerima amplop. Makanya ketika didesak oleh sang istri, beliau akhirnya melanggar kebiasaan selama ini. Ustadz Yus mengiyakan permintaan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa ustadz Yus keluar mengendarai motor bebek yang setia menemani misi dakwah beliau. Motor dipacu menuju mesjid yang dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Yus tidak mendapati mesjid yang dituju. Beliau berputar-putar dan terus mencari. Tapi tetap saja, mesjid yang sudah rutin didatanginya tidak didapatinya. Padahal jemaah sudah menunggu. Bukan kebiasaan ustadz Yus datang terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Yus bahkan tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya beliau menyerah. Ustadz Yus memutuskan pulang ke rumah. Dengan perasaan gundah gulana. Sesampainya di rumah, ustadz bersahaja ini menceritakan pengalamannya kepada sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ustadz Yus mengecek mesjid yang beliau cari. Dengan mudah beliau menemukannya. Sebab mesjid tersebut memang rutin didatanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa)kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quran surah Az Zumar (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ustaz Yus adalah otentik. Merinding bulu kuduk saya ketika mendengar kisah ini. Bahwa orang-orang yang senantiasa ikhlas akan dijaga keikhlasannya. Dan kalau yang menjaga dan memurnikan itu adalah Allah SWT, siapakah yang bisa merusaknya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-8744060160040164572?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/8744060160040164572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=8744060160040164572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8744060160040164572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8744060160040164572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/ketika-allah-memurnikan.html' title='Ketika Allah Memurnikan'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq9OmvTJYdI/AAAAAAAAAEE/a3TN-52SNyU/s72-c/murni.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7509445645377781380</id><published>2007-07-31T07:23:00.000+08:00</published><updated>2007-07-31T23:06:44.621+08:00</updated><title type='text'>PILKADA Idol</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq53bfTJYcI/AAAAAAAAAD8/ctxvWptM1MM/s1600-h/sms.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093139542744588738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq53bfTJYcI/AAAAAAAAAD8/ctxvWptM1MM/s320/sms.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seandainya pemilihan kepala daerah seperti pemilihan Indonesian Idol di RCTI, urusannya akan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu saya dan istri menunggui acara Grand Final Indonesian Idol sampai selesai. Sebenarnya saya bukan penggemar berat acara ini. Tapi istri saya setiap minggu tidak pernah ketinggalan. Akibatnya saya terbawa juga. Saya jadi ikut-ikutan menjagokan Rini yang selain cantik, teknik menyanyinya juga yahud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pengumuman di acara terakhir Result &amp;amp; Reunion, saya dan istri beberapa kali adu predikisi. Istri saya bilang, Wilson dari Ambon bisa saja unggul, sebab berdasarkan pengalaman, peserta dari kota-kota yang relatif lebih kecil justru lebih kompak pendukungnya mengirim SMS. Bahkan Walikota atau Gubernur asal kontestan bisa turun tangan menyediakan voucher untuk mengirim SMS dengan harapan kalau kontestan dukungannya menang, nama daerahnya juga akan terangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk argumen ini saya setuju dengan istri saya. Dulu waktu Indosiar masih getol-getolnya mengandalkan AFI, polanya memang serupa. Kebetulan pernah seorang kontestan dari Makassar ikut serta hingga ke Grand Final. Di Makassar ramai diadakan acara nonton bareng. Tidak kurang Walikota dan Gubernur hadir di nonton bareng itu. Bahkan mertua saya yang beberapa kalai menginap di rumah dan menonton acara itu tidak ketinggalan mengirim SMS agar wakil Makassar bisa menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya dan istri saya beda pendapat untuk satu hal. Di Indonesian Idol terakhir, kelihatan sekali bahwa teknik menyanyi Rini jauh di atas Wilson. Istri saya bilang, pihak penyelenggara pasti akan campur tangan memenangkan Rini bagaimanapun hasil SMS yang masuk. Penyelenggara pasti tidak mau mengambil resiko bahwa kontestan yang kemampuannya lebih di bawah akan menang. Masih kata istri saya, ini juga masalah bisnis. Soalnya kalau peserta yang kurang baik yang menang, sementara penyelenggara menjanjikan kontrak rekaman, takut nanti albumnya kurang laris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran istri saya terus saya bantah. Kata saya, masak sih RCTI berani membohongi publik? Ini kan kontes adu populer yang ditentukan oleh SMS. Kalau penyelenggara tidak konsisten dengan itu, mereka bisa kena tuntut karena membohongi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun adu argumennya, belakangan Rini keluar sebagai the next Indonesian Idol. Wilson, meskipun kalah, bukan berarti hidupnya tidak berubah. Paling tidak, baik Rini dan Wilson, keduanya akan berubah hidupnya, begitu senantiasa janji pembawa acara Ata dan Daniel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kontes idol. Kontes ini setau saya memakan waktu sekitar 6 bulan dan melibatkan biaya tidak sedikit. Kontestan yang mendaftar pun banyak. Bahkan dalam Indonesian Idol yang menghasilkan Rini sebagai the next Indonesian Idol, penyelenggara mengklaim peserta yang ikut audisi sebanyak 90.000 kontestan! Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata penentuan pemenang, bagaimanapun menegangkannya, sungguh sangat sederhana. Berdasarkan SMS yang masuk. Ini oleh penyelenggara diklaim sebagai representasi kopopuleran sang idol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba amati pemilihan kepala daerah (pilkada) di Negara kita. Saya perhatikan, modelnya kok jadi lebih mirip kontes idol ketimbang pemilihan pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakal calonnya semua senada. Dalam materi kampanye pasti memuat unsur kesukuan. Kalau mau contoh gampang, simak iklan balon gubernur Jakarta, Fauzi Bowo. Jelas-jelas iklannya menyebutkan, ‘orang Betawi asli!’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode kampanye juga tidak beda dari kontes idol. Ke mana-mana pakai konser nyanyi. Iklannya juga pakai artis-artis beken. Konvoi tidak habis-habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyata sekali kalau semuanya menyangkut popularitas. Sesuatu yang bisa didongkrak secara instan. Ujung-ujungnya tidak jauh-jauh dari duit. Siapa berduit lebih tebal, bisa mendongkrak popularitas lebih tinggi dengan berbagai cara instant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya kontes idol bukan menyangkut hidup banyak orang. Semata-mata menyangkut 2 orang grand finalist. Bahwa setelah acara grand final, hidup kedua grand finalist secara material akan berubah signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pilkada adalah masalah rakyat banyak. Bukan sekedar adu popularitas yang akan merubah hidup 2 balon. Ini masalah berjamaah. Ini masalah perut kosong, kepala kosong, dan banyak kekosongan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada dari Indonesian Idol yang perlu kita tiru dan adaptasi dalam pilkada, adalah penekanan dari para pembawa acara hampir di setiap saat ditayangkannya kontes ini. Yaitu bahwa siapapun yang akan terpilih sebagai idol, keputusan ada di tangan anda. Keputusan ada di tangan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah ini layak kita taati. Bahwa dalam pilkada, keputusan memang ada di tangan anda. Jadi, putuskanlah! Tapi tolong, putuskan dengan bijak. Berlandaskan analisis akurat. Bahwa balon yang anda tusuk bukan bermental idol yang hanya ingin mengubah nasib sendiri. Tapi bermental imam shalat yang ingin memimpin jamaah secara bersama-sama mencapai selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ini yang terjadi, barulah layak di akhir kontes kita umumkan, bahwa Indonesia, atau rakyat, telah memilih……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7509445645377781380?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7509445645377781380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7509445645377781380' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7509445645377781380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7509445645377781380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/pilkada-idol.html' title='PILKADA Idol'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq53bfTJYcI/AAAAAAAAAD8/ctxvWptM1MM/s72-c/sms.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2656542251772350826</id><published>2007-07-31T06:27:00.001+08:00</published><updated>2007-07-31T16:56:35.001+08:00</updated><title type='text'>Kejutan di Hari Jadiku</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq5mDPTJYbI/AAAAAAAAAD0/BTXPiCW6ltI/s1600-h/Ai+tidur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5093120434435088818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq5mDPTJYbI/AAAAAAAAAD0/BTXPiCW6ltI/s320/Ai+tidur.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hari jadi saya. 35 tahun lalu saya terlahir ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan terbesar di hari istimewa ini adalah dari anakku, Muhammad Ainurridha Uno, 3 tahun. Yang ia berikan tepat ketika saya bangun sekitar pukul 4.40 WITA untuk melaksanakan shalat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan mesjid kompleks kami telah seminggu ini rampung dan mulai difungsikan oleh warga. Sejak itu saya berusaha melaksanakan sebanyak mungkin shalat berjamaah di mesjid. Termasuk shalat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh ini saya terbangun seperti biasa oleh suara weker yang saya pasang. Biasanya saat saya bangun, hal pertama yang saya lakukan adalah membuatkan susu botol untuk si Ai (nama panggilan anakku). Sudah jadi kebiasaan bahwa pada jam-jam shalat subuh Ai suka minta dibikinkan susu. Kadang setelah minum susu, bertepatan dengan saya selesai shalat subuh, Ai langsung bangun nonton TV sambil saya temani baca quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi subuh ini lain. Sewaktu berwudhu, saya dengar pintu kamar dibuka. Dalam hati saya pikir, tumben istri saya bangun cepat padahal dia sedang tidak shalat? Biasanya kalau sedang tidak shalat, istri saya bangun telat. Ternyata begitu keluar dari kamar mandi, si Ai sudah di depan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab shalat subuh tinggal sebentar lagi, saya bergegas berganti pakaian. "Ai, bobok lagi nak ya. Papa mau sholat ke mesjid." Saya berusaha membujuk Ai untuk masuk ke kamar lagi. Ternyata begitu lihat saya berganti pakaian lengkap dengan songkok, Ai tahu kalau saya mau ke mesjid. Ia bilang, “Ai icut papa”. Wah, ini bisa repot, pikir saya. Padahal azan tinggal sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya masuk ke kamar. Saya bangunkan istri. Saya bilang kalau Ai mau ikut saya ke mesjid di gelap subuh. Istri saya masih mengantuk bilang, “Bawa saja, tapi naik mobil”. Kesimpulannya, saya bawa Ai ke mesjid. Buru-buru saya pakaikan jaket dan mengalungkan sajadah mungilnya yang sering ia bawa ke mesjid juga kalau maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Ini pengalaman pertama Ai shalat subuh di mesjid. Sekaligus juga pertama bagi saya membawanya shalat subuh di mesjid. Ketika kembali ke rumah, perasaan saya bahagia. Ternyata kebiasaan yang selama ini saya contohkan sudah mulai membekas di hatinya. Semoga Allah terus memberi petunjuk kepada anakku agar selamat di dunia dan akhirat. Dan semoga pula ia terus memberiku kejutan-kejutan spiritual di hari jadiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doaku menyertaimu anakku. Tidak berlebihan harapanku kepadamu. Kecuali bahwa suatu saat, kita berganti posisi, bahwa kau anakku, senantiasa mendoakanku, agar selamat di dunia dan akhirat. Agar kita semua selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2656542251772350826?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2656542251772350826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2656542251772350826' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2656542251772350826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2656542251772350826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/kejutan-di-hari-jadiku.html' title='Kejutan di Hari Jadiku'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rq5mDPTJYbI/AAAAAAAAAD0/BTXPiCW6ltI/s72-c/Ai+tidur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2949540222385406436</id><published>2007-07-23T14:01:00.000+08:00</published><updated>2007-07-24T09:54:03.702+08:00</updated><title type='text'>Keheranan Tak Habis-habis....Anggota DPRD Lucu</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RqVarvTJYaI/AAAAAAAAADs/-lkpkbLwVwo/s1600-h/lucu.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090574661289861538" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RqVarvTJYaI/AAAAAAAAADs/-lkpkbLwVwo/s320/lucu.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau nama blog ini Persembahan Tak Habis-habis, untuk anggota DPRD mau saya kasih judul Keheranan Tak Habis-habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagaimana tidak. Saya sih tidak baca langsung, tapi dengar berita koran dari teman yang layak saya percaya intelijensinya, anggota DPRD Kota Makassar kemarin (22/7) bikin statemen lucu, mengherankan, tidak masuk akal, bahkan sangat layak ditertawakan (kalau ada demo tampil beda, saya pikir-pikir mau bikin demo ke DPRD Kota Makassar bukan untuk bikin ribut, tapi untuk menertawakan anggota DPRD....hahaha....).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kata teman saya, ada anggota DPRD yang protes atas sistem pengajaran di sebuah sekolah di Makassar yang bahasa pengantarnya pakai bahasa Inggris. Alasan protesnya, takut nanti anak didik bisa lupa bahasa Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hahahaha...............lucu bin aneh kan?!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya bilang ke teman, jangan-jangan anggota DPRD itu jamaah si Usman Roy yang dulu ngaku-ngaku ustadz trus bikin shalat versi terjemahan. Masak segitu fobianya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anggota DPRD itu kalau dulu ikut API-TPI, pasti juara. Lucunya tidak ketulungan. Bukan cuman bikin kita ketawa terpingkal-pingkal, kalau terus ingat-ingat lawakan mereka, kita bisa kencing berdiri....hihihi.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini pengalaman teman saya. Dia bertanggung jawab atas sebuah mall besar di Makassar. Suatu saat seorang anggota DPRD datang kunjungan mendadak. Mereka minta daftar seluruh item barang yang dijual dan dipajang di dalam mall. Setelah diberikan, si yang terhormat anggota DPRD yang cerdas bertanya, "Di antara barang-barang ini, ada yang expire, tidak?". Sambil tertawa teman saya cerita ke saya, "Masak kita ditanyai barang mana yang expire di antara 300.000 item. Sebagai pemeriksa, periksa aja. Kalau ada temuan, baru permasalahkan. Itu namanya mau temuan tapi nggak mau kerja. Dasar, sudah makan uang rakyat, paling ribut kalau ada temuan, untuk menemukan pun maunya 'dilayani', bukan nemu sendiri!" &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada musim-musim tertentu, kata teman saya, anggota DPRD semakin menjadi-jadi kelucuannya. Menilik musim-musim ini saja, lucu sekali. Mau tau kapan musim-musim itu? Kalau dekat-dekat lebaran. Hahaha! Kalau sudah dekat lebaran, kata teman saya, lihat saja, para anggota DPRD yang wakil rakyat itu pasti sangat meningkat kinerjanya. Temuan kasusnya meningkat tajam. Sayangnya bukan murni untuk kepentingan rakyat. Anda tau kenapa temuannya banyak? Ujung-ujungnya amplop plus parcel. Lucu kan?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lucunya anggota DPRD tidak berhenti sampai di situ. Selain lucu, mereka juga paling pandai cari sinonim kata. Ini pun menambah rating kelucuan mereka. Tanya contoh? Ada. Tambahan penghasilan untuk kantong pribadi bisa mereka namai "tunjangan komunikasi". Atau di lain kesempatan mereka namai "tunjangan laptop" (Tukul aja yang jelas-jelas bergantung ke laptop tidak dapat tunjangan laptop). Lha terbukti. Waktu tunjangan komunikasi dibatalkan oleh Depdagri, padahal para anggota DPRD se-nusantara sudah terima dan diminta dikembalikan, ternyata kan terbuka boroknya. Banyak yang protes. Katanya duitnya ada yang sudah terlanjur diapaki renovasi rumah, ada yang terlanjur dipakai beli mobil, untung-untung nggak ada yang ngaku sudah terlanjur dipakai kawin....hehehe....sekali lagi lucu bin aneh kan?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mungkin kalau stasiun TV sudah kehabisan pelawak, tidak usah susah-susah bikin audisi. Ke gedung DPRD saja. Di sana banyak orang lucu kok...Atau kalau anda lagi stress mau ketawa ketiwi, ke sana saja. Atau kalau anda mau bikin organisasi 'Asosiasi Orang-orang Asli Lucunya Tidak Tanggung-tanggung dan Tidak Malu-malu Memperlihatkan Kelucuan Tapi Tetap Berstatus Terhormat' dan anda lagi cari anggota, ya ke sana juga. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hidup anggota DPRD! Hidup lucu! Hihihi.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2949540222385406436?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2949540222385406436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2949540222385406436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2949540222385406436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2949540222385406436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/keheranan-tak-habis-habisanggota-dprd.html' title='Keheranan Tak Habis-habis....Anggota DPRD Lucu'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RqVarvTJYaI/AAAAAAAAADs/-lkpkbLwVwo/s72-c/lucu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6558358531763098595</id><published>2007-07-19T11:53:00.000+08:00</published><updated>2007-07-19T14:22:53.080+08:00</updated><title type='text'>Posisi saya di mana?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp8DHWfLcfI/AAAAAAAAADM/xpR1M_VLOgM/s1600-h/Posisi.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088789528782270962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp8DHWfLcfI/AAAAAAAAADM/xpR1M_VLOgM/s320/Posisi.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alhamdulillah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sudah seharusnya kita bersyukur dalam setiap kucuran detik. Orang yang tidak bersyukur itu orang tidak tau diri. Kalau tidak tau diri berbahaya, bahayanya tergantung kadarnya. Ambil contoh, bernafas. Setiap tarikan nafas berarti anda bersyukur. Kapan anda dengan sengaja berhenti menarik nafas, itu tandanya anda menantang Tuhan dan tidak bersyukur. Pesan saya, khusus yang satu itu, bersyukurlah sesyukur-syukurnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini diilhami oleh tatapan mata saya ke onggokan buku di ruang kerja saya. Saya terbawa nostalgia. Di antara onggokan itu ada sederet buku karya seorang penulis yang saya sangat kagumi, Robert T. Kiyosaki. Yah, orang ini sangat fenomenal. Tulisannya mengenai 'Rich Dad Poor Dad' diklaim oleh banyak pembaca dan pendengar kata-katanya sebagai 'inspiring &amp;amp; life changing!'. Saking kagumnya saya terobsesi atas semua yang memuat namanya. Bahkan tidak satupun dari bukunya yang terbit di Indonesia saya lewatkan, paling tidak sampai ketika saya masih menggolongkan diri sebagai 'murid'nya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apa sekarang saya tidak kagum lagi?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekarang beda. Dulu kekaguman saya karena merasa saya sudah diajarinya dan saya mengikuti ilmunya. Sekarang juga masih kagum, tapi dalam nuansa yang lain. Saya kagum karena ternyata semakin setia menjadi muridnya, semakin banyak pertanyaan yang muncul dan tidak terjawabkan oleh ajarannya. Ini mengantarkan saya ke perenungan lanjutan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;**********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cashflow Quadrant-nya Kiyosaki&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sederhana saja saya paparkan. Salah satu teori Kiyosaki yang fenomenal adalah tentang Cashflow Quadrant. Teori ini menjelaskan 4 jenis (atau kwadran) orang ditinjau dari caranya menghasilkan uang. Dari keempat jenis ini, 2 jenis dimasukkan sisi kiri kwadran, 2-nya lagi dimasukkan ke sisi kanan kwadran.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nah, di sisi kiri kwadran, ada Golongan E = Employee atau bahasa gampangnya 'orang yang makan gaji' dan bekerja untuk pihak lain. Karyawan swasta, pegawai negeri, atau sektor non formal lain yang makan gaji atau upah, masuk dalam golongan ini. Kata Kiyosaki, orang golongan E penghasilannya terbatas sebatas gajinya, dan biasanya lebih banyak gigt jari ketika bicara mimpi-mimpi yang melibatkan penggunaan uang untuk mewujudkannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Masih di sisi kiri kwadran, ada Golongan S = Self-employed, yang diartikan golongan pekerja lepas. Golongan ini lebih maju daripada golongan E. Dalam artian, dari segi penghasilan, golongan pekerja lepas, atau orang yang tidak bekerja pada pihak lain, biasanya memiliki penghasilan lebih tinggi. Hanya saja orang golongan S kebanyakan bergantung pada kelebihan yang ada pada dirinya untuk dijual, atau 'jual diri' dalam artian bagus. Contoh, pengacara yang menjual jasa hukum, penyanyi yang menjual merdu suaranya, dokter yang menjual pengetahuan medisnya, akuntan yang menjual pengetahuan 'hitung-hitung uang', dan lain-lain. Nah, anda lihat, orang golongan ini bisa menghasilkan uang banyak. Tapi kata Kiyosaki, dari segi kebebasan waktu, mereka tidak fleksibel. Kalau mereka 'tidak jualan' tidak ada uang masuk.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dua golongan di atas, masuk sisi kiri kwadran, menurut teori Kiyosaki memiliki potensi penghasilan terbatas. Makanya secara finansial disebut tidak bebas (financially not free). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selanjutnya di sisi kanan kwadran. Ada Golongan B = Business Owner. Dari terjemahan langsung saja anda bisa mengerti bahwa orang golongan ini adalah orang yang memiliki bisnis. Pemilik bisnis justru mempekerjakan golongan E. Orang golongan ini tidak perlu khawatir tentang bisnisnya karena ada golongan E yang mengelolanya. Dalam bahasa Kiyosaki, golongan ini memiliki sistem kerja dan orang-orang yang berkerja untuk mencarikannya uang. Potensi penghasilannya bisa tidak terbatas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Masih di sisi kanan kwadran, adalah Golongan I = Investor. Mereka adalah para pemilik modal atau uang. Uang tersebut, kemudian bekerja lagi untuknya, untuk mencarikan sesamanya uang. Singkatnya, dia punya uang yang akan mencari uang juga. Sedaaaaappp.......Contohnya para investor di bursa saham, atau orang-orang yang memang kerjanya memutar modalnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nah antara sisi kiri dan sisi kanan, sangat berbeda. Sisi kiri adalah golongan yang tidak bebas secara finansial (financially not free). Sisi kanan sebaliknya, mereka bebas secara finansial(financially free). Kalau orang sisi kiri cari restoran lihat kantong dulu baru masuk, maka sisi kanan tidak pake lihat kantong, asal suka suasana atau menunya, masuk saja. Itu mungkin gambaran sederhana betapa bebasnya orang sisi kanan kwadran secara finansial.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Teori ini inspirasional. Buktinya saya juga dulu memutuskan tidak mau jadi orang gajian sedikit banyak karena membaca teori ini. Saya mau bebas secara finansial. Saya mau masuk sisi kanan kwadran. Akhirnya, beginilah saya..............(kalau mau tau saya bagaimana, sudah bebas secara finansial atau belum, mampir dong ke rumah.....)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di bagian pembukaan saya bilang kekaguman saya ke Kiyosaki sudah berbeda nuansanya. Latar belakangnya ada.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semakin saya mengejar kebebasan finansial, sangat jelas di dalam kepala saya bahwa uang menjadi motivasi utama. Yang celaka karena pikiran saya dalam mencari uang terkotak-kotak sesuai kwadran yang 4 itu. Jadi setiap orang yang saya temui seakan-akan di kepalanya saya bisa melihat huruf besar E atau S atau B atau I sesuai dugaan saya apa kwadrannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau saya ketemu orang E atau S, dalam hati saya ngomong sendiri, kasian amat orang ini. Kerja keras siang malam padahal nyata bahwa dia tidak akan bebas secara finansial.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau saya ketemu orang B atau I, naluri mau kaya saya otomatis berkata, kamu harus dekat-dekat dengan orang ini. Baunya saja dia sudah kaya. Dia ini penghuni sisi kanan kwadran!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Wah, kondisinya bisa mengerikan. Takuuuttt. Ngak tahaaaannn.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;**********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Posisi anda di mana?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Makanya saya merenung. Saya pikir, kalau semua orang belajar teori ini, kalau semua pemahamannya sama, tidak seorangpun yang mau masuk sisi kiri kwadran. Betul tidak?!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jadi siapa yang mau jadi petani suapaya kita bisa beli beras? Siapa yang mau jadi nelayan supaya kita bisa makan ikan? Siapa yang mau ngajar di sekolah supaya anak-anak kita pintar? Siapa yang mau jadi pandai besi bikin panci supaya kita bisa masak? Siapa begini supaya begitu? Siapa begitu supaya begini? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi Kiyosaki tidak salah. Bahwa kalau orang ikut teori dia bisa saja mereka berubah bebas secara finansial. Sekarang, mari kita lihat kenyataan. Masih banyak saja orang di dunia ini yang tidak ikut ajaran Kiyosaki. Mengapa? Kemungkinanya dua. Pertama, mereka tidak tau teori Kiyosaki, jadi wajar kalau mereka tidak ikut. Kedua, mereka tau tapi tetap tidak ikut. Pertanyaan saya, apa yang menahan mereka untuk tidak ikut?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*************&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Subhanallah!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lagi! Mari kita bersyukur! Satu karena sebagai muslim, dengan bersyahadat kita Insya Allah masuk golongan yang berhak dapat syafaat dari Rasulullah SAW. Dua, karena sebagai muslim pula, ada satu pembeda utama antara kita dan non-muslim dalam menjalankan kegiatan di dunia, termasuk dalam bekerja, yaitu 'BERKAH'.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kita sebagai muslim dan non-muslim diberi kesempatan setara dalam mengejar kekayaan dunia. Makanya jangan tanya kok ada orang non-muslim oleh Tuhan dikasih banyak. Kita yang jelas-jelas berdoa setiap hari malah capek melulu tidak dapat banyak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jangan berprasangka kepada Tuhan. BERKAH itu adalah jawabannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebagai petani, apalagi dengan model petani di Indonesia, mungkin mimpi terbesar anda hanya boleh 'naik haji'. Paling tidak untuk saya sendiri, belum pernah tuh saya lihat ada petani di desa punya villa di puncak. Atau nelayan yang sehari-harinya di laut, belum pernah tuh saya lihat yang punya kapal pesiar. Tapi kok mereka masih tetap bertahan. Apalagi kalau bukan 'BERKAH' dari Allah SWT?!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maaf, saya lupa akuratnya, semoga Allah melindungi saya dari kesalahan karena nafsu saya, tetapi setau saya ada hadits yang menyatakan bahwa setiap bulir padi yang dihasilkan petani dan dimakan orang, kemudian orang itu berbuat baik, selama itu pula si petani akan dapat pahala! Subhanallah! Ini sih lebih hebat dari kebebasan finansial. Kalau begini, petani kita bisa gubug derita di dunia tapi istana di sorga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekali lagi alhamdulillah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Renungan ini menjawab kebimbangan saya. Sebelumnya dengan teori Kiyosaki, banyak orang pasti bertanya, 'Posisi saya di mana? Apa saya berada di kwadran yang benar?'&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekarang, kalau kita mengerti bahwa kerja atau usaha itu bukan sekedar dapat duit, tapi dapat berkah, kita tidak perlu lagi bertanya begitu. Pertanyaan kita sekarang, 'Sudahkan apa yang saya kerjakan ini berberkah?' Rugi kan kalau duit dapat cekak berkah pun 'nehi'.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebelum selesai, saya mau tanya anda lagi, 'Sudahkan apa yang anda kerjakan saat ini berberkah?'&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semoga......&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6558358531763098595?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6558358531763098595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6558358531763098595' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6558358531763098595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6558358531763098595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/posisi-saya-di-mana.html' title='Posisi saya di mana?'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp8DHWfLcfI/AAAAAAAAADM/xpR1M_VLOgM/s72-c/Posisi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-8936954439203533990</id><published>2007-07-18T13:55:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T14:02:54.366+08:00</updated><title type='text'>Opportunity Cost</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2slmfLceI/AAAAAAAAADE/ou7SLJAog6E/s1600-h/opportunity.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088412915984986594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2slmfLceI/AAAAAAAAADE/ou7SLJAog6E/s320/opportunity.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 25 Mei 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu ekonomi dikenal konsep Opprtunity Cost. Konsep ini memberi tempat yang sangat signifikan terhadap berbagai pilihan yang dipunyai oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah manusia. Manusia sesungguhnya sangat beruntung sebab diberi kesempatan oleh Sang Khalik untuk bisa memilih. Memilih di antara banyak pilihan. Ini pertanda yang dapat kita baca atas penegasan Sang Khalik bahwa manusia itu diciptakan dalam kondisi sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia beda dengan Malaikat. Manusia punya hati punya rasa. Malaikat hanya bisa ngikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan berarti ini mudah bagi manusia. Justru karena dikasih kesempatan untuk memilih di antara beberapa pilihan, manusia mesti bertanggung jawab. Yang lebih berat lagi karena pilihan seorang manusia bisa saja bertabrakan dengan pilihan manusia lain. Akibatnya terjadi gesekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semestinya kita tidak perlu khawatir. Sang Khalik bukan cuma memberi lisensi hidup terhadap manusia tapi juga disertai dengan manual hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat gesekan kadang terjadi benci. Akibat benci kadang terjadi caci maki. Akibat caci maki kadang terjadi yang lebih buruk. Dalam manualnya, Sang Khalik bertitah begini: Janganlah suatu kaum menjelek-jelekkan kaum lainnya. Karena bisa jadi yang menjelek-jelekkan tidak lebih baik dari yang dijelek-jelekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau untuk kaum muslim, Sang Khalik juga menegaskan: Janganlah kamu menjelek-jelekkan kaum lain dengan cara yang berlebih-lebihan. Karena bisa jadi kaum yang kamu jelek-jelekkan balik menghina agamamu dengan cara yang berlebih-lebihan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi yang mau kita pertanyakan kalau manual ini datangnya dari Sang Khalik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, balik ke topik tentang pilihan, di sini terlihat jelas bedanya Manusia Dewasa dengan Anak-anak. Manusia dewasa akan lebih arif dan bijaksana dalam memutuskan pilihan. Sebaliknya, anak-anak bisa memutuskan sesuatu yang fatal bagi dirinya. Makanya menurut saya alamiah jika terkadang orang tua bersikap dominan ketika anak dihadapkan pada pilihan. Tapi, orang tua yang arif dan bijaksana akan berusaha membimbing anak untuk berusaha arif dan bijaksana dalam meilih, sesuai tingkat usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di milis ini kita bebas berkomentar. Begitu saya pikir semua anggota milist sepakat. Tapi nama milis ini tentu juga memperlihatkan kesamaan interest kita untuk bergabung: GORONTALO MAJU 2020!.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, ada baiknya, sebelum meng"KLIK" icon "SEND", kita pertimbangkan, akankah postingan saya membawa GORONTALO MAJU 2020? Atau sebaliknya, justru akan menjadikan GORONTALO MUNDUR 2020 TH KE BELAKANG?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-8936954439203533990?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/8936954439203533990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=8936954439203533990' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8936954439203533990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8936954439203533990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/opportunity-cost.html' title='Opportunity Cost'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2slmfLceI/AAAAAAAAADE/ou7SLJAog6E/s72-c/opportunity.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-6028868573740142242</id><published>2007-07-18T13:48:00.001+08:00</published><updated>2007-07-18T13:55:25.308+08:00</updated><title type='text'>Tanda Bagi Orang yang Berpikir</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2rAWfLcdI/AAAAAAAAAC8/zG_D_bfcA0A/s1600-h/Tanda.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088411176523231698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2rAWfLcdI/AAAAAAAAAC8/zG_D_bfcA0A/s320/Tanda.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 25 Mei 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di postingan sebelumnya saya menulis tentang hikmah yang saya ambil dari sumbu lilin. Masih ada lagi hikmah yang saya dapat ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat sebelum lilin mati, cahayanya meredup. Saya tertarik melihat bagaimana redupan cahaya itu menghilang sedikit demi sedikit, tidak langsung mati seperti kalau anda meniupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan istri ketika di awal-awal membangun bisnis pernah tukar pikiran begini. Istri saya mengeluh, kok rasanya susah sekali. Belum selesai masalah yang satu muncul lagi masalah yang lain. Rasanya lama sekali. Lamaaaaaaa betul. Kapan yah kita jadi orang berhasil trus bisa dapat uang banyak seperti kisah-kisah sukses orang bisnis lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati sebenarnya saya mengeluh juga. Tapi ini pilihan saya dan mestinya saya sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada istri saya ngomong begini. Allah pasti sedang mendidik kita. Kalau semuanya mudah kita pasti tidak menghargai. Coba kalau begitu pertama kali membangun bisnis kemudian langsung berhasil. Sehari dapat untung 10 juta rupiah. Sebulan masuk kantong 300 juta rupiah. Mungkin kita tidak akan menghargai. Mungkin kita akan jadi takabur. Kita akan berpikir.... ternyata mudah dapat uang.....Kita akan jadi sombong bin takabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah banyak memperlihatkan tanda-tanda kepada kita. Dan kita disuruh mikir apa hikmahnya. Ambil contoh bagaimana buah-buahan melalui proses pematangan. Tidak serta merta. Semuanya bertahap dan merupakan kombinasi hasil kerja sama berbagai sumber daya. Belum pernah saya lihat penelitian, secanggih apapun itu dan sepandai apapun penelitinya yang bisa membuat anda memasukkan buah mentah ke dalam suatu perangkat atau alat kemudian 10 menit kemudian buah itu sudah matang seperti buah matang di pohon. Yang ada teman saya dari UGM dulu penelitiannya mengontrol proses pematangan buah melon sehingga ia bisa menghasilkan buah melon dengan tingkat kemanisan sesuai yang diingankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah suatu tanda yang mesti kita baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak menarik pula membca kisah sukses seorang pebisnis kalau dari awal hingga akhir tidak ada susahnya. Coba aja anda lihat kalau isinya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ketika lahir orang tua sudah kaya raya. Karenanya saya disekolahkan di sekolah bisnis terbaik di dunia. Setamat kuliah saya dibekali modal segunung. Saya bangun bisnis besar dan mempekerjakan orang-orang hebat. Begitulah, saat ini saya adalah pebisnis yang berhasil.... .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kisah di atas tidak ada garamnya.... ......... ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan bincang-bincang tentang pembangunan Gorontalo dengan kenalan, ada beberapa yang anggota milis ini, saya dulu termasuk orang yang sangat antusias mengritik pihak-pihak tertentu. Saya tersadar ketika ada kata-kata mutiara,"mungkin memang harus begitu dulu...kan semuanya butuh proses..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju. Membangun Gorontalo Maju apalagi dengan target di tahun 2020, kita harus menghargai proses. Termasuk proses demokratis yang sudah berjalan. Sure, kita tidak boleh tinggal diam dan harus terus mengingatkan satu sama lain. Bahwa proses itu harus berada di jalur yang tepat. Jangan justru dibelokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih, anda bisa membidik sasaran panah dari arah tepat di depan, dari kiri, dari kanan, dari atas atau dari bawah. Tapi kalau dari depan memberi sudut pandang terbersih dan jarak bidikan terpendek, kenapa mesti dari arah lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-6028868573740142242?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/6028868573740142242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=6028868573740142242' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6028868573740142242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/6028868573740142242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/tanda-bagi-orang-yang-berpikir.html' title='Tanda Bagi Orang yang Berpikir'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2rAWfLcdI/AAAAAAAAAC8/zG_D_bfcA0A/s72-c/Tanda.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7808301744197807726</id><published>2007-07-18T13:40:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T13:46:00.993+08:00</updated><title type='text'>Mengapa Tidak?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2o8WfLccI/AAAAAAAAAC0/mW7n3FaTXo4/s1600-h/Mengapa+tidak.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088408908780499394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2o8WfLccI/AAAAAAAAAC0/mW7n3FaTXo4/s320/Mengapa+tidak.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting GM2020 tanggal 26 Juni 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di Gorontalo kita punya UNG. Saya pribadi senang dengan suasana kampusnya. Pernah pula beberapa orang akademisi dari Jepang yang saya temani mengunjungi kampus ini bilang ke saya bahwa mereka senang sekali dengan suasana kampus Jambura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, saya bukan membesar-besarkan. Saya tulus menyampaikan pendapat para akademisi itu dan setahu saya, mereka juga tulus menyampaikannya ke saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, simple complement ini saja sudah bisa membuktikan bahwa UNG punya banyak potensi. Di postingan terdahulu saya pernah menulis tentang potential energy. Jangan tanya saya tentang penjelasan Fisika ilmiah dari potential energy ini. Saudara MY mungkin adalah ahlinya. Tapi dari segi common philosophy, saya melihat UNG punya potential energy yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenal baik dengan Bapak Rektor Nelson Pomalingo. Kami biasa tukar pikiran. Kami punya banyak kesamaan pikiran, tapi tidak sedikit pula hal-hal yang bisa diadu argumentasikan. Demikian pula dengan banyak orang-orang senior di UNG yang saya kagumi dan hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya sudah jarang ke kampus Jambura. Terakhir awal Februari lalu, itupun untuk urusan bisnis yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir ini kesempatan baik untuk saya mengajukan satu tema untuk sharing, demi kemajuan UNG ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan berinteraksi dengan rekan-rekan UNG, saya merasa ada sesuatu yang kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengutip kata-kata Bapak Rektor Nelson Pomalingo yang membekas di hati saya. Menurut beliau, UNG adalah pusatnya ilmu pengetahuan di Gorontalo. Bagi masyarakat Gorontalo, apapun itu, UNG akan dianggap sebagai tempat bertanya. Jadi, bisa atau tidak, UNG harus siap untuk menerima pertanyaan dari masyarakat dan harus siap dengan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata ini selalu saya kenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi, saya rasakan ada sesuatu yang kurang.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu kesempatan saya datang ke UNG untuk melakukan TOT untuk persiapan pendirian sebuah lembaga yang saya bertindak sebagai konsultan di dalamnya. Jauh-jauh dari Makassar saya sudah persiapkan materi TOT tersebut. Alangkah kagetnya saya karena beberapa peserta TOT hanya datang untuk absen dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini yang dimaksud oleh saudara Arfan Entengo yang saya kutip dalam postingan sebelumnya. Saudara Arfan mengingatkan kita agar tulus dalam hal apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini yang kurang. Mungkin ketulusan para akademisi di UNG perlu ditingkatkan lagi agar tujuan memajukan UNG, baik itu para dosen atau mahasiswa, atau masyarakat yang bertanya pada UNG sebagai tempat bertanya, bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman dekat saya di UNG. Menurut saya beliau sangat idealis dan tulus. Beliau pernah curhat ke saya. Pak Irwan, di kampus banyak orang sekedar mengejar 3K: Koin, Kredit, (1K-nya lagi saya lupa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sinyalir teman saya itu bukan cuma terjadi di UNG. Di kampus-kampus lain juga terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau memang begitu, mengapa tidak di UNG kita usahakan tidak begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi yang kurang menurut saya........ ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ini mungkin bukan cuma di UNG. Bisa jadi ini masalah umum di banyak kampus. Satu hal bisa sangat membelenggu perkembangan kita karena ketiadaan kreatifitas. Biasanya penyebabnya klasik atau klise. Kita menganggap bahwa kita tidak punya banyak hal sehingga kita tidak bisa melakukan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat tahun lalu. Saya mengantar seorang akademisi Jepang yang sedang menjajaki format pengembangan pendidikan bahasa Jepang di UNG secara khusus, di Gorontalo secara umum. Ketika itu, kami sempat berkunjung ke sebuah SMA di Tibawa (kalau tidak salah). Di SMA ini, kami dapat kabar diajarkan bahasa Jepang sebagai bahasa asing pilihan dan banyak diikuti oleh para siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sana, kami luar bisa surprise! Sekelas penuh sesak siswa yang mengambil mata pelajaran bahasa jepang sudah berkumpul. Mereka dengan semangat menyimak kata-kata sang tamu dari Jepang, dan mereka menyuguhkan banyak lagu yang lagi ngetop di Jepang lengkap dengan iringan gitar dan electone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dan luar bisa, ternyata guru bahasa jepang di sekolah ini tidak memiliki kualifikasi sebagai pengajar bahasa jepang. Guru tersebut adalah mantan tenaga magang di Jepang yang nota bene kemampuan bahasa jepangnya sebenarnya tidak bisa diapakai mengajar di sekolah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami takjub dan mengacungkan 2 jempol! Masih ada lagi, mereka bahkan rutin mengadakan perlombaan pidato bahasa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan dan kreatifitas tenaga magang ini mungkin bisa jadi referensi bagaimana banyak hal bisa dimajukan dengan dua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di kampus lain banyak dosen yang kurang kreatif, mengapa tidak di UNG kita bikin tidak begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu SMA saya sempat ikut pertukaran pelajar di Jepang. Selama setahun saya sekolah di SMA setempat selayaknya siswa-siswa Jepang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang sekolah biasanya saya nongkrong di depan TV. Salah satu acara favorit saya adalah perlombaan adu robot antara mahasiswa Jepang dengan mahasiswa MIT - AS. Belakangan di Indonesia saya lihat ada lomba serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu saya takjub sekali. Robot-robot yang dibikin oleh para mahasiswa itu kelihatannya dari bahan sederhana. Tapi hasilnya luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukannya minta di UNG kita bikin adu robot juga. Tapi mungkin ide atau kreatifitas seperti ini perlu ditiru. Banyak teknologi sederhana yang saya yakin orang-orang UNG bisa membuatnya. Tidak perlu muluk-muluk atau mahal-mahal. Yang penting betul-betul bisa membantu masyarakat Gorontalo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebagai orang awam yang bukan akademisi, itulah yang sejauh ini saya anggap kurang. Bisa saja di kampus-kampus lain kekurangan seperti itu juga ada. Atau mungkin lebih buruk. Tapi mengapa tidak di UNG kita bikin tidak seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7808301744197807726?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7808301744197807726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7808301744197807726' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7808301744197807726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7808301744197807726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/mengapa-tidak.html' title='Mengapa Tidak?'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2o8WfLccI/AAAAAAAAAC0/mW7n3FaTXo4/s72-c/Mengapa+tidak.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1787508989284382854</id><published>2007-07-18T13:32:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T13:39:52.668+08:00</updated><title type='text'>Boleh kan?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2nf2fLcbI/AAAAAAAAACs/6RhZukYajVI/s1600-h/Boleh+kan.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088407319642599858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2nf2fLcbI/AAAAAAAAACs/6RhZukYajVI/s320/Boleh+kan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 26 Juni 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Boleh kan kita menyindir diri sedikit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini orang Indonesia banyak yang suka berpikir besar tapi melupakan yang kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar kompleks tempat tinggal saya di Makassar sedang dibangun Celebes Convention Center. Waktu gedung ini dicanangkan berdiri kalau tidak salah tahun lalu, ekspose di koran luar biasa. Belum lagi ditampilkan gambar arsitektural yang menambah keyakinan orang kalau gedung ini betul-betul akan menjadi penanda tempat (Landmark) Kota Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi pembangunannya juga stretgis sekali. Di Jalan Metro yang nota bene laut yang direklamasi jadi jalan pintas. Makanya pemandangan pasti luar biasa. Kalau tidak salah di sebelahnya akan dibangun hotel berlantai banyak (lupa lantai berapa) yang modelnya seperti bangunan terkenal yang ada di Dubai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari saya melintas di Jalan Metro. Makanya sedikit banyak saya jadi saksi bagaimana perkembangan pembangunan proyek ini. Waktu baca eksposenya di koran, dalam hati saya berharap banyak juga. Bagaimana tidak, pembangunannya tidak terlalu jauh dari kompleks rumah saya. Bisalah berbangga diri dikit......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama-kelamaan saya perhatikan, ternyata tidak seindah warna aslinya. Terutama bagian-bagian detail. Kelihatan sekali kalau proyek ini diburu-buru. Mungkin karena gembar-gembornya besar, banyak pejabat dari pusat datang meninjau. Termasuk Presiden SBY. Kalau JK jangan ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian atap dibikin agang lengkung. Modelnya seperti Keong Emas di Jakarta atau Opera House di Sydney. Jauh dari mirip sih, tapi sama-sama lengkung. Saya suka memperhatikan dengan seksama, sayaaaaang sekali karena lengkungannya kasar. Tidak jauh beda dari kerja tukang borongan waktu rumah ibu saya diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal lain yang menurut saya parah! Gedung manapun kalau didatangani, bagian pertama yang akan ditemui adalah lapangan parkir atau pelataran. Lumayan luas. Tapi kalau kita perhatikan, tanahnya dipaving. Tapi pengerjaannya sembrono sekali! Jauh lah dari kesan landmark yang bisa dibangakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kita orang Indonesia. Pernah Matsui-san, tenaga ahli JICA yang saya ceritakan di postingan tentang Prof Abe, bilang begini ke saya. "Irwan-san, orang Jepang kalau anda datangani rumahnya tidak sedikit yang jorong. Tapi kalau fasilitas umum, pasti bersih dan bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.......tersinggu ng!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya tapi kenyataan memang begitu. Ketika bicara proyek apalagi bangunan, anggarannya pasti dibikin mahal. Bukan mahalnya yang jadi masalah, tapi kesesuaian antara anggaran dengan hasil kerja. Kesesuaian dengan kualitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan kita kalau belanja juga punya prinsip. Biar mahal asal kualitas bagus. Selain bergengsi juga tahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok ketika mengerjakan proyek tidak seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih susahnya menerapkan prinsip yang sama, toh sama-sama membelanjakan uang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau di antara anggota milis ada yang kebetulan diamanahkan mengelola proyek pembangunan, saran saya, perlakukan seperti ketika belanja pribadi. Bukan dananya yang dianggap dana pribadi, tapi hasil belanjanya, carilah kualitas sebagaimana kalau kita belanja uang pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh kan?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1787508989284382854?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1787508989284382854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1787508989284382854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1787508989284382854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1787508989284382854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/boleh-kan.html' title='Boleh kan?'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2nf2fLcbI/AAAAAAAAACs/6RhZukYajVI/s72-c/Boleh+kan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4146634535601641835</id><published>2007-07-18T13:21:00.001+08:00</published><updated>2007-07-18T13:28:11.689+08:00</updated><title type='text'>Mungkin ini............</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2kuWfLcaI/AAAAAAAAACk/ohrw1lC5MFs/s1600-h/Mungkin+ini.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088404270215819682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2kuWfLcaI/AAAAAAAAACk/ohrw1lC5MFs/s320/Mungkin+ini.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya poting di GM2020 tanggal 29 Mei 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*********&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini bisa meredakan lumpur Lapindo....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Baghdad, Ibu kota Irak yang sekarang amburadul adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan. Di sini pernah hidup imam-imam terkenal dalam sejarah Islam, salah satunya adalah Imam Hasan al Basri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan al Basri (semoga Allah senantiasa melimpahkan magfirah kepada beliau) adalah imam yang pandai dan terkenal arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, dalam waktu yang tidak bersamaan, datang tiga orang untuk berkonsultasi kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama datang dengan masalah anak. "Ya Imam, tolong tunjukkan kepadaku bagaimana cara terbaik meminta kepada Allah agar aku dan istriku bisa punya anak. Kami sudah lama menikah tapi masih belum dikaruniai anak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Imam tafakur sebentar, kemudian berkata, "Pulanglah dan ajak istrimu beristigfar sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa saat masuk orang ke dua. Masalah dia ternyata masalah kampungnya. "Ya Imam, tolong tunjukkan kepadaku bagaimana cara terbaik meminta kepada Allah agar di kampungku diturunkan hujan. Kami sekampung merasa resah karena sawah ladang kami tidak bisa tumbuh karena hujan tak kunjung turun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Imam tafakur sebentar, kemudian berkata, "Pulanglah dan ajak orang-orang sekampungmu beristigfar sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa saat masuk orang ke tiga. Masalah dia relevan dengan yang oleh orang sekarang banyak dianggap sebagai masalah, yaitu rezki. "Ya Imam, tolong tunjukkan kepadaku bagaimana cara terbaik meminta kepada Allah agar aku bisa dapat rezki yang cukup. Capek rasanya saya banting tulang setiap hari tapi rezkiku habis untuk makan sehari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagak Sang Imam juga sama, tafakur sebentar, kemudian berkata, "Pulanglah dan beristigfar sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang ketiga orang bertemu dan saling berbagi cerita. Mereka terkejut karena ternyata advise sang Imam sama untuk ketiganya. Mereka mulai meragukan kredibilitas sang Imam. Jangan-jangan Imam Hasan al Basri bukan imam pandai. Jangan-jangan ia biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga memutuskan kembali secara bersama-sama untuk meminta klarifikasi dan konfirmasi sang Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Imam. Kami bertiga punya masalah berbeda. Tapi kok jalan keluarnya sama?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus Sang Imam tetap tunggal, beliau tafakur sejenak kemudian bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai kalian bertiga. Apakah kalian percaya akan Allah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tiga orang itu bingung....? ??? "Wahai Imam, itu jangan ditanya. Tentu saja kami percaya kepada Allah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, apa kalian beriman kepada Al-Quran sebagai wahyu Allah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya bingung berganda. "Wahai Imam, itu jangan ditanya. Tentu saja kami beriman kepada Al-Quran sebagai wahyu Allah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu. Perbanyaklah beristigfar kepada Allah. Sesungguhnya, jawaban dari ketiga masalah kalian adalah sama...Cobalah buka Quran Surat An-Nuh ayat 9-11 (kalau tidak salah, penulis, soalnya materi ini sumbernya dari ustadz dan sudah agak lama), niscaya kalian akan tahu kenapa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah kagetnya ketiganya setelah membuka ayat yang dimaksud bahwa jawaban dari masalah ketiganya jelas-jelas tercantum di ayat tersebut. Mereka takjub membacanya seakan-akan mereka belum pernah membaca Al-Quran sebelumnya.. ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan memberitahu apa yang tercantum di dalam ayat tersebut. Silahkan Anda lihat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau anda sudah melihat dan membacanya, tolong konfirmasi apakah kesimpulan kita senada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu bisa meredakan lumpur Lapindo..... ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya bisa........ ....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4146634535601641835?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4146634535601641835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4146634535601641835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4146634535601641835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4146634535601641835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/mungkin-ini.html' title='Mungkin ini............'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2kuWfLcaI/AAAAAAAAACk/ohrw1lC5MFs/s72-c/Mungkin+ini.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1254719182692193395</id><published>2007-07-18T13:15:00.001+08:00</published><updated>2007-07-18T13:20:55.585+08:00</updated><title type='text'>Sarjana de Yure v Sarjana de Facto</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2i_2fLcZI/AAAAAAAAACc/juQrMEDBLjY/s1600-h/sarjana.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088402371840274834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2i_2fLcZI/AAAAAAAAACc/juQrMEDBLjY/s320/sarjana.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting do GM2020 tanggal 30 Mei 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ini jangan dianggap serius yah........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba-coba bikin klasifikasi. Sebenarnya klasifikasi ini sudah lama ada di dalam kepala. Tapi saya tahan-tahan. Tapi belakangan saya sangat bernafsu menuliskannya. Takut kalau saya tahan lagi, manifestasinya bisa dua, di muka saya keluar jerawat, atau malah keluarnya jadi angin via bawah....hehehe. ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke masalah klasifikasi. Saya menggolongkan sarjana menjadi 2. Yaitu, Sarjana de Jure, dan Sarjana de Facto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana de Jure adalah sarjana yang berijazah. Diberi gelar sarjana karena sudah menyelesaikan suatu sistem pendidikan tinggi yang berlaku. Gelarnya tergantung bidang dan tingkatan. Gelar dan ijazah menunjukkan bahwa si empunya gelar dan ijazah diakui menguasai ilmu dalam bidang tertentu oleh sekolah tempat ia belajar. Tapi apa betul si sarjana menguasai bidang ilmunya, baik teori maupun praktis, belum tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana de Facto bagi saya adalah sarjana yang tidak berijazah. Tapi secara de Facto ia terbukti menguasai bidang ilmu tertentu. Masalahnya, karena orang-orang seperti ini tidak ikut proses penyerapan ilmu yang sistemik akademis, maka tidak ada yang mau beri gelar sarjana, apalagi kasih ijazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ini jangan dianggap serius yah.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada sebab apa saya bikin klasifikasi seperti ini?........ Iseng aja........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita menarik dan sederhana. Adik ipar saya yang mengelola tempat penitipan anak baru-baru curhat ke istri saya. Dia sudah rekrut seorang guru yang bersertifikat dan diakui sebab keluaran sekolah khusus untuk calon guru di penitipan anak. Selain guru ini, ia mempekerjakan seorang family suaminya untuk bantu-bantu mengawasi anak-anak yang dititipkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin adik ipar saya gemas, familily suaminya justru kelihatan lebih menguasai ilmu pengurusan anak daripada furu bersertifikat. Padahal, family suaminya itu berlatar belakang ilmu yang berbeda sama sekali, ia lulusan SMEA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kasus kecil-kecilan. Ada lagi kasus lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sulsel dulu ada perusahan teh yang dimiliki oleh Mitsui Company. Kalau anda tidak familiar dengan nama ini, ketahuilah bahwa Mitsui Company adalah salah satu Sogo Sosha (Kelompok Konglomerat kalau di Indonesia) yang membuat nama Jepang mengglobal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena urusannya bikin teh untuk ekspor ke Jepang, otomatis yang dipekerjakan kebanyakan sarjana pertanian dari Unhas. Menariknya, giliran mengetes kualitas teh hasil kebun mereka, pelakunya adalah seorang pekebun tradisional dari bandung yang nota bene bukan sarjana! Kemampuan orang ini dahsyat man! Hanya dengan satu kecupan, ia suda bisa bilang proses pembuatan teh itu yang kurang bagian mananya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, memangnya saya pro yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana de Jure itu bagus. Itung-itung punya ijazah punya gelar. Belakangan ini kalau mau cari kerja, dua itu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana de Facto, bagus sekali! Bayangkan, tidak melalui bangku sekolah, tapi menguasai sekali bidang ilmu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bisa seseorang adalah kombinasi dari keduanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini. Ini sebenarnya yang dicari! Sarjana yang punya ijazah dan gelar, tapi juga mumpuni secara de facto dalam bidang ilmunya. Bila ia sarjana pertanian, ia tidak kalah dari petani betulan. Kalau ia sarjana perikanan dan kelautan, ia tidak kalah dari nelayan betulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang gampang bisa begitu? Setahu saya sih tidak gampang..... ...mesti punya niat besar dan konsistensi tinggi dalam memperkaya bidang ilmunya..... .......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kayaknya susah yah......... .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, jangan dianggap serius deh......... .&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1254719182692193395?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1254719182692193395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1254719182692193395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1254719182692193395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1254719182692193395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/sarjana-de-yure-v-sarjana-de-facto.html' title='Sarjana de Yure v Sarjana de Facto'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2i_2fLcZI/AAAAAAAAACc/juQrMEDBLjY/s72-c/sarjana.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-667234154557414157</id><published>2007-07-18T13:02:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T13:14:53.229+08:00</updated><title type='text'>Pejamkan Mata........</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2hYmfLcYI/AAAAAAAAACU/shRDs5EFpng/s1600-h/Pejamkan+mata.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088400598018781570" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2hYmfLcYI/AAAAAAAAACU/shRDs5EFpng/s320/Pejamkan+mata.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 31 Mei 2007. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*********&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Itu di Gorontalo ada teman saya namanya Mas Wayan. Tanpa saya kasih tahu Anda pasti sudah tahu asalnya dari mana.......dari rahim ibunya..hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenal Mas Wayan urusannya tidak jauh-jauh dari Jepang. Dia adalah jebolan program magang depnaker ke Jepang. Saya senang mengamati dia, karena dia beda dengan jebolan magang ke Jepang yang banyak saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayan masih muda. Sudah punya usaha, kelihatannya maju, hebatnya karena dia di perantauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan untuk mengangkat profil Mas Wayan. Tapi efek tulisannya mau saya pantulkan ke orang-orang dinas tenaga kerja Gorontalo, syukur-syukur kalau orang pusat juga kena pantulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu program magang ke Jepang selalu jadi primadona di kalangan anak muda. Bayangkan saja. Di Jepang mereka bisa dapat gaji standarnya JPY150.000 (setara RP 12jt/bl) belum lembur. Setahu saya anak-anak magang itu lemburnya malah bisa lebih panjang dari jam kerja standarnya. Jadi bagaimana tidak menggiurkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan heran kalau ada anak magang Jepang baru pulang ke tanah air karena kontraknya habis, lagaknya bisa seperti OKB. Ya memang secara finansial mereka seharusnya pulang dengan kantong tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayangnya bukan cuma seribu sayang. Beribu-ribu sayang. Karenanya sejak awal motivasinya hanya mau cari uang banyak, yah dapatnya cuman uang banyak. Trus, apa uang banyaknya bertahan terus-terusan sampai setelah kembali ke tanah air?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia faktanya. Survey tidak resmi saya membuktikan, kebanyakan anak magang yang pulang ke tanah air enggan menerima tawaran kerja dari perusahaan di Indonesia karena membandingkan dengan gaji yang mereka dapat ketika di Jepang. Jelas aja nggak matching..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan survey saya lagi, biasanya setelah kembali ke tanah air, mantan anak-anak magang ini hanya terpaku pada 2 pilihan. Pertama, cari jalan untuk kembali ke Jepang lagi, meskipun dengan cara-cara ilegal, dan kedua, berfoya-foya sebagai OKB sampai duitnya habis baru menyesal and trus cari kerja. Kasihan..... .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau urusannya dengan uang, setahu saya masalahnya juga dua: 1. Kekurangan Uang, 2. Kebanyakan Uang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, anak-anak magang yang baru pulang itu bermasalah di poin 2. Kebanyakan uang dalam semalam, balik ke Indonesia tidak tahu uangnya mau diapakan, berfoya-foya, habis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang mengurusi ini di Dinas Tenaga Kerja, ini bagian anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sebelum mereka diberangkatkan, selain mengajari hal-hal yang berbau teknis pekerjaan, ajari juga dong mereka cara-cara mengelola uang pasca program. Coba undang orang-orang yang memang kapabel memberi pelatihan seperti ini supaya peserta magang ini setelah pulang tidak justru menambah angka kemiskinan setelah sempat menambah sesaat jumlah orang kaya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya bisa hipnotis Anda yang di Dinas Tenaga Kerja Gorontalo, saya akan bilang begini ke Anda........ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pejamkan mata Anda....Gunakan alam bawah sadar Anda.......&lt;br /&gt;Bayangkan, kalau semua anak magang ke Jepang asal Gorontalo pulang-pulang bawa uang banyak,&lt;br /&gt;Mereka kemudian jadi pengusaha, membuka lapangan kerja, keuntungan berlipat ganda,&lt;br /&gt;Pajak mengalir ke Pemda....... ..bayangkan. .......bayangkan ......... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuuuuuuuuuutttt. ...Orang Dinas Tenaga Kerjanya mau dihipnotis malah kentut!.....&lt;br /&gt;(hehehe..... .bercanda dikit....... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda tidak percaya dengan cerita saya tentang Mas Wayan ini, coba aja Anda cari dia di Gorontalo. Kalau tidak salah perusahaannya memroduksi mesin-mesin pemotong kayu, dan mesin-mesin lain. Coba deh Anda cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang Anda ketemu dengan Mas Wayan itu, berarti cerita saya benar.&lt;br /&gt;Kalau tidak ketemu?&lt;br /&gt;Wallahu 'alam.....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-667234154557414157?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/667234154557414157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=667234154557414157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/667234154557414157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/667234154557414157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/pejamkan-mata.html' title='Pejamkan Mata........'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2hYmfLcYI/AAAAAAAAACU/shRDs5EFpng/s72-c/Pejamkan+mata.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7572033303498110803</id><published>2007-07-18T11:14:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T11:22:17.421+08:00</updated><title type='text'>Ayam sama Telur</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2HNWfLcWI/AAAAAAAAACE/awFd1vhdYfg/s1600-h/ayam.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088371817442931042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2HNWfLcWI/AAAAAAAAACE/awFd1vhdYfg/s320/ayam.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya poting do GM2020 tanggal 31 Mei 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Waktu masih kecil pertama kali dapat pertanyaan duluan mana ayam sama telur, gerombolan kami ribut. Yang yakin telur duluan, ngotot. Yang yakin ayam duluan, sama ngototnya. Ngotot ketemu ngotot, yah ribut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian serupa pernah saya alami ketika sudah akil balik bin dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya masih mengelola sekolah Bahasa Jepang. Suatu saat Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar mengundang asosiasi pengelola kursus untuk dialog. Isinya sudah bisa ditebak dari nama dinas yang mengundang. Apalagi kalau bukan rencana mereka untuk mengenakan pajak bagi lembaga-lembaga pendidikan. Padahal selama ini para pengelola lembaga pendidikan banyak dipuji karena mereka membantu pemerintah memajukan pendidikan, makanya tidak dikenakan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kejadian waktu saya masih kecil di atas, isi rapat melulu ribut. Protes sini, interupsi sana, marah kanan, umpatan kiri....pokoknya kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus saya tanya orang dinas itu, emang kenapa kok tiba-tiba lembaga pendidikan akhirnya dimasukkan dalam target list untuk kena pajak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban mereka kena........ maksud saya, kena....pa jawaban mereka bisa begitu? Katanya, untuk meningkatkan pendapatan daerah dan ujung-ujungnya bisa meningkatkan pelayanan publik dari pemerintah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha...... logika mereka dalam memahami dilema ayam dan telur terlalu linear (meminjam istilah pak MY, thanx pak MY ini bukti keberhasilan pak MY memasyarakatkan bahasa fisika ke seluruh penjuru mata angin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus saya tanya, "Kok sistematika berpikirnya tidak dibalik? Kenapa tidak kualitas layanan publik dinaikkan dulu, pendapatan daerah menurut insting saya akan ngekor naik juga...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insting saya ada dasarnya. Pernah seorang teman berkantong tebal mengundang saya makan malam. Kami ke restoran pakai mobil BMWnya edisi terbaru. Ketika sampai di restoran, mobilnya dapat tempat parkir khusus (walaupun di pinggir jalan juga). Kompensasinya buat si tukang parkir, kalau waktu itu mobil biasa parkirnya cuman Rp500, dia bayar Rp5000!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya ke teman itu, apa kalau BMW parkirnya harus Rp5000? Dia bilang, sama saja dengan yang lain. Dia bayar Rp5000 karena kalau datang pasti dikasih tempat parkir spesial itu dan ada jaminan bahwa mobilnya tidak akan kena goresan orang iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin bisa jadi masukan buat orang dinas pendapatan daerah di Gorontalo. Kalau mau PADnya naik, tingkatkan dulu pelayanan publiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha, kan untuk meningkatkan pelayanan publik butuh uang, mas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang? Tidak semuanya. Contoh, mempercepat urusan KTP, KK, atau dokumen-dokumen serupa lainnya. Siapa bilang untuk mempercepat urusan itu mesti butuh biaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saya dapat tugas dari organisasi mengurusi Exit Permit (izin keluar) di kantor imigrasi makassar bagi anak-anak bule yang ditempatkan di kota Makassar. Urusannya urgen karena kalau exit permitnya tidak segera keluar hari itu juga anak-anak itu tidak akan dapat tiket pulang lagi. Saya sebenarnya enggan karena sudah tahu bagaimana situsi di kantor imigrasi yang UUD (ujung-ujungnya duit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugasnya pakai baju koko (kalo tidak salah itu hari jumat) kelihatannya sudah siap-siap untuk urusan akhirat shalat jumatan. Waktu saya menghadap, dia dengan tulus mengerutkan dahinya. Katanya, "wah mas, kalau urusan begini bisa 2 minggu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, "Bapak tolonglah. Kami bukan organisasi profit dan anak-anak ini juga di Indonesia untuk pertukaran pelajar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kelihatan sangat bersimpati. "Begini aja mas. Bisa sih kalau mau hari ini, tapi........ .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti sudah tahu "tapinya" itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya setuju menyanggupi "tapinya", ternyata yang katanya butuh 2 minggu, selesai dalam 2 jam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir banyak orang-orang di pelayanan publik terlalu berpikir "konstanta" (baca=jangka pendek) dan tidak "anomali" (baca=kreatif) ! (kalau 2 kata itu benar nggak saya cara pakainya pak MY?Kalau salah, sorry berarti level saya belum sampai ke situ fisikanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin mereka masih trauma atas jebakan pertanyaan duluan mana telur sama ayam. Makanya sampai duduk di tempat pelayanan publik pun sistematika berpikirnya masih kacau.....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7572033303498110803?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7572033303498110803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7572033303498110803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7572033303498110803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7572033303498110803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/ayam-sama-telur.html' title='Ayam sama Telur'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2HNWfLcWI/AAAAAAAAACE/awFd1vhdYfg/s72-c/ayam.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-8574750150010376603</id><published>2007-07-18T10:50:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T11:08:45.870+08:00</updated><title type='text'>Umar bin Khattab Gusar kepada Gorontalo</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2EFWfLcVI/AAAAAAAAAB8/rGs8-dH7hoo/s1600-h/umar.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088368381469094226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2EFWfLcVI/AAAAAAAAAB8/rGs8-dH7hoo/s320/umar.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 7 Juni 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Alhamdulillah. ......akhirnya saya punya waktu lagi duduk manis depan laptop saya untuk nulis setelah sekian hari sibuk urusan duniawi alias urusan perut dan sekitarnya (cari makan = urusin kerjaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya plong kayak permen. Satu urusan sudah dimudahkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang mengganjal. Umar bin Khattab Radiyallahu Anhu (RA) gusar kepada saya. Umar RA gusar karena saya nulis di milis untuk memajukan Gorontalo Insya Allah di tahun 2020 tapi saya dianggap tidak memajukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bingung! Emangnya Khalifah Umar RA untuk memajukan Gorontalo maunya gimana? Kan teman-teman lain yang memang Gorontalo original (kalau saya ini Gorontalo Crispy, ada campurannya) udah gitu ada yang diracik di USA not to mention AUSSIE plus EU - tidak lupa berbagai belahan lainnya kecuali belahan yang bernuansa negatif - udah punya banyak konsep dengan nama aneh-aneh tapi yahud?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah tapi Khalifah ini tetap gusar! Subhanallah! Kalau Umar RA gusar bahaya. Dalam riwayat, setan aja lebih milih menyingkir daripada berpapasan dengan panglima perang Islam ini! Panglima yang dibimbing langsung oleh Rasulullah SAW yang nota bene penerima wahyu yang tidak boleh dan tidak bisa sebersitpun kita ragukan dan kita lawan dengan argumen duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih bingung, maunya Umar RA apa?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata simple. Umar RA meskipun jenius dalam bidang ekonomi dengan bukti berhasil menguasai wilayah Persia dan Romawi (2 kerajaan besar dunia ketika itu) dan memajukan jazirah arab, ajaran kemajuannya sangat down to earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maunya umar sederhana. Kalau Gorontalo mau maju Insya Allah di 2020, "MAJUKAN PRODUKSI"!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang pesan-pesan Umar RA seperti apa, kenapa saya membahaskan dengan Majukan Produksi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. "Tidaklah Allah SWT menciptakan kematian yang aku meninggal dengannya setelah terbunuh dalam jihad fi sabilillah yang lebih aku cintai daripada aku meninggal di antara dua kaki untaku ketika berjalan di muka bumi dalam mencari sebahagian karunia Allah SWT."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bebas, "Aku masih jauh lebih mencintai bila meninggal di antara dua kaki untaku ketika dalam perjalanan mencari sebahagian karunia Allah SWT (baca= bekerja) daripada terbunuh dalam jihad fi sabilillah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Umar RA melihat tiga orang di mesjid tekun beribadah, maka beliau bertanya kepada salah satu di antara mereka," Dari mana kamu makan?" Ia menjawab,"Aku adalah hamba Allah, dan Dia mendatangkan kepadaku rezkiku sebagaimana Dia kehendaki."&lt;br /&gt;Lalu Umar RA meninggalkannya dan menuju kepada orang kedua seraya menanyakan hal yang sama. Jawab orang kedua,"Aku memiliki saudara yang mencari kayu di gunung untuk dijual, lalu dia makan sebahagian hasilnya, dan dia datang kapadaku memenuhi kebutuhanku. " Kata Umar RA, "Saudara kamu lebih beribadah daripada kamu!"&lt;br /&gt;Lalu Umar RA mendatangi orang ketiga dan bertanya hal yang sama. Jawab orang itu, "Manusia melihatku, lalu mereka datang kepadaku dengan sesuatu yang mencukupi kebutuhanku. " Umar RA mengeluarkan tongkatnya, memukul orang itu seraya berkata,"Keluar kamu ke pasar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Umar pernah menghimbau kepada seorang gubernur di jamannya, "Nasehatku kepadamu, dan kamu berada di sisiku, adalah seperti nasehatku terhadap orang terjauh dari wilayah kaum muslimin. Jika keluar gajimu, maka sebagiannya kamu belikan kambing, lalu jadikanlah di daerahmu. Dan jika keluar gajimu yang selanjutnya, belilah satu atau dua ekor, lalu jadikanlah sebagai harta pokok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Umar pernah bertanya kepada seseorang, "Apa yang menghalangimu untuk menanami tanahmu?!" Jawab orang itu, "Aku orang yang tua renta. Aku akan mati besok." Kata Umar RA, "Aku wajibkan kepadamu untuk menanaminya! " Lalu umar turun langsung bersama orang tua renta itu membantunya menanami lahan orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak pesan Umar RA. Kelihatannya dengan pesan-pesan ini saya mulai tidak bingung. Umar RA menitikberatkan pembangunan sektor produksi dalam mengembangkan wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sepertinya masih tertinggal satu kebingungan. Apa sih urgensi produksi sehingga Umar RA gusar begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merealisasikan keuntungan seoptimal mungkin. Ini sih biasa. Tapi dari contoh Umar RA, ada yang berbeda dengan perealisasian keuntungan seoptimal mungkin a la kaum kapitalis atau ekonomi konvensional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Merealisasikan keuntungan seoptimal mungkin dari sisi ekonomi konvensional bermotivasi dua:&lt;br /&gt;1. Memperkaya diri pribadi&lt;br /&gt;2. Mengejawantahkan kebebasan pribadi secara mutlak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nah, 2 hal tersebut tidak diterima dari sisi syariat Islam. Pertama, karena individu adalah bagian dari ummat yang seharusnya ikut merasakan suka dan duka bersama. Kedua, Islam adalah agama yang sangat menjamin kebebasan individu. Tapi seyogyanya kebebasan individu itu tidak mendatangkan mudharat terhadap kaum muslimin, meskipun itu mendatangkan keuntungan optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merealisasikan kecukupan individu dan keluarga. Ini juga cukup jelas&lt;br /&gt;Tidak mengandalkan orang lain. Di sini Umar RA sudah bertindak pula sebagai seorang motivator ulung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pernah seorang pemuda yang kuat badannya masuk ke mesjid sambil membawa anak panah, lalu dia berkata,”Siapa yang dapat membantuku dalam jihad fi sabilillah?” Umar RA minta dipanggilkan pemuda itu. Umar bertanya,”Siapa yang mau mempekerjakan anak muda ini di ladangnya atas namaku?” Seseorang dari kaum Anshar berkata, ”Saya, wahai Amirul Mukminin!” Umar berkata ”Ambillah Dia!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Melindungi harta dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengekplorasi sumber-sumber ekonomi dan mempersiapkannya untuk dimanfaatkan&lt;br /&gt;Pembebasan dari belenggu taklid ekonomi&lt;br /&gt;Taqarrub kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sekarang jelas mengapa Umar RA gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Gorontalo kalau mau maju sederhana. Penduduk Gorontalo harus dimotivasi untuk mengembangkan sisi produksi. Bukan justru bertindak konsumtif. Apalagi berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kegusaran Umar RA sudah terbukti. Coba ambil pelajaran bagaimana Mall Limboto ternyata bangkrut. Yah ada hikmahnya. Di satu sisi juga mungkin ornag Limboto cukup cerdas untuk tidak termakan bersikap konsumtif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kegusaran Umar RA. Semoga beliau juga tidak gusar dengan orang-orang muslim pengambil keputusan di Gorontalo yang tidak mengedepankan sektor produksi. Jangan sampai Umar RA gusar lagi sama orang Gorontalo. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jangan sampai.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-8574750150010376603?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/8574750150010376603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=8574750150010376603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8574750150010376603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8574750150010376603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/umar-bin-khattab-gusar-kepada-gorontalo.html' title='Umar bin Khattab Gusar kepada Gorontalo'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp2EFWfLcVI/AAAAAAAAAB8/rGs8-dH7hoo/s72-c/umar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7994492750202304868</id><published>2007-07-18T10:42:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T10:49:32.659+08:00</updated><title type='text'>Hukum DM</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp1_kWfLcUI/AAAAAAAAAB0/2T4HfI3Bz1o/s1600-h/DM.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088363416486900034" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp1_kWfLcUI/AAAAAAAAAB0/2T4HfI3Bz1o/s320/DM.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 8 Juni 2007. Saya terinspirasi dari berita koran hari itu di Makassar bagaimana banyak pihak di Makassar seperti kebakaran jenggot karena Kota Makassar tidak dapat Adipura. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Mobil baru" berbeda sekali artinya dengan "Baru mobil". Mobil baru adalah mobil yang masih baru, sedangkan baru mobil mungkin bisa berarti bahwa saat ini saya baru bisa membeli mobil. Belum bisa beli helikopter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Ilmu Bahasa Indonesia hukum ini disebut hukum D-M (Diterangkan menerangkan) . Bahaya kalau orang belajar bahasa Indonesia tidak menguasai hukum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah seorang siswa pertukaran pelajar di Makassar yang masih dalam taraf belajar bahasa Indonesia salah menggunakan hukum ini. Dia siswa wanita bule. Dia coba-coba pergi ke pasar sentral sendirian dengan bekal bahasa Indonesia seadanya. Kebetulan mau beli CD (celana dalam - penulis). Dia bilang kepada penjual yang kebetulan laki-laki, "Pak bisa beli Dalam Celana - nya?". Kontan penjual senyum-senyum berkata, "Tidak usah beli nona, itu gratis...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah berabe kan kalau tidak kuasai hukum DM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja orang kita menguasai hukum ini dengan baik. Diterangkan - Menerangkan. Hukum ini sudah mendarah daging dalam sistem berbahasa Indonesia kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada juga keterbalikan logika di mana-mana. Padahal mestinya kalau hukum DM sudah dikuasai, tidak terdapat lagi keterbalikan logika sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya di Makassar. Tadi pagi berita di Makassar TV memuat bagaimana Walikota dan anggota DPRD pada ribut karena Makassar tidak dapat Adipura dan bahwa Makassar katanya masuk kategori kota kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, memangnya kenapa semua pada gusar setelah ada penilaian itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya yang penting penghargaan atau predikatnya atau de facto nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kelihatan logikanya terbalik. Seperti waktu saya tulis masalah ayam sama telur. Wajar kalau sekarang banyak kebingungan. Karena sejak awal logikanya memang terbalik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7994492750202304868?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7994492750202304868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7994492750202304868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7994492750202304868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7994492750202304868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/hukum-dm.html' title='Hukum DM'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp1_kWfLcUI/AAAAAAAAAB0/2T4HfI3Bz1o/s72-c/DM.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-410655232751285852</id><published>2007-07-18T10:34:00.000+08:00</published><updated>2007-07-18T10:40:46.033+08:00</updated><title type='text'>Mottainai = Dibuang sayang</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp19fmfLcTI/AAAAAAAAABs/16Aoq8NX3kI/s1600-h/mottainai.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088361135859265842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp19fmfLcTI/AAAAAAAAABs/16Aoq8NX3kI/s320/mottainai.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 14 Juni 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Itu komputer OH lagi diolok-olok, katanya mending dijual kiloan. Tapi dasar orang pintar, OH juga jawabannya cantik, "Dibuang? sayang..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalian aja saya sedikit bagi ilmu bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang ada satu kata yang berbekas di hati saya, yaitu kata "MOTTAINAI". Secara literatur artinya "Sayang". Bukang sayang untuk mengungkapkan rasa cinta, tapi sayang untuk membuang atau melewatkan sesuatu yang dianggap masih berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kata ini berbekas di hati? Karena di Jepang kata ini bukan sekedar kata biasa, tapi teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari nan moderen orang Jepang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenanya ini tidak luar biasa. Islam sendiri memiliki kosakata yang jauh lebih canggih untuk tujuan setimpal. Tidak tahu dalam bahasa Arabnya apa, tapi dalam kita-kitab yang saya baca, diistilahkan "TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda amat?! Ya nggak dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh komputer OH. Semua anggota milis tahu bahwa perangkat komputer itu, kalau beli tahun ini, tahun depan mungkin sudah old fashion. Ada sebuah kampung namanya Fiksiland di negeri antah-berantah, saking maniaknya sama teknologi terdepan, dalam acara pernikahan, pasangan muda mudinya bukannya menggunakan "Seperangkat alat Shalat" sebagai mas kawin, tapi "Seperangkat Komputer dengan Prosessor Intel Terbaru".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, filosofi dalam kata "MOTTAINAI", kalau masih bisa dipakai, jangan dibuang. Kalaupun punya uang, jangan cepat-cepat ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu kapan gantinya? Kalau sudah urgen. Dalam hal ini, yang lebih komprihensif memberi pedoman, adalah kosakata dalam Islam yang artinya "Jangan berlebih-lebihan" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, gantilah komputer OH, kalau memang dengan mempertahankan komputer tua itu membawa mudharat lebih banyak buat OH. Itupun, kalau sudah putus mau menggantinya, janganlah dibuang, berilah ke orang lain yang kiranya membutuhkan dan membawa kebaikan dunia akhirat buat orang itu. Ini kiranya filosofi tidak berlebih-lebihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOTTAINAI sudah mendarah daging mengiang-ngiang di telinga orang Jepang. Konsekuensinya, kemajuan teknologi daur ulang. Pernah saya posting mengenai bagaimana mereka memperlakukan sampah sebagai sesuatu yang berharga. Tapi saya masih ingat hal lain lagi. 2 dan 3 tahun lalu saya sempat nginap di sebuah hotel di Tokyo. 3 tahun lalunya untuk sebuah konferensi yang merangkap hadiah jalan-jalan, nginapnya di hotel mewah bintang lima. Kemudian 2 tahun lalunya saya pergi lagi untuk urusan volunteering, nginapnya di hotel non bintang. Tapi saya perhatikan baik hotel bintang lima maupun non bintangnya, kesamaannya jelas. Di dalam kamar mandi hanya tersedia sabun dan sampo cair yang tempatnya melengket di dinding model pencet-keluar (jelasnya, kalau dipencet sabun atau samponya keluar). Ternyata lagi, di kedua hotel sama jelas tertulis di atas kotak sabun/samponya, "PAKAILAH SECUKUPNYA".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir saya, canggih juga. Orang kalau namanya daki, kan tidak tebal-tebal amat. Lagian masak sih orang nginap di hotel seperti itu habis dari bengkel yang badannya penuh oli sampai harus pakai sabun colek satu toples?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedakan dengan di hotel kita? Pakai sabun batang atau bulat walaupun sudah dikecilkan ukurannya. Masalahnya, kalau tidak habis, apa orang yang menginap di kamar sama di hari berikutnya mau pakai sisanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini saya pikir-pikir, apa ada kosakata serupa dalam bahasa Gorontalo? Soalnya berhubung saya lahir dan besar di Makassar, saya cari-cari kalau dalam bahasa Makassar kelihatannya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalau dalam bahasa Gorontalo ada, sedikit-sedikit kita gaungkan deh. Setelah itu kita bikin orang terispirasi dengan filosofi yang ada di belakangnya. Supaya orang Gorontalo bisa maju dengan bersahaja, tidak boros bin berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ternyata tidak ada, saya pikir kata "MOTTAINAI" kita serap saja menjadi bahasa Gorontalo dengan melakukan sedikit modifikasi. Bagaimana kalau "MOTTOONOO"?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-410655232751285852?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/410655232751285852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=410655232751285852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/410655232751285852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/410655232751285852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/mottainai-dibuang-sayang.html' title='Mottainai = Dibuang sayang'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rp19fmfLcTI/AAAAAAAAABs/16Aoq8NX3kI/s72-c/mottainai.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-7929073208957206822</id><published>2007-07-14T11:48:00.000+08:00</published><updated>2007-07-16T12:52:18.122+08:00</updated><title type='text'>Anakku Mengetuk Kulkas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RphNkmfLcSI/AAAAAAAAABk/TnR1JoPIeBo/s1600-h/Ai+dan+Bunda+Heni.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086901070316925218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RphNkmfLcSI/AAAAAAAAABk/TnR1JoPIeBo/s320/Ai+dan+Bunda+Heni.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anakku Muh. Ainurridho Uno. Saya dan istri saya waktu itu saling ganggu, tidak taunya,&lt;br /&gt;Alhamdulillah, lahir anak yang kami nanti-nantikan. Waktu mau kasih nama, rada susah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami coba pegang prinsip agama. Bahwa nama bagusnya pendek saja. Tapi artinya juga harus bagus karena kalau dia dipanggil, maka panggilan itu bisa jadi doa. Saya dan istri saya beli banyak buku-buku nama sebelum hari H kelahiran anak kami. Selain kriteria agama, istri saya juga ada kriteria lain. Dia mau nama anaknya ada 'bau' Jepangnya. Soalnya dia terobsesi banyak sama Jepang dari cerita-cerita saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sepakat nama di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad-nya sudah mencakup nama Bapak saya, Muhammad Amin Uno, orang dekatnya saya dengar sering panggil beliau 'Kak Moba'. Maklum ini cucu pertama dan satu-satunya sampai saat ini dari pihak keluarga saya. Jadi kami harus meniggalkan kesan bahwa nama si cucu terisnpirasi juga dari kakek dari papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek dari bundanya bernama Muhammad Nur Thahir. Bunyi 'Nur" dalam nama di atas juga tentu mendapat insprirasi dari nama kakek dari bundanya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ainurridha sendiri kalau tidak salah berarti 'enak dipandang mata'. Memang itu juga harapan kami. Bahwa anak kami ini selalu menjadi penghibur kami sampai kapan pun. Bagusnya lagi, dengan nama ini, kami bisa memanggilnya dengan sebutan 'Ai', yang dalam bahasa Jepang berarti cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkap deh semua kriteria yang dituntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, si Ai memang enak kami pandang. Trus tingkahnya juga lucu. Tulisan ini terinspirasi dari tingkahnya semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Ai berumur 3 tahun. Bicaranya memang agak lambat dibanding anak seusianya. Tapi kami sudah bisa menangkap maksudnya dan dia pun sudah mulai menangkap apa yang kami ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pulang ke rumah dari luar, kami memang selalu mengajarkan Ai untuk mengucap salam bagi orang yang di dalam. Rutinnya seturun dari mobil, saya menggendong Ai turun ke depan pintu rumah dan mulai mengetok pintu sambil mengucapkan "Assalaamu Alaikum!" untuk pembantu kami di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan Ai sudah mengerti. Bahwa kalau tiba di pintu harus mengetuk dan mengucapkan salam. Jadi dia akhirnya selalu mendului saya. Tangannya mengetuk lembut sambil berteriak,"Calamulecuuum!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami selalu senyum kalau lihat tingkahnya ini. Kami perhatikan ilmunya semakin meningkat. Setelah itu bukan saja kalau kami tiba di rumah dari luar, tapi kalau dia mau masuk kamar pun sering mengetuk dan ucap salam. Hahaha...kami senang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semalam bukan cuman bikin senang. Tapi bikin kami ketawa lebar. Ceritanya dia mau buka kulkas. Waktu sampai di pintu kulkas, dia mengetok dulu sekaligus beri salam.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan istri saling pandang dan tersenyum lebar. Kata istri saya, "Nak, itu kulkas. Di dalamnya tidak ada orang. Jadi, Ai tidak usah bilang "Calamulecuum".........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak ulah Ai yang lucu-lucu. Biasanya setelah saya perhatikan saya coba mengambil kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ulahnya mengetuk kulkas sambil beri salam, saya jadi mengerti satu hikmah hidup.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bahwa proses belajar itu tidak mesti langsung tau dan langsung benar. Bahwa belajar itu juga mencakup belajar dari kesalahan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kelihatannya ini masalah terbesar kita dewasa ini. Bicara tentang sistem pendidikan, sistem kita dirancang untuk takut salah. Malah dalam beberapa hal lebih ekstrim lagi, bahwa tidak boleh salah sama sekali! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akibatnya, mental banyak orang kita jadi mental harus benar. Walaupun itu salah. Ujung-ujungnya timbul kebiasaan ABS = Asal Bapak Senang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Padahal banyak penemuan besar dunia berawal dari kesalahan. Ada orang-orang tertentu malah berani berkumpul dalam 'Komunitas Berani Salah/Gagal'.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mungkin manusia juga secara alamiah akan terbawa dengan kebiasaan ini. Susah memang kalau orang sudah dewasa dituntut seperti anak-anak dalam belajar. Anak-anak itu tidak merasa malu salah, seperti ai mengetuk pintu kulkas sambil beri salam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya ada pengalaman bagus. Saya belajar ke Jepang sudah 2 kali kesempatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pertama waktu SMA kelas 1 ikut pertukaran pelajar AFS/Yayasan Bina Antarbudaya. Saya ingat ketika itu saya berangkat ke Jepang dengan bekal 0 Nihon-go (bahasa Jepang). Sesampai di sana, saya tinggal di keluarga angkat Jepang asli, dan bersekolah di sma Jepang selayaknya anak Jepang yang lain. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya saya harus beradaptasi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi harus saya akui bahwa dengan usia semuda itu (sekarang juga masih muda seh...dibanding kakeknya Ai....hehehe...), semangat belajar saya masih tinggi dan perbedaharaan malu dan takut salah juga masih rendah. Jiwa adventurenya lebih banyak. Walhasil dalam waktu 2 bulan Alhamdulillah saya bisa menguasai bahasa Jepang sehari-hari. Setelah 4 bulan, sedikit banyak saya bisa berinteraksi dalam pelajaran sekolah. Perbendaharaan huruf Kanji juga maju pesat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi ceritanya sangat berbeda ketika saya berangkat lagi belajar untuk setahun di tahun 1996. Waktu itu saya kuliah. Suasananya sudah lebih formal. Dalam bergaul di kampus saya sudah takut dan malu kalau salah. Akibatnya berbeda sekali. Tetap saja saya akui Nihon-go saya banyak kemajuan. Tapi saya yakin kemajuannya akan lebih tinggi seandainya saya tetap bersikap seperti waktu masih sma.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Well....Ai mungkin masih akan tetap bertingkah lucu dan tidak pada tempatnya untuk beberapa saat. Dengan belajar hikmah ini, saya jadi terpikir, Ai bertindak tidak takut/malu salah di luar kendalinya. Kalau kita sebagai orang dewasa yang sudah bisa memegang kendali, bisa nggak ya mengendalikan supaya kita tidak takut/malu salah?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mari kita coba....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-7929073208957206822?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/7929073208957206822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=7929073208957206822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7929073208957206822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/7929073208957206822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/anakku-muh.html' title='Anakku Mengetuk Kulkas'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RphNkmfLcSI/AAAAAAAAABk/TnR1JoPIeBo/s72-c/Ai+dan+Bunda+Heni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-8378408224255251656</id><published>2007-07-13T10:30:00.000+08:00</published><updated>2007-07-13T10:38:00.172+08:00</updated><title type='text'>Mulai dengan Memulai</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpblXmfLcRI/AAAAAAAAABc/k_zV2YleLDw/s1600-h/memulai.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086505022792626450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpblXmfLcRI/AAAAAAAAABc/k_zV2YleLDw/s320/memulai.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting di GM2020 tanggal 28 Juni 2007. Potingan ini menjawab pertanyaan seorang milister apakah saya ada menulis buku atau tidak? Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;**********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bung Fadli dalam postingan saya terdahulu bahwa saya sedih karena file buku saya hilang oleh semut (mungkin gaya bahasa saya terlalu manis sampai semut pun terpanggil kali ya), itu serius. Tapi saya senang juga, sejak itu saya tidak pernah mau menyimpan gelas atau minuman apapun di samping laptop saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang juga karena anda mengingatkan saya tentang itu dan judul buku yang wafat secara prematur itu muncul kembali di benak saya. Saya mau sedikit menulis pagi ini terinspirasi oleh judulnya, "Mulai dengan Memulai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jejak memori yang tertinggal, chapter pembuka dimulai dengan setting berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kisah ini balik ketika orang sedang mewujudkan impian untuk terbang ke bulan. Amerika sebagai negara terdepan dalam teknologi ini berkomitmen untuk menyediakan berapapun biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan impian mereka, the american dream, the people's dream, to land on the moon....menginjakka n kaki di bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita semua ilmuwan dan teknisi terbaik dalam bidangnya dilkumpulkan. Blueprint dan prototype sudah dihasilkan. Kerja sebenarnya pun dimulai. Para ilmuwan dan teknisi bahu membahu membangun sebuah pesawat luar angkasa yang didorong oleh roket canggih yang diskenariokan akan membawa manusia ke orbit bulan untuk selanjutnya mendarat di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain yang tidak kalah rumitnya adalah menyiapkan calon awak...para astronot yang harus merupakan orang-orang terbaik. Orang-orang yang bukan sekedar intelligent, tapi juga berani dan skillful sehingga mereka bisa menyelesaikan misi untuk menginjakkan kaki di bulan, tapi lebih dari itu kembali ke bumi dengan selamat. Proses penentuan para awak memakan waktu lama. Belum lagi proses persiapan mereka. Singkat cerita ini pun telah dilewati. Sekelompok orang-orang pilihan telah siap menjalankan misi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tiba hari H. Hari penting yang akan tercatat dalam sejarah manusia. Hari penting yang akan membuktikan atau menggugurkan banyak hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mata dan telinga tertuju pada misi ini. Kesibukan berubah menjadi puncak ketegangan. Di bangunan pusat kendali misi, direktur pusat kendali menjadi aktor terpenting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saat hitung mundur yang ditunggu-tunggu. Bagian bawah roket berukuran super besar sudah keluar asap mengepul, pertanda pesawat beroket pun siap meluncur ke atas. Monitor kesiapan masing-masing awak juga tidak menunjukkan kejanggalan. Sampai pada saat countdown, direktur pusat kendali mendapat konfirmasi bahwa misi siap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara time operator akhirnya bergema...&lt;br /&gt;TEN.....NINE. ...EIGHT. ...SEVEN. ...SIX... .FIVE.... FOUR...THREE. ...TWO... .ONE....ZERO! !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepasang pun mata yang tidak tertuju pada landasan peluncuran. Anggota ahli pengendali fokus pada monitor di depan mereka dan pada sebuah monitor raksasa yang memperlihatkan kondisi pesawat secara utuh. ANEH! Pesawat tidak juga meluncur. Semua elemen bingung dan sibuk mencari-cari, jangan-jangan kesalahan ada di pihak mereka. Bingung..... tegang... ..kerigat berkucuran.. ...gugup. ...semua bercampur jadi satu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya penyebab tidak meluncurnya pesawat ditemukan! ............ ......... ......... ......... ......... ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata.... ......Direktur Pusat Kendali Misi........ ........TIDAK MENEKAN TOMBOL START!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Fadli, itu sejauh yang saya bisa ingat tentang pembukaan almarhumah buku saya (saya sebut almarhumah karena dia so sweet dimakan semut.....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir analogi itu tepat untuk menggambarkan kondisi banyak orang. Ambil contoh istri saya. Berkali-kali dia deklarasi di tempat tidur. Pokoknya saya mau fitness, katanya. Dia sudah ngecek tempat fitnes yang bagus dan khusus wanita mengingat dia berjilbab. Dia juga sudah beli baju fitnesnya. Biar rame, dia juga sudah telepon teman supaya ada yang menemani, katanya. Pendek kata, semuanya sudah siap. Hanya satu, dia tidak pernah pergi ke tempat fitnes itu. Malasnya lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman lama saya yang dosen juga punya masalah serupa. Ngerti dia bahwa untuk dapat beasiswa mesti punya TOEFL Score memadai. Tapi sejak dia ngomong ke saya dulu sampai sekarang, setau saya dia tidak pernah berinisiatif menghadiri kursus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa tapi tak sama adalah kakak ipar saya. Selalu saja mengeluh, batuknya tidak pernah berhenti. Ke dokter, dokter cuman minta satu, berhenti merokok! Kakak ipar saya sih setuju. Awalnya kelihatan dia sangat profesional dengan niatnya. Tapi bagaimana mau berhenti, sebungkus rokok yang dia bilang untuk jaga-jaga selalu ada di kantong celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Fadli, mungkin anda punya banyak mimpi atau obsesi (yang baik-baik saja tentunya). Saya sarankan, apa pun itu, cobalah anda ambil langkah pertama, agar itu bisa membawa anda ke langkah ke dua, bahkan kalau perlu ketiga, dan seterusnya. Bukankah langkah ke 1000 tidak akan ada tanpa langkah pertama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soichiro Honda pendiri Honda Motor Company itu dikenal nakal dan bodoh di sekolahnya. Tapi dia minat besar pada permesinan. Asal tau saja Bung Fadli, sebelum bikin mobil, dia dulu jagonya bikin motor. Sekarang mobil racing Honda menyaingi Ferari. Tidak bakal ada itu kalau ia tidak mulai dengan langkah pertamanya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Bung Fadli,&lt;br /&gt;Saya sumbang saran untuk anda, apapun impian anda, mulailah! Tanya bagaimana? Ya pokoknya mulai saja!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-8378408224255251656?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/8378408224255251656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=8378408224255251656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8378408224255251656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8378408224255251656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/mulai-dengan-memulai.html' title='Mulai dengan Memulai'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpblXmfLcRI/AAAAAAAAABc/k_zV2YleLDw/s72-c/memulai.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1102897907380410817</id><published>2007-07-13T10:16:00.000+08:00</published><updated>2007-07-16T14:25:55.058+08:00</updated><title type='text'>Mulai itu duluan, Mencapai impian belakangan!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpbiJ2fLcQI/AAAAAAAAABU/tBWWVqdfwto/s1600-h/proses.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086501488034541826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpbiJ2fLcQI/AAAAAAAAABU/tBWWVqdfwto/s320/proses.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berikut adalah postingan saya di GM2020. Postingan ini menanggapi email seorang anggota milis tentang postingan saya sebelumnya, &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5785552245601095954&amp;amp;postID=8378408224255251656"&gt;"Mulai dengan Memulai"&lt;/a&gt;. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;**********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Wassalam Bung Fadli,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung, mulai itu duluan alias di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para motivator sekuler selalu menekankan, sebelum mulai tentukan target anda! Mereka bahkan berani berlebihan dengan mengatakan, buat target anda sejelas mungkin dalam bentuk hasil rupiah kalau itu rupiah, barang kalau itu barang, de el el kalau itu dll, dan tentukan waktunya secara spesifik, sebulankah, setahunkah, terserah. Saya dulu pengikut keras aliran ini bahkan mengajarkannya ke banyak orang. Tapi hasilnya, pernah sebulan penuh mesti bed rest akibat tifus, pernah menangis deras akibat maag, kena alergi akibat stress, dengan istri banyak berantemnya, de el el.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Muhammad SAW pembawa kalamullah berisi kalimat-kalimat motivasi numero uno! (baca=Number One, ini bukan salah seorang keluarga marga saya dan OH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innamal a'maalun binniyaat. Saya terjemahkan, ketika anda mulai, jangan pikir belakangnya dulu, tapi bikin depannya dulu. Yaitu tentukan niat anda...."masih ingat prinsip ini dipakai oleh para pekerja iklan dulu.."Gambar kuda kok buntutnya di depan?"...&lt;br /&gt;Berniat harus baik. Agama kita mengharamkan anda berniat jelek. Makanya baru berniat baik saja kita sudah dapat ganjaran, sedangkan kalau berniat jelek, anda belum diganjar ketika belum terealisasi. Maknanya, Allah memberi kita kesempatan untuk senantiasa memperbaiki niat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya belajar banyak dari pengalaman baik pribadi ataupun via orang lain. Banyak orang logikanya terbolak balik (masih ingat postingan saya tentang Hukum DM?...itu serupa). Pada saat mulai, bukannya memperbaiki niatnya, malah sibuk menghitung hasil/impiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analoginya adalah begini. Suatu pagi anda duduk santai di teras sambil memandang halaman anda yang kosong melompong tanpa tumbuhan hijau. Halaman tetangga di rumah yang berhadapan menghentikan lamunan anda dan membawa rasa sejuk tersendiri sebab halaman itu hijau, teduh oleh rimbunan pohon mangga, dan ceria oleh warna-warni kembang sedang merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda kemudian mendapat ilham. Alangkah indahnya kalau suasana itu ada di depan anda sendiri. Di halaman anda sendiri. Anda bisa menyentuhnya, bahkan bisa mencium baunya, bisa sesukanya sepuas-puasnya. Anda mulai berimajinasi. Bagaimana kalau anda menanam pohon dan tanaman-tanaman dengan jenis yang sama dan modelnya pun di atur sama di halaman anda. Tapi imajinasi anda mulai berkembang lebih liar. Anda mau lebih bagus dari halaman tetangga. Anda mulai menghayalkan jenis tanamam yang lebih terkenal, lebih mahal dari segi harga, dengan penataan disainer lanskap agar lebih paten, pokoknya semuanya harus lebih! Tapi kenyataan lain menyadarkan anda. Punya halaman seperti itu pasti biayanya mahal. Belum lagi pemeliharaannya. Hitung-hitung untuk memulainya butuh Rp 5jt minimal. Pemeliharaannya may be Rp500rb/bulan. Kebenaran versi anda mulai mendominasi. Daripada keluar biaya semahal itu, belum lagi kesibukan anda belum tentu bisa memperhatikannya kelak, akhir dari semuanya, ANDA MENGURUNGKAN NIAT BAIK ANDA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi ini sama dengan orang pengangguran yang ditawari berbisnis, setelah pikir panjang lebar ia memutuskan untuk tidak terima sebab takut kalau banyak uang harus dibawa ke bank trus dalam perjalanan ia bisa dirampok orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Fadli, Insya Allah dengan mulai dengan niat baik dan jelas, dan ingat, niat baik dan jelas ketika akan direalisasikan harus dengan nama Allah "BISMILLAHIRRAHMAAN IRRAHIM" dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah untuk menunjukkan jalan kepada anda sekaligus memperbaiki jalan anda kalau salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, apa boleh kita langsung menuju ke hasil akhir? Eits, setahu saya sebelum akhir ada tengah-tengahnya. Begitu anda memulai dengan realisasi, ada proses. Proses ini bergantung ikhtiar anda dan cepat tidaknya anda mencapai hasil akhir dan seberapa bagus hasilnya tergantung seberapa dekat anda kepada The Almighty Decition Maker, Allah SWT. Tapi yakinlah, bahwa apapun hasilnya, kalau anda telah meminta kepada pengambil keputusan mutlak, itu PASTI BAIK buat anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sarankan anda perhatikan komponen penentu yang lain. Ada Sunnatullah yang harus kita percayai, yaitu ketetapan Allah SWT. Kalau anda pernah baca postingan saya mengenai QADHA (kalau salah itu dari saya, kalau benar itu milik Allah SWT). Supaya gampang dimengerti, SUNNATULLAH ini sebenarnya bidang ilmu yang digeluti oleh Bung MY, hanya saja beliau fokus pada kejadian yang ada di alam. Padahal, dalam kehidupan ini bejibun SUNNATULLAH. Contoh, kalau mau dapat gaji atau upah, sunnatullah yang bisa kita baca saat ini adalah cari kerja atau usaha jualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sunnatullah bagi saya seperti program super komputer yang memasukkan semua fungsi kehidupan dalam ketentuanNya sampai mengeluarkan hasil. Artinya, ketentuanNya juga tergantung pada masukan yang anda buat. Logikanya seperti oven panggang. Kalau anda masukkan adonan roti, keluarnya Insya Allah adalah roti. Kalau anda masukkan pisang yang sudah dipenyet, Insya Allah keluarannya adalah Pisang Epe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya, hasil bergantung kepada masukan. Di sini ilmu motivasi dalam Islam menuntut kita untuk evaluasi. Ingat ayat, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" Quran Surah 103: 1-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamalan ayat di atas dalam memotivasi kita menurut saya adalah:&lt;br /&gt;Konsisten pada niat baik anda di awal (artinya konsisten pada apa yang anda tuju). Ini adalah pengejawantahan dari iman. Orang beriman niatnya baik, dan kalau niat anda baik, maka anda harus konsisten.&lt;br /&gt;Orang rugi itu kalau hari ininya lebih jelek atau sama dengan hari kemarinnya. Tidak ada selisih plusnya. Jadi anda dituntut untuk selalu evaluasi.&lt;br /&gt;Agar hasilnya baik, tahap awalnya anda mesti selalu minta nasehat kepada orang yang menguasai masalah dan tidak dzalim. Ini namanya belajar. Orang bekerja, berbisnis, atau apapun kegiatannya pada dasarnya adalah orang belajar. Salah besar kalau anda bisnis kue trus bertanyanya ke pebisnis besi bekas. Atau anda mau beternak tapi bertanya kepada petani. Di sini agama kita jelas menyatakan, bahwa anda juga kalau sudah sukses dalam bidang yang anda geluti, harus berbagi ilmu/menasehati orang lain. Jangan dzalim dan mau bagus sendiri.&lt;br /&gt;Kata terakhir "menetapi kesabaran" adalah kalimat motivasi dahsyat! Dalam prosesnya nanti Insya Allah ada sukanya ada dukanya. Motivator sekuler tidak pernah menyebut kata 'sabar'. Agama kita mengangkat ini sebagai isu besar. Selain Insya Allah diganjar hasil bagus di dunia, di akhirat pun orang sabar jelas tempatnya di Jannah. Pengamatan saya, orang sabar itu orang yang tawakkal. Orang tawakkal itu selalu menyerahkan penentuan hasil kepada Allah. Orang tawakkal berikhtiar di kala hari terang, dan merapatkan kepala ke tempat sujud di kala orang lain sedang terlelap dalam gelapnya malam. Subhanallah! Bukankan ini nilai motivasi yang tak ternilai yang bisa kita serap dari kalamullah?!&lt;br /&gt;Bung Fadli, setelah itulah baru kita bisa menikmati hasilnya. Hebatnya lagi kalau formula ini kita ikuti, hasilnya bukan saja baik, tapi Insya Allah akan berberkah. Orang yang dapat berkah bukan saja kaya dalam ukuran dunia kalau ia banyak uang, tapi juga akan bahagia senantiasa di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Bung Fadli,&lt;br /&gt;Mulai itu di depan, hasil akhir itu belakangan.. ..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1102897907380410817?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1102897907380410817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1102897907380410817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1102897907380410817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1102897907380410817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/mulai-itu-duluan-mencapai-impian.html' title='Mulai itu duluan, Mencapai impian belakangan!'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpbiJ2fLcQI/AAAAAAAAABU/tBWWVqdfwto/s72-c/proses.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3248750713347288727</id><published>2007-07-13T10:07:00.000+08:00</published><updated>2007-07-13T10:15:35.158+08:00</updated><title type='text'>Orang-orang Berselimut....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rpbf-mfLcPI/AAAAAAAAABM/i7GLz_FIzwI/s1600-h/selimut.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086499095737757938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rpbf-mfLcPI/AAAAAAAAABM/i7GLz_FIzwI/s320/selimut.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini saya posting do GM2020 tanggal 2 Juli 2007. Selamat membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Assalaamu Alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Milisters...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kisah teman saya yang mau saya kisahkan. Untuk alasan privacy, nama tidak saya sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah berkeluh kesah. Ia ke sana ke mari berkendara motor untuk cari duit. Ia seorang dosen bergelar S2. Istrinya juga Dosen. Dari kampus ia dan isterinya terima gaji. Tapi tentu anda bisa mengerti, seperti sebahagaian besar orang, ia rasa gajinya tidak cukup. Kebetulan ia Englishnya jago. Cara mengajarnya juga disuka banyak orang. Very communicative! Apalagi jebolan beasiswa IDP - Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus akui dia orang yang gigih. Panas terik ia tahan. Hujan lebat pun ia terobos. Jam kerjanya panjang. Kalau pagi ia di utara kota, mungkin 2 jam setelah itu ia sudah di selatan kota. Pulang ke rumah di atas rata-rata jam pulang orang kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bertandang ke rumah saya suatu saat, saya suguhi kopi (saya lihat dia ngantuk soalnya). Saya bilang, "Kamu kelihatan capek sekali". Dia akui. Dia bilang dia kerja ngajar di kampus kurang lebih sama dengan dosen yang lain. Tapi ngajar di luar di kursus atau di privat cukup panjang. Dia jujur harus begitu untuk 'ngejar setoran'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru kegiatan ngajarnya. Belum lagi keterlibatan di proyek. Saya bilang ke dia "Kamu lebih dari Superman!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keberatan, dia mengaku dia malah butuh waktu kerja lebih panjang. Dia bilang, "Seandainya sehari bisa lebih dari 24 jam, itu pun mungkin tidak cukup buat saya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya, kerja begitu keras dan panjang untuk apa? "Saya perlu UANG!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Milisters, teman saya ini BERSELIMUT! Ia berselimut ketidakpuasan. Menurut saya tidak akan ada jumlah uang terbesar yang bisa memuaskan kebutuhannya. Juga tidak akan ada lebih dari 24 jam waktu hidup untuk memuaskannya. Teman saya ini BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang lain saya kisahkan lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ini sekarang yatim piatu. Dulu ketika orang tuanya masih hidup mereka termasuk keluarga berkecukupan. Cukup uang untuk bermewahan. Cukup banyak waktu untuk bersenang-senang. Semua orang dalam rumahnya cukup sibuk dengan kegiatan sendiri tanpa mau tahu kegiatan orang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ajal telah menjemput kedua orang tuanya. Saya tidak tahu, bahwa di balik semua kecukupan yang dulu ia punyai, sekarang ia masih berkecukupan, hanya saja, kecukupannya sekarang adalah cukup banyak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dulu ia hidup dalam kemanjaan, sekarang ia tidak tahu harus bagaimana. Saudara-saudaranya cari selamat sendiri. Maklum, sejak kedua orang tuanya masih hidup mereka memang sudah biasa saling cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah cukup besar karena teman saya ini bingung bagaimana untuk survive. Serunya lagi karena kepribadiannya juga bermasalah. Ia selalu curiga sama orang. Kepada saya dan teman-temannya yang lain, ia selalu merasa dicuekin (mungkin terbawa kondisi di kelurganya dulu). Kalau ada teman yang menawari pekerjaan, biasanya tidak bertahan lama. Ia cenderung bentrok dengan pemberi kerja karena terdapat kesan bahwa ia selalu merasa dieksploitasi. Mentang-mentang ia orang susah, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Milisters, teman ini juga BERSELIMUT! Ia berselimut bayang-bayang masalah pribadinya. Ia mengerti bahwa ia bermasalah, tapi ia tetap curiga. Ia penuh rasa curiga. Teman saya ini BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang teman saya masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang satu ini cukup dekat dengan saya. Ia secara langsung atau tidak langsung suka membeberkan masalah pekerjaannya. Ia dalam istilah banyak orang 'beruntung'. Masih kata orang lagi, ia bekerja di 'tempat basah'. Kerjanya di departemen pemerintah dan berurusan dengan proyek. Ia panitia proyek. Pernah dengan jelas ia ngomong ke saya. Proyek itu mau dibuat peraturan bagaimanamun tetap bisa diakali. Kata dia, bukan rahasia lagi bahwa pemenang tender sudah ketahuan di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin para pemeriksa proyek sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu, katanya. Semua proyek harus diumumkan di media massa. Nah, trik dan tipsnya untuk mengelabui banyak pemain proyek, pengumuman dilakukan di koran yang tidak terkenal, atau melalui radio pada jam-jam malam di mana sebagian besar sudah tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertanya, "Bukannya sekarang pemerintah bekerja sama dengan koran-koran tertentu untuk mengumumkan proyek di koran itu?" Dia bilang, itupun bukan berarti tidak bisa diatur. Bisa dibilang semua peserta tender sudah saling kenal. Di antara mereka ada aturan bahwa pemenang yg sudah ditentukan sejak awal akan dibiarkan menang. Mereka akan bertindak sebagai pendamping. Tentu saja bukan berarti itu dengan ikhlas. Mereka dapat fee pendamping. Jangan heran kalau banyak orang yang punya lebih dari satu perusahaan, ngakunya kerja proyek pemerintah, tapi tidak pernah kelihatan di mana proyeknya, tapi hidupnya tetap bergelimang harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang ke teman ini, "Itu bukannya curang dan korupsi?" Dia jawab enteng, korupsi itu kalau tidak sesuai aturan perundangan. Ini kan sesuai. Prosesnya aja yang kita atur. Lagian, susah mau kaya kalau tidak curang di jaman sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Milisters, teman yang ini juga BERSELIMUT! Dia berselimut kecurangan. Ini cocok dengan tulisan Ahmad Deedat penulis The Choise. Segala sesuatu yang dari akal hanya akan menggelitik akal. Tapi kalau datangnya dari hati juga akan menggetarkan hati. Teman saya ini, sama juga, BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Milisters,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong baca DISCLAIMER berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini semata-mata berkisah tentang teman saya. Apakah teman saya ini nyata atau fiktif, biarlah itu menjadi rahasia saya dan selain saya hanya ALLAH SWT yang Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekiranya anda Milister ada yang termasuk teman saya dan kisah di atas mirip dengan kisah anda, maka bisa jadi itu anda. Maka Anda adalah orang yang BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekiranya anda Milister bukan teman saya tapi kisah anda mirip dengan kisah di atas, maka pasti itu bukan anda. Tapi tidak mengapa, meskipun anda bukan teman saya, tapi kisah anda mirip dengan kisah di atas, tetap saja, Anda adalah orang yang BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekiranya anda Milister adalah teman saya atau bukan teman saya, dan kisah di atas tidak mirip dengan kisah di atas, jangan senang dulu, karena bisa saja Anda tetap tergolong orang yang BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kisah Anda lain. Mungkin kisah anda seperti kisah-kisah di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anda marah terhadap sesuatu, dan anda terus saja marah. Anda tidak puas kalau anda tidak melampiaskan kemarahan, seakan tiada kata maaf dalam kamus anda. Maka anda adalah orang BERSELIMUT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anda miskin dibandingkan orang sekitar anda, dan anda terus meratapi kemiskinan. Anda sibuk memelototi orang kaya sementara anda sendiri tidak mau bekerja atau berusaha untuk keluar dari kemiskinan. Maka anda adalah orang BERSELIMUT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anda adalah anggota dari suatu bangsa. Bangsa anda tergolong bodoh dan terbelakang. Tapi bangsa anda tidak mau belajar dan mengapresiasi usaha bangsa lain. Bangsa anda terus gontok-gontokan. Maka Bangsa anda adalah BANGSA yang BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anda sudah mendapatkan 3 contoh lain tentang orang berselimut. Tapi Anda masih juga belum mengerti apa arti orang berselimut itu. Maka pikiran anda itu BERSELIMUT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong baca DISCLAMER ini masih berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda, Keluarga Anda, Teman Anda, Pemerintah Anda, Bangsa Anda, Umat Anda, atau siapa saja tergolong BERSELIMUT, maka sebaiknya Anda dengar seruan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Orang yang BERSELIMUT!"&lt;br /&gt;"BANGUNLAH! Lalu beri PERINGATAN!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quran Surah 74 (1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda, yang tergolong BERSELIMUT, tidak akan berdiri, dan keluar dari SELIMUT anda, apabila anda TIDAK BANGUN/BANGKIT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selimut anda KEMISKINAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa anda tidak akan kaya apabila tidak bangun dan mengerjakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selimut anda adalah KEMALASAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa satu-satunya cara anda harus rajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selimut anda adalah KEBODOHAN, bangunlah, ingatkan diri anda bahwa tidak mungkin keluar dari kebodohan tanpa belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selimut anda adalah KECURANGAN, bangunlah, peringatkan diri anda bahwa keuntungan dari kecurangan bukanlah keuntungan sebenarnya, malah kerugian bagi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selimut bangsa anda ini adalah SALING TUDING, SALING SIKUT, SALING FITNAH, SALING DORONG, dan berbagai SALING yang lain, BANGUNLAH! Ingatkan bangsa anda bahwa itu tidak menyelesaikan masalah. Jangan pernah harap padi kalau anda tanam rumput. Jangan harap hasil bagus kalau bukan niatnya baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISCLAIMER terakhir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda orang Gorontalo, atau bukan orang Gorontalo, tinggal di Gorontalo atau bukan di Gorontalo, berbahasa Gorontalo atau tidak berbahasa Gorontalo, pengunjung tetap GM2020 atau bukan pengunjung tetap GM2020,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan anda BERSELIMUT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANGUNGLAH! dan BERI PERINGATAN!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3248750713347288727?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3248750713347288727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3248750713347288727' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3248750713347288727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3248750713347288727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/orang-orang-berselimut.html' title='Orang-orang Berselimut....'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/Rpbf-mfLcPI/AAAAAAAAABM/i7GLz_FIzwI/s72-c/selimut.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3746835088117021574</id><published>2007-07-12T16:53:00.000+08:00</published><updated>2007-07-13T09:59:27.730+08:00</updated><title type='text'>Menciptakan v Menemukan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpbcOGfLcOI/AAAAAAAAABE/xbDyX0PGEB0/s1600-h/science.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086494963979219170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpbcOGfLcOI/AAAAAAAAABE/xbDyX0PGEB0/s320/science.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini adalah postingan saya di GM2020 tanggal 3 Juli 2007 dengan subjek Bicara Matematika dalam Al Quran. Di sini judulnya saya ubah supaya lebih relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmaani rrahiim..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini topik 'ana suka. Sepanjang 'ana belajar, baik itu belajar secara de facto maupun de yure, 'ana perhatikan bahwa ada dua kata yang terdoktrin di kepala 'ana dan mungkin banyak orang lain. Bila kedua kata ini disebut, pikiran 'ana, dan kemungkinan besar pikiran banyak orang akan langsung tertuju pada para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kata itu adalah "Menciptakan" dan "Menemukan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Men-cipta-kan" kata dasarnya adalah CIPTA. Barangkali kalo 'ana sebut dalam allugathul Inggrisiyah- nya, sama dengan "To Create". 'Ana tidak mau menambah arti yang lebih detail karena 'ana tidak punya kamus bahasa di depan 'ana sekarang. 'Ana asumsi bahwa pembaca sekalian mengerti yang 'ana maksud. Kalau tidak mengerti, mengertilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menemukan" kata dasarnya TEMU. Barangkali kalo 'ana sebut dalam allugathul Inggrisiyah- nya, sama dengan "To Invent" (Catatan: karena dalam kasus ini 'ana bicara tentang penemuan oleh para ilmuwan). 'Ana sekali lagi tidak mau menambah arti yang lebih detail karena 'ana tidak punya kamus bahasa di depan 'ana sekarang. Asumsi 'ana masih sama bahwa pembaca sekalian mengerti yang 'ana maksud. Kembali lagi, kalau tidak mengerti, mengertilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hemat 'ana, menciptakan itu cenderung kepada mengadakan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Jadi masih menurut 'ana, kalau ada kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thomas Alpha Edison menciptakan Bola Lampu",&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti Edison mengadakan Bola Lampu dari yang tidak ada menjadi ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan yang sama, kalau 'ana bilang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thomas Alpha Edison menemukan Bola Lampu",&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti Bola Lampu pada dasarnya dari sononya sudah ada. Edison, hanya menemukan jalan untuk mempertemukan berbagai bahan melalui eksperimen, yang akhirnya membuatkan kombinasi tepat dari berbagai bahan/alat/materi, jadilah sesuatu yang dinamai Bola Lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Muslim, yang diharuskan berpegang pada Al-Qiran dan As-Sunnah, baru belakangan ini 'ana sadar akan perbedaan signifikan dari penggunaan kedua kata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "Menciptakan" itu tentu memiliki makna. Bagi 'ana, kata ini wajib dan hanya wajib diperuntukkan kepada Allah SWT Sang Pencipta. Ada kata lain yang memilki makna yang sama dengan ini dalam allughatul Indonesiyah kita ini, yaitu "Menjadikan" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu. ......... "&lt;br /&gt;"Dia Yang menjadikan bumi........ ......... .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua penggalan ayat sebagai referensi di atas terdapat dalam ayat berurutan 21-22 QS Al-Baqarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda Menciptakan dan Menemukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang percaya bahwa segala sesuatu adalah CIPTA-an Allah SWT, maka 'ana tidak melihat ada kemungkinan di mana manusia bisa berada sejajar dengan Sang Pencipta. Oleh karenanya, apapun prestasi ilmiah yang dicapai oleh seorang ilmuwan, 'ana bertekekad, sekaligus 'ana mengajak pembaca sekalian untuk juga bertekad untuk tidak memberi gelar kepada ilmuwan siapapun sebagai PENCIPTA (CREATOR) atas prestasi ilmiah yang telah dibuatnya. Untuk itu, 'ana mengusulkan untuk kita konsisten menggunakan kata PENEMU (INVENTOR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einstein adalah penemu E=MC2. Begitu juga semua ilmuwan yang menemukan penemuan lain yang diinspirasi oleh temuan Einstein ini 'ana sebut sebagai penemu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einstein tidak menciptakan Energi dan Massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Alpha Edison seperti yang 'ana cerita di atas juga penemu Bola Lampu. Edison menemukan kombinasi yang tepat dari berbagai alat maupun bahan yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan produk turunan yaitu Bola Lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat Islam berpotensi sebagai Penemu (lebih dari itu menjadi Penemu Besar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat Islam itu sudah banyak kecolongan. Kenapa 'ana bilang begitu? Para ilmuwan non-Islam, apalagi yang tidak mengenal dan tidak pernah membaca Al-Quran, mesti bersusah payah mencari ide penemuan. Bahasa awamnya, setiap bangun pagi, para ilmuwan non-Islam akan mulai dengan berpikir "Apalagi yang harus saya temukan hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ilmuwan-ilmuwan Islam dalam hemat 'ana, telah diberkahi oleh The Real Creator Allah SWT dengan ide-ide penemuan yang jika difollow-up akan membawa ke berbagai penemuan dari kecil hingga yang besar. Agak sulit bagi 'ana untuk mengetahui kriteria penemuan terbesar itu seperti apa. Sebab, menurut The Real Creator sendiri, ilmu yang diberikan oleh-Nya kepada manusia itu, pada dasarnya bagai setitik atom di tengah lautan ilmu (bahkan tidak ada kata yang bisa menggambarkan kebesaran ilmu The Real Creator).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari 'ana angkat ayat di Quran, Surat 30: 23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Allah SWT memberi petunjuk, bahwa Ia sebagai The Real Creator telah menjadikan malam itu untuk kita tidur beristirahat, dan siang untuk berusaha/kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ayat ini saja, banyak ide penemuan yang bisa muncul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa itu malam, dan apa itu siang? Bagaimana proses pergantiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengapa malam itu membuat manusia tidur? Apa ada koneksi antara gelapnya malam dengan sesuatu di dalam tubuh manusia sehingga setiap kali malam tiba manusia akan merasa ngantuk dan akan pergi tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pertanyaan 2 di atas juga bisa diterapkan untuk berbagai penemuan mengenai siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apa akibat kalau manusia memutarbalikkan kondisi, di mana malam dia kerja, siang dia tidur? Adakah konsekuensi biologisnya? Adakah konsekuensi sosialnya? Adakah konsekuansi ekonominya? De el el&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Apakah kalau saat ini malam di Gorontalo, di tempat lain juga dalam kondisi malam? Pertanyaan yang sama bisa diaplikasikan untuk siang. Kalau tidak, bagaiaman suatu tempat yang dalam kondisi malam dan tempat yang lain dalam kondisi siang saling berhubungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas kalau 'ana lanjutkan bisa banyak sekali. Padahal itu baru inspirasi dari 1 ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ilmuwan itu adalah orang-orang yang berpikir. Dan orang-orang yang berpikir ini lebih dahulu ditantang di banyak tempat dalam Al-Quran bahwa kalau mereka betul-betul berpikir, mereka akan menjumpai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau kita mau bicara matematika dalam Quran, penemuan kita atas suatu hal yang berhubungan dengan ilmu ini akan terus membawa kita ke penemuan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa 'ana adalah, semoga para ilmuwan, khususnya ilmuwan muslim, setelah menemukan sesuatu, sadah bahwa mereka baru saja menemukan sesuatu yang memperlihatkan tanda-tanda kebesaran/kekuasaan Allah SWT. Kalau ini mereka resapi, Insya Allah tidak akan ada penemuan yang membawa kerusakan di muka bumi. Para ilmuwan itu akan semakin merunduk seperti padi karena berisi. Faktanya, padi itupun yang semakin berisi, semakin merunduk karena memang patuh kepada Sunnatullah. Bukan cuman padi, coba saja lihat jenis-jenis pohon buah yang lain, semuanya ketika semakin berisi akan semakin merunduk. 'Ana pikir ini jelas adalah satu lagi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang mau bicara topik lain selain matematika dalam Al Quran?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3746835088117021574?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3746835088117021574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3746835088117021574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3746835088117021574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3746835088117021574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/menciptakan-v-menemukan.html' title='Menciptakan v Menemukan'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpbcOGfLcOI/AAAAAAAAABE/xbDyX0PGEB0/s72-c/science.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3339732059203030771</id><published>2007-07-12T16:37:00.001+08:00</published><updated>2007-07-12T16:47:29.734+08:00</updated><title type='text'>Yang digoyang digoyang yang.....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXqY2fLcNI/AAAAAAAAAA8/DAm6FZ-kWIk/s1600-h/botol.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086229066848891090" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXqY2fLcNI/AAAAAAAAAA8/DAm6FZ-kWIk/s320/botol.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini adalah postingan saya di GM2020 tanggal 10 Juli 2007&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;***********&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anak tersayang,"Papa tunggu mau isi air ke botol ini dulu yah"&lt;br /&gt;Papa,"Iya nak. Cepat yah, panas nih"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 menit berlalu&lt;br /&gt;Papa,"Nak, kalau botolnya kamu goyang-goyangin begitu, kapan penuhnya. Itu yang masuk malah sedikit sekali"&lt;br /&gt;Anak tersayang,"Nggak apa-apa deh papa. Kan sambil maen"&lt;br /&gt;Papa,"Lho memangnya tujuan kamu apa?"&lt;br /&gt;Anak tersayang,"Masukin air ke botol....... .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit berlalu. Sinar matahari semakin terik.&lt;br /&gt;Papa,"Nak, sudah 30menit. Botolnya nggak bakalan penuh kalau kamu goyang-goyangin begitu"&lt;br /&gt;Anak tersayang,"Yee papa kan sudah dibilangin, cuman mau masukin air ke botol"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam berlalu. Matahari lagi di puncak. Panaaaas betul. Anak tersyang tiba-tiba haus. Air di dalam botol 1cm pun belum nyampe tingginya. Botol masih juga digoyang-goyangkan. Tiba-tiba hausnya tidak tertahan lagi. Tapi........ ......air tiba-tiba mati!&lt;br /&gt;Anak tersyang,"Papa! Airnya mati. Hauuuus!"&lt;br /&gt;Papa,"Lho, kan di botolmu ada air?"&lt;br /&gt;Anak tersayang,"Airnya sedikit sekali!"&lt;br /&gt;Papa,"Memangnya sekarang kamu mau air untuk apa?"&lt;br /&gt;Anak tersyang,"Minuuuumm mm....... ......... .....!"&lt;br /&gt;Papa,"...... ......... ......... ......... ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda jadi papa bagaimana? Bingung kan? Sudahlah. Tidak usah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samping kiri kanan muka belakang saya banyak kejadian begitu kok. Katanya belajar. Tapi tidak serius. Iya sih, belajar itu seperti masukin air ke botol. Botol digoyang-goyang sekalipun airnya tetap masuk. Pertanyaannya masuk berapa banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, mungkin di Gorontalo juga begitu kali ya? Tampak depannya sih pada membangun. Kelihatannya giat sangat pula. Keringat bercucuran. Bagus aja kalau sementara tidak makan. Soalnya di Makassar banyak terbaliknya. Giliran kerja aja adem ayem tidak berkeringat dijamin bebas daki, giliran makan kayak pemadam kebakaran. Air keringatnya meleleh-leleh. Orang Bugis bilang 'erok ande tea eco!" Hahaha.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus tampak belakang gimana? Mudah-mudahan baguus. Jangan sampai botolnya goyang-goyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bung Ir1 sudahlah. Anda ini kok protes terus?! Kalau botolnya goyang-goyang yang penting airnya masuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya uwes....aku mengalah deh. Botolnya lebih digoyang aja lagi. Biar dinamis gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, teori membangun ya begitu itu Bung Ir1! Step by step. One at a time. You must get the feel. Enjoy while you can.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goblok! Emang siapa yang minta membangun itu dalam semalam? Emang kisah Tangkuban Perahu? Bolak balik telapak tangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya contoh kasus? Itu entah kapan terakhir ke Gorontalo saya ke gunung-gunung daerah kwandang. Kaguuuum. Pembangunan jalan terus lho. Sampai ke puncak gunung lagi. Makanya gunungnya gundul. Atas nama pembangunan pohon jadi korban. Itu dia tuh kalo pembangunan pake atas nama. Kenapa tidak sekalian balik nama saja? Jangan bilang pembangunan, tapi penggundulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh Bung Ir1, tapi Gorontalo terkenal lho. Seantero nusantara Gubernurnya paling banyak bicara di TV. Berapa kali diisukan jadi menteri. Propinsi lain mana begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeee, anda telmi. Gubernur propinsi lain bicara tidak di TV. Tapi di depan rakyat. Kalo isu mau jadi menteri, itu karena wartawan TV di propinsi lain lagi sibuk aja jadi tidak bisa terima amplop pak Gubernur untuk bikin isu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus gimana dong? Ya mau gimana lagi? Botolnya digoyang aja terus. Kalau perlu pakai irama biar berseni gitu. Kan ada lagunya...yang digoyang digoyang yang......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah nih tulisan Bung Ir1.&lt;br /&gt;Ya emang susah! Kalau mau gampang, itu botol jangan digoyang uti. Eh, asal ngana tau aja, itu botol ngana tidak goyang saja, di bawahnya ada yang bocorin. Air jatuh melulu. Apalagi kalo ngana goyang. Sabantar kalo ngana so haus air juga pada kering ngana tau rasa lho ya. Kalo nanti ngana haus, ngana minum uap air sana!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3339732059203030771?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3339732059203030771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3339732059203030771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3339732059203030771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3339732059203030771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/yang-digoyang-digoyang-yang_12.html' title='Yang digoyang digoyang yang.....'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXqY2fLcNI/AAAAAAAAAA8/DAm6FZ-kWIk/s72-c/botol.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-4529273974902462918</id><published>2007-07-12T14:15:00.000+08:00</published><updated>2007-07-12T15:08:46.823+08:00</updated><title type='text'>Penakut v Pengecut</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXTV2fLcLI/AAAAAAAAAAs/6vMz1Wl21bw/s1600-h/manrunning+clipart.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086203726541844658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXTV2fLcLI/AAAAAAAAAAs/6vMz1Wl21bw/s320/manrunning+clipart.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penakut v Pengecut adalah tulisan saya menanggapi keputusan moderator atas di-ban nya salah seorang anggora milis GorontaloMaju2020 (GM2020). Beberapa waktu sebelumnya seorang anggota berulah tidak baik sehingga saya menuntut ybs untuk di-ban dari keanggaotaan milis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro dan kontra tentu saja terjadi. Awalnya, saya dapat kesan bahwa saya sendirian menuntut orang ini supaya di-ban. Walaupun melalui Yahoo Messanger banyak orang terang-terangan mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya orang itu sudah saya maafkan. Paling tidak saya mencoba menjalankan perintah agama bahwa dalam melakukan sesuatu janganlah berlebih-lebihan. Maka dalam counter posting dari masukan seorang member, saya menulis postingan yang ingin melupakan kasus ini. Saya beri subjek "sudahlah.....". Kenyataannya tanggapan dari yang bersangkutan di luar dugaan bagi saya bersifat provokatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangka seorang member lain muncul dengan ketegasan. Ancamannya, "Kalau bukan orang ini dikeluarkan, saya yang akan keluar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kagum dengan ancaman member ini yang tidak setengah-setengah demi memperjuangkan kebenaran. Akhirnya, saya reply posting di ancaman dia, saya bilang, saya ngikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seru juga karena dateline yang kami berikan hingga tengah malam tgl 11 Juli 2007 kemarin. Saya bilang ke member itu, "Deg-degan juga menunggu ajal keanggotaan di mailist ini. Jangan lupa baca syahadat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, tim moderator yang dipimpin seorang adinda yang sedang belajar di USA akhirnya memutuskan mem-ban orang yang kami permasalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di kantor, melihat keputusan itu, saya posting komentar di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu alaikum wr wb,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saya mau mulai dengan diam. Diam tapi ribut! Yang ribut cuman jari-jari saya. Soalnya persis di jalan depan kantor saya tadi ada tulisan bosar-bosar "Ssst! Jangan ribut! Ada galian!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderator terima kasih. Statement bahwa anda mem-ban 1 member bukan karena 2 "krucil" sudah benar. Dan kepada member yg bertanya siapa menang siapa kalah, jawaban saya, pertanyaan itu tidak relevan dan signifikan. Pertanyaan itu hanya buat di Republik Mimpi yang sekarang sedang berduka karena Presidennya berpulang. Kita berdoa semoga saudara muslim kita yang berpulang ini mendapat ganjaran yang baik di sisi Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para moderators adalah orang-orang biasa meminjam istilah Pak Agung Mozin. Mereka adalah "para penakut" (Cat: bacanya jangan berhenti di sini yah. Kalo berhenti di sini ana dapat masalah besar nanti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kasus yang lebih parah. Terjadinya di negara bagian Republik Mimpi, namanya Republik Mimpi Basah. Penduduknya hobinya mandi subuh-subuh. Wajar juga kalau mereka suka mandi subuh-subuh. Mereka banyak kotornya sih. Masak para penakut dibilang pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penakut sama pengecut bedanya opo toh?! (baca dengan logat Tukul pls).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini mas. Takut itu ya takut. Kalo sampeyan ora ngerti artine, berarti sampeyan Wong Deso. Iyo toh? Lha kalo pengecut itu adalah takut ora pada tempatne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat teman saya. Tampangnya aja gokil. Tapi kata-katanya choi, bahasa Indonesia yang baik dan berhikmah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya dia, dulu dia pernah dapat insentif jalan-jalan ke Malaysia dari kantornya. Nggak Malaysia dong kalau tidak ke Genting Highland.... kata banyak orang. Tentu dia juga ke sana karena dari kantor sudah disusun begitu. Cerita dia, Genting Highland itu yah Las Vegasnya Malaysia (wallahu a'lam karena ana blm pernah ke dua tempat itu). Waktu saya tanya bagaimana tampak dan rasanya masuk Casino, kata dia, "Aku nggak masuk." Lho kok tidak? Sayang kan mumpung gratis dibayarin. Kata dia,"Iya mumpung gratis, tapi saya takut! Kalo pas lagi di dalam saya tiba-tiba kena stroke dan mati, gimana? Namanya saya mati konyol. Bukan khusnul khatimah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia mental para penakut. Mental yang sesungguhnya berani! Takut pada tempatnya. Coba kalau negara kita penuh dengan orang-orang takut yang pada tempatnya seperti para moderators. Bukan justru takut tidak pada tempatnya, setali tiga uang berani juga tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang, Bing, Bung! Orang takut itu berani. Kalau tidak percaya coba sampeyan puasa. Puasa itu tanggung jawabnya langsung dengan Sang Khalik. Puasanya orang pengecut penuh kebimbangan. Wah, gimana kalau saya puasa hari ini ada rekan bisnis dari luar negeri mesti dientertain siang-siang ginama dong? Padahal bisnis ini 'em-em'-an lho. Atau bimbang karena lapar. Gimana kalau saya puasa ntar tubuhku pada merosot. Termasuk tai lalatku. Padahal ini hoki lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hihihi....pengecut itu lucu. Beraninya tidak pada levelnya. Badannya kelas berat maunya ikut bertanding di kelas bulu. Sudah gitu bulu hidung pula...hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well....saudara, saudari, dan sederet sodoro......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau takut mesti liat-liat. Kalau takutnya di tempat yang salah, nanti jadi pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the way, anda tau tidak saya tulis ini tentang siapa? Itu.....si daeng becak depan kantor, badannya segede gondoruwo, dadanya penuh bulu abis rebonding, ototnya sekeras kabel, kalo habis makan tusuk giginya badik bertuah, takutnya.... ......... ..sama kecoa! Hahaha....daeng. ...daeng. ...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-4529273974902462918?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/4529273974902462918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=4529273974902462918' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4529273974902462918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/4529273974902462918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/penakut-v-pengecut.html' title='Penakut v Pengecut'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXTV2fLcLI/AAAAAAAAAAs/6vMz1Wl21bw/s72-c/manrunning+clipart.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-5119178640713520334</id><published>2007-07-12T12:46:00.000+08:00</published><updated>2007-07-12T15:24:55.761+08:00</updated><title type='text'>Customer Satisfaction dalam Al Quran</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXXIGfLcMI/AAAAAAAAAA0/jQlUWzjYU8s/s1600-h/CS.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086207888365154498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXXIGfLcMI/AAAAAAAAAA0/jQlUWzjYU8s/s320/CS.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bismillahirrahmaanirrahim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Walid bin Al Mughirah adalah salah seorang petinggi bangsa Quaraisy dari Bani Makhzum yang sangat konsisten mencemooh Rasululah SAW hingga ia dimatikan Allah SWT dalam kondisi mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Rasulullah SAW berkesempatan bertemu Al Walid bin Al Mughirah dan Beliau berpikir waktunya sangat tepat untuk mendakwahi pencemooh bebuyutan Beliau ini. Beliau berharap bahwa dengan begitu Al Walid bin Al Mughirah terbuka hatinya untuk masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi SAW sedang berbicara dengan Al Walid bin Al Mughirah lewat seorang buta muslim bernama Ibnu Ummi Maktum yang menyela pembicaraan Beliau. Ibnu Ummi Maktum meminta Rasulullah SAW mengajarkannya bacaan Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW merasa kesal dengan ulah Ibnu Ummi Maktum. Beliau merasa bahwa berdakwah terhadap Al Walid bin Al Mughirah adalah jauh lebih penting. Rasulullah SAW bermuka masam karena tidak senang. Beliau bahkan tidak meladeni permintaan Ibnu Ummi Maktum walaupun orang buta ini meminta berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Hal 326-327, dengan modifikasi dari saya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlatar belakang kejadian tersebut di atas, Allah SWT menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. karena telah datang seorang buta kepadanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. maka kamu melayaninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Padahal tidak ada (celaan) atas kamu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. sedang ia takut kepada (Allah),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. maka kamu mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sekali-sekali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Yang ditinggikan lagi disucikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS Abasa: 1- 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas mungkin pernah kita dengar. Moral yang terkandung di dalam surah tersebut juga mungkin sering dibawakan oleh para pendakwah Islam. Tapi ada satu tinjauan yang luput dari perhatian. Bahkan tinjauan yang satu ini sangat relevan dengan kehidupan terkini. Saya menyebutnya Customer Satisfaction dalam Al Quran. Saya coba menuliskannya untuk pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Customer Satisfaction dalam Al Quran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Ummi Maktum dalam kisah di atas sudah berstatus Islam. Ia adalah "Pelanggan/Konsumen" dari ajaran-ajaran Islam yang 'dijajakan' oleh Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Walid bin Al Mughirah masih berstatus kafir. Ia ketika itu oleh Rasulullah SAW bermaksud untuk didakwahi. Ia baru berstatus "Calon Pelanggan/Konsumen".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah Abasa 1-14 di atas selain menegur Rasulullah SAW atas sikapnya, juga mengajarkan kepada Beliau, sekaligus kepada kita semua ummatnya, betapa Pelanggan/Konsumen itu adalah sangat penting. Juga, bahwa Pelanggan/Konsumen itu memiliki nilai lebih dibandingkan jika masih berstatus Calon Pelanggan/Konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai untuk menempatkan Pelanggan/Konsumen pada posisi penting ini baru 1500 tahun kemudian disadari dan diagung-agungkan oleh manusia 'moderen'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bedah bagaimana timbang penting antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AL WALID BI AL MUGHIRAH &lt;em&gt;(Calon Pelanggan)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;'tidak ada (celaan) atasmu kalau ia tidak membersihkan diri'........Calon Pelanggan itu baru calon. Ia belum pernah membeli. Kalaupun setelah anda melayaninya dia tidak membeli, anda tidak kehilangan apa-apa (tidak ada kerugian ril yang timbul)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IBNU UMMI MAKTUM &lt;em&gt;(Pelanggan)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;'barangkali ia ingin membersihkan dirinya'........Pelanggan itu mungkin menghadapi kesulitan/hambatan dalam menggunakan produk/jasa yang kita jajakan. Untuk itu penting bagi produsen/penyedia jasa untuk memberi petunjuk yang benar. Menerangkan user manual agar tidak terjadi salah pemakaian. Kita bisa berhitung betapa besar potensi kerugian bila terjadi kesalahan pemakaian atas produk/jasa yang kita jual&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;'dia ingin mendapatkan pengajaran'........Orang-orang pemasaran umumnya mengerti, bahwa melakukan cross-selling terhadap existing customer jauh lebih mudah dan murah dibandingkan terhadap New Prospect (calon pelanggan baru). Tidak heran kalau banyak perusahaan menyusun database pelanggan mereka dengan konsisten dan disiplin mengirimkan katalog produk/jasa mereka&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;'barangsiapa menghendaki, tentulah ia memperhatikannya'........Anda tahu bagaimana kalau seorang pelanggan puas terhadap produk/jasa anda? Ia akan menjadi seorang fanatic customer. Ia akan menjadi agent of marketing/selling anda yang paling efektif dan efisien. Gratis lagi!&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Ajaran tentang customer satisfaction dari Surah Abasa 1-14 di atas tidak berhenti sampai di situ. Mungkin anda bertanya. Kok ada satu poin yang tidak relevan dengan paham customer satisfaction dewasa ini? Seakan-akan bahwa kita cukup memaksimalkan pelayanan terhadap existing customer saja dan pelayanan secukupnya saja bagi new prospect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda perhatikan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'karena telah datang &lt;u&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;seorang buta &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;kepadanya',&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Adapun orang yang merasa dirinya &lt;u&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;serba cukup&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;, maka kamu melayaninya'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'seorang buta' dan 'serba cukup' tentu sudah sangat lengkap dalam memberi gambaran kepada kita bahwa kita berhadapan dengan berbagai karakteristik stakeholder. Dari sisi pembeli, kita berhadapan dengan existing customer dan new prospect. Dari kedua ini pun, latar belakang mereka juga berbeda. Ada yang skalanya besar, adapula yang kecil. Ada yang high profile, adapula yang sebaliknya, low profile. Bagaimanapun itu QS Abasa 1-14 memberi pedoman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'........maka kamu mengabaikannya. sekali-sekali jangan (demikian)!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan ayat di atas tersusun dalam sistematika yang sangat bagus. 'maka kamu mengabaikannya' menunjukkan kondisi banyak penyedia produk/jasa yang salah dalam menangani pelanggan mereka. Mereka mengabaikannya. SOP yang diberikan adalah jelas, 'sekali-sekali jangan (demikian)'!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tinjauan 'Kepuasan Pelanggan' dalam QS Abasa 1-14&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelanggan yang selama ini telah menggunakan produk/jasa kita harus kita layani dengan sebaik-baiknya. Pelayanan prima terhadap pelanggan yang ada meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemberian informasi yang benar atas produk/jasa yang telah dijual&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pemberian informasi atas produk/jasa lain yang dimiliki oleh perusahaan untuk memungkinkan terjadinya cross selling&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kedua jenis pelayanan di atas, apabila dilakukan secara konsisten, akan menghasilkan pelanggan fanatik yang kelak akan bertindak sebagai duta perusahaan. Dalam melayani/memuaskan pelanggan, harus dilakukan secara ikhlas/sepenuh hati tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Pembeda-bedaan bukan saja kontra produktif, tapi bisa mendatangkan kerugian bagi perusahaan. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Sekali-sekali jangan demikian!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-5119178640713520334?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/5119178640713520334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=5119178640713520334' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/5119178640713520334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/5119178640713520334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/customer-satisfaction-dalam-al-quran.html' title='Customer Satisfaction dalam Al Quran'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpXXIGfLcMI/AAAAAAAAAA0/jQlUWzjYU8s/s72-c/CS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-8829111533941591107</id><published>2007-07-11T13:13:00.000+08:00</published><updated>2007-07-11T14:11:59.050+08:00</updated><title type='text'>Piramida Batu vs Piramida Bambu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpR0d2sbn8I/AAAAAAAAAAM/7eZudnga0xc/s1600-h/piramida.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085817935455035330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpR0d2sbn8I/AAAAAAAAAAM/7eZudnga0xc/s320/piramida.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kekaguman saya akan piramida firaun di Mesir sudah lama. Sayang saya tidak tahu banyak tentang piramida ini. Apalagi dari segi teknik, saya buta hal-hal yang berbau teknik sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari sedikit yang saya ketahui itu cukup mengajarkan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piramida firaun mesir bahannya batu. Ukurannya besar dan beratnya tidak diragukan lagi tergolong “sangat berat”. Misteri bagaimana membangunnya menjadi lebih mengundang pertanyaan kalau kita lihat banyaknya jumlah batu yang harus dipakai. Pertanyaan tidak berhenti sebab ukuran bangunan yang begitu besar dan tinggi, membuat kita bertanya lagi, bagaimana menaikkan batu seberat itu ke susunan yang lebih tinggi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya bahwa piramida firaun Mesir berdiri kokoh hingga sekarang. Meninggalkan tanda-tanda bagi kita untuk membaca kekuasaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ke-”sedikitan” pengetahuan akan piramida firaun mesir itu, ternyata ”penampakan” hikmah di baliknya tidak serta merta sedikit. Berikut apa yang saya lihat muncul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firaun itu adalah raja besar di jamannya. Ia berkelebihan. Ia berlebih dalam kepemilikan. Ia berlebih dalam kekuasaan. Ia bergelimang kekayaan di jamannya. Rakyatnya tunduk atas perintahnya. Bahkan ia pun mengklaim diri sebagai tuhan. Saking berlebihannya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-”berlebihan” firaun membuatnya berpikir bahwa sumber daya itu tidak ada nilainya. Membuang yang banyak, dia masih tetap punya lebih banyak. Makanya ia pikir tidak ada yang sulit. Kalau ia mau tinggal bilang. Rakyatnya, mau tidak mau harus mau. Makanya belakangan ia menganggap diri sebagai Tuhan. Dia punya versi sendiri tentang "Kun, fayakun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piramida batu firaun bisa terbangun dengan filosofi berlebihan firaun ini. Batu, yang notabene mewakili bahan bangunan terbaik dan termahal di kala itu, berapapun dan dari manapun diadakan. Tenaga kerja, tentu saja manusia, berapapun jumlah orangnya disediakan. Kalau ada yang mati selama proses kerja, tidak masalah, toh mereka hanya alat, begitu dari sudut pandang firaun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, piramida batu yang kokoh bahkan hingga jaman moderen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terkagum-kagum dengan piramida batu firaun, pikiran saya menerawang ke sesuatu yang sedikit banyak berlawanan dari segi filosofi. Bagaimana kalau kita bangun piramida bambu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuknya sama persis dengan piramida batu – mungkin kalau saya tulis bentuk piramida saja anda sudah mengerti. Piramida ini sesuai namanya berbahan bambu. Tentu saja kekuatannya bukan tandingan piramida batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bambu adalah bahan yang murah. Mendapatkannya juga tidak susah. Ini jauh dari kesan berlebihan a la firaun. Bambu-bambu harus dipotong dalam ukuran tertentu, kemudian diikat satu sama lain sampai terbentuk formasi piramida yang kita mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sandingkan dua piramida ini, hanya bentuk piramidanya saja yang semua orang akan sepakat bahwa itu sama-sama piramida. Tapi yang lain, bagai bumi dan langit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bedah Piramida&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita bedah kedua piramida ini. Di awal tulisan saya bilang banyak hikmah yang bisa ditarik. Berikut hasil bedah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piramida batu terbangun di atas perasaan sombong. Berlebihan. Mentang-mentang sumber daya yang ada dianggap berlimpah, maka pantaslah untuk dikorbankan. Atau kita boleh baca dihambur-hamburkan. Padahal piramida ini dibangun hanya untuk kesenangan penguasa. Makanya piramida ini juga identik dengan kekuasaan absolut. Kekuasaan yang pada akhirnya hancur ditelan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piramida bambu memiliki filosofi sebaliknya. Kalau dianggap piramida itu memang urgent untuk dibangun, maka pemilihan bahan baku bambu didasari oleh kesadaran bahwa sumber daya itu terbatas. Meskipun bahan bambu itu lemah dibanding batu, tapi bukan berarti tujuan mendirikan piramida dengan menggunakan bambu tidak bisa terwujud. Konsekuansinya tentu jelas. Piramida ini harus rajin diperiksa (dengan bahasa moderen ”di-maintain”). Untuk itu harus ada disiplin super yang menjamin bahwa unsur-unsur krusial piramida bambu tetap terjaga dan bisa berdiri kokoh. Pelanggaran atas kedisiplinan ini bisa berarti fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bangsa dan piramida&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jenis piramida di atas bisa kita analogikan dalam membaca perilaku sebuah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura itu miskin pada dasarnya. Saya lupa edisi kapan, tapi pernah harian Kompas memuat foto Singapura jaman dulu. Waktu lihat foto itu, sungguh mati saya pikir foto itu foto pasar sentral Makassar tempo doeloe. Kalau anda ingat bagaimana Singapura megap-megap waktu pemerintah kita larang ekspor pasir ke sana, itu bukti lain bagaimana Singapura yang pasir saja tidak punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Singapura itu sadar kalau mereka miskin. Mereka tahu mereka tidak bisa berlebihan. Mereka tahu bahwa kalau mau maju harus ikut aturan, dengan kata lain disiplin. Makanya jangan heran kalau Singapura adalah salah satu kota terbanyak dan terkeras aturannya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang anda tahu sendiri. Ke mana lagi para jutawan Indonesia menghabiskan sore harinya dan pulang ke rumah di malam hari kalau bukan di Singapura? Di mana pula perusahaan-perusahaan raksasa dunia membuka pusat perwakilan Asia Tenggara kalau bukan di kota singa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang juga negara miskin. Kalau ini saya pribadi sebagai saksi. Saya pernah hindup di negeri matahari terbit ini dan menyaksikan betapa sebenarnya negara ini miskin. Luas wilayahnya jauh di bawah Indonesia. Hasil buminya apa lagi. Kondisi wilayah yang menjadi tempat banyak gunung berapi aktif ini mengenaskan. Sebentar-sebentar gempa. Kata Tsunami adalah kosa kata dari negara ini begitu akrabnya mereka dengan berbagai kesulitan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa tidak kenal Jepang yang disebut kekuatan ekonomi ke-2 terbesar di dunia setelah Amerika? Ini surga bagi TKI kita. Mereka bisa banting tulang cari duit di sini secara legal maupun illegal dan mereka dibayar mahal. Saya tidak tahu kalau di negara lain, tapi mungkin hanya di Jepang ini seorang mahasiswa yang akan pulang ke negaranya, itu saya sendiri ketika program belajar saya selesai, harus bersusah payah mencari orang yang mau menerima TV dan kulkasnya, dan ujung-ujungnya harus membuangnya karena orang lain (baca: mahasiswa lain) sudah pada punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua contoh negara yang ”pada dasarnya” miskin di atas mungkin cukup menggambarkan apa yang saya maksud dengan Filosofi Piramida Bambu. Mungkin prematur atau tidak ilimiah, tapi bagi saya cukuplah. Filosofi ini mengajarkan kepada saya bahwa dengan menyadari berbagai keterbatasan kita akan terpaksa dan akhirnya terbiasa untuk disiplin. Kita akan sangat menghargai sumber daya dan tidak berlebih-lebihan. Kita akan patuh pada aturan sebab melanggar aturan berarti mencari masalah, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masalah yang beresiko merobohkan piramida kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan tipe pesimis. Tapi pengamatan saya melihat bahwa bangsa kita terkena sindrom Piramida Batu. Kita terlena oleh kekayaan kita. Kita berpikir bahwa dengan kekayaan alam Indonesia sudah cukup untuk bersenang-senang. Kita sibuk melanggar aturan. Tindakan atas pelanggar hukum pun tebang pilih sesuai kepentingan penguasa. Kasus RMS di Ambon yang terjadi di depan presiden SBY belum lama ini kita ributkan dan saling cari siapa yang paling ’berhak’ disalahkan. Sementara kasus yang jelas-jelas sama di Papua melalui Konferensi Rakyat Papua yang mengeluarkan rekomendasi merdeka kita bilang harus dilihat secara bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sejarah firaun harus terulang. Bahwa firaun dan antek-anteknya harus ditelan laut dulu baru kita sadar. Entah bagaimana itu ditelan laut versi moderen ini. Tapi kalau setelah ditelan laut pun kita tidak sadar, bukan saja bahwa kita berfilosofi piramida batu, tapi kepala kita betul-betul sudah batu! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Gambar Piramida diambil dari www.monter.pl&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-8829111533941591107?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/8829111533941591107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=8829111533941591107' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8829111533941591107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/8829111533941591107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/piramida-batu-vs-piramida-bambu.html' title='Piramida Batu vs Piramida Bambu'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LpYV7xa1nZw/RpR0d2sbn8I/AAAAAAAAAAM/7eZudnga0xc/s72-c/piramida.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-2135125900591682405</id><published>2007-05-23T13:31:00.000+08:00</published><updated>2007-07-11T14:49:22.417+08:00</updated><title type='text'>Sense of Urgency</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpR9O2sbn9I/AAAAAAAAAAU/jKLJIH7QOdM/s1600-h/SENSEOFURGENCY.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085827573361647570" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpR9O2sbn9I/AAAAAAAAAAU/jKLJIH7QOdM/s320/SENSEOFURGENCY.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seorang khalifah jauh setelah masa Rasul SAW terkenal hidup sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ia dapati anaknya pulang dari mengaji sambil menangis. Khalifah bertanya kepada anaknya, "Mengapa kamu menangis hai anakku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak sambil terisak menjawab, "Aku malu ayah. Aku diejek teman-teman di sekolah mengaji. Katanya, kasihan bajunya pakai tambalan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah bilang, "Memangnya teman-temanmu tidak tahu kalau kamu anak khalifah?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru itu ayah. Mereka bilang anak khalifah kok bajunya ditambal? Memangnya tidak punya uang beli baju?" Khalifah tersinggung. Ia kirim berita ke bendahara kerajaan. Ia minta bendahara mengecek apakah ia bisa mengambil gajinya di depan meskipun belum waktunya (kebetulan saat itu tinggal 7 hari lagi waktunya khalifah terima gaji).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendahara dengan patuh menjawab, "Ya Khalifah. Jangankan gaji bulan depan, gaji untuk setahun ke depan, bahkan dua tahun ke depan pun kalau Khalifah mau akan hamba berikan. Tapi sesuai dengan aturan, mohon Khalifah tanda tangan di selip penerimaan sebagai bukti Khalifah sudah ambil gaji di depan. Tentu saja bukan masalah buat sang Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tanda tangan ia baca baik-baik redaksi slip tersebut: "SAYA, YANG BERTANDA TANGAN DI BAWAH INI, KHALIFAH, MENYATAKAN TELAH MENGAMBIL DI DEPAN GAJI SAYA UNTUK BULAN JUNI, DAN MENJAMIN BAHWA SAYA AKAN TETAP HIDUP SAMPAI TANGGAL PENERIMAAN GAJI, YAITU TANGGAL 1 JUNI"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca redaksi tanda terima itu, Khalifah bergetar seluruh tubuh menggigil ketakutan. Ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Serta merta ia bilang, "Wahai anakku, tunggulah. Insya Allah kalau saya masih hidup sampai tanggal terima gaji, kamu akan dibelikan baju baru!" Cerita ini juga saya kutip dari ceramah ustad. Isinya sangat mencerahkan. Tepatnya mengingatkan. Bahwa ajal bisa datang kapan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan mau membahas masalah ajal. Tapi cerita di atas menjadi latar belakang ide tulisan ini. Kita tidak pernah tahu kapan akhir dari kehidupan kita. Kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi bahkan 1 menit ke depan dalam kehidupan kita. Kalau kita ingin berakhir dengan baik, harus kita pastikan bahwa yang kita lakukan adalah yang baik-baik saja dan buruan untuk hanya mengerjakan yang baik-baik. Dengan mengingat bahwa kita berpacu dengan waktu dalam mengejar kebaikan, pada diri kita akan timbul &lt;em&gt;sense of urgency&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga berlaku dalam bisnis. Saya pribadi sering merasakan atau mengalami untuk menunda-nunda pekerjaan. Akibatnya, justru pada detik-detik terakhir dari waktu yang ditentukan &lt;em&gt;(dateline),&lt;/em&gt; saya buru-buru menyelesaikan pekerjaan. Efeknya bisa besar. Kadang saya jadi tidak punya waktu yang cukup untuk mengecek apakah hasil kerja saya sudah betul atau tidak. Sense of urgency perlu kita tumbuhkan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kita orang Indonesia sudah dicap sebagai bangsa &lt;em&gt;ngaret&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Sense of urge&lt;/em&gt;ncy bisa menumbuhkan kedisiplinan. Ambil contoh orang Jepang. Mereka tahu bahwa mereka bukan negara kaya. Makanya harus kerja keras. Kalau tidak kerja keras tidak bisa bertahan sebagai bangsa. Ini juga terjadi dengan Singapura. Menumbuhkan sense of urgency tidak perlu sewa konsultan dan bayar mahal. Ilmu ini gratis. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa perlu bayar &lt;em&gt;copyright fee&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya dengan showing by doing. Di dalam keluarga, orang tua mesti jadi pionir. Di sebuah perusahaan, pimpinan mesti jadi ujung tombak. Di kemasyarakatan atau pemerintahan, sama saja, aparat harus jadi contoh. Berikut adalah beberapa contoh bentuk implementasi sense of urgency:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Daerah saya PADnya rendah, kalau dikorupsi semuanya akan habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wilayah saya penduduk miskinnya banyak, kalau tidak bikin program yang langsung kena sasaran, penduduk miskin akan semakin banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Murid-murid saya tahun depan akan menghadapi UAN. Kalau saya tidak giat mengajar mereka akan gagal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan tunda lagi, mari kita tumbuhkan sense of urgency.......selama hayat masih di kandung badan..... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sumber gambar dari &lt;a href="http://www.healthmgttech.com/"&gt;www.healthmgttech.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-2135125900591682405?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/2135125900591682405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=2135125900591682405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2135125900591682405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/2135125900591682405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/05/sense-of-urgency.html' title='Sense of Urgency'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpR9O2sbn9I/AAAAAAAAAAU/jKLJIH7QOdM/s72-c/SENSEOFURGENCY.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-3350615408447844037</id><published>2007-05-22T15:03:00.000+08:00</published><updated>2007-07-11T15:12:06.132+08:00</updated><title type='text'>Hikmah Dari Sumbu Lilin</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpSCsmsbn-I/AAAAAAAAAAc/tb9eg0c4S-0/s1600-h/lilin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085833582020894690" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpSCsmsbn-I/AAAAAAAAAAc/tb9eg0c4S-0/s320/lilin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lampu di kamar mandi saya semalam mati. Untuk itu saya pakai lilin. Lumayan terang sebagai pengganti lampu. Tapi lama kelamaan lilinnya mulai redup. Saya perhatikan materi lilinnya masih banyak bergumpalan di bagian dasar kaleng yang saya pakai sebagai dudukan. Tapi kok nyalanya jadi redup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya lihat lebih dekat, ternyata sumbunya sudah pendek. Jadi walaupun zat lilinnya masih banyak karena terkumpul di dasar kaleng, karena sumbu yang akan terbakar tidak ada lagi, nyalanya redup dan tidak bisa memancarkan cahaya terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sekali semalam juga saya hadiri takziah tetanggan yang kedukaan. Ustadnya ceramah sangat menggugah. Salah satu penekanan yang beliau sampaikan bunyinya,"Saudara-saudara, ketahuilah bahwa bagaimanapun banyaknya amalan anda, kelak di akhirat, buah dari amalan ini hanya dapat dinikmati apabila kita memiliki kuncinya, yaitu shalat. Jadi, buah amalan kita yang ada di dalam box hanya bisa kita buka bila memiliki kunci yaiti ibadah shalat yang kita miliki di dunia." Saya jadi sadar. Ternyata dalam hidup ada sumbu-sumbu, atau kunci-kunci yang penting agar sumber daya lain bisa berguna untuk kita. Salah satunya adalah ikhtiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada contoh bagus yang saya dapatkan tidak jauh dari rumah saya. Rumah saya berlokasi di kawasan kota baru yang sebelumnya memang tidak ditinggali orang. Sebuah grup pengembang nasional kemudian mengembangkan kawasan baru di areal ini dengan berbagai fasilitas. Bahkan pengembang bekerjasama dengan pemkot mereklamasi laut untuk membuat jalan pintas menuju kawasan ini. Di dalam kawasan dibangun macam-macam fasilitas. Ada mall, rekreasi pantai, dan kawasan ruko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penghuni memang mulai meningkat. Tapi satu tantangan terbesar yang dialami pengembang adalah jumlah pengunjung ke mall dan ruko sangat jauh di bawah harapan. Sepi selalu! Saya kagum karena pengelola terus mencari cara agar jumlah pengunjung ke mall dan ruko bisa meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka dapat ide. Di depan areal ruko, pengelola menyediakan kawasan berjualan makanan dan lain-lain, lengkap dengan tenda dan meja kursi, gratis bagi siapa saja untuk diapakai jualan. Bahkan disediakan pula layar lebar untuk nonton bareng sepak bola live atau F1 dan GP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ini ternyata manjur. Awalnya hanya penghuni kawasan yang sering datang karena memang ini sangat membantu orang-orang seperti saya yang tidak punya pembantu dan lebih sering cari makan di luar. Belakangan orang luar kawasan mulai berdatangan, terutama malam minggu dan hari minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya perhatikan mall lebih ramai daripada dulu. Mungkin ini himah yang bisa kita tangkap. Bahwa sumbu atay kunci kita dalam hidup atau berusaha jangan sampai putus atau patah. Ikhtiar mesti selalu diadakan. Bagaimanapun banyaknya sumber daya lain seperti uang, pengetahuan atau keterampilan, tapi kalau tidak diaktualisasikan dengan ikhtiar, sumber daya itu jadi tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita cek. Apakah sumbu-sumbu lilin kita sudah cukup panjang untuk bisa memberi jalan kepada sumber daya lain agar sama-sama memberi cahaya terang menuju kemajuan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sumber Gambar dari &lt;a href="http://www.experiment.fotopages.com/"&gt;http://www.experiment.fotopages.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-3350615408447844037?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/3350615408447844037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=3350615408447844037' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3350615408447844037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/3350615408447844037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/05/hikmah-dari-sumbu-lilin.html' title='Hikmah Dari Sumbu Lilin'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpSCsmsbn-I/AAAAAAAAAAc/tb9eg0c4S-0/s72-c/lilin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5785552245601095954.post-1092874022909997727</id><published>2007-05-18T15:12:00.000+08:00</published><updated>2007-07-11T15:32:45.084+08:00</updated><title type='text'>Hukum Newton dan Filosofi Bisnis</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpSHcmsbn_I/AAAAAAAAAAk/7TifsA4slQk/s1600-h/HukumNewton.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085838804701126642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpSHcmsbn_I/AAAAAAAAAAk/7TifsA4slQk/s320/HukumNewton.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saya belajar fisika terakhir di bangku SMA. Masa-masa teraksik berhubungan dengan hukum-hukum fisika waktu giat-giatnya persiapan masuk perguruan tinggi. Itupun akhirnya saya lulus ke Jurusan Akuntansi Unhas, sama sekali tidak berhubugan dengan Fisika. Tapi belakangan setelah bergelut dalam bisnis praktis, saya temukan bahwa ternyata banyak hukum Fisika yang sebenarnya relevan dengan hal-hal non fisika, seperti bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa apa ini Hukum Newton 1, 2, atau 3, yang jelas ada satu hukum Newton tentang Gravitasi yang kalau diberi contoh tidak salah seperti begini: "Jika kita mengikatkan diri pada seutas tali, salah satu ujung tali kita ikat ke sebatang pohon atau tiang atau apa saja yang cukup kokoh, dan kita berlari dengan kecepatan yang cukup dan sama setiap saat, maka lintasan lari kita akan berbentuk bidang lingkar yang tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan keluar dari lintasan ini kecuali kita mengurangi kecepatan lari, atau mungkin kita menambah kecepatan lari yang menyebabkan gaya atau energi yang ditimbulkan menjadi lebih besar dari yang mampu ditahan oleh tali". Maaf kalau teori akuratnya tidak saya hapalkan sebab pelajaran ini bagi saya sudah lama sekali. Menariknya karena teori ini sangat menginspirasi saya dalam hidup, terutama dalam menjalankan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, Allah menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, "unless" kaum itu sendiri berusaha mengubah nasibnya. Newton sebenanrya membahasakan Sunnatullah ini menjadi sebuah teori pada satu bidang dalam kehidupan, dalam hal ini ilmu Fisika. Dalam bisnis, ini sangat relevan. Sederhananya, kalau sekarang Anda tidak punya pekerjaan, Income = 0, jangan pernah berharap income Anda menjadi lebih besar, keculai Anda mengeluarkan tambahan F (Baca=Gaya dalam ilmu fisika, kalau tidak salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika anda merasa terlena dengan income yang tinggi saat ini dan akibatnya F yang terjadi menjadi lebih kecil, waspadalah kondisi anda akan menurun. Tentu saja, hukum Newton ini tidak bisa kita interpretasi dalam bisnis secara kaku. Misalnya bahwa semua kemajuan kita ukur dengan uang semata. Tapi bagi saya, filosofinya tetap berlaku. Apapun yang baik dunia akhirat, hukum ini bisa diterapkan. Di dalam bisnis, mengejar keuntungan memang menjadi tujan utama bisnis secara harafiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi secara de facto, banyak parameter lain yang menjadi pertimbangan. Namun berapapun banyaknya parameter tersebut, tetap dibutuhkan suatau upaya yang kuat untuk mencapai keseimbangan sehingga tujuan bisnis tetap tercapai. Ambil contoh dalam merintis bisnis. Bagi banyak orang, secara tradisional Modal = Uang. Akibatnya, mereka yang tidak memiliki uang berkesimpulan bahwa mereka tidak bermodal, dan ini sama dengan mereka tidak bisa berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ini yang menjadi prinsip, sesuai dengan Hukum Newton, lintasan lari Anda akan tetap seperti saat ini dan jangan berharap ada yang berubah. Artinya, sama saja Newton bilang bahwa anda telah memfonis diri anda tidak akan pernah menjadi bagian dari komunitas bisnis sebab anda tidak punya uang. Sekali lagi bahwa untuk masuk komunitas bisnis anda perlu menambah F (Gaya) tanbahan yang cukup besar untuk mengubah nasib anda. Bagi orang yang mengeti ini, mereka juga mengerti bahwa untuk mulai bisnis tidak selamanya uang menjadi modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal lain sebab jika hal lain tersebut memenuhi syarat, percayalah bahwa itu akan berubah jadi uang. Hal lain tersebut menurut pengalaman saya seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kepercayaan. Banyak orang sukses justru mendapatkan uang sebagai dana awal bisnisnya karena dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kredibilitas. Kredibilitas seseorang bisa jadi senjata utama untuk mendapatkan kepercayaan orang beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ilmu pengetahuan dan keterampilan. Bukan satu dua kali saya ketemu orang yang diberi uang untuk menjalankan bisnis yang ia kuasai ilmu dan pengetahuannya. Ilmu pengetahuan biasanya seiring sejalan dengan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang anda coba saja merenung. Apa selain uang yang bisa anda andalkan untuk memulai bisnis. Adik ipar saya suka sekali ank kecil. Bermodal ini ia bicara pada beberapa orang berduit tentang idenya membuat penitipan anak plus. Alhamdulillah sekarang bisnisnya jalan dan menjadi perhatian banyak orang. Sekarang kalau waktu luang saya mencoba mempelajari hukum-hukum fisika yang lain. Saya tau belakangan ini ada ahli fisika kita yang bisa memberi masukan. Salam kenal dari saya Irwan F. Uno penggemar fisika bisnis (mohon masukan kalau cabang ini ada dalam ilmu fisika saya pengen belajar...hehehe). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sumber Gambar dari www.insight-magazine.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5785552245601095954-1092874022909997727?l=irwan-uno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irwan-uno.blogspot.com/feeds/1092874022909997727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5785552245601095954&amp;postID=1092874022909997727' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1092874022909997727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5785552245601095954/posts/default/1092874022909997727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irwan-uno.blogspot.com/2007/07/hukum-newton-dan-filosofi-bisnis.html' title='Hukum Newton dan Filosofi Bisnis'/><author><name>Irwan Firdaus Uno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08456146035404894788</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_LpYV7xa1nZw/RpSHcmsbn_I/AAAAAAAAAAk/7TifsA4slQk/s72-c/HukumNewton.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
